Kamis, 08 Desember 2022

Breaking News

  • Bapenda Riau Pastikan Tak Ada Pemutihan Denda Pajak Tahun Ini   ●   
  • Jelang Natal dan Tahun Baru, Muflihun Sebut Harga Sembako Masih Stabil   ●   
  • Masih Jauh dari Target, Retribusi Sampah di Pekanbaru Baru Rp 3,8 Miliar   ●   
  • Kades di Meranti Berharap Perseteruan Bupati dan Gubri Tidak Berlanjut   ●   
  • Wamendes: Kemajuan Desa Mandiri di Riau Melejit   ●   
  • Riau Tetapkan Status Siaga Banjir dan Longsor 2022 sampai Akhir Desember   ●   
  • Kasus Covid-19 Menanjak, Gubri Perintahkan Gesa Vaksinasi Booster   ●   
  • Paling Lambat 3 Desember, Pemprov Riau Ingatkan 8 Daerah segera Usulkan Draf APBD 2023   ●   
  • Kapolda Pertama yang Turun Langsung ke Lokasi Gempa Cianjur, Irjen Iqbal Bawa 9 Truk Sembako   ●   
  • Sensus Terkini, Pertumbuhan Islam di Inggris Meroket
Yamaha 7-12 Desember 2022

Kisah Heroik Erwin, Sang Mahout di TNTN dan Mitos Air Mani Gajah
Senin, 23 Agustus 2021 23:26 WIB
Kisah Heroik Erwin, Sang Mahout di TNTN dan Mitos Air Mani Gajah
Mahout gajah di TNTN sedang menunggangi gajah bernama Lisa dan anaknya Ryu

PANGKALAN KERINCI (CAKAPLAH) - Gajah adalah bagian dari kekayaan fauna yang terdapat di Sumatera, khususnya di Provinsi Riau. Seiring dengan hancurnya habitat gajah karena banyaknya penebangan liar dan alih fungsi hutan menyebabkan populasi Gajah Sumatera makin terancam punah.

Upaya penyelamatan populasi Gajah Sumatera terus dilakukan berbagai pihak. Pemerintah melalui Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.73/Menhut-II/2006 tentang Perubahan Peraturan Menteri Kehutanan P.54/Menhut-II/2006 menetapkan Provinsi Riau sebagai Pusat Konservasi Gajah. Sebagai habitat gajah yang relatif baik, Taman Nasional Tesso Nilo yang terdapat di wilayah dua kabupaten, Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hulu dijadikan sebagai kawasan konservasi gajah.

Meskipun kawasan konservasi di TNTN semakin hari semakin menyusut akibat penyerobotan, namun semangat untuk menjaga habitat gajah terus dikumandangkan pihak pengelola TNTN.

Perjuangan untuk menjaga habitat gajah dan menjadikan gajah liar menjadi jinak hingga berteman dengan manusia tidaklah mudah.

Dari kegiatan Ekspedisi PWI Riau ke TNTN, Ahad (8/8/2021) lalu, wartawan CAKAPLAH.COM berhasil mengungkap bagaimana lika-liku perjuangan sang mahout atau dulu sering disebut sebagai pawang gajah.

Salah seorang mahout senior Erwin (48) atau akrab disapa Eko dalam ceritanya panjang lebar dengan peserta Ekspedisi PWI Riau ke TNBT dan TNTN di aula Flying Squad TNTN di Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Sabtu (7/8/2021) malam mengungkapkan perjuangannya menjadi mahout sejak tahun 1990-an silam.

Sebelum pindah tugas ke Flying Squad TNTN Di Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Erwin merupakan mahout di Pusat Latihan Gajah di Minas. Di TNTN ia bekerja bersama 12 mahout lainnya dengan jumlah gajah yang dipelihara sebanyak 9 ekor gajah.

Puluhan tahun menjadi pawang gajah banyak sekali pengalaman menarik yang ia lalui termasuk suka duka hingga pengalaman lucu menjadi mahout.

Salah satu tantangan menjadi mahout adalah ketika berada di atas gajah (gajah yang sudah jinak, red) saat melakukan penangkapan terhadap gajah liar maupun melakukan upaya pengusiran terhadap gajah liar yang berkonflik dengan manusia.

Bertugas sebagai mahout harus ekstra hati-hati karena ada kalanya gajah liar langsung menyerang gajah yang ditunggangi mahout meskipun tidak semua gajah menyadari ada orang atau si mahout sedang berada di atas gajah.

"Paling tidak dia (gajah) ada penciuman. Kadang dia angkat belalainya kalau dia tahu kita ada di atas. Ada mahout yang baunya mungkin lain, dia (Gajah liat) menjerit dia, kabur. Yang asik melihatnya kayu-kayu patah dibuatnya saat mereka kabur," kata Erwin tertawa mengenang kisahnya menangkap gajah liar.

Gajah yang pro aktif biasanya ditunjukkan gajah-gajah muda ataupun remaja yang usianya dibawah 20 tahun. "Sama dengan manusia, usia segitu masih labil," ungkap Erwin mengawali pembicaraan.

Sebagai upaya pertahanan, biasanya mahout membawa peralatan seperti tombak.
"Kita pakai tombak tapi hanya bertujuan melukai sedikit, sampai dia merasakan sakit," akuinya.

Cara lain mengusir gajah liar yang menyerang mahout adalah dengan cara berteriak dan bersorak dari atas punggung gajah. Dengan sorakan yang keras biasanya gajah liar juga takut karena mengira banyak yang akan membantu gajah jinak yang sedang dikendalikan mahout.

Gajah-gajah yang datang ke pemukiman warga ataupun masuk ke perkebunan warga ada yang bersama rombongan besar dan ada yang berkelompok kecil atau solitaire atau pemain tunggal yang keluar dari kelompok.

Ia mengungkapkan, gajah yang sering merusak tanaman di TNTN biasanya kelompok kecil, biasanya sekitar tiga atau empat ekor. Pengusirannya juga relatif lebih sulit dari kelompok yang besar karena kelompok yang besar ini cenderung mengikuti kepala rombongan atau kelompok.

Kepala rombongan gajah ini biasanya jenis betina dewasa. Sedangkan jantan dewasa bertugas mengawasi situasi.

Nah, kenapa sering terjadi konflik antara gajah dengan manusia dan kawanan gajah sering masuk ke pekarangan warga? Hal itu tak terlepas dari terbatasnya pakan di hutan alam maupun di hutan tanaman industri (HTI). "Karena di hutan hanya untuk istirahat nanti makannya di luar. Pakan banyak di luar kawasan," terang Erwin.

Menurut pria yang saat ini masih menjadi pegawai honor dan pernah bekerja untuk WWF itu mengatakan, sebenarnya bukan gajah yang mendatangi manusia tapi manusialah yang awalnya mendatangi gajah. Menebangi hutan dan merusaknya sehingga habitat gajah terganggu sehingga gajah mencari makan ke perkebunan warga terutama yang tidak terawat sehingga masih banyak pakannya di sana.

Lantas, apa makanan yang paling disukai hewan yang sering dipanggil datuk itu? Menurut Erwin adalah tanaman jenis
sumantong. Tanaman ini getahnya putih dan daunnya kecil. Namun tanaman ini sudah sangat langka dan sulit dibudidayakan. "Di sini sudah habis. Kalau dia sudah ketemu itu dari daun sampai akarnya habis dimakan maka sampai punah dia," beber Erwin.

"Itu gajah kita yang jinak kalau apapun kita paksa jalan tak mau jalan kalau ketemu sumantong itu," imbuhnya.

Gajah juga suka tanamam bambu dan nangka. "Pokoknya gajah semua getahnya putih itu dimakan gajah termasuk karet," katanya.

Begitu juga dengan tanaman kelapa sawit. Biasanya setelah dimakan gajah tanaman sawit mati total karena dimakan sampai bonggol dan umbutnya.

Di kawasan TNTN sendiri berdasarkan data tahun 2015 ada sekitar 100 sampai dengan 140 ekor gajah liar yang masih hidup. Ia mengandalkan makanan yang ada di area TNTN. "Gajah-gajah ini diikatkan di lokasi makannya. Pakai rantai yang panjangnya sampai empat puluh meter," terang Erwin.

Erwin juga menceritakan mengenai Flying Squad yang terdapat di kawasan TNTN di Desa Lubuk Kembang Bunga ini dulunya merupakan bekas World Wide Fund for Nature atau WWF. WWF yang merupakan sebuah organisasi non-pemerintah internasional yang menangani masalah-masalah tentang konservasi, penelitian dan restorasi lingkungan.

Flying Squad sendiri diberi nama oleh WWF. Flying Squad tujuan utamanya didirikan adalah untuk kepentingan mitigasi konflik gajah yang menggangu masyarakat.

Di Pelalawan terdapat tiga flying squad. Dua lainnya di RAPP dan Gondai.

Lima dari sembilan gajah yang terdapat di Flying Squad TNTN di Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui ini merupakan anak dari dua ekor gajah yang didatangkan dari PLG di Minas pada tahun 2004 lalu.

Dua gajah dewasa jantan di Flying Squad TNTN bernama Rahman, usianya 48 tahun dan Indro (42).

Gajah Rahman merupakan gajah liar di kawasan PLTA Koto Panjang, Kabupaten Kampar yang dijinakkan tahun 1996 lalu. Begitu juga dengan Indro. Ia merupakan gajah liar yang berhasil dijinakkan. Indro ditangkap di daerah Muara Fajar Rumbai tahun 1998.

Kemudian terdapat dua jenis gajah dewasa betina yaitu Ria (42) dan Lisa (36). Ria memiliki dua ekor anak dan Lisa tiga ekor anak.

Gajah Ria memiliki dua ekor anak yaitu Tesso (15) dan Harmoni (14). Nama Harmoni ini diberikan oleh mantan Bupati Pelalawan H.M Haris saat menjabat dulu.

Sedangkan Lisa yang didapatkan di Sirangge daerah Pranap 1997 telah memiliki tiga ekor anak masing-masing Imbo (10), Rimbani (6) dan Ryu (7 bulan).

Anak gajah dari Lisa dan Ria ini sebagian induk jantannnya merupakan gajah liar. Itu berdasarkan pengamatan dari mahout. Saat-saat tertentu, pada musim kawin biasanya gajah liar jantan selalu mendatangi gajah betina di area Flying Squad.

Lalu bagaimana kelakuan gajah? Menurut Erwin, gajah tak harus mandi setiap hari. Namun gajah-gajah di Flying Squad selalu dimandikan. Yang terpenting di tempat gajah bermain atau diikatkan terdapat persediaan air minum dan tempat berkubang.
"Kalau gajah tak tahan panas, karena tak punya pori-pori," ulasnya.

Gajah betina dewasa maksimal beranak 6 tahun sekali dengan masa hamil yang cukup panjang, mencapai 23 bulan atau hampir dua tahun.

Gajah yang dijinakkan oleh mahout biasanya gajah yang masuk pemukiman masyarakat. Langkah awal adalah para mahout melakukan survei terhadap gerombolan gajah. Para mahout saat survei sudah melihat gajah mana yang menjadi sasaran untuk disuntik bius.

"Dulu saya paling senang penangkapan gajah. Dia tak tahu kita ada di atas (gajah jinak red)," kata Erwin.

Dulunya, sekali masuk ke perkampungan atau kebun masyarakat jumlah gajah yang datang cukup banyak, sekira 60 ekor. "Sampai di lokasi kita diam aja di atas. Mana yang gampang dilatih, itu menjadi sasaran kita untuk ditembak. Ditembak saja sekitar 20 meter jaraknya," ungkap Erwin.

Di atas gajah mereka memang leluasa memilih gajah dan memperhatikan gajah liar sebelum mereka ketahuan ada di atas gajah jinak dan melakukan perlawanan.

"Kami tim yang bertugas itu menunjuk-nunjuk. Ada Gajah yang sedang makan, tiduran dan ada juga yang berdiri sedang tiduran," bebernya.

Target lima ekor gajah liar yang ditangkap dan dijinakkan dalam satu tahun biasanya berhasil didapatkan hanya dalam satu hari operasi. Biasanya gajah yang ditangkap ini adalah gajah yang masih berusia muda, 5 tahun karena gampang dilatih.

Dalam satu tahun PLG di Minas biasanya diminta mampu menjinakkan 5 ekor gajah liar.

Setelah ditembak bius, sekira lima menit gajah yang ditembak langsung ngorok. Dosisnya diatur agar jangan sampai tumbang karena kalau sudah tumbang akan sulit digiring gajah jinak masuk ke dalam mobil.

Kesempatan untuk mengikat gajah ini sekitar satu jam. "Kita ikat dulu dia. Jangan sampai tidur nanti bisa mati. Belalainya jangan sampai terlipat karena gak bisa bernafas, bisa mati juga," katanya.

Setelah gajah berhasil ditangkap, selama dua hari fisiknya diturunkan dengan cara tidak memberinya makan. Dua hari kemudian gajah liar yang dalam kondisi lemah dan setengah sadar itu dikeluarkan dari lokasi penangkapan dengan menggunakan gajah jinak untuk menariknya dari hutan. Caranya leher gajah jinak diikatkan ke gajah yang liar. "Dia akan jalan sendiri. Dipaksa juga. Karena gajah kita lebih besar dari dia makanya mudah ditarik," katanya.

Sepanjang perjalanan truk yang membawa gajah tetap diawasi para mahout dari mobil penggiring di belakangnya. Gajah selalu diperhatikan agar jangan sampai tertidur di truk. "Kalau bergerak telinganya, belalainya kita bius lagi," ungkapnya.

Terkadang ada juga gajah yang berusaha bunuh diri di perjalanan dengan cara menggantungkan kepalanya di kayu di dalam mobil atau membelitkan tali pengikatnya.

Ketika gajah liar yang baru ditangkap ini sampai di PLG langsung mengikuti orientasi guna penyesuaian lokasi. Enam bulan gajah ini biasanya sudah bisa dikendalikan mahout

Langkah awal menjinakkan gajah yaitu dengan memanfaatkan alat yang dinamakan rung yang terbuat dari tiga potong kayu dimana gajah diikatkan di sini. "Dari situ awalnya kita pegang-pegang. Awalnya gajah menjerit kalau dipegang. Kalau yang tak pernah itu geli. Untuk menghilangkan itu maka harus terus dipegang-pegang sampai beberapa minggu. Saat kita pegang kadang-kadang belalainya banting kiri kanan. Kalau belalai dah diikat maka tak bergerak baru bisa diraba," terangnya.

Setelah lepas dari rung maka gajah hanya diikat pada satu pohon dan terus diajak berteman sampai benar-benar bisa dikendalikan.

Nah, bagaimana dengan kayu gancu? Kayu ini biasanya terlihat dipegang seorang mahout. Erwin menjelaskan bahwa di kayu ini tidak ada unsur magic sebagaimana sering diceritakan masyarkat. Kayu berbentuk sebuah palu dan berujung runcing itu diyakini hanya kayu biasa. Kayu itu selain berfungsi sebagai stir atau alat pengendali gajah juga untuk keamanan mahout.

"Kadang ada kita butuhkan suruh dia robohkan kayu karena kayu itu mengganggu kita pas lewat. Saat itu kita kasih sedikit tokok dengan suara agak tegas. Karena kebiasaan itu yang rutin, kota bawa ke bahasa kita maka dia jalankan perintah kita," terangnya.

"Kita kasih tahu apa yang biasa kita sebut. Misalkan kita minta dia duduk. Kalau kita suruh duduk maka dia harus mau. Kalau tak mau, maka selanjutnya, besok makin merembet, membangkang dia," ulasnya.

Mani Gajah Hanya Mitos?

Setelah cerita panjang lebar mengenai perjalanannya menjadi mahout atau pawang gajah, Erwin menjawab pertanyaan dari salah satu wartawan Antara Alfisnardo yang juga ketua PWI Kabupaten Bengkalis tentang kebenaran dari cerita kehebatan air mani gajah.

Menurut Erwin apa yang selalu diceritakan orang tentang air mani gajah yang bisa membeku dan membentuk batu hanya mitos belaka. Karena ia bersama teman-temannya yang lain pernah menampung air mani gajah saat sedang kawin. Namun tetap saja air mani itu cair walaupun sudah ditaruh di suatu tempat seperti botol dalam jangka waktu lama juga tidak membeku.

"Untuk gajah kita bernama Rahmat waktu masa birahi, kita tampung, tak mau beku.
Gajah liar apa bedanya dengan gajah jinak. Mungkin orang yang apakan itu mungkin ada campuran yang dibuat. Dicampur sesuatu maka bisa beku," terang Erwin yang mengatakan, sekali kawin gajah jantan mengeluarkan sekira air mani sekira 5 cc.

Begitu juga mengenai cerita air mani gajah bisa dijadikan sebagai obat lemah syahwat dan menjadi jimat, menurut Erwin itu juga hanyalah sebuah mitos. "Kalau menurut saya semua itu mitos. Sama dengan durian. Kata orang durian yang bekas dimakan gajah enak. Menurut saya, jangankan durian, kacang kecil saja masuk ke mulutnya tetap dikunyah. Kalau durian itu yang dimakan gajah awalnya diinjak dulu sama gajah baru dikunyah," bebernya.

Nah bagaimana sejarah TNTN dan upaya penyelamatan satwa liar gajah sumatera di TNTN?

Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo Heru Sukmantoro dalam sambutannya di hadapan Tim Ekspedisi PWI ke TNBT dan TNTN, Ahad (8/8/2021) lalu menjelaskan bahwa potensi hutan yang tersisa di TNTN hanya sekira 14.000 hektare dari 81.793 hektare yang ditetapkan Menteri Kehutanan RI pada 28 Oktober 2014 lalu.

Sebelumnya pada tahun 2004 Penunjukan I Menhut RI tanggal 19 Juli 2004 areal TNTN seluas 38.576 ha. Kemudian Penunjukkan II tanggal 15 Oktober 2009 terjadi perluasan menjadi 44.492 ha.

Dari 81.793 ha ini, Heru memperkirakan hutan yang tersisa hanya tersisa 20 persen. "Mari yang 14.000 ini kita jaga, jangan sampai hilang," cakap Heru di aula Elephant Flaying Squad TNTN di hadapan Tim Ekspedisi PWI Riau ke TNTN.

Upaya mengamankan TNTN dari tangan-tangan jahil cukup berat karena minimnya jumlah petugas. Bayangkan saja, TNTN hanya memiliki polisi kehutanan sebanyak 22 orang untuk mengamankan 81.000 hektare, artinya 4.000 hektare satu orang Polhut. Untuk itu pihak TNTN mendorong masyarakat untuk dilibatkan.

Perambahan hutan merupakan permasalahan utama yang selalu terjadi disamping kebakaran hutan, konflik satwa, kondisi sosial masyarakat.

Ia mengakui sebagian besar masyarakat penggarap lahan di TNTN adalah pendatang. Hanya sebagian yang bisa mereka rangkul. "Mereka membentuk dusun yang menginduk desa di luar kawasan," ungkapnya.

Heru mengatakan, suatu kebanggaan bagi masyarakat di Riau karena masih ada kawasan konservasi. Situs kawasan konservasi ini bisa dicabut jika keberadaannya tidak ada.

Ia mengakui tidak mudah menjaga taman nasional. Oleh sebab itu perlu kebersamaan, saling bergandeng tangan melindungi TNTN.

Dalam kesempatan ini Heru juga menjawab pertanyaan yang sering muncul ditengah masyarakat mengenai banyaknya kerusakan di TNTN.

Heru menyebutkan, masyarakat harus perlu mengetahui sejarah pembentukan TNTN. Dimana TNTN terbentuk dari hutan produksi. Ada dua perusahaan yang pernah memegang hak konsesi. Diantaranya PT Inhutani sejak 1994 sampai 2004.

"Sudah tiga puluh tahun dikelola. Artinya diambil kayunya selama tiga puluh tahun.
Ini yang perlu digarisbawahi. Sementara TNTN baru empat belas tahun," terang Heru.

Ia mengakui selama ini TNTN selalu diberi narasi negatif. Ia berharap bagaimana narasi sampai ke Menteri LHK menjadi narasi positif. "Ada beberapa kejadian yang tak mengenakkan. Termasuk pembakaran setiap tahun terjadi. Gimana mau jadikan ini wisata kalau mindset negatif," ulasnya.

Menurut Heru, hendaknya sisa 14.000 hektare ini terus bisa dipertahankan karena hutan merupakan rumah sakit dan apotik bagi satwa liar. "Kalau di HTI kan tidak lengap. Sementara mereka (Gajah red) perlu kulit, akar-akar dan bijinya dimakan mereka sebagai obat, untuk menyembuhkan dirinya," ulasnya.

Jika kawasan ini tak ada lagi maka dunia internasional, PBN dengan organisasi yang mengawasinya akan mempertanyakan keberadaan TNTN.

Dikatakan, satwa liar bisa hidup panjang karena mereka membutuhkan hutan alam.
Dia membutuhkan obat tertentu yang ada di hutan.

Pemerintah menetapkan TNTN sebagai kawasan konservasi juga karena pemerintah ingin melindungi sumber air, oksigen. Hutan adalah pabrik oksigen yang tak pernah berhenti.

"Sekarang orang berlomba-lomba mencari oksigen. Ahamdulillah di tempat kita masih banyak," katanya.***

Penulis : Akhir Yani
Editor : Jef Syahrul
Kategori : Lingkungan, Serba Serbi, Riau
Untuk saran dan pemberian informasi kepada CAKAPLAH.com, silakan kontak ke email: redaksi@cakaplah.com
Berita Terkait
Komentar
cakaplah-mpr.jpeg
Selasa, 02 November 2021
DPR Ingin Seleksi Calon Anggota KPU-Bawaslu Ciptakan Demokrasi Lebih Baik
Selasa, 02 November 2021
Terima Aspirasi PPPK Guru, DPR Desak Peserta Yang Memenuhi Passing Grade Diluluskan
Senin, 01 November 2021
Komisi III DPR Dukung Langkah Kapolri Perbaiki Institusi Polri
Senin, 01 November 2021
Pimpinan DPR Sebut Kita Bersyukur Indonesia Jabat Presidensi G20

MPR RI lainnya ...
Berita Pilihan
Selasa, 26 April 2022
DPRD Dukung Pemprov Riau Tindak Tegas PKS Nakal, Kalau Melanggar Cabut Izin !
Selasa, 26 April 2022
Polemik Rotasi AKD DPRD Riau, Sugeng Pranoto: Hari Kamis Paripurna
Selasa, 26 April 2022
Sikapi Turunnya Harga Sawit di Riau, Ini Upaya Gubri
Selasa, 26 April 2022
CPNS dan PPPK Baru di Rohul Dipastikan Tak Terima THR, Ini Sebabnya...
Selasa, 26 April 2022
Sambut Mudik Lebaran, HK Operasikan 2 Ruas JTTS, Termasuk Tol Pekanbaru-Bangkinang
Senin, 28 Maret 2022
Ibu Muda Ini Ditangkap Polisi Usai Simpan Narkotika di Kandang Anjing
Minggu, 27 Maret 2022
Polda Riau Tingkatkan Kasus Jembatan Selat Rengit Meranti ke Penyidikan
Selasa, 26 April 2022
PPKM Level 2 Kota Pekanbaru Berlanjut hingga 9 Mei
Selasa, 26 April 2022
Parisman: 10 Tahun Visioner yang Menenggelamkan Pekanbaru
AMSI
Topik
Selasa, 08 Januari 2019
Penerimaan Pajak Air Tanah Pekanbaru 2018 Meningkat
Minggu, 06 Januari 2019
Mega Training 'Magnet Rezeki'
Minggu, 06 Januari 2019
Taman Marga Satwa Kasang Kulim, Kawasan Wisata Alam dan Hiburan
Minggu, 06 Januari 2019
Alam Mayang, Liburan Tak Mesti Keluar Kota

CAKAPLAH TV lainnya ...
Kamis, 08 Desember 2022
BPDASHL Inrok: Peduli Lingkungan, Bagian Membangun Peradaban
Kamis, 08 Desember 2022
Ingin Konsen Hadapi Pilkada, Muzamil Baharudin Pastikan Tak Ikut Pileg 2024
Kamis, 08 Desember 2022
Bupati Launching e-TJSP Tanjak Bermasa, Implementasi CSR Harus Berjalan Maksimal
Kamis, 08 Desember 2022
Diikuti 82 Tim, Perbasi Riau Gelar 3x3 di Mall Living World Pekanbaru

Serantau lainnya ...
Selasa, 06 Desember 2022
Kotak Baca Gairahkan Lagi Literasi di Pekanbaru
Rabu, 30 November 2022
Resep Martabak Telur Roti Tawar, Simpel dan Enak ala Chef Devina Hermawan
Rabu, 30 November 2022
Forum Maxi Pekanbaru Peduli Gempa Cianjur
Selasa, 29 November 2022
Rinaldi dan Chandra Resmi Pimpin Nmax Owner Communitas Periode 2022 - 2024

Gaya Hidup lainnya ...
Selasa, 08 November 2022
Festival Halloween Itaewon Tewaskan 154 Orang, Ini 4 Festival Berdarah Lainnya yang Tercatat dalam Sejarah
Senin, 05 September 2022
Merindu Wajah Indah Pekanbaru, Muflihun Optimis Raih Piala Adipura
Senin, 29 Agustus 2022
Peringatan HUT RI Ke-77 Jadi Momentum Refleksi Perjuangan Para Pendiri Bangsa
Selasa, 16 Agustus 2022
GALERI FOTO: Dalam Rangka Hari Jadi ke-65 Provinsi Riau, Ribuan Masyarakat Hadiri Dzikir Akbar Bersama Ustaz Das'ad Latif

Advertorial lainnya ...
Selasa, 06 Desember 2022
Siak sudah Mulai Transformasi Keuangan ke Sistem Digital
Kamis, 01 Desember 2022
Kuau Raja, Si Burung Bermata Seratus dari Sumbar yang Terancam Punah
Rabu, 30 November 2022
Mengenal Ubur-ubur Kotak, Makhluk Laut Paling Berbisa di Dunia
Rabu, 23 November 2022
Walau Bersayap, 7 Burung Ini Tidak Bisa Terbang

Tekno dan Sains lainnya ...
Rabu, 30 November 2022
Sambiloto: Si Raja Pahit yang Kaya Manfaat bagi Kesehatan
Senin, 28 November 2022
Dinas P3AP2-KB Riau Luncurkan Aplikasi Perlindungan Perempuan dan Anak
Senin, 21 November 2022
Aksesoris Travelling Yang Wajib Anda Bawa Saat Hujan
Jumat, 18 November 2022
Cegah Sakit di Musim Hujan dengan Mengonsumsi 7 Makanan Mengandung Vitamin B6

Kesehatan dan Keluarga lainnya ...
Kamis, 08 Desember 2022
Menko PMK Launching PMB Umri, Target Terima 3.000 Mahasiswa Baru
Selasa, 06 Desember 2022
Rektor Unri Resmikan Stasiun Meteorologi Pertanian Khusus Fakultas Pertanian
Senin, 05 Desember 2022
Pererat Silaturahmi Antar Mahasiswa Kampar di Yogyakarta, IPRY-KK Gelar Malam Keakraban
Jumat, 02 Desember 2022
5 Jurusan Kuliah yang Paling Banyak Disesali setelah Lulus, Kamu Bagaimana?

Kampus lainnya ...
Rabu, 09 November 2022
Wijatmoko Rah Trisno Pimpin Forum CSR Provinsi Riau
Rabu, 12 Oktober 2022
BDI EMP Bersama Bakrie Amanah Salurkan Santunan Pendidikan Tahap II
Senin, 10 Oktober 2022
Wujudkan Kota Dumai Bersih, BRK Syariah Bantu Pengadaan Sarana Angkutan Sampah Lewat Program CSR
Minggu, 09 Oktober 2022
BSI dan BSI Maslahat Bantu Pembuatan Sumur Bor Yayasan Al Muslimin Dumai

CSR lainnya ...

Khas Hotel November 2022
Terpopuler

04

DPRD Riau 2022 1
Foto
Diskes Rohul Agustus 2022
DPRD Riau 2022 2
Selasa, 06 Desember 2022
Bukan dengan Istri, Shah Rukh Khan Umrah Didampingi Bodyguard
Sabtu, 26 November 2022
Indra Prasta Simpati Gempa Cianjur, Lelang Gitar Kesayangan
Senin, 21 November 2022
Blak-blakan Nia Ramadhani kepada Merry Riana; Terjerat Kasus Narkoba Jadi Mukjizat Bagi Pernikahanku
Sabtu, 19 November 2022
DDV dan Aksa Bumi Langit Gelar Nonton Bersama untuk Anak-anak Kurang Beruntung

Selebriti lainnya ...
BSP - HUT Siak 12 Oktober 2022
Rabu, 09 Oktober 2019
Jadi Pimpinan DPRD Siak Dari Partai PAN, Ini Sosok Fairuz
Rabu, 09 Oktober 2019
Indra Gunawan Akan Berjuang Untuk Masyarakat dan Loyal Terhadap Partai
Rabu, 09 Oktober 2019
Ternando Jadi Anggota DPRD Siak Termuda dan Suryono Terpilih Dengan Suara Terkecil
Rabu, 09 Oktober 2019
Reaksi Pimpinan DPRD Siak Terkait PTPN V Buang Limbah Sembarangan

Parlementaria Siak lainnya ...
DPRD Riau Hari Kesehatan Nasional 2022
Jumat, 02 Desember 2022
Lima Waktu Mustajab untuk Berdoa
Jumat, 02 Desember 2022
Amalan Hari Jumat yang Disunnahkan Rasulullah
Jumat, 18 November 2022
Pegadaian Tawarkan Produk Arrum Haji, Cicilan hanya Rp22 Ribu Perhari
Senin, 31 Oktober 2022
Forum Pekanbaru Kota Bertuah Taja Peringatan Maulid Nabi

Religi lainnya ...
HUT Riau 2022 - April RAPP
Indeks Berita
DPRD Riau HGN 2022HUT RI 77 - APRIL RAPPPertaminaHUT Riau 2022 - PT SPR
www www