Minggu, 29 Januari 2023

Breaking News

  • Terbukti Kolusi, Mantan Rektor UIN Suska Riau Divonis 2 Tahun 10 Bulan Penjara   ●   
  • Awal Tahun 2023 Sejumlah Daerah di Riau Berpotensi Terjadi Karhutla   ●   
  • Waspada!! Awal Tahun 2023 Sejumlah Daerah di Riau Ini Berpotensi Terjadi Karhutla   ●   
  • Awal 2023, Penularan HIV/AIDS di Riau Beresiko Alami Kenaikan   ●   
  • 24 Desa di Riau Masuk Kategori Desa sangat Tertinggal, Mayoritas di Kampar   ●   
  • 12.966 Wisatawan Kunjungi Siak Sepanjang Libur Nataru   ●   
  • Tiga ASN Pemprov Dipecat Tidak Hormat Sepanjang 2022   ●   
  • Proses Tahap II Mandek, Tersangka Karhutla PT BMI tak Kunjung Diadili   ●   
  • 532 Peserta Tidak Lulus Seleksi PPPK Tenaga Kesehatan Pemprov Riau   ●   
  • Jalan Rusak di Riau Capai 1.035 Km, Gubernur Akui Jadi 'PR' 2023
Bapenda dan NasDem

Bisikan Magis Beting Aceh, Rindukan Polesan Surga Sang Pemimpi
Jum'at, 05 Agustus 2022 18:50 WIB
Bisikan Magis Beting Aceh, Rindukan Polesan Surga Sang Pemimpi
Keindahan Beting Aceh, Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.

PAGI masih buta. Udarapun masih terasa dingin menusuk tulang. Di luar rumah sana kabut juga masih tampak cukup tebal, menggelayut diantara rerumputan dan pohon tinggi di bibir jalan sana. Namun, sedari tadi kesibukan sudah terdengar riuh dari ruang belakang salah satu rumah.

Sri Handayani, pemilik rumah itu sedari pagi buta tadi memang sudah sangat sibuk. Wanita berumur 45 tahun tersebut sejak tadi sudah sibuk membereskan berbagai pekerjaan rumah. Mulai dari mencuci piring, memasak dan mempersiapkan segala keperluan lainnya.

Dia memang harus bersiap sejak dini, ada tugas dari kantor yang harus dikerjakannya. Menyambut tamu dari Bank Indonesia Perwakilan Riau yang datang ke Rupat Utara. Makanya, dirinya sejak pagi tadi sudah bersiap untuk menyelesaikan segala pekerjaan rumah yang ada. Bukan tanpa alasan mengapa dia harus bangun sejak dini hari tadi, jarak dari tempatnya tinggal ke lokasi datangnya tamu bukan jarak yang dekat. Bahkan dirinya harus melakukan dua kali penyeberangan.

Buru-buru Dia memanaskan kuda besi yang akan menemaninya menuju tempat sang tamu akan datang. Dirinya memang lebih senang menggunakan motor karena lebih cepat sampai. Terlebih lagi memang akses jalan yang masih kurang bagus, mengendarai kendaraan roda dua tentu menjadi pilihan cerdas. Dirinya bisa memilih jalan yang bagus dan lebih bisa "nyelip" sana sini.

Sri Handayani adalah Pelaksana Pengelola Destinasi Disparbudpora Kabupaten Bengkalis. Sudah 12 tahun dia jadi abdi negara disana. Setiap ada kunjungan ke Pulau Rupat, Sri kerap disuruh turun langsung mendampingi. Sri seakan sudah melekat dengan pulau yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga Malaysia.

"Saya tinggal di Bengkalis, jadi kalau ada acara seperti ini ataupun ada survei baru saya kesini," ujar Sri Handayani saat memulai cerita.

Ia mengatakan kunjungan ke Rupat ini memang sangat rutin dilakukan. Dalam sebulan itu bahkan bisa sampai beberapa kali. "Jadi meski tinggal jauh di Bengkalis sana, saya rutin kesini. Dalam sebulan itu bisa berkali-kali ke sini. Misal, nanti minggu ini 3 hari di sini, kemudian minggu depan adalagi 2 hari. Jadi memang Rupat ini sudah seperti rumah kedua bagi saya," ucapnya.

Disampaikan wanita dengan 3 anak ini, untuk bisa sampai ke Rupat Utara memang butuh sedikit perjuangan. Untuk jadwal pompong itu memang ada 2 trip, pagi dan sore hari. Jika pagi tidak terkejar, sore masih bisa. Namun jika dirinye mengambil jadwal sore, otomatis dirinya akan bertemu dengan sang malam saat masih dalam perjalanan. Itu kenapa dirinya kerap mengambul penyeberangan pagi.

"Dari Bengkalis saya nyeberang naik roro ke Sungai Pakning sekitar 45-65 menit. Kemudian dari Sungai Pakning ke Desa Selinsing sekitar 1.5 jam. Selanjutnya nyebrang dari Desa Selinsing ke Pergam atau ke Mesim," Sri berhenti berkata sembari menarik napas seraya mengingat-ingat berapa lama waktu yang dibutuhkannya untuk menyeberang.

Sri melanjutkan ucapannya. Penyeberangan dari Desa Selinsing ke Pergam atau ke Mesim memakan waktu sekitar 45 menit. Di sini ada pelabuhan khusus kapal pompong yang bisa membawa motor. Tapi memang ini tunggu air pasang, kalau air sedang surut ya tidak bisa.

"Naiknya itu di Tanjung Leban. Tanjung Leban itu di daerah Selinsing. Tapi memang hanya motor yang bisa diseberangkan, mobil tak bisa. Memang butuh perjuangan untuk bisa sampai ke sini," sebutnya.

"Kemudian selanjutnya dari Pergam atau Mesim ke Rupat Utara itu butuh waktu 1 jam 56 menit. Jadi dari Bengkalis ke Rupat Utara saya membutuhkan waktu sekitar 5 sampai 6 jam. Memang bukan jarak yang dekat," imbuhnya.

Apa yang dilakukan wanita berhijab ini adalah sebagai upaya dan usaha untuk terus mengembangkan wisata pulau Rupat. Penyusunan data terus dilakukan agar wisatawan mempunyai alternatif apa yang akan dilakukan jika ke Pulau Rupat ini. Apa saja tempat wisatanya dan apa saja bisa dilakukan.

"Jangan sampai wisatawan datang ke sini, bingung mau ngapain. Bingung wisata apa saja yang mau dikunjungi. Makanya kita aktif turun ke sini. Insya Allah nanti di bulan 11 atau 12 kami sudah selesai promosi pariwisatanya dengan buklet dan lainnya. Akan kami tarok di bandara bukletnya nanti, sehingga yang datang ke Riau tahu kalau kita punya wisata di Pulau Rupat ini. Bukan hanya satu tapi banyak," sebutnya.

Pelaksana Pengelola Destinasi Disbudparpora Kabupaten Bengkalis Sri Handayani

Salah satu wisata di Pulau Rupat yang menjadi andalan adalah Pulau Beting Aceh. Pulau ini merupakan salah satu pulau terluar di Indonesia. Posisinya berada di hamparan Selat Malaka. Pulau nan cantik ini kerap dikunjungi terutama ketika libur akhir pekan. Bahkan keberadaan Pulau Beting Aceh dianggap potongan surga karena keindahannya.

Secara administratif Pulau Beting Aceh berada di Kecamatan Rupat Utara Kabupaten Bengkalis. Beting Aceh merupakan salah satu Pulau terluar Indonesia, hanya berjarak 48 km ke Port Dickson dan 62 km ke Melaka.

Pulau tak berpenghuni ini menyimpan keunikannya sendiri. Hamparan pasir putih membentang di antara laut yang berwarna kebiruan. Di tengah pulau terlihat deretan pohon cemara laut berjejer. Bila cuaca sedang panas, pohon-pohon ini menjadi tempat pengunjung berlindung dari sengatan matahari. Ada fenomena unik di pulau tersebut. Pantainya yang berpasir putih akan mengeluarkan suara berderit ketika diinjak atau disentuh tangan. Orang menyebutnya Pasir Berbisik. Suara bisikan itu kian terasa magis jika didengarkan dengan memejamkan mata. Seperti ada yang berbisik lembut.

Jika berkunjung ke sana, para wisatawan akan disambut dengan hamparan pasir putih memadukan keindahan Pulau Beting Aceh serta warna laut yang hijau membiru di sekelilingnya. Keindahan seakan mengunci pandangan agar tidak mengalihkan tatapan.

Apalagi kian dekat, aroma keindahan pulau yang hingga kini belum tahu mengapa diberi nama Beting Aceh, semakin terasa. Wisatawan dijamin akan puas mengabadikan keindahan yang memang sangat indah yang memang belum pernah dilihat sebelumnya.

Sepanjang mata memandang, hamparan laut dan pasir putih terlihat jelas. Jika air laut surut, maka akan muncul daratan pasir seluas lapangan sepakbola. Sangat cantik untuk dijadikan spot foto.

Ditambah lagi ada pohon mati dengan ranting menjulang yang sangat estetik jika digunakan untuk spot foto. Lokasi ini menjadi salah satu titik favorit para wisatawan mengambil gambar. Tak hanya itu, ada ayunan cantik yang dibuat di lokasi dan menjadi salah satu pilihan tempat berfoto.

Namun semua keindahan itu rasanya masih kurang dengan tak adanya fasilitas pendukung yang ada disana. Bahkan untuk sekedar "buang hajat" saja, pulau indah nan menawan itu tidak memiliki fasilitas. Jangankan itu, tong sampah untuk membuang bekas makan dan minum wisatawan juga tak ada. Yang akhirnya ini membuat sampah bertumpuk dan menggangu keindahan.

Pulau yang masih perawan ini tentu butuh sentuhan magis sang pemimpi. Sentuhan seseorang yang bermimpi memajukan pariwisata Riau. Sentuhan sang pengambil kebijakan. Sentuhan untuk menjadikan Pulau ini lebih nyaman untuk didatangi.

Beting Aceh Perlu Sentuhan Pemerintah

Kepala UPT Pengelola Wisata Pulau Rupat Utara Nora mengakui Pulau Beting Aceh memang masih tergolong sangat alami. Pulau ini belum dapat fasilitas pendukung lain, terutama untuk wahana permainan air. Adapun para investor, untuk sementara ini terkonsentrasi pada pengembangan bisnis penginapan namun tidak di Pulau Lapin, yakni di kawasan Pantai Tanjung Lapin. Sebuah tempat wisata yang juga berada di Pulau Rupat Utara.

Sejauh ini yang bisa dinikmati oleh wisatawan hanya suasana alam dan pantai. Sementara untuk mengolah atau mengembangkan potensi-potensi lainnya, masyarakat di sini masih membutuhkan banyak pembinaan. Makanya memang untuk di Beting Aceh ini masih sangat alami.

"Padahal disini selain pasir putihnya, Beting Aceh juga punya potensi lain yang ditawarkan. Selain bisa mancing, masyarakat di sekitar sini biasanya juga mencari yang namanya Kerang atau kepah dalam bahasa sini. Masyarakat disini pandai mencarinya, korek-korek saja pasirnya. Itukan suatu daya tarik jugakan," ujarnya.

Diakui Nora, Pulau Beting Aceh ini masih belum tergarap dan disentuh pembangunan sarana apapun seperti Pantai Tanjung Lapin. "Belum ada gazebo, toilet dan lainnya yang ada hanya dua pondok terbuka dan satu ayunan dan petunjuk arah," cakapnya.

Panorama Beting Aceh.

Keterbatasan sarana penunjang ini diakibatkan Beting Aceh kini masih dalam status lahan milik desa dan sedang proses hibah ke Dispar, sehingga sangat sulit untuk dibangun menggunakan anggaran Dinas Pariwisata Bengkalis. "Apalagi selama Covid- 19 kami jarang ke Pulau Beting Aceh butuh biaya speedboad karena jauh," imbuhnya.

Hal senada disampaikan Akademisi Pariwisata Universitas Riau Achmad Nawawi. Ia mengatakan memang untuk di Pulau Beting Aceh ini sangat minim fasilitas. "Di Beting Aceh ini sangat diperlukan penambahan fasilitas yang tujuannya dapat menunjang wisatawan untuk datang kesana dan agar membuat pengunjung betah disana," ujar Achmad Nawawi.

Ia mengatakan adapun beberapa fasilitas yang perlu ditambah itu seperti Toilet, gardu pandang, penambahan gazebo dan fasilitas lainnya.

"Beting Aceh merupakan potensi terbesar yang ada di Riau untuk dikembangkan. Karena Beting Aceh memiliki keunikan tersendiri dan keunikannya juga sedikit langka. Adapun keunikan dari Beting Aceh ini adalah hamparan pasir yang luas dan hutannya itu hanya sekitar 1 hektar," Cakapnya.

Namun dikatakan Achmad Nawawi lagi, fasilitas bukan menjadi satu-satunya yang menjadi kendala dalam pengembangan Beting Aceh. Namun ada beberapa hal lainnya.

Yang pertama adalah soal aksesibilitas yang dari Pekanbaru kemudian ke Dumai, selanjutnya dari Dumai ke Rupat dan lanjut lagi menuju Rupat Utara dengan jalur darat yang memang jalannya masih belum sepenuhnya bagus.

"Selanjutnya jika ingin ke Beting Acehnya, harus menyewa Roro yang harganya tidak ada standar baku. Selain itu juga tak ada informasi resmi dalam pengelolaannya," terangnya.

Di sisi lain, pengelolaan Beting Aceh saat ini masih belum ada kelembagaan khusus dalam pengelolaannya.

"Jadi siapa saja yang masuk dipersilahkan tanpa ada registrasi dan lain sebagainya. Setiap pompong bisa memasukkan orang ke Beting Aceh. Dan akibatnya Beting Aceh ini numpuk sampah dan lain sebagainya," terangnya.

Di sisi lain juga kalau pengembangan ini tidak boleh dikembangkan pariwisata secara massal. Contohnya harus mengembangkan resort dan lain sebagainya.

"Beting Aceh alangkah baiknya tetap dibuat secara alami namun demikian harus tetap menambah fasilitas yang dapat menunjang wisatawan yang datang agar sedikit betah," sebutnya.

Tak hanya soal fasilitas yang ada di Pulau Beting saja, upaya untuk sampai ke Pulau Beting Aceh ini juga butuh biaya yang tidak murah. Jika diambli entri point dari Kota Pekanbaru, dar pekanbaru ke Kota Dumai sudah ada transportasi umum, biasanya harganya Rp70 ribu sekali jalan. Kemudian dari terminal Dumai naik ojek ke Pelabuhan Sungai Dumai, selanjutnya menuju Pelabuhan Pajak Tanjung Medang menggunakan Speed Boat sekitar pukul 09.00 dan pukul 13.00 WIB, itu waktunya hanya 1.5 jam, harganya Rp100 ribu.

Tapi yang jadi permasalahan adalah dari Pelabuhan Pajak Tanjung Medang ke Beting Aceh harus menyewa Speed Boat. Yang dihitung bukan per orang tapi persewa kapal. Untuk perjalanan pulang dan pergi dikenakan biaya per speedboat mulai Rp600 ribu tergantung sampai negosiasi dengan pemilik kapal. Biayanya bisa sampai Rp2 juta.

"Itu tergantung mau pakai kapal yang seperti apa. Itu biaya sudah Pulang Pergi dan biaya menunggu mereka. Untuk jam nya tidak ada ditentukan," ujar Achmad Nawawi.

Disampaikan Dosen Universitas Riau ini, berkunjung ke Pulau Beting Aceh memang tidak untuk menginap, pasalnya pulau ini masih sangat alami, tanpa ada fasilitas seperti toilet dan wahana permainan.

"Di sana maksimal 6 jam karena amenitas nggak ada. Jadi memang tidak menginap kalau di Beting Aceh. Jika ingin menginap di Tanjung Medang, ada beberapa wisma disana. Harganya bervariasi, ada yang Rp150 ribu, Rp300 ribu dan lainnya. Bisa juga di Teluk Rhu, ada penginapan disana. Homestay juga ada. Harganya Rp250 ribu, namun bisa masuk banyak orang," ungkapnya.

Kendati demikian, Nawawi mengatakan, jumlah penginapan di wilayah setempat masih terbilang sedikit. Bahkan saat high season seperti Tahun Baru dan libur Idulfitri terjadi krisis penginapan di Rupat Utara. Selama ini, krisis tersebut disiasati dengan dialihkan ke homestay masyarakat.

"Berbagai hal yang menjadi catatan di Pulau Beting Aceh ini tentu harus menjadi perhatian semua pihak khususnya bagi Pemerintah. Baik itu pemerintah setempat maupun pemerintah Provinsi Riau. Tidka semua wilayah punya tempat wisata seperti Beting Aceh. Makanya harus ditata dan dikelola sedemikian rupa, sehingga pesonanya semakin memancar. Tak hanya dari keindahan alaminya saja, namun juga dari fasilitas yang ditawarkan. Ini harus menjadi perhatian bersama," ungkapnya.

Menyikapi kondisi infrastruktur di Pulau Beting Aceh secara khusus dan Pulau Rupat secara umum, Sekdakab Bengkalis, Bustami HY menyatakan, pihaknya terus berupaya agar pariwisata di Pulau Rupat bisa terwujud dan semakin memberikan aya tarik wisatawan untuk berkunjung.

"Saat ini kami sudah berkoordinasi dengan sejumlah stakeholder untuk peningkatan infrastruktur di Pulau Rupat, seperti jalan, listrik, air bersih, fasilitas kesehatan dan lainnya," ujar Bustami.

"Kementerian PUPR juga sudah programkan dalam RPJMN untuk pembangunan infrastruktur jalan dan air bersih di Pulau Rupat. Mudah-udahan tahun depan sudah selesai dibangun, dan seluruh jalan di Pulau Rupat bagus semua," sambungnya.

Bustami melanjutkan, Pemkab Bengkalis akan terus berkoordinasi dengan Pemprov Riau dan Pemerintah Pusat agar pariwisata di Pulau Rupat bisa terwujud. Termasuk menggaet para investor yang ingin membangun destinasi wisata di Pulau Rupat.

"Untuk investor akan kita berikan kemudahan, seperti perizinan dan lainnya agar tertarik membangun kawasan wisata di Pulau Rupat yang memiliki bentangan pantai hingga 17 kilometer. Kita juga mendorong Pemerintah Desa untuk ikut membangun sektor pariwisata Rupat, sebagai peluang menambah pendapatan daerah khususnya Desa," jelasnya.

Potensi Lain di Pulau Rupat Utara

Selain Beting Aceh, masih banyak potensi wisata lainnya di Pulau Rupat Utara. Tak hanya dari segi wisata alamnya seperti Pantai Pesona, Pantai Tanjung Lapin, Rupat Utara juga memiliki Pantai Ketapang, Pantai Makeruh, Pulau Rupat Utara juga memiliki potensi budaya kesenian tersendiri. Salah satunya adalah Kesenian Zapin Api.

Zapin api mengharuskan para penarinya untuk bergoyang di tengah bara api. Menariknya, para penari sama sekali tidak merasa panas. Mereka justru terlihat begitu menikmati tarian dan seolah sedang bermain di tengah api yang semakin membara. Memang, kondisi ini tidak dapat dicerna logika, terlebih api yang panas itu tidak mampu melukai kulit penarinya.

Zapin Api sarat akan nuansa mistik. Pasalnya sebelum atraksi dimulai, para penari yang terdiri dari lima orang bertelanjang dada ini mengintari dupa kemenyan yang dibakar. Di tengah lapangan sudah disiapkan sabut kelapa yang dibakar untuk pertunjukan.

Pertunjukan ini dipimpin oleh seorang khalifah. Sang khalifah kemudian membacakan doa-doa. Semua pengunjung diinstruksikan agar tidak menyalakan api dalam bentuk apapun. Diiringi oleh musik kompang atau rebana menjadi mantra pemanggil arwah. Suasana semakin mencengkam ketika sang khalifah mengeraskan hafalan doa-doa.

Kebudayaan Zapin Api di Pulau Rupat Utara.

"Kesenian Zapin Api ini adalah kesenian dari Rupat Utara yang dulunya dikembangkan oleh nenek moyang kita untuk ritual bela kampung. Sekarang kita sedang berjuang untuk melestarikan dan mudah-mudahan ini menjadi hiburan untuk menyambut tamu yang datang ke Pulau Rupat," ujar Muhammad Hafis selaku Ketua Sanggar Seni Budaya Petak Semai, sebuah sanggar di Rupat Utara yang melestarikan budaya ini.

Dijelaskan Muhammad Hafis, ciri khas dari Zapin Api adalah menari dengan irama zapin yang ditarikan diatas bara api. Awalnya dulu memakai kayu untuk bahan bakarnya, namun karena kesulitan mencarinya, maka digantilah dengan sabut kelapa, sisa pemakaian.

"Dulu ini namanya Tari Api, dilakukan nenek moyang untuk melihara kampung. Untuk menjaga ladang, kebun daripada kebakaran, tanda syukur setiap kali pesta panin pasti pawang api ini melakukan tari api. Cuma sekarang dibubuh dengan irama zapin, pengaruh dari Islam yang dibawa oleh Bangsa Aceh yang menyiarkan Islam disini," ucapnya.

Yang unik dari kesenian Zapin Api, penari yang bisa menai zapin ini cuma orang pilihan. Dalam bahasa melayu disebut Lurus Bendul, artinya orangnya jujur tak pernah berbohong. "Kalau sembarangan orang memang tak bisa. Orangnya lurus, kalau sembarangan orang tak bisa main," terangnya.

Muhammad mengatakan saat ini pihaknya terus berupaya melestarikan kebudayaan ini. Jangan sampai kebudayaan ini bilang. "Kita sekarang sudah kader penerus. Mereka kita didik supaya yakin dengan doa-doa yang diajarkan nenek moyang. Didikan yang dilakukan biasanya puasa, berzikir, mengetahulah pantangannya apa. Tak boleh melakukan yang bertentangan dengan islam," sebutnya.

BI Riau Dorong Pulau Rupat Berbenah

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau saat ini terus mendorong potensi pariwisata di wilayah setempat untuk bisa terus tumbuh. Karena pariwisata merupakan salah satu sektor yang kedepan akan menjadi salah satu sektor yang tidak ada habisnya. Salah satunya adalah pariwisata di Pulau Rupat.

Dalam upaya mendorong komitmen ini, Bank Indonesia Perwakilan memboyong puluhan Wartawan yang ada di Riau untuk mengikuti genda Capacity Building Wartawan Provinsi Riau 2022 yang diadakan di Pulau Rupat, Rabu - Jumat (27-29/7/2022). Kegiatan ini diharapkan membuat wartawan melihat secara langsung untuk melihat potensi Pulau Rupat dan tentunya apa yang menjadi kekurangan dari pariwisata kebanggaan Riau ini.

"Kami di Riau ini coba memetakan dan juga sudah melakukan penelitian bahwa Rupat ini merupakan salah satu destinasi pariwisata yang bisa dikembangkan untuk Provinsi Riau. Terutama itu nanti yang terkait dengan masalah bahari atau kelautan," ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Muhamad Nur.

Ia mengatakan hasil kajian Bank Indonesia ini akan disampaikan kepada pemerintah dan juga akan terus mendorong, sehingga Riau ini selain memiliki sumber daya alam yang melimpah, juga ingin sektor pariwisata yang sekarang share nya masih relatif kecil ini, kedepannya akan terus berkembang.

"Apalagi kan letak geografis yang sangat strategis. Sekarang ini kita di Pulau Rupat kan hanya beberapa Kilometer dengan Malaysia. Itukan potensi juga orang luar Indonesia untuk datang kemari," cakapnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau Muhamad Nur saat berbincang dengan wartawan.

"Ini tentu harus ada investasi yang bisa merubah kawasan Rupat ini menjadi kawasan wisata yang layak untuk dikunjungi," imbuhnya.

Disampaikan M Nur lagi, kalau melihat konsep pariwisata secara umum, ada tiga hal yang harus diperhatikan. Yang pertama adalah harus melihat masalah aksesibilitas.
Bagaimana pengunjung bisa mengakses ke satu tempat pariwisata itu dengan mudah bahkan dengan murah.

Yang kedua tempat wisata juga harus ada fasilitas yang mendukung, misalnya penginapan, hotel, cottage dan lain sebagainya. Dan yang ketiga adalah harus ada atraksi atau suguhan yang sifatnya lokal wisata domestik atau budaya setempat.

"Kalau kita melihat dari tiga ini, kalau boleh untuk Rupat ini masih banyak hal yang harus sama-sama kita bangun. Kemarin saja dari Pekanbaru ke sini dengan bis memerlukan waktu 7,5 jam, sebenarnya ini masih bisa dipangkas waktunya. Kalau misalnya jalannya sudah bagus," ucapnya.

Kemudian lanjut M Nur, untuk hotel di Pulau Rupat saat sudah ada tapi relatif terbatas, dan amenities juga perlu banyak di-upgrade. Wisatawan yang menginap di hotel mengharapkan fasilitas yang serba lengkap dan tersedia.

Hal-hal tersebut memerlukan modal yang besar. Menjadi pekerjaan rumah bagaimana meyakinkan investor agar mau berinvestasi di Pulau Rupat. Kalau bicara investor, tentu ada hal lain yang harus diperhatikan. Kalau dalam konteks investasi kan harus berbenah dari sisi tanah, kejelasan, kepemilikan dan lain sebagainya.

"Nah ini harus juga menjadi Pekerjaan rumah kita, dan tentu kalau investasi hal-hal tersebut harus menjadi konsen kita bersama," ucapnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut tentu tidak bisa dilaksanakan sendiri. Harus ada investor dan dukungan pemerintah.

"Ini juga akan kami laksanakan, dan terus membangun koneksi dengan pemerintah. Tentu nanti sesuai dengan kewenangan. Kita ada forum-forumnya, kita akan lakukan itu," pungkasnya.

Ekonom Senior Kpw BI Riau Ignatius Adhi Nugroho menambahkan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Kpw BI Riau terkait Rupat Utara, tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan wisata Rupat Utara yaitu, wisatawan masih kurang dalam hal mendapatkan informasi wisata, preferensi wisatawan terhadap Rupat Utara yang masih berada pada kisaran nilai sedang dan menengah karena masih kurangnya aksesbilitas, amenitas, dan atraksi.

"Sebagai upaya menjaga kelestarian alam daya tarik wisata (DTW), pemerintah perlu menetapkan jumlah kunjungan wisatawan sekaligus untuk menentukan skema biaya aktivitas pariwisata. Sebagai DTW baru berkembang sangat diperlukan perhatian pemerintah terutama dalam menyusun kebijakan yang proposional untuk meningkatkan daya tarik investor terhadap objek wisata," jelasnya.

Lebih lanjut, Adhi menambahkan, Kpw BI Riau juga memberikan rekomendasi untuk pengembangan pariwisata mulai jangka pendek, menengah, hingga jangka panjang.

Untuk jangka pendek, bisa dilakukan optimalisasi SDA dan masyarakat dengan mendorong munculnya atraksi-atraksi baru seperti wisata bahari (memancing, snorkeling, canoeing, boating, dan lain-lain). Lalu, memasifkan informasi perjalanan dan fasilitas wisata yang dapat dinikmati di Pulau Rupat dan sekitarnya, melalui leaflet, media sosial, influencer, dan lain-lain.

"Selain itu juga dapat mendorong mitra-mitra terkait untuk menyediakan paket perjalanan wisata dari kota-kota sekitar Rupat menuju DTW seperti paket wisata harian, mingguan, dan bulanan. Melakukan promosi pariwisata Rupat ke daerah terdekat seperti Kota Dumai. Kota Pekanbaru, Bengkalis. Serta mengoptimalkan pelibatan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dalam tujuan pengelolaan objek-objek wisata. Kelebihan yang dapat ditonjolkan yaitu, biaya terjangkau," paparnya.

Sementara untuk jangka menengah rekomendasi yang diberikan Kpw BI Riau yaitu penyusunan peraturan rencana pengembangan DTW Rupat secara menyeluruh dengan melibatkan berbagai stakeholders (pemerintah, masyarakat, pebisnis, dan lain-lain. Meningkatkan aksesibilitas dan fasilitas menuju lokasi DTW terutama objek unggulan wisata (Beting Aceh, Pantai Pesona, Tanjung Medang, dan lain-lain).

Menjadikan Pulau Rupat sebagai outlet center di Provinsi Riau, melalui pengadaan replikasi adat, atraksi, dan budaya dari seluruh daerah di Provinsi Riau untuk dipertunjukkan secara berkala. Serta, melakukan pendalaman riset terkait sejarah dan budaya asli dari Pulau Rupat sebagai salah satu khazanah budaya yang sekaligus bertujuan promosi wisata.

Tak hanya itu, untuk rekomondasi Jangka Panjang, Adhi menjelaskan hal yang dapat dilakukan yaitu meningkatkan kegiatan konservasi dan objek wisata alam lainya secara berkelanjutan dan menjadikannya Trade mark kegiatan pariwisata di Rupat. Perancangan fitur wahana tematis yang mampu menghibur wisatawan serta berdaptasi dengan lingkungan dan budaya lokal agar tercipta pariwisata yang unik. Mendorong pembukaan akses laut International dengan negara Malaysia sebagai salah satu pasar DTW (kajian, rancangan, implementasi).

"Terakhir, melakukan penyelarasan lingkungan dan budaya lokal melalui proses asimilasi dengan budaya pariwisata agar tercipta lingkungan yang harmonis dan berkelanjutan," pungkasnya.

Penulis : Unik Susanti
Editor : Yusni
Kategori : Ekonomi, Serba Serbi, Kabupaten Bengkalis
Untuk saran dan pemberian informasi kepada CAKAPLAH.com, silakan kontak ke email: redaksi@cakaplah.com
Berita Terkait
Komentar
cakaplah-mpr.jpeg
Selasa, 02 November 2021
Terima Aspirasi PPPK Guru, DPR Desak Peserta Yang Memenuhi Passing Grade Diluluskan
Senin, 01 November 2021
Komisi III DPR Dukung Langkah Kapolri Perbaiki Institusi Polri
Senin, 01 November 2021
Pimpinan DPR Sebut Kita Bersyukur Indonesia Jabat Presidensi G20
Minggu, 31 Oktober 2021
Arzetti Dukung Pemerintah Sosialisasikan Bahaya BPA

MPR RI lainnya ...
Berita Pilihan
Selasa, 26 April 2022
DPRD Dukung Pemprov Riau Tindak Tegas PKS Nakal, Kalau Melanggar Cabut Izin !
Selasa, 26 April 2022
Polemik Rotasi AKD DPRD Riau, Sugeng Pranoto: Hari Kamis Paripurna
Selasa, 26 April 2022
Sikapi Turunnya Harga Sawit di Riau, Ini Upaya Gubri
Selasa, 26 April 2022
CPNS dan PPPK Baru di Rohul Dipastikan Tak Terima THR, Ini Sebabnya...
Selasa, 26 April 2022
Sambut Mudik Lebaran, HK Operasikan 2 Ruas JTTS, Termasuk Tol Pekanbaru-Bangkinang
Senin, 28 Maret 2022
Ibu Muda Ini Ditangkap Polisi Usai Simpan Narkotika di Kandang Anjing
Minggu, 27 Maret 2022
Polda Riau Tingkatkan Kasus Jembatan Selat Rengit Meranti ke Penyidikan
Selasa, 26 April 2022
PPKM Level 2 Kota Pekanbaru Berlanjut hingga 9 Mei
Selasa, 26 April 2022
Parisman: 10 Tahun Visioner yang Menenggelamkan Pekanbaru
AMSI
Topik
Senin, 12 Desember 2022
Kapolda Riau Resmikan Kantor Pelayanan Terpadu Polres Rohil di Bagansiapiapi
Selasa, 08 Januari 2019
Penerimaan Pajak Air Tanah Pekanbaru 2018 Meningkat
Minggu, 06 Januari 2019
Mega Training 'Magnet Rezeki'
Minggu, 06 Januari 2019
Taman Marga Satwa Kasang Kulim, Kawasan Wisata Alam dan Hiburan

CAKAPLAH TV lainnya ...
Sabtu, 28 Januari 2023
BMKG Ungkap Sebab Banjir Rob di Pesisir Riau, Warga Diimbau Tetap Waspada
Sabtu, 28 Januari 2023
Pimpin Pordasi, Alfedri Optimis Majukan Olahraga Berkuda di Riau
Sabtu, 28 Januari 2023
Lantik Pengurus Lembaga Laskar Pagar Negeri, Gubri Ingatkan Jaga Marwah dan Persatuan
Sabtu, 28 Januari 2023
Muscab X PP Kota Pekanbaru Sukses Digelar, Iwan Pansa: Kami Siap Bersinergi Bersama Pemerintah

Serantau lainnya ...
Selasa, 24 Januari 2023
Si Kembar Atlet Sepatu Roda Rohul Raih Gelar Perdana 2023
Jumat, 20 Januari 2023
Masakan Dapur Lapas Pekanbaru Resmi Bersertifikasi Halal dari MUI
Rabu, 18 Januari 2023
Royal Century Purwodadi Menjawab Hunian Impian Setiap Orang
Selasa, 06 Desember 2022
Kotak Baca Gairahkan Lagi Literasi di Pekanbaru

Gaya Hidup lainnya ...
Selasa, 08 November 2022
Festival Halloween Itaewon Tewaskan 154 Orang, Ini 4 Festival Berdarah Lainnya yang Tercatat dalam Sejarah
Senin, 05 September 2022
Merindu Wajah Indah Pekanbaru, Muflihun Optimis Raih Piala Adipura
Senin, 29 Agustus 2022
Peringatan HUT RI Ke-77 Jadi Momentum Refleksi Perjuangan Para Pendiri Bangsa
Selasa, 16 Agustus 2022
GALERI FOTO: Dalam Rangka Hari Jadi ke-65 Provinsi Riau, Ribuan Masyarakat Hadiri Dzikir Akbar Bersama Ustaz Das'ad Latif

Advertorial lainnya ...
Senin, 16 Januari 2023
Asyik, Layar Samsung Galaxy Z Fold 5 Bakal Minim Kerutan
Sabtu, 14 Januari 2023
30 Anggota API BPD Riau Ikuti Kelas Digital Marketing
Rabu, 04 Januari 2023
Setahun Pasca Merger, IOH dan Twimbit Luncurkan Hasil Riset Empowering Indonesia 2023
Senin, 02 Januari 2023
Pemkab Meranti Kini Miliki Command Center yang Himpun Semua Data

Tekno dan Sains lainnya ...
Senin, 23 Januari 2023
Direktur Kemenkes Minta Layanan Kanker dan Jantung di RSUD Arifin Achmad Riau Ditingkatkan
Minggu, 01 Januari 2023
Gubri Ajak Orang Tua Awasi Anak dari Bahaya Narkoba
Selasa, 20 Desember 2022
RSJ Tampan Raih Akreditasi paripurna Bintang 5
Minggu, 11 Desember 2022
Gelar Seminar Hari Disabilitas, RSIA Zainab Berkomitmen Jadi Pusat Layanan Anak Penyandang Disabilitas

Kesehatan dan Keluarga lainnya ...
Jumat, 20 Januari 2023
Waka DPRD Riau Hardianto Raih Gelar Magister Manajemen dari Sekolah Pascasarjana Unilak
Rabu, 18 Januari 2023
Syamsuar, Ganjar hingga Risma Hadiri Pelantikan Rektor IPB
Selasa, 17 Januari 2023
Mahasiswa IPB Goes to School ke 80 Sekolah di Riau
Sabtu, 14 Januari 2023
Sekolah Pascasarjana Unilak Gelar Seminar Nasional, Angkat Tema Hukum, Manajemen dan Lingkungan

Kampus lainnya ...
Rabu, 09 November 2022
Wijatmoko Rah Trisno Pimpin Forum CSR Provinsi Riau
Rabu, 12 Oktober 2022
BDI EMP Bersama Bakrie Amanah Salurkan Santunan Pendidikan Tahap II
Senin, 10 Oktober 2022
Wujudkan Kota Dumai Bersih, BRK Syariah Bantu Pengadaan Sarana Angkutan Sampah Lewat Program CSR
Minggu, 09 Oktober 2022
BSI dan BSI Maslahat Bantu Pembuatan Sumur Bor Yayasan Al Muslimin Dumai

CSR lainnya ...

APRIl - Imlek 2023
Terpopuler
PCR 2023
Foto
Khas Hotel November 2022
Nataru 2022 April.RAPP
Selasa, 10 Januari 2023
Luna Maya Buka Suara Soal Kabar Menikah dengan Gading Marten
Selasa, 06 Desember 2022
Bukan dengan Istri, Shah Rukh Khan Umrah Didampingi Bodyguard
Sabtu, 26 November 2022
Indra Prasta Simpati Gempa Cianjur, Lelang Gitar Kesayangan
Senin, 21 November 2022
Blak-blakan Nia Ramadhani kepada Merry Riana; Terjerat Kasus Narkoba Jadi Mukjizat Bagi Pernikahanku

Selebriti lainnya ...
Rabu, 09 Oktober 2019
Jadi Pimpinan DPRD Siak Dari Partai PAN, Ini Sosok Fairuz
Rabu, 09 Oktober 2019
Indra Gunawan Akan Berjuang Untuk Masyarakat dan Loyal Terhadap Partai
Rabu, 09 Oktober 2019
Ternando Jadi Anggota DPRD Siak Termuda dan Suryono Terpilih Dengan Suara Terkecil
Rabu, 09 Oktober 2019
Reaksi Pimpinan DPRD Siak Terkait PTPN V Buang Limbah Sembarangan

Parlementaria Siak lainnya ...
Jumat, 02 Desember 2022
Lima Waktu Mustajab untuk Berdoa
Jumat, 02 Desember 2022
Amalan Hari Jumat yang Disunnahkan Rasulullah
Jumat, 18 November 2022
Pegadaian Tawarkan Produk Arrum Haji, Cicilan hanya Rp22 Ribu Perhari
Senin, 31 Oktober 2022
Forum Pekanbaru Kota Bertuah Taja Peringatan Maulid Nabi

Religi lainnya ...
Indeks Berita
www www