Sabtu, 13 Agustus 2022

Breaking News

  • Realisasi APBD Riau: Keuangan Baru Rp3,7 Triliun   ●   
  • Riau Belum Berlakukan Penghapusan STNK Mati Pajak 2 Tahun   ●   
  • Kenaikan Tarif Ojol Berpotensi Buat Inflasi Indonesia Makin Tinggi   ●   
  • Penambahan Kuota Belum Disetujui, Stok Pertalite di Riau Bakal Habis Oktober 2022   ●   
  • Pertama di Indonesia, Riau Buka Mall Vaksinasi dan Imunisasi   ●   
  • MA Vonis Bebas Dekan FISIP Unri Nonaktif Syafri Harto   ●   
  • Bermain di Sungai, Bocah 7 Tahun di Kuansing Tewas Tenggelam   ●   
  • Peresmian Tol Pekanbaru-Bangkinang Tunggu Jadwal Presiden   ●   
  • Kasus Covid-19 di Sekolah Naik, Diskes Riau Minta Sekolah Tidak Full Day   ●   
  • BPBD Riau Water Boombing Karhutla 25 Hektare di Rohul
Yamaha 11-13 Agustus 2022
Polling
Pemko Pekanbaru berencana menaikkan tarif parkir tepi jalan umum September 2022. Untuk kendaraan roda dua jadi Rp 2.000 dan roda empat Rp 3.000. Bagaimana menurut Anda?


Pesona Sungai Gelombang yang Menghanyutkan, Lepaskan Penat, Tertawa Bebas
Sabtu, 16 Juli 2022 17:09 WIB
Pesona Sungai Gelombang yang Menghanyutkan, Lepaskan Penat, Tertawa Bebas
Adit tersenyum senang bermain air di Sungai Gelombang yang jernih dan jadi pilihan wisata air di Provinsi Riau. Foto: Dokumentasi Pribadi Yusni Fatimah Lubis

TERINGAT kembali pengalaman mengasyikkan saat aku dan Unik Susanti, rekan kerja yang sudah seperti saudara kontan memutuskan bahwa kami sama-sama butuh recharge dari kepenatan sehari-hari sebagai bagian dari hiruk pikuknya dunia jurnalistik di Provinsi Riau. Saat itu, 15 Mei 2021, pandemi belum usai, namun sudah mulai ada pelonggaran untuk tempat-tempat wisata.

Suasana waktu itu masih dalam masa libur Lebaran 2021, tepatnya Idul Fitri 1442 Hijriah.

Kami memutuskan untuk healing tipis-tipis ke destinasi wisata terdekat dari Kota Pekanbaru. Tempat kami bermukim sudah belasan tahun ini.

Tujuan pun ditetapkan. Kami akan ‘mengintip’ Sungai Gelombang. Sungai yang merupakan aliran dari Sungai Kampar, yang terletak di Desa Sipungguk, Kecamatan Salo, Kabupaten Kampar Provinsi Riau.

Jarak Sungai Gelombang sekitar 60 kilometer dari Kota Pekanbaru. Bisa ditempuh selama 2 jam dengan berkendara santai. Kalau ngebut, bisa saja 1,5 jam tembus. Tapi tidak direkomendasikan. Kan mau ke objek wisata, bukan mau ke kelurahan yang harus datang pagi-pagi, bukan juga mau ketemu janji dengan doi. Jadi, tidak perlu buru-buru.

Berangkatlah kami berlima menuju titik tujuan. Ada saya, Unik, Ibunya Unik, keponakannya Afifah dan Adit. Dua bocah cerdas yang manut banget kepada Unik.

Sungai Gelombang memang sedang viral di media sosial kala itu. Kabarnya, lokasi ini semakin terkenal usai dijadikan lokasi syuting salah satu iklan BUMN ternama.

Perjalanan ke Titik X

Unik yang menyopiri kami. Menumpang Si Kuning kesayangannya menuju titik X, yang satu pun diantara kami belum tahu dimana rimba objek wisata tujuan kami itu.

Perjalanan dimulai sekitar pukul 08.00 wib. Hari Sabtu. Sepanjang perjalanan, dalam mobil berinterior serba ungu itu, Ibunya Unik berkali-kali mengingatkan Adit agar tidak bolak-balik merubah arah duduknya. Kadang de depan, kadang menghadap ke belakang.

Bocah TK ini memang aktif, tapi biasanya masih dibilangin dan sangat sopan.

“Nanti muntah lo Dit,” tegur Ibu Unik kepada Adit yang bersikap tidak seperti biasa.

Teguran itu untuk ketiga kalinya sejak kami melewati perbatasan Kota Pekanbaru dan Kabupaten Kampar.

Mungkin Adit kadung antusias mau bermain air. Dia memang hobi basah-basahan. Matanya akan berbinar-binar saat diajak ke kolam renang umum yang tak jauh dari rumah tantenya.

“Gak apa-apa lo Mbah, ngak pusing kok,” kata Adit santai.

Kakaknya Afifah cenderung diam. Remaja SMP itu lebih sibuk mengunyah daripada menimpali obrolan kami sepanjang jalan. Sekantong besar keripik dia pangku.

“Takut muntah Buk, kalau mulutnya berhenti gerak,” katanya memberi alasan saat saya bertanya kenapa dia lebih banyak diam.

Perjalanan menuju Sungai Gelombang memang hanya butuh kesantaian. Jalan dari Pekanbaru menuju lokasi sudah full aspal yang mulus. No gusrak gasruk ala-ala jalan berbatu atau aspal mengelupas.

Sepanjang perjalanan, selain mengobrol ringan, kami juga ikut-ikutan Afifah menikmati berbagai penganan yang dibawa dari rumah. Mulai dari aneka jajanan yang dibeli di swalayan berkasir seragam biru, hingga aneka kue yang disiapkan Ibunya Unik.

Begitu memasuki Kota Bangkinang, Unik meminta kami siap-siap.

“Buruan buka Maps,” katanya tanpa buyar konsentrasi. Matanya tetap fokus ke depan.

Tangan saya sigap memilih aplikasi andalan dari Google itu. Begitu mengetik ‘Sungai Gelombang’ kami langsung dipandu suara Mbak-mbak ramah agar belok ke arah kanan.

Kami patuh ke si Mbak hingga tampaklah Jembatan Water Front City yang ikonik di Kota Bangkinang itu. Di lokasi ini, view yang ditawarkan juga layak jadi pertimbangan untuk cuci mata menenangkan otak.

“Di sini pasti indah saat sore hari,” pikir saya saat itu.

Sebuah becak motor melintas di sisi kanan kami. Adit memperhatikan dengan penasaran. Ternyata ada bocah wanita dan ibunya yang menumpang di angkutan umum tanpa atap itu. Dia mengenakan jilbab berenda yang lucu. Berkibar-kibar ditiup angin pagi.

“Nah uda dekat ini,” kata Unik memecah konsentrasi kami yang mulai fokus menikmati lanskap sekitar jembatan yang membelah Sungai Kampar itu. Kota Bangkinang memang asri. 

Adit dan Afifah semakin berbinar. Tak sabar melihat wujud Sang Sungai Gelombang. Maklum, malam sebelumnya, mereka telah berkali-kali membuka YouTube, melihat wujud Sungai Gelombang yang terlihat memang sangat ramah anak dan menjanjikan untuk bermain air.

Tidak Pakai Tiket

Sekitar 1 Kilometer dari jembatan, kami mengikuti Si Mbak ke arah kiri, lalu tinggal santai mengikuti petunjuk jalan hingga sekitar 5 kilometer jauhnya.

Seandainya pun tak ada Maps, ada warga tempatan yang bisa dijadikan tumpuan arah jalan. Tenang saja, warga Bangkinang ramah tamahnya akan membuat yakin untuk bertanya banyak hal, tanpa harus malu atau canggung. Tak hanya arah ke Sungai Gelombang. Bertanya arah masa depan pun mungkin akan dijawab bila mereka tahu jawabannya.

Sekitar pukul 9.45 wib, kami nyaris tiba di lokasi. Begitu masuk jalan menuju Sungai Gelombang, kami sedikit kaget. Karena lokasi sungai sebenarnya tidak begitu jauh dari pemukiman warga. Lokasi parkirnya malah tepat di sisi kiri atau kanan rumah-rumah warga.

Unik memarkirkan mobil dengan dipandu salah satu pemuda yang mungkin memang juru parkir di lokasi ini. Begitu parkirnya mantab, pemuda kurus berkaos hitam itu mengangsurkan karcis parkir kepada Unik yang baru keluar dari mobil. Saya menyambarnya. Dalam karcis terbaca tarif yang dikenakan ke pengunjung. Roda 2 Rp5000 dan roda 4 Rp20.000. Sayang mengangsurkan sehelai uang kertas berwarna hijau.

“Nanti tiket masuk bayar di mana bang?” saya bertanya ke pemuda itu.

“Gak ada bayar tiket lagi kak. Uda include itu kak,” jawabnya sembari tersenyum lalu berlalu. Dia mendekati lokasi mobil Unik diparkir. Di sana ada 3 orang pemuda lainnya memegang pack karcis yang sama.

“Apa bukan halaman orang ini Buk?,” tanya Adit polos sembari melihat ke arah saya bergantian dengan bentang luas sekeliling kami.

“Iya kayaknya Dit. Mungkin disewakan buat parkir,” jawab saya sekenanya.

Sebuah pohon tertempel bacaan ‘Area Parkir’ menarik perhatianku. Ada bacaan ‘Roda 2’ dan ‘Roda 4’ dalam poster kecil itu.

Didesak rasa tak sabaran, kami setengah bergegas mengeluarkan barang bawan dari mobil. Mulai dari aneka jajanan, bekal makan siang, hingga baju ganti. Di sekitar kami sudah banyak pengunjung lainnya. Bahkan ada yang sudah mau pulang.

Kami berlima beriringan menuju arah suara berdesak besar. Suara khas sungai yang berarus. Sesekali terdengar suara toa.

“Eh, toa?” batin saya bertanya-tanya.

Unik berjalan mendahului. Dia menenteng kresek berisi bekal makan siang. Sisa barang lainnya saya dan Afifah yang membawa. Dia memilih jalan masuk ke pinggir sungai yang terdapat agak ke hilir. Ada sedikit turunan yang harus dilalui. Jalannya agak licin. Mungkin sisa hujan pada malamnya.

Suara toa semakin jelas terdengar. “Bapak-bapak, ibu-ibu, perhatikan ya,…”. Terdengar suara pria dari toa itu. Tapi masih sayup-sayup, bising gemuruh air dan suara pengunjung berpadu menyemarakkan hawa wisata di lokasi ini.

Saat benar-benar berada di pinggir arus, tampaklah bentuk Sungai Gelombang yang sungguh memukau. Seluas mata memandang, hamparan air beriak deras nan jernih benar-benar menawan. Melihatnya saya membuat segar.

Seketika saya merasa lebih rileks. Ajaib.

Karena bebatuan di dasarnya, air sungai membentuk benturan sesama air dan percikan layaknya gelombang-gelombang ombak kecil. Air bergelombang ini hanya sekitar 1 kilometer alirannya. Sisanya adalah aliran sungai yang tenang dan dalam.

Toa Itu Ternyata…

Di ujung aliran arus yang bergelombang, berdirilah seorang abang-abang menenteng toa. Terjawablah teka-teki itu.

“Harap jangan sampai ke area ini. Bapak-bapak, ibu-ibu, tolong awasi anaknya agar tidak sampai ke area ini,” kata Si Abang berulang kali.

Ternyata, Si Abang toa adalah petugas pengawas di ujung sungai. Dia –literally- berdiri di tengah sungai sembari mewanti-wanti pengunjung agar jangan kebablasan hingga ke hilir, di arus yang dalam. Bagian sungai yang itu, walau tampak tenang, namun arusnya deras di bawah.

“Yuk kak,” ajak Unik sembari terus melangkah menuju salah satu saung untuk kami berteduh dan meletakkan barang-barang.

Bila dilihat dari atas. Warna-warni atap saung sangat menarik mata. Ada yang terbuat dari terpal orange atau biru. Banyak juga yang terbuat dari daun palem-paleman. Saya kurang tahu pastinya, mungkin daun kelapa sawit, nipah, atau kelapa.

Deretan saung ini nyaris seragam bentuknya. Khas tempat wisata yang masih low budget. Cukup bayar mulai Rp20.000 hingga Rp30.000 untuk menyewa salah satunya. Tidak ada batasan waktu sewa.

Di area Sungai Gelombang, saung-saung ini menjamur mulai dari bagian tebing sungai hingga ke pinggir sungai. Bukan hanya di pinggir yang masih ada tanahnya. Tapi benar-benar di aliran sungai. Beberapa ada yang malah agak ke tengah.

Posisi saung yang berada di atas aliran sungai ini tampaknya paling diminati pengunjung. Saung dia atas sungai memungkinkan mereka langsung menikmati cipratan gelombang sungai sembari bersantai.

Ada yang anaknya masih kecil, cukup dibiarkan bermain di sekitar saung saja. Pelambung yang digunakan sang anak diikatkan pada salah satu tiang saung. Cara aman agar pelampung dan si anak tidak terseret arus. 

Rombongan kami memilih saung yang ada di tebing. Selain karena aman dari basah-basahan, posisinya yang tinggi juga memungkinkan Ibu Unik untuk melihat aktivitas dua cucunya saat menjajal arus Sungai Gelombang. Kami memilih yang lumayan luas, cukup bayar Rp30.000.

Begitu saya mencoba langsung turun ke aliran sungai. Rasa dingin menjalar dari riak air dan batu-batu di dasarnya. Batu-batu itu ada yang datar, bulat, pipih, hingga runcing. 

Dasar sungai juga menawarkan pijakan batu-batu besar yang kadang kesat, namun tak jarang berlumut. Matahari jelang siang juga menjadi komposisi lainnya yang semakin menambah nilai pesona di sungai ini. Mantab betul!

Tinggi air bervariasi. Mulai dari semata kaki hingga nyaris sepinggang orang dewasa.

Selain cebur-cebur manja. Rerata pengunjung melakukan sesi foto-foto sebagai pemanasan. Air yang bening dan pemandangan sekeliling sungai memang sangat mendukung. Banyak spot bagus untuk dijepret.

Usai foto-foto, dimulailah aktivitas utama. Yeay! Mandi-mandi.

Begitu nyemplung ke tengah sungai. Bermain hanyut-hanyutan tampaknya jadi aktivitas favorit para pengunjung Sungai Gelombang.

Anak-anak, remaja, hingga yang tua-tua pun ramai-ramai merelakan diri terbawa arus ke hilir. Mengambang-ngambang didorong gelombang sembari melepas tawa berderai-derai.

Menghanyutkan Diri

Bermodalkan pelampung berupa ban dalam bekas, aktivitas hanyut-hanyutan semakin menyenangkan. Ban-ban bekas itu bisa disewa di lokasi dengan harga mulai Rp5000 untuk yang kecil, hingga Rp20.000 untuk ukuran jumbo. Ada juga pelampung cantik warna warni. Harganya beda lagi.

Kami menyewa 1 pelampung kecil, 1 ukuran sedang, dan 1 yang jumbo. Dengan ban bekas ini kami bolak-balik menghanyutkan diri ke hilir. Sensasinya bikin bahagia. Nyaris semua pengunjung melakukan hal yang sama.

Saya, Adit, dan Afifah bermain hanyut-hanyutan dengan pelampung di Sungai Gelombang. Foto: Dokumentasi Pribadi Yusni Fatimah Lubis

Teriakan diselingi tawa berderai mengiringi setiap pelampung hanyut berisi 2-3 orang. Begitu sampai ke batas yang ada Abang-abang toa, semua yang bermain hanyut-hanyutan berjuang lagi kembali ke hulu sambil menenteng pelampung masing-masing. Lalu mengulanginya lagi. Berkali-kali.

Saya mencoba pose hanyut menghadap atas. Meniru sekelompok remaja cowok didekat saya. Seru. Badan serasa melayang saat terbawa arus. Dengan mata menghadap langit, rasanya seperti terbang. Saya menutup mata. Relaaaaax.

Namun, tiba-tiba saya mendengar suara toa.

“Ibu…”, suara Si Abang Toa.

Saya terlambat sadar diri. Begitu mawas, posisi saya sudah nyaris di batas yang tak boleh dilewati pengunjung. Saya merasakan arus atas sungai mulai pelan. Bahkan kaki saya sudah tidak menjejak dasar sungai.

Saya mencari Si Abang Toa. Kami bertemu mata. “Bisa Buk? Butuh dibantu,” tanyanya sopan ke arah saya.

Dalam benak saya yang saat itu mulai panik, takut tenggelam dan terbawa arus: “Iya bang, tolong”. Tapi nyatanya suara saya tak keluar.

Saya hanya mengulurkan tangan. Disambut Si Abang. Dia menarik saya. Hap! Saya  sudah berdiri lagi di atas dasar sungai berkerikil. Ngeri-ngeri sedap!

“Terimakasih Bang,” ucap saya ke arah Si Abang setengah malu.

“Iya Buk, hati-hati ya,” pesannya.

Saya pamit kembali lagi ke hulu.

Belum jauh saya berjalan. Eh, ada cowok remaja hanyut di sebelah kiri saya. Saya melihat ke belakang. Dia tampak santai walau sudah mengapung di bagian sungai yang dalam. Ternyata dia bisa berenang. Dengan mudah dia kembali lagi ke bagian sungai berdasar kerikil.

“Jangan sampai ke sini Dek,” pesan Si Abang Toa ke cowok itu. Dia hanya melengos.

Unik menghampiri karena melihat saya datang dari arah ‘bagian terlarang’ itu.

“Ngak apa-apa kak? Tenggelam?,” tanyanya.

“Nyaris,” jawab saya sembari nyegir.

Insiden kecil itu tidak menghentikan saya menikmati arus Sungai Gelombang. Saya kembali tenggelam menikmati setiap percikan airnya. Sensasi menghanyutkan diri. Tertawa dan bercanda di tengah arus.

Luka-luka di telapak kaki akibat beberapa batu yang licin atau tajam di dasar sungai terabaikan begitu saja. Pokoknya, saya, Unik, Afifah, dan Adit tertawa bebas. Pun pengunjung lainnya.

Sisi Lain Juga Cantik

Di bawah naungan langit yang cerah dan kibasan angin yang ramah siang itu, wisata mandi-mandi ini semakin berkesan. Semakin tinggi matahari, semakin banyak pengunjung yang datang. Saung-saung semakin penuh. Padahal, idealnya, datang pagi hari adalah perfect timing untuk menikmati langit ramah di sungai yang di kiri kananya banyak pokok sawit terlewat umur itu.

Teriakan-teriakan bahagia kanak-kanak dan orang dewasa semakin menggema-gema di sungai yang kabarnya dulu adalah tempat pemandian kerbau itu. Jauh hari sebelum banjir besar membuat sungai semakin lebar dan airnya mendangkal.

Pengunjung nyaris membludak di sisi kanan sungai. Sebagian yang baru tiba memilih menyeberang ke sisi kiri. Di sisi ini juga tak kalah bagus untuk menggelar tikar. Belum banyak saung di sisi ini. Tapi ada spot-spot foto cantik tersedia.

Dari pinggir sungai, ada undakan mirip tangga yang diberi pegangan dari kayu bercat putih. Bagian itu dikelilingi pagar kayu. Sisi sungai ini diberi nama Pulau Tale. Untuk masuk ke sini, cukup merogoh kocek Rp5.000.

Tampak sisi kiri Sungai Gelombang yang merupakan Pulau Tale, juga menawarkan keindahan dan spot-spot foto yang menarik untuk diabadikan. Foto: Dokumentasi Pribadi Yusni Fatimah Lubis

Rindang pepohonan dan rumput yang tumbuh pendek membuat penampakannya ciamik. Belum lagi adanya taman kecil berupa jendela-jendela dicat putih dan biru. Spot untuk foto-foto.

Tak luput dari pandangan, bunga-bunga yang memang sengaja ditanam di sana. Taman kecil itu dan rumpun bambu besar beserta jejeran pohon pinang yang menjulang, praktis menjadi lanskap yang mendamaikan saat dipandang. Cocok untuk diabadikan lewat jepretan.

Di kejauhan, ada rumpun besar Bambu yang bila diperhatikan agak menyulut bulu kuduk.

Tampak ada juga sampan tertambat di sisi kiri sungai. Namun sepertinya pengunjung hari ini hanya tertarik menghanyutkan diri. Melepas penat.

Sungai Serba Ada

Agak lelah bermain hanyut-hanyutan, Adit mengajak saya menjelajah ke arah hulu sungai.

“Ke depan yuk Buk. Apa itu di sana-sana,” ajak bocah ompong itu kepada saya. Saya mengiyakan dan kami mulai menyusuri arus ke hulu.

Saya menyapu pandang ke sekitar sungai, tampak Unik dan Afifah masih betah menghayutkan diri ke hilir. Naik pelampung ukuran ekstra besar itu, mereka berkali-kali menabrak pengunjung lain yang sengaja berbaring di tengah arus. Tapi tidak ada yang marah. Yang ada hanya tawa berbalas tawa. Terlanjur euforia. Semua indah di sungai ini.

Saat berjalan, saya menatap ke arah saung yang kami sewa. Ada Ibu Unik yang masih betah duduk di sana. Sayangnya Si Ibu tidak tertarik sama sekali untuk bergabung dengan kami.

“Uda tua kok,” kata Ibu Unik memberi alasan saat kami mencoba meyakinkan untuk terjun ke sungai.

Padalah begitu diperhatikan, tidak sedikit ibu-ibu dan bapak-bapak berusia sekitar 50-60 tahunan ikut nyemplung merasakan sensasi kerikil dan dinginnya air sungai ini. Mereka juga berbinar-binar.

Ada yang hanya berendam saja. Mendampingi cucu tersayang, sementara ibu bapaknya tergulung-gulung arus sembari terpingkal-pingkal. Ada juga yang nekat ikut hanyut-hanyutan.

Saya sempat memperhatikan dengan cemas 3 orang ibu yang berkali-kali terguling tak kuat menahan arus saat menghayutkan diri. Tapi mereka tetap tertawa-tawa.

Ketiga ibu itu mengenakan hijab mereka dan outfit yang menurut saya terlalu formal untuk dibawa berwisata air.

Mungkin awalnya mereka tak berniat nyebur, tapi tergoda dengan pesona sungai ini. Saya dan Adit yang menyaksikan mereka sangat menikmati momen-momen itu, tertular ikut tertawa.

Tiba-tiba seorang ibu penjaja makanan menghampiri. Dalam bakulnya, ia membawa jagung rebus beberapa bonggol, kacang rebus, popcorn, dan minuman. Dia menghampiri kami hingga ke tengah sungai.

Saya menolak dengan halus, karena baru beberapa menit sebelumnya kami nyemil gorengan yang dibeli dari salah satu lapak di pinggir sungai. Cukup mengganjal perut yang lapar karena dingin.

“Hoooo…ada yang jual baju juga di sini ya buk,” kata Adit seketika. Dia menyisir pandang ke saung-saung di area paling depan sungai.

Benar saja, ada lapak pedagang yang menjual aneka baju. Mulai dari baju santai, kaos, training, jilbab, daster, hingga set baju tidur. “Baju tidur?” fikir saya.

Memang banyak lapak berjualan aneka barang di bagian depan ini. Tak hanya baju, kacamata renang, pelampung, kain pantai, hingga mainan, seperti pistol air, dijual di sana. Ada juga aneka makanan, beragam buah, mulai dari Durian hingga Jeruk ada di sana.

"Memang lengkap semuanya di sini. Tak payah (sulit) jauh-jauh kalau mau mencari apa-apa," jelas Ipul, salah satu pengunjung yang juga dari Pekanbaru.

Pria 30-an tahun itu menenteng dua bungkus besar kerupuk sembari berdiri di dekat penjual bakso bakar. 

"Rombongan kami lagi makan. Anak saya maunya ini," katanya sembari tersenyum menunjuk ke bola-bola tepung bercampur daging di atas panggangan itu.

Ipul tak irit bicara. Katanya lagi, ini bukan kali pertama ia dan keluarganya berwisata ke Sungai Gelombang. 

"Dulu malah ada tempat kayak karaoke-an di atas situ. Tak tahu ntah masih ada," katanya lagi sambil memajukan mulutnya, menunjuk ke arah atas pinggir sungai.

Adit yang mulai tak sabar menarik tangan saya, ingin kembali ke sungai.

Saya pamit ke Ipul sebelum kami berlalu.

Objek wisata ini memang benar-benar menjadi ladang mencari sesuap rezeki bagi warga sekitar. 

Melihat saya dan Adit sudah ada di hulu sungai, Unik akhirnya ‘ngekor’ juga. Tapi tetap, begitu sampai ke hulu, dia ujung-ujungnya menghanyutkan diri juga hingga ke hilir.

“Makin jauh makin seru!,” katanya setengah berteriak karena suaranya nyaris tenggelam olah suara pengunjung lain yang semakin ramai.

Di hulu ini, Adit memilih berendam dan menyusun-nyusun kerikil jadi undakan-undakan kecil. Di bagian ini, airnya jauh lebih dangkal. Batu-batunya berwarna kekuningan cantik. Lebih aman untuk anak-anak.

Adit bermain dengan pelampungnya yang berwana-warni di Sungai Gelombang. Langit yang cerah mendukung untuk berwisata di lokasi ini. Foto: Dokumentasi Pribadi Yusni Fatimah Lubis.

Saya hanya mengawasi Adit sambil ikut duduk di tengah sungai yang tetap dingin walau sudah nyaris tengah hari.

Bosan bermain air, Adit meminta melihat mbah-nya. “Kita lihat mbah yok Buk. Lapar juga ini,” katanya polos.

Kami kembali ke hilir dengan cara menghanyutkan diri. Lebih cepat sampai daripada jalan kaki menyusuri arus. Beberapa kali kami berpapasan dengan muda-muda yang sedang berpose hendak difoto rekannya.

Begitu sampai ke bibir sungai, kami dapati, ternyata Unik dan Afifah juga hendak beranjak dari tengah sungai. Mereka sedang ada di arus yang deras. Tampak mereka agak kesulitan menyeberang ke bagian berarus lambat. Walau kesulitan, mereka tampak tertawa-tawa saja sembari berpengangan tangan menuju pinggir.

Tak jauh dari posisi mereka, ada juga beberapa remaja tanggung cewek dan cowok mengalami hal yang sama. Yang cewek-cewek tampak malu-malu manja minta dibantu oleh para cowok agar dituntun ke bagian berarus pelan. Tawa mereka yang melengking terdengar ke posisi saya dan Adit berdiri.

Saya hanya senyum-senyum melihat mereka. Jadi tertawa saat Unik beberapa kali terjatuh di tengah arus sebelum akhirnya berhasil tiba di pinggir sungai.

Sampai di saung, Ibu Unik langsung menyuruh kami makan nasi dan lauk pauk yang dibawa dari rumah. Saya turun dari saung sebentar, menuju lapak gorengan yang tadi dan membeli beberapa jenis. Harganya murah, cuma Rp1000 per biji.

Unik menyusul, dia memesan kopi dan teh manis hangat. Sama, harganya juga standar.

“Di sini memang murah-murah semua kak. Walau tempat main, kami tak tinggikan harga. Biar orang-orang balik lagi. Kan rezeki kita ada terus jadinya,” kata pemilik warung gorengan saat saya puji karena mereka tidak getok harga.

Usai melahap nasi dan lauk pauk yang terasa begitu nikmat itu, saya melirik jam di handphone. Saatnya Salat Zuhur. Saya pamit ke Ibu Unik untuk mandi dan ganti baju, agar bisa segera salat. Saya mengeluarkan handuk, baju ganti, dan mukena travel dari tas.

Saya mencari tempat mandi dan salin baju ke arah hulu dan menemukannya. Cukup bayar Rp2000 kalau mau menggunakannya. Walau kondisinya masih seadanya, tapi lumayanlah untuk tempat wisata yang baru berumur 2 tahun saat itu.

Sebenarnya, di bagian hulu, ada toilet dan tempat ganti baju yang lebih representatif, tarifnya juga sama, cuma Rp2.000. Di sana sudah ada cermin dan sisir yang disediakan. Hanya saja, saya malas berjalan jauh.

Keluar dari tempat ganti baju, saya bertemu dengan Abang Toa sedang berdiri tak jauh dari tebing sungai. Kami bertatap mata lagi.

“Bang, musalanya dimana?” tanya saya dengan keyakinan bahwa tempat ini pasti menyediakan musala.

Warga Kampar sangat agamis. Sudah pasti pengelola objek wisata ini atau warga sekitar menyediakan musala untuk tempat salat pengunjung.

“Ke atas aja Buk, ada dekat parkiran itu,” katanya. Kan bener.

Sejurus kemudian, saya sempat melirik saat ia mengangsurkan toa yang dipegang ke pemuda lainnya. Ganti shift agaknya.

Dari keterangan para pemilik lapak jualan, ada sekitar 11 orang pemuda tempatan yang jadi pengawas di sepanjang Sungai Gelombang. Maklum saja, arus derasnya kadang memang membawa pengunjung terlalu jauh dan bisa saja hilang kendali. Terlebih yang anak-anak. Butuh pengawasan ekstra.

Pulang dengan Kenangan dan Janji Kembali

Benar saja. Tersedia musala yang walau kecill, namun lumayan memadai. Letaknya di area parkir.

Selesai salat, saya kembali ke saung. Hendak gantian salat dengan yang lain. Namun begitu hendak menuruni undakan tanah, terdengar suara toa lainnya dengan nada tegas.

Ternyata ada rombongan Satgas Covid-19 yang datang ke lokasi ini. Memperingatkan seluruh pengunjung agar tetap prokes dan waspada penyebaran Covid-19.

Adit dan Afifah awalnya masih berencana turun lagi ke sungai. Namun begitu duduk, makan, dan badan nyaris kering. Kami semua malah memilih mengaso dulu. Memulihkan fisik.

Ternyata menikmati keseruan di Sungai Gelombang cukup menguras tenaga. Banyak tertawa dan bolak balik berjalan di arus telah menyedot energi kami beribu-ribu kilokalori. Hanya saja, saat di dalam air tak terasa karena kadung tersihir serunya main air di alam asri yang begitu menenangkan.

Ada sekitar 30 menit kami saling berdiam diri di dalam saung. Hanya sibuk memperhatikan aktivitas orang lain di sungai. Hingga siang itu, pengunjung masih terus berdatangan. Saung kami yang memang luas, akhirnya setengahnya diisi keluarga lain. Ibu Unik membiarkan saja. Katanya kasihan tak dapat tempat.

“Udah yok, pulang kita,” ajak Ibu Unik.

“Uda mbah?” tanya Adit sedikit kecewa sambil meneguk Fanta di tangannya.

“Nanti sakit loh kelamaan berendam,” jelas Ibu Unik sembari menunjuk ke mata Adit yang memang sudah memerah.

“Yaudah ayok. Lagian udah ramai kali ini,” kata Unik setuju.

Saya manggut-mangut tak membantah.

Kami mengemas semua baju basah. Wadah bekas bekal. Lalu membuang sampah ke tong yang tersedia di banyak titik.

Kami beranjak pulang. Sepanjang perjalanan, kami masih membahas apa saja yang kami lakukan selama di Sungai Gelombang.

“Sepertinya kita perlu mengagendakan lagi ke tempat tadi. Udahlah dekat. Murah. Cantik. Puas lagi,” kata Unik semangat.

“Ayok buk,” kata Adit dan Afifah nyaris serentak.

“Okeh,” sahut saya tak kalah antusias.

“Tapi itu toilet, tempat ganti baju perlu diperbaiki agar layak,” kata Ibu Unik nimbrung.

“Iya sih Buk, setuju. Kalau bagus dibuat, kan lebih mendukung jadinya. Jalanan yang becek-becek itu juga harusnya diberi tanah padat. Atau disemen aja kali ya. Kalau licin begitu kan bahaya kalau orang terpeleset,” kata saya menambahkan.

“Yang di bagian sungai dalam itu juga ngeri loh kalau nyampe sana. Apa tak bisa dipasang sesuatu di situ agar kalau ada yang terlanjur ke sana bisa pegangan. Pakai tali di sana atau tiang lah,” kata Unik mencoba memberi saran.

“Kalau dipasang itu, pas air pasang, apa tak copot atau hanyut? Ntar malah jadi tempat nyangkut sampah lagi,” jawab saya mencoba menganalisa. Berkelebat memory saat ditolong Abang Toa. Namun langsung buyar dengan kenangan tawa-tawa lepas sebelum kejadian itu.

“Hem, ya biarlah pengelola aja yang mikirin toh,” sahut Ibu Unik lebih logis.

Saya dan Unik tertawa serentak.

“Perlu tu pemerintah ikut bantu menata atau kelola,” kata Unik sejurus kemudian. Solusi yang tepat juga menurut saya.

Tak lama dalam mobil, Unik mengajak singgah untuk makan Sate Ocu Iman yang melegenda di Kampar hingga Pekanbaru. Kami setuju. Namun anehnya, kami tak menemukan sama sekali lokasi sate yang katanya nikmat namun murah itu.

Akhirnya kami singgah di warung sate lainnya. Sebut saja sate tanpa nama. Namun rasanya juga nikmat.

Kenyang makan sate, kami melanjutkan perjalanan menuju Kota Bertuah. Obrolan terus berlanjut. Yang kami bahas adalah semenyenangkan apa yang masing-masing kami alami selama di Sungai Gelombang. 

Ibu Unik ikut senyum-senyum mendengarkan cerita kami.

Lama saling berbagi pengalaman, kami berlima sepakat untuk kembali lagi ke sana suatu saat. ***

Penulis : Yusni Fatimah Lubis
Editor : Jef Syahrul
Kategori : Serba Serbi, Riau
Untuk saran dan pemberian informasi kepada CAKAPLAH.com, silakan kontak ke email: redaksi@cakaplah.com
Polling
Pemko Pekanbaru berencana menaikkan tarif parkir tepi jalan umum September 2022. Untuk kendaraan roda dua jadi Rp 2.000 dan roda empat Rp 3.000. Bagaimana menurut Anda?

Berita Terkait
Komentar
cakaplah-mpr.jpeg
Selasa, 02 November 2021
DPR Ingin Seleksi Calon Anggota KPU-Bawaslu Ciptakan Demokrasi Lebih Baik
Selasa, 02 November 2021
Terima Aspirasi PPPK Guru, DPR Desak Peserta Yang Memenuhi Passing Grade Diluluskan
Senin, 01 November 2021
Komisi III DPR Dukung Langkah Kapolri Perbaiki Institusi Polri
Senin, 01 November 2021
Pimpinan DPR Sebut Kita Bersyukur Indonesia Jabat Presidensi G20

MPR RI lainnya ...
Berita Pilihan
Selasa, 26 April 2022
DPRD Dukung Pemprov Riau Tindak Tegas PKS Nakal, Kalau Melanggar Cabut Izin !
Selasa, 26 April 2022
Polemik Rotasi AKD DPRD Riau, Sugeng Pranoto: Hari Kamis Paripurna
Selasa, 26 April 2022
Sikapi Turunnya Harga Sawit di Riau, Ini Upaya Gubri
Selasa, 26 April 2022
CPNS dan PPPK Baru di Rohul Dipastikan Tak Terima THR, Ini Sebabnya...
Selasa, 26 April 2022
Sambut Mudik Lebaran, HK Operasikan 2 Ruas JTTS, Termasuk Tol Pekanbaru-Bangkinang
Senin, 28 Maret 2022
Ibu Muda Ini Ditangkap Polisi Usai Simpan Narkotika di Kandang Anjing
Minggu, 27 Maret 2022
Polda Riau Tingkatkan Kasus Jembatan Selat Rengit Meranti ke Penyidikan
Selasa, 26 April 2022
PPKM Level 2 Kota Pekanbaru Berlanjut hingga 9 Mei
Selasa, 26 April 2022
Parisman: 10 Tahun Visioner yang Menenggelamkan Pekanbaru
AMSI
Topik
Selasa, 08 Januari 2019
Penerimaan Pajak Air Tanah Pekanbaru 2018 Meningkat
Minggu, 06 Januari 2019
Mega Training 'Magnet Rezeki'
Minggu, 06 Januari 2019
Taman Marga Satwa Kasang Kulim, Kawasan Wisata Alam dan Hiburan
Minggu, 06 Januari 2019
Alam Mayang, Liburan Tak Mesti Keluar Kota

CAKAPLAH TV lainnya ...
Sabtu, 13 Agustus 2022
Isuzu Apresiasi Mitra yang Telah Bekerjasama Kembangkan Jaringan Part Shop di Seluruh Indonesia
Sabtu, 13 Agustus 2022
Walikota Dumai Sampaikan RAPBD Dumai Tahun 2023 sebesar Rp1,2 Triliun
Sabtu, 13 Agustus 2022
Menteri LHK Gelar Diskusi Bersama NGO dan Mapala se-Riau, Ini yang Dibahas
Jumat, 12 Agustus 2022
Cek Persiapan Sidang Tahunan DPR, Puan Ungkap Makna Penggunaan Ornamen Batik Khas Yogyakarta

Serantau lainnya ...
Kamis, 04 Agustus 2022
Nasabah Unit Imambonjol Dapat Honda Brio pada Pengundian PHS BRI
Minggu, 31 Juli 2022
Hadir di Pekanbaru, HijabChic Sambut Antusiasme Fashion Kaum Hawa dengan Tema Romantis
Sabtu, 30 Juli 2022
Ingin Make Over Gaya Rambut Ala Korea atau Jepang? Yuk.. Ke Haoon Hair Dressing
Kamis, 21 Juli 2022
Armada Band akan Meriahkan Hiburan Rakyat Hari Jadi ke-65 Provinsi Riau

Gaya Hidup lainnya ...
Sabtu, 13 Agustus 2022
Momen HUT Riau dan HUT RI, Hj Misnarni Berbagi Kebahagiaan di Panti Asuhan
Rabu, 10 Agustus 2022
Peringatan HUT ke-65 Riau, Momentum Perkuat Sinergi Bersatu Bangun Riau
Selasa, 26 Juli 2022
Hari Mangrove Sedunia, Gubri Tanam 200.000 Bibit Mangrove di Bengkalis
Senin, 25 Juli 2022
GALERI FOTO: Buka MTQ XL Provinsi Riau di Rohil, Gubri: Mari Syiarkan Alquran di Bumi Melayu

Advertorial lainnya ...
Minggu, 07 Agustus 2022
iPhone 14 Pro Ucapkan Selamat Tinggal Notch
Kamis, 04 Agustus 2022
Sukses Dihelat di Pekanbaru, STEAM Cup Sumatera Direncanakan Digelar Setiap Tahun
Selasa, 19 Juli 2022
Bengkalis Creative Network MoU dengan Meet Up Co-Working dan Founders Live
Senin, 27 Juni 2022
Fenomena Planet Sejajar Akan Terjadi Lagi 28 Juni 2022!

Tekno dan Sains lainnya ...
Jumat, 12 Agustus 2022
52 Nakes di Pulau Terluar Rupat Dilatih Tangani Kasus Darurat Ibu Hamil dan Bayi
Kamis, 07 Juli 2022
Permudah Pasien, Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Pekanbaru Buka Layanan Poliklinik Sore
Rabu, 06 Juli 2022
Pemko Pekanbaru Kejar Target Angka Stunting 6 Persen di 2024, Optimis Tercapai
Minggu, 03 Juli 2022
Penyebab Keputihan Darah yang Perlu Anda Ketahui

Kesehatan dan Keluarga lainnya ...
Jumat, 12 Agustus 2022
CAKAPLAH.COM Menerima Kunjungan Silaturahmi dari Fakultas Ilmu Komunikasi UMRI
Jumat, 12 Agustus 2022
Gubernur Usulkan Pendirian LLDikti XVII di Riau ke Menko PMK
Kamis, 11 Agustus 2022
Kukerta BK UNRI Buat Plang Nama dan Petunjuk Arah Wisata Alam Air Terjun Lubuok Nginio
Rabu, 10 Agustus 2022
Mahasiswa Kukerta Unri Serahkan Peta Desa untuk Merempan Hulu

Kampus lainnya ...
Selasa, 07 Juni 2022
7 Perusahaan Keroyokan Bersihkan Sungai Kerumutan Sepanjang 30 Kilometer
Rabu, 01 Juni 2022
MTSN 2 Pangkalan Lesung Dapat Bangunan Baru dari PT Musim Mas
Selasa, 24 Mei 2022
Pentingnya Tingkatkan Perekonomian Masyarakat, Asian Agri Gelar Pelatihan Bagi UMKM Riau, Sumut, dan Jambi
Minggu, 09 Mei 2021
Ramadan Penuh Berkah, BRI Bagikan Bingkisan ke Panti Asuhan, Panti Werdha, Jurnalis dan Masyarakat

CSR lainnya ...
Polling
Pemko Pekanbaru berencana menaikkan tarif parkir tepi jalan umum September 2022. Untuk kendaraan roda dua jadi Rp 2.000 dan roda empat Rp 3.000. Bagaimana menurut Anda?


HUT Riau 2022 - April RAPP
Terpopuler
PCR 2022
Foto
Khas Agustus 2022
Diskes Rohul Agustus 2022
Minggu, 15 Mei 2022
Rasa Bintang Lima Harga Kaki Lima, Burjobar dan Roti Cha Milik Arya Saloka dan Ferry Ardiansyah Hadir di Pekanbaru
Jumat, 13 Mei 2022
Beredar Foto Menag Yaqut Rangkul 'Ragil Mahardika', Ansor: 1000% Editan!
Jumat, 06 Mei 2022
Cantiknya Sophia Latjuba saat Lebaran, Tetap Stylish Walau Pakai Sarung
Rabu, 27 April 2022
Dikira Mualaf, Ternyata Ini Alasan Celine Evangelista Sering Pakai Baju Muslim

Selebriti lainnya ...
HUT Riau 2022 - PT SPR
Rabu, 09 Oktober 2019
Jadi Pimpinan DPRD Siak Dari Partai PAN, Ini Sosok Fairuz
Rabu, 09 Oktober 2019
Indra Gunawan Akan Berjuang Untuk Masyarakat dan Loyal Terhadap Partai
Rabu, 09 Oktober 2019
Ternando Jadi Anggota DPRD Siak Termuda dan Suryono Terpilih Dengan Suara Terkecil
Rabu, 09 Oktober 2019
Reaksi Pimpinan DPRD Siak Terkait PTPN V Buang Limbah Sembarangan

Parlementaria Siak lainnya ...
Senin, 04 Juli 2022
FPKB Kembali Salurkan Alquran Untuk Anak - Anak Mengaji di Pekanbaru
Minggu, 26 Juni 2022
Tinjau Kelayakan Pendidikan, Gubri Sambangi Pondok Tahfidz Quran Bengkalis
Jumat, 24 Juni 2022
Peduli Masyarakat Kurang Mampu, LAZISMu Riau Launching Warung Makan 2000
Rabu, 27 April 2022
Dompet Dhuafa Volunteer Riau Gelar Puncak Serambi

Religi lainnya ...
Indeks Berita
www www