Senin, 13 Juli 2020

Breaking News

  • KPK Tuntut Direktur PT Mitra Bungo Abadi 10 Tahun Penjara Dalam Kasus Korupsi Jalan Poros di Bengkalis   ●   
  • Bos Pertamina Gerah Diserang Gara-gara Harga BBM Tak Turun   ●   
  • 10 Staf DPR RI Dinyatakan Positif Covid-19   ●   
  • Pelantikan Pengurus DPD I Golkar Riau Ditunda karena Covid-19   ●   
  • DPD RI Tetap Tolak Pilkada Serentak 9 Desember 2020   ●   
  • Kejaksaan Agung akan Periksa Jaksa Penuntut 2 Polisi Penyiraman Novel Baswedan   ●   
  • Kecewa Putusan Bebas Tiga WNA, Mahasiswa Demo PN Bengkalis   ●   
  • Bulan Depan Pemko Pekanbaru 'Lelang' Jabatan Sekda dan Kepala OPD   ●   
  • Hasto Akui RUU HIP Diusulkan PDIP   ●   
  • Infeksi Virus Corona di Seluruh Dunia Tembus 10 Juta Kasus
Yamaha 8 Juli 2020

CAKAP OPINI
Peluang Menang Kalah Petahana
Senin, 22 Mei 2017 13:16 WIB
Peluang Menang Kalah Petahana

PEMILIHAN Kepala Daerah (Pilkada) serentak untuk Kabupaten/ Kota Provinsi Riau sudah terpilih 9 pasangan Bupati dan 2 Walikota. Tinggal satu kabupaten Inhil yang akan dilaksanakan bersamaan dengan Pilgubri 2018.

Dari catatan Pilkada di 11 daerah tersebut diketahui 6 petahana (incumbent) terpilih kembali, meski diantaranya ada yang bertukar pasangan. Syamsuar-Alfedri (Siak) Firdaus-Ayat Cahyadi (Pekanbaru) merupakan dua pasang kepala daerah yang berjaya dan langgeng berpasangan sampai dua periode.

Petahana Yopi Arianto (Inhu), Harris (Pelalawan), Irwan Nasir (Meranti), meski berganti pasangan tetap menang. Begitu juga Suyatno (Rohil) yang pada periode pertamanya mendapat warisan jabatan dari Annas Maamun. Suratan takdir berbeda beda, satu -satunya petahana yang menelan pil pahit kekalahan hanya Herliyan Saleh (Bengkalis).

Lima daerah lainnya terpilih wajah baru; Amril Mukminin-Muhammad (Bengkalis), Mursini-Halim (Kuansing), Suparman-Sukiman (Rohul), Zulkifli- Eko Raharjo (Dumai) dan Azis Zaenal-Catur Sugeng (Kampar). Tiga daerah Rohul, Kuansing, Kampar tidak lagi petahana maju karena masanya sudah habis. Di Dumai Agus Widayat (Petahana) Wakil Walikota yang mencalonkan menjadi Wali Kota sama nasibnya dengan Herliyan Saleh, kalah.

Pilkada serentak 2017 sudah usai. Salah satu peristiwa menarik untuk dijadikan i'tibar banyaknya calon incumbent yang gagal terpilih kembali. Menurut data dari litbang kompas dari pilkada serentak 101 daerah ternyata diikuti 65 calon Incumbent untuk kepala daerah dan 20 Incumbent wakil kepala daerah. Hasilnya, Sebanyak 43,53 persen incumbent kalah atau tidak terpilih kembali. Sebut saja seperti Pilgub Babel, Pilgub Banten, Pilbub Tuba Lampung, Pilbup Bengkalis teranyar pilgub DKI Jakarta.

Bagaimana dengan catatan Pilgub Riau. Rusli Zainal adalah gubernur Riau yang berhasil mempertahankan tahta kursi Riau Satu, sayang sekali di pertengahan periode kedua Gubernur yang masih dikenang atas keberhasilan membangun Riau terhenti ditengah jalan, tidak sampai masa akir jabatannya.

Pada periode kedua 2008-2013 petahana Rusli Zainal yang bertukar pasangan dari Wan Abu Bakar berganti Mambang Mit, berhasil mengalahkan pasangan Thamsir Rahman-Taufan Andoso Yakin, Chaidir - Suryadi Khusaini.

Seusai masa Rusli Zainal, tahun 2013 terpilihlah pasangan Annas Maamun- Arsyadjuliandi Rachman baca Andi Rachman (60,75 persen) mengalahkan Herman Abdullah-Agus Widayat (39,25 persen) setelah melalui pemilihan putaran kedua.

Pada putaran pertama lima pasangan berlaga yaitu Herman Abdullah-Agus Widayat (23.00 persen), Achmad - Masrul Kasmy (20,73 persen), Jhon Erizal - Mambang Mit (13,40 persen), Lukman Edy - Suryadi Khusaini (14,09 persen). Annas Maamun - Andi Rachman (28,83 persen).

Malang Annas Maamun hanya sekitar delapan bulan menduduki kursi Gubernur, tersebab proses hukum langkahnya terhenti. Andi Rachman akhirnya naik takhta seperti Suyatno di Rohil, Andi memperoleh warisan jabatan Annas Maamun.

Setahun lagi masa jabatan Andi Rachman akan berakhir, ironisnya jabatan kursi Wabup dibiarkan mangkrak terlalu lama, dan belum genap dua minggu baru mendapatkan pasangan Wan Thamrin Hasim. Jika Andi Rachman kembali mencalonkan maka dia sebagai petahana akan diuji untuk mempertahankan jabatannya.

Dari catatan sejarah Pilkada serentak di Indonesia banyak deretan peristiwa yang berulang. Sejak kepala daerh dipilih secara langsung, petahana ada yang berjaya, tetapi juga banyak yang kalah.

Memang model pemilihan langsung (Pilsung) Kepala Daerah di Indonesia boleh disebut belum lama. Dari, belum lamanya perjalanan itu, sejarah mencatat beratnya petahana jika harus bertempur sampai dua putaran.

Catatan pertama mari kita buka kembali arsip Pemilu Presiden 2004 yang menjadi awal Pilsung di Indonesia. Saat itu, lima pasang calon presiden dan wakil presiden maju.


Petahana Megawati Soekarnoputri berpasangan dengan KH Hasyim Muzadi menghadapi 4 pasangan yaitu Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla, Wiranto-Salahuddin Wahid, Amien Rais-Siswono Yudo Husodo, dan Hamzah Haz-Agum Gumelar.

Bersaing pada putaran pertama, tiga pasangan calon terakhir gugur. Megawati-Hasyim yang mendapat 26,61 persen suara berhadap-hadapan dengan SBY-JK yang mendapat 33,37 persen suara di putaran kedua.

Pada Pilpres putaran kedua yang digelar 20 September 2004, Megawati Soekarnoputri sebagai petahana tumbang. SBY-JK, unggul telak dengan memperoleh 60,62 persen suara. Megawati-Hasyim hanya meraih 39,38 persen suara.

Catatan kedua tumbangnya petahana di putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2012. Untuk diketahui, Peraturan KPU sekarang hanya Pilkada DKI Jakarta menuntut digelarnya putaran kedua jika suara calon tidak mencapai 50 persen plus satu.

Di Pilkada DKI Jakarta 2012, Fauzi Bowo sebagai petahana berpasangan dengan Nachrowi Ramli (Foke-Nara). Pasangan ini berlawan dengan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok), Hidayat Nur Wahid-Didiek J Rachbini, Faisal Basri-Biem Triani Benjamin, dan Alex Noerdin-Nono Sampono.

Karena tidak ada satu pun calon yang meraih suara 50 persen plus satu, dua pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur peraih suara terbanyak maju di putaran kedua. Fauzi Bowo sebagai petahana yang meraih 34,05 persen suara duel dengan Joko Widodo yang meraih 42.60 persen suara.

Di putaran kedua, Foke-Nara tumbang. Jokowi-Ahok menang, meraih 53,82 persen suara. Fauzi Bowo-Nacrowi Ramli mendapat 46,18 persen suara. Putaran kedua digelar 20 September 2012. Putaran pertama digelar 11 Juli 2012.

Catatan ketiga, paling anyar, sadar atau tidak kita baru saja menjadi saksi berulangnya tumbangnya petahana Ahok-Djarot di putaran kedua Pilkada DKI Jakarta.
Di putaran pertama, 15 Februari 2017, Ahok-Djarot unggul dengan 42,99 persen disusul Anies Baswedan-Sandiaga Uno (Anies-Sandi) dengan 39,95 persen dan Agus Harimurti Yudhoyono-Syliana Murni dengan 17,06 persen.

Karena tidak ada pasangan yang meraih suara lebih dari 50 persen, putaran kedua digelar. Ahok-Djarot berhadap-hadapan dengan Anies-Sandi. Hasilnya petahana Ahok DJarot tumbang dengan suara 42.05 persen,pemenangnya Anis Sandi berhasil meraup suara 57.95 persen

Rebut putaran pertama

Namun, petahana tidak perlu berkecil hati. Pilkada dan Pemilu Indonesia mencatat hal manis juga terkait petahana yang ingin melanjutkan kekuasaanya di periode kedua.

Selain mencatat tumbangnya petahana di putaran kedua, sejarah Pilkada dan Pemilu memberi catatan bagi petahana agar bisa mempertahankan jabatannya. Mencermati tidak terpilihnya kembali petahana alias menggenapi catatan tumbangnya petahana di putaran kedua dapat dijadikan semacam tips bagi petahana untuk menghindari main di putaran kedua.

Bagi petahana, jika ingin tetap bertahan dan berkuasa, rebut dan menang di putaran pertama adalah keharusan. Jangan pikirkan putaran kedua. Tidak menang di putaran pertama artinya kalah di putaran kedua. Untuk catatan, cara petahana di putaran kedua menang sehingga kekuasaannya bisa dipertahankan, maka kalau di Riau kita perlu belajar politik kepada Rusli Zainal, dengan langkah mengganti pasangan Wan Abu Bakar diganti Mambang Mit berhasil menangguk kemenangan.

Sedangkan kalau untuk Pilpres 2009, kita perlu melihat teknik SBY yang memilih berpasangan dengan Boediono dan membuang Jusuf Kalla. Di Pilpres 8 Juli 2009, SBY-Boediono meraih 60,80 persen suara menyingkirkan langsung pasangan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto yang meraih 26,79 persen suara dan pasangan Jusuf Kalla-Wiranto yang meraih 12,41 persen suara.

Mengulang Sejarah

Jika Pilkada level Pekanbaru, Siak, Pelalawan, Inhu dan Rohil dijadikan rujukan untuk pemilihan Gubernur maka peluang menang petahana begitulah adanya. Tetapi jika Pilkada DKI Jakarta adalah cermin untuk Pilgub Riau maka peluang petahana kembali berjaya sangat berat.

Antara Riau dan DKI Jakarta terdapat persamaan pada proses kepemimpinan. Ahok asal muasalnya sebagai wakil gubernur paket Joko Widodo. Tersebab kursi Gubernur ditinggalkan oleh Joko Widodo maka Ahok 'nemu buah durian runtuh' langsung jadi Gubernur. Proses tersebut persis jalan yang dilalui Andi Rachman menjadi Gubernur Riau setelah kursi Riau satu ditinggalkan Anas Maamun.

Begitulah catatan dari Pilpres, Pilkada kabupaten/ kota serta Pilkada Gubernur. Seperti sudah terjadi di Pilkada DKI 2012, 2017 dan Pilpres 2014, petahana yang akan maju perlu menapak tilas sejarah pendek Pemilu.

Sejarah Pemilu Indonesia sudah mencatat, petahana yang bertarung di putaran kedua tumbang. Maka petahana yang ingin mempertahankan kekuasaannya untuk periode kedua harus menang di putaran pertama.

Belajar dari sejarah pemilu dan pilkada, maka kita mendapatkan kiat sukses meraih kemenangan dan bagaimana memanfaatkan kekuasaan. Terhadap sejarah yang akan kita torehkan, siapapun anda punya peluang untuk merubah jalannya atau mengulanginya.
Untuk ujian atas sejarah itu, Pilgubri 2018, Pilpres 2019 akan jadi momentum terdekatnya. Jokowi sebagai petahana sudah dicalonkan dua partai politik dan tampak mempersiapkan dengan sungguh-sungguh capaian kerja sebagai modal kampanyenya. Begitupun usaha mulai dilakukan oleh Andi Rachman, soal dukungan partai secara politik tidak merisaukannya, karena sampai saat ini dia yang memegang kendali Partai Golkar.

Untuk para penantang yang sudah mulai menggema suaranya, perlu sedikit meramu siasat. Cara menarik paksa petahana masuk putaran kedua itu dulu bisa menjadi strategi jitu untuk menumbangkan petahana. Sekarang strategi itu tidak berlaku lagi, jadi jangan berharap bermain sampai 'ronde' dua.

Peraturan KPU sudah menyatakan, pasangan yang memperoleh suara terbanyak otomatis menang . Tak peduli berapapun jumlah suaranya. Syarat 50 plus 1 hanya berlaku di DKI Jakarta. Mengingat suara terbanyak menjadi pemenang, maka petahana peluangnya lebih besar, jika pasangan yang bertarung jumlahnya banyak, misalnya empat hingga lima pasang.

Menapak tilas sejarah, dalam waktu dekat akan terjadi di Riau. Apa hasilnya, kita tunggu saja. Sekali lagi, bahwa sejarah bisa berulang atau berubah.

Penulis : Bagus Santoso, Anggota DPRD Provinsi Riau
Kategori : Politik, Cakap Rakyat, Riau
Untuk saran dan pemberian informasi kepada CAKAPLAH, silakan kontak ke email: redaksi@cakaplah.com
Berita Terkait
Komentar
Berita Pilihan
Minggu, 28 Juni 2020
Video Jokowi Marah 18 Juni, Kenapa Baru Dirilis Sekarang?
Minggu, 28 Juni 2020
Keroyok 5 Polisi, 11 WNA Nigeria Ditangkap Polda Metro
Minggu, 28 Juni 2020
Ratusan Warga Uji Swab dan Rapid Test di Pasar Agus Salim, Ini Hasilnya
Minggu, 28 Juni 2020
Ini Penyebab PPDB Jalur Zonasi di Riau Banyak Diprotes
Sabtu, 27 Juni 2020
Unilever, Coca Cola Dkk Setop Iklan di Facebook, IG & Twitter
Sabtu, 27 Juni 2020
Putusan Sudah Inkrah, 1.300 Hektare Lahan Gondai Diminta Segera Dieksekusi
Kamis, 04 Juni 2020
Terungkap! Miliaran Rupiah Duit Korupsi Jiwasraya untuk Main Judi Kasino
Rabu, 03 Juni 2020
Chef Peterseli Kitchen Pekanbaru Wakili Indonesia di Kompetisi Chef International
Rabu, 03 Juni 2020
Curi Tiga Tandan Sawit untuk Beli Beras, Ibu Tiga Anak di Rohul Dihukum Percobaan
Selasa, 02 Juni 2020
PPDB SMA/SMK di Riau Dimulai 17 Juni
Selasa, 02 Juni 2020
Pasien Positif Sembuh dan Tidak Ada Tambahan, Pekanbaru Sudah Masuk Zona Kuning
AMSI
Topik
Jumat, 22 Maret 2019
Plastik Masih Menjadi Permasalahan Utama Pencemaran Lingkungan di Kuansing
Selasa, 08 Januari 2019
Penerimaan Pajak Air Tanah Pekanbaru 2018 Meningkat
Minggu, 06 Januari 2019
Mega Training 'Magnet Rezeki'
Minggu, 06 Januari 2019
Taman Marga Satwa Kasang Kulim, Kawasan Wisata Alam dan Hiburan

CAKAPLAH TV lainnya ...
Senin, 13 Juli 2020
GPC Silaturahmi ke Koramil 16/Tapung
Senin, 13 Juli 2020
Babinsa Motivasi Warga Galakkan Gerakan Menanam di Lahan Kosong
Minggu, 12 Juli 2020
Koorlap Satgas TMMD Ke-108: Pekerjaan Fisik Terobos Jalan Capai 49%
Minggu, 12 Juli 2020
Di Sela Kesibukan Program TMMD, TNI Juga Luangkan Waktu Bercengkerama dengan Anak-anak Desa Lango

Serantau lainnya ...
Sabtu, 04 Juli 2020
Lebih dari 5 Juta Orang Berebut Dapatkan Air Jordan 1 x Dior
Rabu, 18 Maret 2020
7 Cara Liburan Murah nan Menyenangkan
Kamis, 05 Maret 2020
Cegah Virus Corona, Ini Dia Tips Dari Dompet Dhuafa
Minggu, 23 Februari 2020
Nikmati Perjalanan Wisatamu Dengan Bus Tiara Mas

Gaya Hidup lainnya ...
Senin, 29 Juni 2020
DPRD Riau Gelar Paripurna LHP BPK RI Atas Laporan Keuangan Pemprov Riau Tahun 2019
Senin, 08 Juni 2020
Warga Rumbio Sumringah Didatangi Bupati Kampar dan Terima BLT
Selasa, 14 April 2020
Bantu Penanganan Covid-19, Pertamina dan Hiswana Migas Serahkan APD ke Pemprov Riau
Kamis, 27 Februari 2020
PGN Rutin Lakukan Pemeliharaan Transmisi dan Jalur Distribusi

Advertorial lainnya ...
Sabtu, 04 Juli 2020
Sony Bakal Berubah Nama?
Selasa, 30 Juli 2019
Telkomsel Bundling Smartphone 4G dengan Cashback hingga Rp2 Juta
Minggu, 21 Juli 2019
5 Keunggulan ASUS ROG Mothership, Laptop Gaming Rp130 Jutaan
Jumat, 19 Juli 2019
Dell Rilis Laptop Gaming G7 Seharga Rp27 Jutaan

Tekno dan Sains lainnya ...
Sabtu, 04 Juli 2020
Minta Disetop, Pakar Sebut Rapid Test Sangat Tak Akurat, Publik Rugi
Selasa, 12 Mei 2020
Cegah Penularan Wabah, Mahasiswa Kukerta Universitas Riau 2020 Bentuk Tim Relawan Covid-19
Kamis, 09 April 2020
Wangi Jahe Merah dan Kopi Petani Hutan Saat Pandemi Covid-19
Jumat, 20 Maret 2020
Golongan Darah 'O' Lebih Kebal Terhadap Corona, Benarkah?

Kesehatan dan Keluarga lainnya ...
Selasa, 07 Juli 2020
Tandatangani MoA dengan UIR, Bupati Kampar Berharap Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Selasa, 07 Juli 2020
Tim Relawan Covid-19 Unri Kecamatan Tualang Ikut Sosialisasikan Protokol Kesehatan
Jumat, 03 Juli 2020
Prodi Ilmu Komunikasi Univrab Gelar Penyuluhan Covid-19 di Pekanbaru
Senin, 29 Juni 2020
Tim PKM Dosen Fekon Unilak Bantu Manajemen Bank Sampah di Rumpes

Kampus lainnya ...

PCR Juni 2020
Terpopuler
Polres Rohul 27 Juni 2020
Foto
Pemkab Siak New Normal 17 Juni 2020 Ok
Unilak Juli 2020
Jumat, 15 Mei 2020
BRI Salurkan Bantuan Rp 22,16 Miliar Hasil Donasi 62 Ribu Karyawan untuk Covid-19
Kamis, 23 April 2020
PT SRL dan Mitra Bagikan 17.500 Paket Sembako di Tiga Provinsi
Senin, 23 Maret 2020
PT Musim Mas Salurkan Bantuan Ternak Sapi untuk Kelompok Tani di Pelalawan
Jumat, 20 Maret 2020
PKS Sindora Rohil Segera Beroperasi, Manajemen Siapkan Program CSR Jangka Panjang

CSR lainnya ...
AMPI Riau
Sabtu, 04 Juli 2020
Trending di Twitter, Maudy Ayunda Diduga Adu Mulut dengan Pria saat Live Instagram
Rabu, 01 April 2020
5 Fakta 'Aisyah Istri Rasulullah' yang Aslinya Lagu Cinta dari Malaysia
Rabu, 11 Maret 2020
Besok, Didi Kempot akan Goyang Ribuan Sobat Ambyar Pekanbaru
Selasa, 18 Februari 2020
Ashraf Sinclair Suami BCL Meninggal Dunia

Selebriti lainnya ...
Pesonna Hotel Pekanbaru - April 2020
Rabu, 09 Oktober 2019
Jadi Pimpinan DPRD Siak Dari Partai PAN, Ini Sosok Fairuz
Rabu, 09 Oktober 2019
Indra Gunawan Akan Berjuang Untuk Masyarakat dan Loyal Terhadap Partai
Rabu, 09 Oktober 2019
Ternando Jadi Anggota DPRD Siak Termuda dan Suryono Terpilih Dengan Suara Terkecil
Rabu, 09 Oktober 2019
Reaksi Pimpinan DPRD Siak Terkait PTPN V Buang Limbah Sembarangan

Parlementaria Siak lainnya ...
APRIL RAPP - Waisak 7 Mei 2020
Sabtu, 04 Juli 2020
Batas Usia Daftar Haji Diminta Lebih Muda
Jumat, 12 Juni 2020
Ini Tiga Golongan yang Diberikan Ujian oleh Allah SWT
Rabu, 29 Mei 2019
Dewan: Bayar Zakat Fitrah Jangan Mepet Lebaran
Sabtu, 04 Mei 2019
Ketika Nabi Muhammad Diolok-olok

Religi lainnya ...
APRIL HUT KAMPAR
Indeks Berita
Imlek 2019 RAPP
www www