Jumat, 29 Mei 2020

Breaking News

  • Waspada Wabah Covid-19, Masjid Raya Annur Riau Tiadakan Salat Jumat   ●   
  • Pemprov Riau akan Bagi-bagi Sembako ke Warga Miskin Terdampak Corona   ●   
  • Pemda Pelalawan Alokasikan Rp 9 Miliar untuk Penanganan Covid-19   ●   
  • Asri Auzar Anjurkan Kader Demokrat yang Ikut Kongres Lakukan Rapid Test   ●   
  • Cegah Virus Corona, PKB Riau Kembali Lakukan Penyemprotan Disinfektan di Masjid   ●   
  • Kondisi Pasien Suspect Corona di Dumai Membaik   ●   
  • Ade Fitra Terpilih Jadi Ketua Karang Taruna Pekanbaru 2020-2025   ●   
  • Tahun Ini 50 Mahasiswa UIN Suska Riau Terima Beasiswa dari Bank Indonesia   ●   
  • Polair Polda Riau Gagalkan Penyelundupan Baby Lobster Senilai Rp 5,3 Miliar   ●   
  • Kadisdik Riau Larang Sekolah Pungut Uang Perpisahan Siswa
Yamaha 27 Mei 2020

Cakap Ramadan dari Jerman
Matahari Enggan Tenggelam
Rabu, 20 Mei 2020 17:18 WIB
Matahari Enggan Tenggelam

(CAKAPLAH) - Dresden, dimana saya tinggal, adalah ibu kota negara bagian Sachsen. Kota keempat terbesar di Jerman setelah Berlin, Hamburg dan Koln. Seperti di kota Jerman lainnya, komunitas muslim boleh dikatakan tergolong kelompok minoritas, apalagi muslim yang berasal dari Indonesia. Oleh karena itu suasana puasa Ramadan sangat berbeda dengan puasa Ramadan di Tanah Air. Tidak ada simbol-simbol bulan Ramadan seperti masjid-masjid yang megah terang benderang dan penuh jamaah, suara adzan yang berkumandang menandakan waktu berbuka, atau tidak ada juga bunyi sirene panjang menandakan tibanya waktu imsak.

Tidak ada suara bacaan ayat suci Al-Quran di pengeras suara masjid yang bersahut-sahutan. Tidak ada kerumunan manusia berbondong-bondong berbusana muslim di jalan-jalan menuju masjid untuk sholat tarawih atau kerumunan orang yang rela berdesak-desakan membeli takjil untuk berbuka. Tidak ada teriakan para penjual takjil, “yaa gorengannya lima ribu, gorengannya lima ribu, onde-ondenya pak, bu, salalauknya murah aja. Yaa lima ribu lima ribu”.



Tidak juga ada teriakan para pemuda-pemudi kompleks yang membangunkan para penghuni kompleks untuk sahur. Tidak ada bunyi klontang-klonteng di dapur saat ibu, kakak, dan sanak famili menyediakan makanan sahur. Tidak ada kehebohan dan suasana ceria keluarga saat berbuka atau santap sahur. Tentu tidak juga ada suara takbir pada malam takbiran di penghujung Ramadan.

Keceriaan itu semua tidak ditemukan di Dresden, setidaknya dalam tujuh tahun terakhir saya melakoni puasa Ramadan di Jerman. Tentu saja suasana keceriaan itu semua, kumpul dengan ayah-ibu, saudara-saudara dan handai taulan, berangkat ramai-ramai untuk sholat tarawih atau buka bersama dengan teman-teman yang heboh, menghadirkan kerinduan tersendiri. Rindu kampung halaman menjadi semakin terasa di bulan suci Ramadan ini.

Tahun ini, pandemi Covid-19 menyebabkan pemerintah Jerman mengambil kebijakan lockdown, yang membatasi warga untuk bepergian ke luar rumah. Maka puasa Ramadan suasananya terasa semakin sepi. Tahun-tahun sebelumnya ada saja keluarga Indonesia yang mengajak buka bersama di rumahnya dengan makanan khas Indonesia seperti soto, rendang, gulai kambing, sate kambing, ayam balado, dan sebagainya. Lepas juga rindu. Atau kumpul-kumpul di perkumpulan Pengajian Dresden. Atau di antara kami sesama warga muslim dengan berbagai kebangsaan, ada saja yang ambil inisiatif untuk buka bersama. Bukanya bersama, tapi bayarnya sendiri-sendiri. Tahun ini tidak ada buka bersama. Seharian kita dianjurkan oleh Pemerintah untuk tetap di rumah saja, setidaknya bagi mereka yang bisa bekerja dari rumah. Masing-masing, seperti saya yang tinggal sendiri, buka dan sahur sendiri dengan menu seadanya, itu lagi, itu lagi, nasi goreng, telor dadar, telor ceplok, telor balado, sarden atau segala yang instan.

Tapi lockdown ada positifnya juga. Dengan pembatasan pergerakan orang, membuat kami semakin mudah beribadah tepat waktu. Pun, tidak usah berpanas-panasan di luar rumah (maklum, di musim panas seperti sekarang, siang menjadi lebih panjang dan udara panas bisa ekstrim). Haus jarang terasa, kecuali di saat sedang banyak bicara, misalnya ketika mengisi waktu dengan bermain game online bersama teman-teman dari berbagai negara.

Tahun pertama berpuasa di Jerman, ketika itu puncaknya musim panas di Eropa, lama siangnya bisa mencapai 18-19 jam. Matahari terbit kepagian dan seakan enggan untuk tenggelam di ufuk barat. Pukul 21.00 masih belum tenggelam. Hal yang saya ingat, pengalaman pertama berpuasa di Jerman, penuh kekhawatiran, apakah sanggup berpuasa selama 18-19 jam lamanya. Bikin ciut nyali.

Namun ternyata menjalankan puasa di siang yang panjang seperti itu, tidak sesulit dan sedramatis yang dibayangkan. Saya ingat sering ditanya “bagaimana puasanya di Jerman?”, “Kalau tidak kuat batalkan saja“, begitu suara di layar telepon genggam dari orang tua di Tanah Air, penuh kehawatiran. Khawatir mungkin saya akan kekurangan cairan karena waktu berpuasa yang cukup panjang, takut malah jadi sakit. Tapi Alhamdulillah. Segalanya tergantung niat, motivasi, suasana hati, dan tidak memaksakan diri. Berupaya sekuat tenaga, kemudian serahkan kepada Allah SWT.

Satu hal, memang sempat ada kawan dekat yang berasal dari Jerman banyak bertanya tentang berpuasa di bulan Ramadan. Kenapa muslim diwajibkan menjalankannya? Apakah diharuskan satu bulan full? Tidak bisa beberapa hari saja? Apa sejarah dari berpuasa? Pertanyaan-pertanyaan dasar yang mudah-mudahan dengan ilmu agama yang masih seadanya pun saya masih sanggup menjawabnya. Yang saya tangkap pertanyaan seperti ini bukanlah cibiran, tapi rasa ingin tahu dan belajar tentang budaya atau agama lain. Malah ada kawan yang ingin mencoba ikut berpuasa juga. Saya katakan coba saja setengah hari terlebih dahulu, kalau dirasa kuat baru lanjutkan sampai sekuatnya (saya tidak mau kawan saya malah jadi trauma). Singkat kata, orang-orang Jerman yang non-muslim justru memberi respek kepada kita bila mereka tahu kita berpuasa.

Tantangan terberat bagi saya, mungkin juga bagi teman-teman se Tanah Air yang berpuasa di Jerman, bukan pada lamanya siang, melainkan mencerna dan berdamai dengan suasana yang terasa begitu hampa tanpa suara adzan, tanpa masjid yang ceria, tanpa teriakan para pejuang sahur, teriakan para penjual takjil, suara kerumunan manusia yang sedang berburu takjil, berlomba-lomba ke masjid, dan takbir beralun-alun di penghujung Ramadan.

Hidup jauh dari bumi pertiwi mengajarkan saya untuk lebih menghargai hal-hal yang sering tersepelekan, yakni saat ketika kita berada dekat dengan orang tua dan kerabat sanak saudara, nyaman dengan suasana penuh rasa kekeluargaan. Mungkin berangkat dari rasa yang sama, membuat saya dan beberapa teman di Dresden terpanggil bergotong royong tanda kepedulian, berkirim takjil seujung kuku, selama puasa Ramadan, melalui aplikasi kerabat di Pekanbaru. Setidaknya, rasa yang hilang dapat sedikit terobati. Salam takzim dari Dresden.***

Penulis : Hanna Rauda Eureka, bermukim di Jerman sejak memulai studi lanjutannya pada tahun 2013 hingga sekarang.
Editor : Jef Syahrul
Kategori : Internasional, Serba Serbi
Untuk saran dan pemberian informasi kepada CAKAPLAH, silakan kontak ke email: redaksi@cakaplah.com
Berita Lainnya
Komentar
Berita Pilihan
Rabu, 04 Maret 2020
Walikota Dumai: Kondisi Pasien Suspect Corona Membaik
Rabu, 04 Maret 2020
Jadwal Musda Golkar Riau Masih Misterius
Rabu, 04 Maret 2020
Prakiraan Cuaca Hari Ini: Hujan Disertai Petir pada Malam Hari
Rabu, 04 Maret 2020
Ternyata, Pengembalian SK Pengurus Lama 3 DPD II Golkar di Riau Baru Putusan Sela Mahkamah Partai
Rabu, 04 Maret 2020
Tiga Pembunuh Pengusaha Tepung Ditangkap Polisi, Satu Ditembak
Rabu, 04 Maret 2020
Musim Ini 3 Pemain Asal Papua Bela PSPS Riau
Rabu, 04 Maret 2020
Cegah Virus Corona, DPR Minta Setop Acara Musik dan Seminar
AMSI
Topik
Jumat, 22 Maret 2019
Plastik Masih Menjadi Permasalahan Utama Pencemaran Lingkungan di Kuansing
Selasa, 08 Januari 2019
Penerimaan Pajak Air Tanah Pekanbaru 2018 Meningkat
Minggu, 06 Januari 2019
Mega Training 'Magnet Rezeki'
Minggu, 06 Januari 2019
Taman Marga Satwa Kasang Kulim, Kawasan Wisata Alam dan Hiburan

CAKAPLAH TV lainnya ...
Jumat, 29 Mei 2020
15 Santri Klaster Ponpes Magetan di Inhu Dinyatakan Negarif Covid-19
Kamis, 28 Mei 2020
Sambut New Normal, Kampar tak Ajukan Perpanjangan PSBB
Kamis, 28 Mei 2020
Koramil 08/Tandun Bersama Tim Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Terus Cek Kendaraan Keluar Masuk Rohul
Kamis, 28 Mei 2020
Babinsa Koramil 11/Tambusai Hadiri Rakor Verifikasi dan Validasi Penerima BLT-DD

Serantau lainnya ...
Rabu, 18 Maret 2020
7 Cara Liburan Murah nan Menyenangkan
Kamis, 05 Maret 2020
Cegah Virus Corona, Ini Dia Tips Dari Dompet Dhuafa
Minggu, 23 Februari 2020
Nikmati Perjalanan Wisatamu Dengan Bus Tiara Mas
Minggu, 09 Februari 2020
CAKAPLAH & BENTO

Gaya Hidup lainnya ...
Selasa, 14 April 2020
Bantu Penanganan Covid-19, Pertamina dan Hiswana Migas Serahkan APD ke Pemprov Riau
Kamis, 27 Februari 2020
PGN Rutin Lakukan Pemeliharaan Transmisi dan Jalur Distribusi
Rabu, 26 Februari 2020
Usai Dilatih Tim Fire Fighter PT RAPP, Ratusan Mahasiswa Unilak Daftar Jadi Relawan Karhutla
Senin, 24 Februari 2020
PGN Jaga Ketahanan Pasok Gas Jawa Timur

Advertorial lainnya ...
Selasa, 30 Juli 2019
Telkomsel Bundling Smartphone 4G dengan Cashback hingga Rp2 Juta
Minggu, 21 Juli 2019
5 Keunggulan ASUS ROG Mothership, Laptop Gaming Rp130 Jutaan
Jumat, 19 Juli 2019
Dell Rilis Laptop Gaming G7 Seharga Rp27 Jutaan
Kamis, 18 Juli 2019
Xiaomi Resmi Perkenalkan Mi A3, Berapa Harganya?

Tekno dan Sains lainnya ...
Selasa, 12 Mei 2020
Cegah Penularan Wabah, Mahasiswa Kukerta Universitas Riau 2020 Bentuk Tim Relawan Covid-19
Kamis, 09 April 2020
Wangi Jahe Merah dan Kopi Petani Hutan Saat Pandemi Covid-19
Jumat, 20 Maret 2020
Golongan Darah 'O' Lebih Kebal Terhadap Corona, Benarkah?
Sabtu, 01 Februari 2020
Terungkap, Alasan Lelaki Senang dengan Perempuan Bertubuh Mungil

Kesehatan dan Keluarga lainnya ...
Rabu, 06 Mei 2020
Cukup Bayar SPP, Pasti Kuliah di Unilak
Jumat, 17 April 2020
IKA Ilmu Ekonomi Unri Salurkan Bantuan Sembako ke Mahasiswa Terdampak Covid-19
Rabu, 15 April 2020
Masuk Kampus UIR, Dosen dan Mahasiswa Wajib Periksa Suhu Badan
Senin, 23 Maret 2020
LLDIKTI X: Covid-19 tak Halangi Kegiatan Belajar

Kampus lainnya ...

RAPP Idul Fitri 1441 / 2020
Terpopuler
Ucapan Idul Fitri AMPG
Foto
BOB PT BSP Idul Fitri
Iklan Unilak
Jumat, 15 Mei 2020
BRI Salurkan Bantuan Rp 22,16 Miliar Hasil Donasi 62 Ribu Karyawan untuk Covid-19
Kamis, 23 April 2020
PT SRL dan Mitra Bagikan 17.500 Paket Sembako di Tiga Provinsi
Senin, 23 Maret 2020
PT Musim Mas Salurkan Bantuan Ternak Sapi untuk Kelompok Tani di Pelalawan
Jumat, 20 Maret 2020
PKS Sindora Rohil Segera Beroperasi, Manajemen Siapkan Program CSR Jangka Panjang

CSR lainnya ...
Labersa Hotel 03 - 2020
Rabu, 01 April 2020
5 Fakta 'Aisyah Istri Rasulullah' yang Aslinya Lagu Cinta dari Malaysia
Rabu, 11 Maret 2020
Besok, Didi Kempot akan Goyang Ribuan Sobat Ambyar Pekanbaru
Selasa, 18 Februari 2020
Ashraf Sinclair Suami BCL Meninggal Dunia
Jumat, 31 Januari 2020
Cerita Melody Laksani JKT48 Berburu Oleh-Oleh di Pekanbaru

Selebriti lainnya ...
Pesonna Hotel Pekanbaru - April 2020
Rabu, 09 Oktober 2019
Jadi Pimpinan DPRD Siak Dari Partai PAN, Ini Sosok Fairuz
Rabu, 09 Oktober 2019
Indra Gunawan Akan Berjuang Untuk Masyarakat dan Loyal Terhadap Partai
Rabu, 09 Oktober 2019
Ternando Jadi Anggota DPRD Siak Termuda dan Suryono Terpilih Dengan Suara Terkecil
Rabu, 09 Oktober 2019
Reaksi Pimpinan DPRD Siak Terkait PTPN V Buang Limbah Sembarangan

Parlementaria Siak lainnya ...
Iklan ACT 6 Mei 2020
Rabu, 29 Mei 2019
Dewan: Bayar Zakat Fitrah Jangan Mepet Lebaran
Sabtu, 04 Mei 2019
Ketika Nabi Muhammad Diolok-olok
Selasa, 16 April 2019
Jokowi dan Dua Presiden RI Lainnya yang Mendapat Keistimewaan Bisa Masuk Ka'bah
Selasa, 12 Februari 2019
Bimbang Menentukan Pilihan, Baca Doa Ini

Religi lainnya ...
APRIL RAPP - Waisak 7 Mei 2020
Indeks Berita
Imbauan Cegah Corona Pemkab SiakDiskes RohulDPMPT Pekanbaru Jamil 1DPMPT Pekanbaru Jamil 2APRIL HUT KAMPARIklan Polres Inhu Verifikasi CAKAPLAHHUT Meranti APRILImlek 2019 RAPPTPP Ucapan Verifikasi CAKAPLAHKUD TANI BAHAGIA INHU VERIFIKASI CAKAPLAHPangeran Hotel
www www