Jumat, 12 Agustus 2022

Breaking News

  • Pertama di Indonesia, Riau Buka Mall Vaksinasi dan Imunisasi   ●   
  • MA Vonis Bebas Dekan FISIP Unri Nonaktif Syafri Harto   ●   
  • Bermain di Sungai, Bocah 7 Tahun di Kuansing Tewas Tenggelam   ●   
  • Peresmian Tol Pekanbaru-Bangkinang Tunggu Jadwal Presiden   ●   
  • Kasus Covid-19 di Sekolah Naik, Diskes Riau Minta Sekolah Tidak Full Day   ●   
  • BPBD Riau Water Boombing Karhutla 25 Hektare di Rohul   ●   
  • Gagal ke Malaysia, 10 Pekerja Migran Ilegal Diserahkan ke BP2MI   ●   
  • Cabai Merah Sumbang Inflasi, Pemprov Riau akan Gelar Pasar Murah di 3 Daerah   ●   
  • Sudah 2.876 Hewan Ternak di Riau Terjangkit PMK   ●   
  • Naik Lagi, TBS Sawit Riau Sepekan ke Depan Rp 2.232,93/Kg
Yamaha 11-13 Agustus 2022
Polling
Pemko Pekanbaru berencana menaikkan tarif parkir tepi jalan umum September 2022. Untuk kendaraan roda dua jadi Rp 2.000 dan roda empat Rp 3.000. Bagaimana menurut Anda?


Bisikan Magis Beting Aceh, Rindukan Polesan Surga Sang Pemimpi
Jum'at, 05 Agustus 2022 18:50 WIB
Bisikan Magis Beting Aceh, Rindukan Polesan Surga Sang Pemimpi
Keindahan Beting Aceh, Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.

PAGI masih buta. Udarapun masih terasa dingin menusuk tulang. Di luar rumah sana kabut juga masih tampak cukup tebal, menggelayut diantara rerumputan dan pohon tinggi di bibir jalan sana. Namun, sedari tadi kesibukan sudah terdengar riuh dari ruang belakang salah satu rumah.

Sri Handayani, pemilik rumah itu sedari pagi buta tadi memang sudah sangat sibuk. Wanita berumur 45 tahun tersebut sejak tadi sudah sibuk membereskan berbagai pekerjaan rumah. Mulai dari mencuci piring, memasak dan mempersiapkan segala keperluan lainnya.

Dia memang harus bersiap sejak dini, ada tugas dari kantor yang harus dikerjakannya. Menyambut tamu dari Bank Indonesia Perwakilan Riau yang datang ke Rupat Utara. Makanya, dirinya sejak pagi tadi sudah bersiap untuk menyelesaikan segala pekerjaan rumah yang ada. Bukan tanpa alasan mengapa dia harus bangun sejak dini hari tadi, jarak dari tempatnya tinggal ke lokasi datangnya tamu bukan jarak yang dekat. Bahkan dirinya harus melakukan dua kali penyeberangan.

Buru-buru Dia memanaskan kuda besi yang akan menemaninya menuju tempat sang tamu akan datang. Dirinya memang lebih senang menggunakan motor karena lebih cepat sampai. Terlebih lagi memang akses jalan yang masih kurang bagus, mengendarai kendaraan roda dua tentu menjadi pilihan cerdas. Dirinya bisa memilih jalan yang bagus dan lebih bisa "nyelip" sana sini.

Sri Handayani adalah Pelaksana Pengelola Destinasi Disparbudpora Kabupaten Bengkalis. Sudah 12 tahun dia jadi abdi negara disana. Setiap ada kunjungan ke Pulau Rupat, Sri kerap disuruh turun langsung mendampingi. Sri seakan sudah melekat dengan pulau yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga Malaysia.

"Saya tinggal di Bengkalis, jadi kalau ada acara seperti ini ataupun ada survei baru saya kesini," ujar Sri Handayani saat memulai cerita.

Ia mengatakan kunjungan ke Rupat ini memang sangat rutin dilakukan. Dalam sebulan itu bahkan bisa sampai beberapa kali. "Jadi meski tinggal jauh di Bengkalis sana, saya rutin kesini. Dalam sebulan itu bisa berkali-kali ke sini. Misal, nanti minggu ini 3 hari di sini, kemudian minggu depan adalagi 2 hari. Jadi memang Rupat ini sudah seperti rumah kedua bagi saya," ucapnya.

Disampaikan wanita dengan 3 anak ini, untuk bisa sampai ke Rupat Utara memang butuh sedikit perjuangan. Untuk jadwal pompong itu memang ada 2 trip, pagi dan sore hari. Jika pagi tidak terkejar, sore masih bisa. Namun jika dirinye mengambil jadwal sore, otomatis dirinya akan bertemu dengan sang malam saat masih dalam perjalanan. Itu kenapa dirinya kerap mengambul penyeberangan pagi.

"Dari Bengkalis saya nyeberang naik roro ke Sungai Pakning sekitar 45-65 menit. Kemudian dari Sungai Pakning ke Desa Selinsing sekitar 1.5 jam. Selanjutnya nyebrang dari Desa Selinsing ke Pergam atau ke Mesim," Sri berhenti berkata sembari menarik napas seraya mengingat-ingat berapa lama waktu yang dibutuhkannya untuk menyeberang.

Sri melanjutkan ucapannya. Penyeberangan dari Desa Selinsing ke Pergam atau ke Mesim memakan waktu sekitar 45 menit. Di sini ada pelabuhan khusus kapal pompong yang bisa membawa motor. Tapi memang ini tunggu air pasang, kalau air sedang surut ya tidak bisa.

"Naiknya itu di Tanjung Leban. Tanjung Leban itu di daerah Selinsing. Tapi memang hanya motor yang bisa diseberangkan, mobil tak bisa. Memang butuh perjuangan untuk bisa sampai ke sini," sebutnya.

"Kemudian selanjutnya dari Pergam atau Mesim ke Rupat Utara itu butuh waktu 1 jam 56 menit. Jadi dari Bengkalis ke Rupat Utara saya membutuhkan waktu sekitar 5 sampai 6 jam. Memang bukan jarak yang dekat," imbuhnya.

Apa yang dilakukan wanita berhijab ini adalah sebagai upaya dan usaha untuk terus mengembangkan wisata pulau Rupat. Penyusunan data terus dilakukan agar wisatawan mempunyai alternatif apa yang akan dilakukan jika ke Pulau Rupat ini. Apa saja tempat wisatanya dan apa saja bisa dilakukan.

"Jangan sampai wisatawan datang ke sini, bingung mau ngapain. Bingung wisata apa saja yang mau dikunjungi. Makanya kita aktif turun ke sini. Insya Allah nanti di bulan 11 atau 12 kami sudah selesai promosi pariwisatanya dengan buklet dan lainnya. Akan kami tarok di bandara bukletnya nanti, sehingga yang datang ke Riau tahu kalau kita punya wisata di Pulau Rupat ini. Bukan hanya satu tapi banyak," sebutnya.

Pelaksana Pengelola Destinasi Disbudparpora Kabupaten Bengkalis Sri Handayani

Salah satu wisata di Pulau Rupat yang menjadi andalan adalah Pulau Beting Aceh. Pulau ini merupakan salah satu pulau terluar di Indonesia. Posisinya berada di hamparan Selat Malaka. Pulau nan cantik ini kerap dikunjungi terutama ketika libur akhir pekan. Bahkan keberadaan Pulau Beting Aceh dianggap potongan surga karena keindahannya.

Secara administratif Pulau Beting Aceh berada di Kecamatan Rupat Utara Kabupaten Bengkalis. Beting Aceh merupakan salah satu Pulau terluar Indonesia, hanya berjarak 48 km ke Port Dickson dan 62 km ke Melaka.

Pulau tak berpenghuni ini menyimpan keunikannya sendiri. Hamparan pasir putih membentang di antara laut yang berwarna kebiruan. Di tengah pulau terlihat deretan pohon cemara laut berjejer. Bila cuaca sedang panas, pohon-pohon ini menjadi tempat pengunjung berlindung dari sengatan matahari. Ada fenomena unik di pulau tersebut. Pantainya yang berpasir putih akan mengeluarkan suara berderit ketika diinjak atau disentuh tangan. Orang menyebutnya Pasir Berbisik. Suara bisikan itu kian terasa magis jika didengarkan dengan memejamkan mata. Seperti ada yang berbisik lembut.

Jika berkunjung ke sana, para wisatawan akan disambut dengan hamparan pasir putih memadukan keindahan Pulau Beting Aceh serta warna laut yang hijau membiru di sekelilingnya. Keindahan seakan mengunci pandangan agar tidak mengalihkan tatapan.

Apalagi kian dekat, aroma keindahan pulau yang hingga kini belum tahu mengapa diberi nama Beting Aceh, semakin terasa. Wisatawan dijamin akan puas mengabadikan keindahan yang memang sangat indah yang memang belum pernah dilihat sebelumnya.

Sepanjang mata memandang, hamparan laut dan pasir putih terlihat jelas. Jika air laut surut, maka akan muncul daratan pasir seluas lapangan sepakbola. Sangat cantik untuk dijadikan spot foto.

Ditambah lagi ada pohon mati dengan ranting menjulang yang sangat estetik jika digunakan untuk spot foto. Lokasi ini menjadi salah satu titik favorit para wisatawan mengambil gambar. Tak hanya itu, ada ayunan cantik yang dibuat di lokasi dan menjadi salah satu pilihan tempat berfoto.

Namun semua keindahan itu rasanya masih kurang dengan tak adanya fasilitas pendukung yang ada disana. Bahkan untuk sekedar "buang hajat" saja, pulau indah nan menawan itu tidak memiliki fasilitas. Jangankan itu, tong sampah untuk membuang bekas makan dan minum wisatawan juga tak ada. Yang akhirnya ini membuat sampah bertumpuk dan menggangu keindahan.

Pulau yang masih perawan ini tentu butuh sentuhan magis sang pemimpi. Sentuhan seseorang yang bermimpi memajukan pariwisata Riau. Sentuhan sang pengambil kebijakan. Sentuhan untuk menjadikan Pulau ini lebih nyaman untuk didatangi.

Beting Aceh Perlu Sentuhan Pemerintah

Kepala UPT Pengelola Wisata Pulau Rupat Utara Nora mengakui Pulau Beting Aceh memang masih tergolong sangat alami. Pulau ini belum dapat fasilitas pendukung lain, terutama untuk wahana permainan air. Adapun para investor, untuk sementara ini terkonsentrasi pada pengembangan bisnis penginapan namun tidak di Pulau Lapin, yakni di kawasan Pantai Tanjung Lapin. Sebuah tempat wisata yang juga berada di Pulau Rupat Utara.

Sejauh ini yang bisa dinikmati oleh wisatawan hanya suasana alam dan pantai. Sementara untuk mengolah atau mengembangkan potensi-potensi lainnya, masyarakat di sini masih membutuhkan banyak pembinaan. Makanya memang untuk di Beting Aceh ini masih sangat alami.

"Padahal disini selain pasir putihnya, Beting Aceh juga punya potensi lain yang ditawarkan. Selain bisa mancing, masyarakat di sekitar sini biasanya juga mencari yang namanya Kerang atau kepah dalam bahasa sini. Masyarakat disini pandai mencarinya, korek-korek saja pasirnya. Itukan suatu daya tarik jugakan," ujarnya.

Diakui Nora, Pulau Beting Aceh ini masih belum tergarap dan disentuh pembangunan sarana apapun seperti Pantai Tanjung Lapin. "Belum ada gazebo, toilet dan lainnya yang ada hanya dua pondok terbuka dan satu ayunan dan petunjuk arah," cakapnya.

Panorama Beting Aceh.

Keterbatasan sarana penunjang ini diakibatkan Beting Aceh kini masih dalam status lahan milik desa dan sedang proses hibah ke Dispar, sehingga sangat sulit untuk dibangun menggunakan anggaran Dinas Pariwisata Bengkalis. "Apalagi selama Covid- 19 kami jarang ke Pulau Beting Aceh butuh biaya speedboad karena jauh," imbuhnya.

Hal senada disampaikan Akademisi Pariwisata Universitas Riau Achmad Nawawi. Ia mengatakan memang untuk di Pulau Beting Aceh ini sangat minim fasilitas. "Di Beting Aceh ini sangat diperlukan penambahan fasilitas yang tujuannya dapat menunjang wisatawan untuk datang kesana dan agar membuat pengunjung betah disana," ujar Achmad Nawawi.

Ia mengatakan adapun beberapa fasilitas yang perlu ditambah itu seperti Toilet, gardu pandang, penambahan gazebo dan fasilitas lainnya.

"Beting Aceh merupakan potensi terbesar yang ada di Riau untuk dikembangkan. Karena Beting Aceh memiliki keunikan tersendiri dan keunikannya juga sedikit langka. Adapun keunikan dari Beting Aceh ini adalah hamparan pasir yang luas dan hutannya itu hanya sekitar 1 hektar," Cakapnya.

Namun dikatakan Achmad Nawawi lagi, fasilitas bukan menjadi satu-satunya yang menjadi kendala dalam pengembangan Beting Aceh. Namun ada beberapa hal lainnya.

Yang pertama adalah soal aksesibilitas yang dari Pekanbaru kemudian ke Dumai, selanjutnya dari Dumai ke Rupat dan lanjut lagi menuju Rupat Utara dengan jalur darat yang memang jalannya masih belum sepenuhnya bagus.

"Selanjutnya jika ingin ke Beting Acehnya, harus menyewa Roro yang harganya tidak ada standar baku. Selain itu juga tak ada informasi resmi dalam pengelolaannya," terangnya.

Di sisi lain, pengelolaan Beting Aceh saat ini masih belum ada kelembagaan khusus dalam pengelolaannya.

"Jadi siapa saja yang masuk dipersilahkan tanpa ada registrasi dan lain sebagainya. Setiap pompong bisa memasukkan orang ke Beting Aceh. Dan akibatnya Beting Aceh ini numpuk sampah dan lain sebagainya," terangnya.

Di sisi lain juga kalau pengembangan ini tidak boleh dikembangkan pariwisata secara massal. Contohnya harus mengembangkan resort dan lain sebagainya.

"Beting Aceh alangkah baiknya tetap dibuat secara alami namun demikian harus tetap menambah fasilitas yang dapat menunjang wisatawan yang datang agar sedikit betah," sebutnya.

Tak hanya soal fasilitas yang ada di Pulau Beting saja, upaya untuk sampai ke Pulau Beting Aceh ini juga butuh biaya yang tidak murah. Jika diambli entri point dari Kota Pekanbaru, dar pekanbaru ke Kota Dumai sudah ada transportasi umum, biasanya harganya Rp70 ribu sekali jalan. Kemudian dari terminal Dumai naik ojek ke Pelabuhan Sungai Dumai, selanjutnya menuju Pelabuhan Pajak Tanjung Medang menggunakan Speed Boat sekitar pukul 09.00 dan pukul 13.00 WIB, itu waktunya hanya 1.5 jam, harganya Rp100 ribu.

Tapi yang jadi permasalahan adalah dari Pelabuhan Pajak Tanjung Medang ke Beting Aceh harus menyewa Speed Boat. Yang dihitung bukan per orang tapi persewa kapal. Untuk perjalanan pulang dan pergi dikenakan biaya per speedboat mulai Rp600 ribu tergantung sampai negosiasi dengan pemilik kapal. Biayanya bisa sampai Rp2 juta.

"Itu tergantung mau pakai kapal yang seperti apa. Itu biaya sudah Pulang Pergi dan biaya menunggu mereka. Untuk jam nya tidak ada ditentukan," ujar Achmad Nawawi.

Disampaikan Dosen Universitas Riau ini, berkunjung ke Pulau Beting Aceh memang tidak untuk menginap, pasalnya pulau ini masih sangat alami, tanpa ada fasilitas seperti toilet dan wahana permainan.

"Di sana maksimal 6 jam karena amenitas nggak ada. Jadi memang tidak menginap kalau di Beting Aceh. Jika ingin menginap di Tanjung Medang, ada beberapa wisma disana. Harganya bervariasi, ada yang Rp150 ribu, Rp300 ribu dan lainnya. Bisa juga di Teluk Rhu, ada penginapan disana. Homestay juga ada. Harganya Rp250 ribu, namun bisa masuk banyak orang," ungkapnya.

Kendati demikian, Nawawi mengatakan, jumlah penginapan di wilayah setempat masih terbilang sedikit. Bahkan saat high season seperti Tahun Baru dan libur Idulfitri terjadi krisis penginapan di Rupat Utara. Selama ini, krisis tersebut disiasati dengan dialihkan ke homestay masyarakat.

"Berbagai hal yang menjadi catatan di Pulau Beting Aceh ini tentu harus menjadi perhatian semua pihak khususnya bagi Pemerintah. Baik itu pemerintah setempat maupun pemerintah Provinsi Riau. Tidka semua wilayah punya tempat wisata seperti Beting Aceh. Makanya harus ditata dan dikelola sedemikian rupa, sehingga pesonanya semakin memancar. Tak hanya dari keindahan alaminya saja, namun juga dari fasilitas yang ditawarkan. Ini harus menjadi perhatian bersama," ungkapnya.

Menyikapi kondisi infrastruktur di Pulau Beting Aceh secara khusus dan Pulau Rupat secara umum, Sekdakab Bengkalis, Bustami HY menyatakan, pihaknya terus berupaya agar pariwisata di Pulau Rupat bisa terwujud dan semakin memberikan aya tarik wisatawan untuk berkunjung.

"Saat ini kami sudah berkoordinasi dengan sejumlah stakeholder untuk peningkatan infrastruktur di Pulau Rupat, seperti jalan, listrik, air bersih, fasilitas kesehatan dan lainnya," ujar Bustami.

"Kementerian PUPR juga sudah programkan dalam RPJMN untuk pembangunan infrastruktur jalan dan air bersih di Pulau Rupat. Mudah-udahan tahun depan sudah selesai dibangun, dan seluruh jalan di Pulau Rupat bagus semua," sambungnya.

Bustami melanjutkan, Pemkab Bengkalis akan terus berkoordinasi dengan Pemprov Riau dan Pemerintah Pusat agar pariwisata di Pulau Rupat bisa terwujud. Termasuk menggaet para investor yang ingin membangun destinasi wisata di Pulau Rupat.

"Untuk investor akan kita berikan kemudahan, seperti perizinan dan lainnya agar tertarik membangun kawasan wisata di Pulau Rupat yang memiliki bentangan pantai hingga 17 kilometer. Kita juga mendorong Pemerintah Desa untuk ikut membangun sektor pariwisata Rupat, sebagai peluang menambah pendapatan daerah khususnya Desa," jelasnya.

Potensi Lain di Pulau Rupat Utara

Selain Beting Aceh, masih banyak potensi wisata lainnya di Pulau Rupat Utara. Tak hanya dari segi wisata alamnya seperti Pantai Pesona, Pantai Tanjung Lapin, Rupat Utara juga memiliki Pantai Ketapang, Pantai Makeruh, Pulau Rupat Utara juga memiliki potensi budaya kesenian tersendiri. Salah satunya adalah Kesenian Zapin Api.

Zapin api mengharuskan para penarinya untuk bergoyang di tengah bara api. Menariknya, para penari sama sekali tidak merasa panas. Mereka justru terlihat begitu menikmati tarian dan seolah sedang bermain di tengah api yang semakin membara. Memang, kondisi ini tidak dapat dicerna logika, terlebih api yang panas itu tidak mampu melukai kulit penarinya.

Zapin Api sarat akan nuansa mistik. Pasalnya sebelum atraksi dimulai, para penari yang terdiri dari lima orang bertelanjang dada ini mengintari dupa kemenyan yang dibakar. Di tengah lapangan sudah disiapkan sabut kelapa yang dibakar untuk pertunjukan.

Pertunjukan ini dipimpin oleh seorang khalifah. Sang khalifah kemudian membacakan doa-doa. Semua pengunjung diinstruksikan agar tidak menyalakan api dalam bentuk apapun. Diiringi oleh musik kompang atau rebana menjadi mantra pemanggil arwah. Suasana semakin mencengkam ketika sang khalifah mengeraskan hafalan doa-doa.

Kebudayaan Zapin Api di Pulau Rupat Utara.

"Kesenian Zapin Api ini adalah kesenian dari Rupat Utara yang dulunya dikembangkan oleh nenek moyang kita untuk ritual bela kampung. Sekarang kita sedang berjuang untuk melestarikan dan mudah-mudahan ini menjadi hiburan untuk menyambut tamu yang datang ke Pulau Rupat," ujar Muhammad Hafis selaku Ketua Sanggar Seni Budaya Petak Semai, sebuah sanggar di Rupat Utara yang melestarikan budaya ini.

Dijelaskan Muhammad Hafis, ciri khas dari Zapin Api adalah menari dengan irama zapin yang ditarikan diatas bara api. Awalnya dulu memakai kayu untuk bahan bakarnya, namun karena kesulitan mencarinya, maka digantilah dengan sabut kelapa, sisa pemakaian.

"Dulu ini namanya Tari Api, dilakukan nenek moyang untuk melihara kampung. Untuk menjaga ladang, kebun daripada kebakaran, tanda syukur setiap kali pesta panin pasti pawang api ini melakukan tari api. Cuma sekarang dibubuh dengan irama zapin, pengaruh dari Islam yang dibawa oleh Bangsa Aceh yang menyiarkan Islam disini," ucapnya.

Yang unik dari kesenian Zapin Api, penari yang bisa menai zapin ini cuma orang pilihan. Dalam bahasa melayu disebut Lurus Bendul, artinya orangnya jujur tak pernah berbohong. "Kalau sembarangan orang memang tak bisa. Orangnya lurus, kalau sembarangan orang tak bisa main," terangnya.

Muhammad mengatakan saat ini pihaknya terus berupaya melestarikan kebudayaan ini. Jangan sampai kebudayaan ini bilang. "Kita sekarang sudah kader penerus. Mereka kita didik supaya yakin dengan doa-doa yang diajarkan nenek moyang. Didikan yang dilakukan biasanya puasa, berzikir, mengetahulah pantangannya apa. Tak boleh melakukan yang bertentangan dengan islam," sebutnya.

BI Riau Dorong Pulau Rupat Berbenah

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau saat ini terus mendorong potensi pariwisata di wilayah setempat untuk bisa terus tumbuh. Karena pariwisata merupakan salah satu sektor yang kedepan akan menjadi salah satu sektor yang tidak ada habisnya. Salah satunya adalah pariwisata di Pulau Rupat.

Dalam upaya mendorong komitmen ini, Bank Indonesia Perwakilan memboyong puluhan Wartawan yang ada di Riau untuk mengikuti genda Capacity Building Wartawan Provinsi Riau 2022 yang diadakan di Pulau Rupat, Rabu - Jumat (27-29/7/2022). Kegiatan ini diharapkan membuat wartawan melihat secara langsung untuk melihat potensi Pulau Rupat dan tentunya apa yang menjadi kekurangan dari pariwisata kebanggaan Riau ini.

"Kami di Riau ini coba memetakan dan juga sudah melakukan penelitian bahwa Rupat ini merupakan salah satu destinasi pariwisata yang bisa dikembangkan untuk Provinsi Riau. Terutama itu nanti yang terkait dengan masalah bahari atau kelautan," ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Muhamad Nur.

Ia mengatakan hasil kajian Bank Indonesia ini akan disampaikan kepada pemerintah dan juga akan terus mendorong, sehingga Riau ini selain memiliki sumber daya alam yang melimpah, juga ingin sektor pariwisata yang sekarang share nya masih relatif kecil ini, kedepannya akan terus berkembang.

"Apalagi kan letak geografis yang sangat strategis. Sekarang ini kita di Pulau Rupat kan hanya beberapa Kilometer dengan Malaysia. Itukan potensi juga orang luar Indonesia untuk datang kemari," cakapnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau Muhamad Nur saat berbincang dengan wartawan.

"Ini tentu harus ada investasi yang bisa merubah kawasan Rupat ini menjadi kawasan wisata yang layak untuk dikunjungi," imbuhnya.

Disampaikan M Nur lagi, kalau melihat konsep pariwisata secara umum, ada tiga hal yang harus diperhatikan. Yang pertama adalah harus melihat masalah aksesibilitas.
Bagaimana pengunjung bisa mengakses ke satu tempat pariwisata itu dengan mudah bahkan dengan murah.

Yang kedua tempat wisata juga harus ada fasilitas yang mendukung, misalnya penginapan, hotel, cottage dan lain sebagainya. Dan yang ketiga adalah harus ada atraksi atau suguhan yang sifatnya lokal wisata domestik atau budaya setempat.

"Kalau kita melihat dari tiga ini, kalau boleh untuk Rupat ini masih banyak hal yang harus sama-sama kita bangun. Kemarin saja dari Pekanbaru ke sini dengan bis memerlukan waktu 7,5 jam, sebenarnya ini masih bisa dipangkas waktunya. Kalau misalnya jalannya sudah bagus," ucapnya.

Kemudian lanjut M Nur, untuk hotel di Pulau Rupat saat sudah ada tapi relatif terbatas, dan amenities juga perlu banyak di-upgrade. Wisatawan yang menginap di hotel mengharapkan fasilitas yang serba lengkap dan tersedia.

Hal-hal tersebut memerlukan modal yang besar. Menjadi pekerjaan rumah bagaimana meyakinkan investor agar mau berinvestasi di Pulau Rupat. Kalau bicara investor, tentu ada hal lain yang harus diperhatikan. Kalau dalam konteks investasi kan harus berbenah dari sisi tanah, kejelasan, kepemilikan dan lain sebagainya.

"Nah ini harus juga menjadi Pekerjaan rumah kita, dan tentu kalau investasi hal-hal tersebut harus menjadi konsen kita bersama," ucapnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut tentu tidak bisa dilaksanakan sendiri. Harus ada investor dan dukungan pemerintah.

"Ini juga akan kami laksanakan, dan terus membangun koneksi dengan pemerintah. Tentu nanti sesuai dengan kewenangan. Kita ada forum-forumnya, kita akan lakukan itu," pungkasnya.

Ekonom Senior Kpw BI Riau Ignatius Adhi Nugroho menambahkan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Kpw BI Riau terkait Rupat Utara, tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan wisata Rupat Utara yaitu, wisatawan masih kurang dalam hal mendapatkan informasi wisata, preferensi wisatawan terhadap Rupat Utara yang masih berada pada kisaran nilai sedang dan menengah karena masih kurangnya aksesbilitas, amenitas, dan atraksi.

"Sebagai upaya menjaga kelestarian alam daya tarik wisata (DTW), pemerintah perlu menetapkan jumlah kunjungan wisatawan sekaligus untuk menentukan skema biaya aktivitas pariwisata. Sebagai DTW baru berkembang sangat diperlukan perhatian pemerintah terutama dalam menyusun kebijakan yang proposional untuk meningkatkan daya tarik investor terhadap objek wisata," jelasnya.

Lebih lanjut, Adhi menambahkan, Kpw BI Riau juga memberikan rekomendasi untuk pengembangan pariwisata mulai jangka pendek, menengah, hingga jangka panjang.

Untuk jangka pendek, bisa dilakukan optimalisasi SDA dan masyarakat dengan mendorong munculnya atraksi-atraksi baru seperti wisata bahari (memancing, snorkeling, canoeing, boating, dan lain-lain). Lalu, memasifkan informasi perjalanan dan fasilitas wisata yang dapat dinikmati di Pulau Rupat dan sekitarnya, melalui leaflet, media sosial, influencer, dan lain-lain.

"Selain itu juga dapat mendorong mitra-mitra terkait untuk menyediakan paket perjalanan wisata dari kota-kota sekitar Rupat menuju DTW seperti paket wisata harian, mingguan, dan bulanan. Melakukan promosi pariwisata Rupat ke daerah terdekat seperti Kota Dumai. Kota Pekanbaru, Bengkalis. Serta mengoptimalkan pelibatan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dalam tujuan pengelolaan objek-objek wisata. Kelebihan yang dapat ditonjolkan yaitu, biaya terjangkau," paparnya.

Sementara untuk jangka menengah rekomendasi yang diberikan Kpw BI Riau yaitu penyusunan peraturan rencana pengembangan DTW Rupat secara menyeluruh dengan melibatkan berbagai stakeholders (pemerintah, masyarakat, pebisnis, dan lain-lain. Meningkatkan aksesibilitas dan fasilitas menuju lokasi DTW terutama objek unggulan wisata (Beting Aceh, Pantai Pesona, Tanjung Medang, dan lain-lain).

Menjadikan Pulau Rupat sebagai outlet center di Provinsi Riau, melalui pengadaan replikasi adat, atraksi, dan budaya dari seluruh daerah di Provinsi Riau untuk dipertunjukkan secara berkala. Serta, melakukan pendalaman riset terkait sejarah dan budaya asli dari Pulau Rupat sebagai salah satu khazanah budaya yang sekaligus bertujuan promosi wisata.

Tak hanya itu, untuk rekomondasi Jangka Panjang, Adhi menjelaskan hal yang dapat dilakukan yaitu meningkatkan kegiatan konservasi dan objek wisata alam lainya secara berkelanjutan dan menjadikannya Trade mark kegiatan pariwisata di Rupat. Perancangan fitur wahana tematis yang mampu menghibur wisatawan serta berdaptasi dengan lingkungan dan budaya lokal agar tercipta pariwisata yang unik. Mendorong pembukaan akses laut International dengan negara Malaysia sebagai salah satu pasar DTW (kajian, rancangan, implementasi).

"Terakhir, melakukan penyelarasan lingkungan dan budaya lokal melalui proses asimilasi dengan budaya pariwisata agar tercipta lingkungan yang harmonis dan berkelanjutan," pungkasnya.

Penulis : Unik Susanti
Editor : Yusni
Kategori : Ekonomi, Serba Serbi, Kabupaten Bengkalis
Untuk saran dan pemberian informasi kepada CAKAPLAH.com, silakan kontak ke email: redaksi@cakaplah.com
Polling
Pemko Pekanbaru berencana menaikkan tarif parkir tepi jalan umum September 2022. Untuk kendaraan roda dua jadi Rp 2.000 dan roda empat Rp 3.000. Bagaimana menurut Anda?

Berita Terkait
Komentar
cakaplah-mpr.jpeg
Selasa, 02 November 2021
DPR Ingin Seleksi Calon Anggota KPU-Bawaslu Ciptakan Demokrasi Lebih Baik
Selasa, 02 November 2021
Terima Aspirasi PPPK Guru, DPR Desak Peserta Yang Memenuhi Passing Grade Diluluskan
Senin, 01 November 2021
Komisi III DPR Dukung Langkah Kapolri Perbaiki Institusi Polri
Senin, 01 November 2021
Pimpinan DPR Sebut Kita Bersyukur Indonesia Jabat Presidensi G20

MPR RI lainnya ...
Berita Pilihan
Selasa, 26 April 2022
DPRD Dukung Pemprov Riau Tindak Tegas PKS Nakal, Kalau Melanggar Cabut Izin !
Selasa, 26 April 2022
Polemik Rotasi AKD DPRD Riau, Sugeng Pranoto: Hari Kamis Paripurna
Selasa, 26 April 2022
Sikapi Turunnya Harga Sawit di Riau, Ini Upaya Gubri
Selasa, 26 April 2022
CPNS dan PPPK Baru di Rohul Dipastikan Tak Terima THR, Ini Sebabnya...
Selasa, 26 April 2022
Sambut Mudik Lebaran, HK Operasikan 2 Ruas JTTS, Termasuk Tol Pekanbaru-Bangkinang
Senin, 28 Maret 2022
Ibu Muda Ini Ditangkap Polisi Usai Simpan Narkotika di Kandang Anjing
Minggu, 27 Maret 2022
Polda Riau Tingkatkan Kasus Jembatan Selat Rengit Meranti ke Penyidikan
Selasa, 26 April 2022
PPKM Level 2 Kota Pekanbaru Berlanjut hingga 9 Mei
Selasa, 26 April 2022
Parisman: 10 Tahun Visioner yang Menenggelamkan Pekanbaru
AMSI
Topik
Selasa, 08 Januari 2019
Penerimaan Pajak Air Tanah Pekanbaru 2018 Meningkat
Minggu, 06 Januari 2019
Mega Training 'Magnet Rezeki'
Minggu, 06 Januari 2019
Taman Marga Satwa Kasang Kulim, Kawasan Wisata Alam dan Hiburan
Minggu, 06 Januari 2019
Alam Mayang, Liburan Tak Mesti Keluar Kota

CAKAPLAH TV lainnya ...
Jumat, 12 Agustus 2022
Gubri Terima Sertifikat Pantun Warisan Budaya dari UNESCO
Jumat, 12 Agustus 2022
Gubri Minta Peserta Jamnas XI Riau Promosikan Wisata dan Budaya Daerah
Kamis, 11 Agustus 2022
Melalui Program Training Safety Riding, Capella Honda - Telkom Kolaborasi dalam Keselamatan Kerja
Kamis, 11 Agustus 2022
Kemendikbud Minta LAMR Evaluasi Pantun sebagai WBTB Dunia

Serantau lainnya ...
Kamis, 04 Agustus 2022
Nasabah Unit Imambonjol Dapat Honda Brio pada Pengundian PHS BRI
Minggu, 31 Juli 2022
Hadir di Pekanbaru, HijabChic Sambut Antusiasme Fashion Kaum Hawa dengan Tema Romantis
Sabtu, 30 Juli 2022
Ingin Make Over Gaya Rambut Ala Korea atau Jepang? Yuk.. Ke Haoon Hair Dressing
Kamis, 21 Juli 2022
Armada Band akan Meriahkan Hiburan Rakyat Hari Jadi ke-65 Provinsi Riau

Gaya Hidup lainnya ...
Rabu, 10 Agustus 2022
Peringatan HUT ke-65 Riau, Momentum Perkuat Sinergi Bersatu Bangun Riau
Selasa, 26 Juli 2022
Hari Mangrove Sedunia, Gubri Tanam 200.000 Bibit Mangrove di Bengkalis
Senin, 25 Juli 2022
GALERI FOTO: Buka MTQ XL Provinsi Riau di Rohil, Gubri: Mari Syiarkan Alquran di Bumi Melayu
Jumat, 10 Juni 2022
Tutorial Mengubah Alamat Warga di Kecamatan Pemekaran, Disdukcapil Pekanbaru Beri Kemudahan

Advertorial lainnya ...
Minggu, 07 Agustus 2022
iPhone 14 Pro Ucapkan Selamat Tinggal Notch
Kamis, 04 Agustus 2022
Sukses Dihelat di Pekanbaru, STEAM Cup Sumatera Direncanakan Digelar Setiap Tahun
Selasa, 19 Juli 2022
Bengkalis Creative Network MoU dengan Meet Up Co-Working dan Founders Live
Senin, 27 Juni 2022
Fenomena Planet Sejajar Akan Terjadi Lagi 28 Juni 2022!

Tekno dan Sains lainnya ...
Kamis, 07 Juli 2022
Permudah Pasien, Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Pekanbaru Buka Layanan Poliklinik Sore
Rabu, 06 Juli 2022
Pemko Pekanbaru Kejar Target Angka Stunting 6 Persen di 2024, Optimis Tercapai
Minggu, 03 Juli 2022
Penyebab Keputihan Darah yang Perlu Anda Ketahui
Selasa, 28 Juni 2022
Sosialisasi Layanan Kaki Palsu RS Awal Bros, Gubri Serahkan Kaki Palsu ke Pasien

Kesehatan dan Keluarga lainnya ...
Kamis, 11 Agustus 2022
Kukerta BK UNRI Buat Plang Nama dan Petunjuk Arah Wisata Alam Air Terjun Lubuok Nginio
Rabu, 10 Agustus 2022
Mahasiswa Kukerta Unri Serahkan Peta Desa untuk Merempan Hulu
Rabu, 10 Agustus 2022
Tim Pengabdian Masyarakat FK Unri Latih Kader Posyandu di Rupat Utara
Selasa, 09 Agustus 2022
IMM Imam Syafi'i Gelar Kajian, Ukhuwah dapat Perkuat NKRI

Kampus lainnya ...
Selasa, 07 Juni 2022
7 Perusahaan Keroyokan Bersihkan Sungai Kerumutan Sepanjang 30 Kilometer
Rabu, 01 Juni 2022
MTSN 2 Pangkalan Lesung Dapat Bangunan Baru dari PT Musim Mas
Selasa, 24 Mei 2022
Pentingnya Tingkatkan Perekonomian Masyarakat, Asian Agri Gelar Pelatihan Bagi UMKM Riau, Sumut, dan Jambi
Minggu, 09 Mei 2021
Ramadan Penuh Berkah, BRI Bagikan Bingkisan ke Panti Asuhan, Panti Werdha, Jurnalis dan Masyarakat

CSR lainnya ...
Polling
Pemko Pekanbaru berencana menaikkan tarif parkir tepi jalan umum September 2022. Untuk kendaraan roda dua jadi Rp 2.000 dan roda empat Rp 3.000. Bagaimana menurut Anda?


HUT Riau 2022 - April RAPP
Terpopuler
PCR 2022
Foto
Khas Agustus 2022
Diskes Rohul Agustus 2022
Minggu, 15 Mei 2022
Rasa Bintang Lima Harga Kaki Lima, Burjobar dan Roti Cha Milik Arya Saloka dan Ferry Ardiansyah Hadir di Pekanbaru
Jumat, 13 Mei 2022
Beredar Foto Menag Yaqut Rangkul 'Ragil Mahardika', Ansor: 1000% Editan!
Jumat, 06 Mei 2022
Cantiknya Sophia Latjuba saat Lebaran, Tetap Stylish Walau Pakai Sarung
Rabu, 27 April 2022
Dikira Mualaf, Ternyata Ini Alasan Celine Evangelista Sering Pakai Baju Muslim

Selebriti lainnya ...
HUT Riau 2022 - PT SPR
Rabu, 09 Oktober 2019
Jadi Pimpinan DPRD Siak Dari Partai PAN, Ini Sosok Fairuz
Rabu, 09 Oktober 2019
Indra Gunawan Akan Berjuang Untuk Masyarakat dan Loyal Terhadap Partai
Rabu, 09 Oktober 2019
Ternando Jadi Anggota DPRD Siak Termuda dan Suryono Terpilih Dengan Suara Terkecil
Rabu, 09 Oktober 2019
Reaksi Pimpinan DPRD Siak Terkait PTPN V Buang Limbah Sembarangan

Parlementaria Siak lainnya ...
Senin, 04 Juli 2022
FPKB Kembali Salurkan Alquran Untuk Anak - Anak Mengaji di Pekanbaru
Minggu, 26 Juni 2022
Tinjau Kelayakan Pendidikan, Gubri Sambangi Pondok Tahfidz Quran Bengkalis
Jumat, 24 Juni 2022
Peduli Masyarakat Kurang Mampu, LAZISMu Riau Launching Warung Makan 2000
Rabu, 27 April 2022
Dompet Dhuafa Volunteer Riau Gelar Puncak Serambi

Religi lainnya ...
Indeks Berita
www www