Minggu, 04 Desember 2022

Breaking News

  • Kades di Meranti Berharap Perseteruan Bupati dan Gubri Tidak Berlanjut   ●   
  • Wamendes: Kemajuan Desa Mandiri di Riau Melejit   ●   
  • Riau Tetapkan Status Siaga Banjir dan Longsor 2022 sampai Akhir Desember   ●   
  • Kasus Covid-19 Menanjak, Gubri Perintahkan Gesa Vaksinasi Booster   ●   
  • Paling Lambat 3 Desember, Pemprov Riau Ingatkan 8 Daerah segera Usulkan Draf APBD 2023   ●   
  • Kapolda Pertama yang Turun Langsung ke Lokasi Gempa Cianjur, Irjen Iqbal Bawa 9 Truk Sembako   ●   
  • Sensus Terkini, Pertumbuhan Islam di Inggris Meroket   ●   
  • Oknum Staf KUA Diduga Lecehkan Siswi MTs di Siak Ditangkap   ●   
  • UMK 2023 Kepulauan Meranti Naik 8,03 Persen, Jadi Rp3,224 Juta   ●   
  • Satpol PP Pekanbaru Turunkan 100 Personel Amankan Tour de Siak
Yamaha 27-30 November 2022

Presidensi G20 Indonesia, Langkah Besar dan Menyeluruh Wujudkan Ekonomi Digital untuk Semua
Senin, 17 Oktober 2022 15:17 WIB
Presidensi G20 Indonesia, Langkah Besar dan Menyeluruh Wujudkan Ekonomi Digital untuk Semua
Ekonomi digital. Ilustrasi: Yusni Fatimah Lubis

“Kecerdasan adalah kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.”- Stephen Hawking

Berubah mengikuti perkembangan zaman adalah suatu keniscayaan, terutama untuk tujuan kebaikan dan dalam upaya terus bertahan.


PANDEMI Covid-19 yang mendera Indonesia 2 tahun lalu memicu terjadinya fenomena dan kebiasaan baru penduduk negeri ini. Pembatasan besar-besaran akibat penyakit yang dipicu virus Corona SARS-CoV-2 itu telah memaksa seluruh lini masyarakat menerima akselerasi penetrasi internet secara -nyaris- menyeluruh.

Menurut laporan We Are Social, ada 204,7 juta pengguna internet Indonesia per Januari 2022. Berdasarkan riset konsumen yang dilakukan oleh SIRCLO dan Katadata Insight Center (KIC), sekarang, 74,5% dari konsumen Indonesia lebih memilih belanja online dibandingkan offline.

Tak heran, pertumbuhan ekonomi digital Indonesia saat ini mengalami perkembangan yang pesat. Tahun 2021 kemarin saja, tercatat, perdagangan digital di Indonesia mencapai Rp401 triliun.

Bahkan, diungkapkan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, potensi ekonomi digital pada 2030 diperkirakan bisa naik delapan kali lipat, menjadi Rp4.531 triliun.

Katanya lagi, Indonesia kini telah menjadi tujuan investasi digital terpopuler di Asia Tenggara. Tak heran, mengingat saat ini di Indonesia ada 2.391 startup, dua decacorn, dan 8 unicorn.

Presiden Joko Widodo sendiri mengakui bahwa pandemi Covid-19 telah memberikan pengaruh besar dalam pertumbuhan ekonomi masyarakat, tak terkecuali usaha mikro kecil menengah (UMKM).

"Di Indonesia, UMKM semakin tumbuh karena digitalisasi telah menjadi solusi para pelaku UMKM dan koperasi untuk tetap aktif," ucap Presiden saat Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Transformasi Digital dan Pendataan Lengkap Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah (KUMKM 2022) di Jakarta, Senin (28/3/2022) lalu.

Menurut Presiden, digitalisasi adalah salah satu solusi para pelaku UMKM dan Koperasi dalam memanfaatkan peluang usaha untuk tumbuh berkembang sukses.

Bahkan, tercatat selama pandemi, kurang lebih 17,5 juta pelaku UMKM yang telah masuk ke sistem digitalisasi. Presiden yakin, dengan mempercepat transformasi digital, kemudian memanfaatkan teknologi tersebut, maka UMKM akan semakin berkembang secara global.

Pada tahun 2024 mendatang, target pemerintah adalah mewujudkan 30 juta UMKM Go Digital.

Tak heran pemerintah menumpukan harapan besar kepada sektor UMKM. Sebab, UMKM merupakan pilar terpenting dalam perekonomian Indonesia saat ini.

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, di tahun 2021, kontribusi UMKM terhadap Produk domestik bruto (PDB) Indonesia mencapai 61,07% atau senilai Rp8.573,89 triliun.

Kontribusi UMKM terhadap perekonomian Indonesia meliputi kemampuan menyerap 97% dari total tenaga kerja yang ada serta dapat menghimpun sampai 60,4% dari total investasi.

Baca: Menteri LHK Dukung UMKM Petani Hutan Kampar Mendunia

Ada tiga pilar Kebijakan Pemberdayaan UMKM di Indonesia yang digagas Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) untuk pemberdayaan UMKM.

Ketiga pilar utama ini ditujukan untuk: (1) meningkatkan kapasitas usaha dan kompetensi UMKM, (2) mendorong lembaga keuangan agar ramah bagi UMKM, dan (3) meningkatkan koordinasi lintas sektor untuk mendukung ekosistem UMKM.

Grafik Tiga Pilar Kebijakan Pemberdayaan UMKM di Indonesia.

Sumber: Presentasi “Kerangka Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah” (Sekretariat Wakil Presiden RI, 2020)

Pada setiap pilar kebijakan pemberdayaan UMKM, disusun strategi berupa rencana aksi yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan. Terdapat enam strategi yang disusun, antara lain:
1. Perluasan akses pasar
2. Peningkatan daya saing
3. Pengembangan kewirausahaan
4. Akselerasi pembiayaan dan investasi
5. Kemudahan dan kesempatan berusaha
6. Koordinasi lintas sektor

Pada pilar pertama, strategi peningkatan kapasitas usaha dan kompetensi UMKM dilakukan melalui rencana aksi pemberdayaan berupa perluasan akses pasar, peningkatan daya saing, dan pengembangan kewirausahaan.

Digitalisasi UMKM untuk memperluas online marketplace menjadi salah satu cara yang dinilai paling berhasil dalam upaya perluasan akses pasar dan peningkatan daya saing.

Namun, masih banyak yang harus dilakukan agar para pelaku usaha, termasuk pelaku UMKM di tanah air, bisa lebih pintar dan cerdas memanfaatkan dunia digital untuk berkembang terus.

Baca: Puan Ajak Negara G20 Selamatkan Nasib Dunia dari Berbagai Krisis Global

Melihat percepatan arus digitalisasi dan penggunaan internet di Indonesia, Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) juga memiliki catatan tersendiri.

Diungkapkan Arsjad Rasjid, Ketua Umum KADIN dalam acara Indonesia Digital Outlook 2022: “Encouraging The Acceleration of Sustainable Digital Transformation” pada 9 Juni 2022 lalu, walau digitalisasi di tanah air telah tumbuh pesat, masih terdapat tantangan yang harus dihadapi bersama.

"Pertama, minimnya keterampilan teknologi dan literasi digital tenaga kerja Indonesia. Kedua, kurang meratanya infrastruktur digital dan fisik yang memadai di pelosok Indonesia," jelas Arsjad Rasjid.

Sedang yang ketiga, adanya fenomena ‘pilot trap' di Indonesia. Dimana, hingga 2019, hanya 21% sektor manufaktur Indonesia yang telah mengadopsi teknologi industri 4.0, dan sisanya masih berjuang dengan cara konvensional karena tidak dapat beradaptasi dengan perubahan yang cepat.

Keempat, masih kurangnya regulasi yang mendukung perkembangan ekonomi digital, terutama dalam perlindungan hak-hak konsumen.

Menyadari potensi dan tantangan pertumbuhan ekonomi digital dan tren digitalisasi yang massif, akselerasi transformasi digital memang menjadi sangat penting untuk dilakukan secara kolaboratif di semua tingkatan dan menyeluruh.

Peningkatan pemanfaatan digital yang pesat ini membuka peluang pemulihan serta pertumbuhan ekonomi nasional. Meski begitu, masih banyak hal yang perlu dioptimalisasi, termasuk infrastruktur, kemampuan sumber daya manusia (SDM), dan literasi pengguna.

Sebab, seperti diutarakan Menteri Airlangga, pesatnya perkembangan digitalisasi seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, digitalisasi berperan melakukan percepatan pemulihan dengan konektivitas yang cepat. Di sisi lainnya, digitalisasi juga menciptakan kesenjangan karena adanya masalah literasi dari masyarakat.

Memutuskan Berubah

HARI ini, Senin (17/10/2022), Pak Lubis sangat bersemangat memulai aktivitasnya. Begitu pamit ke sang istri yang tengah mengurut-urut kaki kirinya di ruang televisi, Pak Lubis seperti setengah melompat ke teras rumah. Di situ, sepeda motornya terparkir dengan kondisi mesin menyala. Sedang dipanaskan.

Dengan enteng, pria 62 tahun itu menurunkan cagak Beat berkelir merah itu. Seperti yang empunya, sepeda motor itu sudah lumayan tua. Sedasawarsa umurnya. Tapi masih sehat karena rutin diservis.

Pak Lubis memajang salah satu cermin dan rak kosmetik buatannya di bagian depan kios TK Kaca Family, Senin (17/10/2022). Foto: Nurhalimah untuk CAKAPLAH.com.

Setiap hari, sekitar pukul 09.20 wib, Pria bernama Lokot Lubis ini berangkat menuju kiosnya yang diberi nama TK. Kaca Family di Jalan Merdeka, Kota Padangsidempuan. Daerah seluas 159,3 km berjuluk Kota Salak di Provinsi Sumatera Utara.

Pak Lubis sehari-hari membuat dan menjual beraneka bingkai foto, poster, cermin, dan barang lainnya yang tak jauh dari bingkai dan kaca.

Usai mengucapkan salam yang tak begitu jelas terdengar sang istri, Nursalisah dan putri bungsunya, Halimah, Pak Lubis berangkat menuju kiosnya yang berjarak 7 menit dari rumahnya di Kelurahan Kampung Tobat. Kelurahan ini hanya berjarak 2 menit, pakai sepeda motor, ke Bukit (Tor) Simarsayang yang terkenal di kota ini.

Halimah, yang baru beberapa bulan ini menerima ijazah S-1 nya dari kampus, melihat sang ayah berlalu. Dia sedang berkutat dengan laptop dan berkas-berkas lamaran. Dara berkulit terang dan berkacamata itu sedang mencoba peruntungan melamar pekerjaan via online ke beberapa perusahaan di tanah air. Sudah banyak surat lamaran yang ia kirimkan, tapi belum ada yang sampai ke tahap wawancara. Mencari pekerjaan sekarang ini memang sulit, walaupun di ijazah ia dinyatakan lulus dengan predikat 'Dengan Pujian'.

Dalam perjalanan menuju kios, Pak Lubis beberapa kali meraba kantong depan bajunya. Memastikan handphone baru miliknya masih di sana.

Handphone merek Vivo itu baru ia beli seminggu lalu. Dari salah seorang teman yang sering main ke kiosnya. Butuh duit, alasan teman Pak Lubis itu.

Handphone barunya ini lumayan canggih dibanding miliknya yang lama. Yang baru ini sudah Pak Lubis tes semalaman. Saat dicas baterainya cepat penuh. Kameranya beresolusi lumayan tinggi. Tidak seperti handphonenya yang lama, saat dijepret, hasil fotonya jadi lebih putih dan saat di-zoom malah jadi blur.

Sepanjang perjalanan, kakek dengan 6 orang cucu ini sudah merancang-rancang dalam benaknya. Hari ini ia akan mengambil beberapa foto bingkai terbaru dengan handphonenya itu. Lalu, hasilnya akan ia bagikan di WhatsApp miliknya.

Yang lebih penting lagi, paket data internet juga telah Pak Lubis isi untuk sebulan penuh. Dia setia dengan satu operator saja. Karena dari pengalamannya, hanya operator berlogo angka 3 itulah yang lancar jaya saat dipakai mengakses internet. Harganya juga lumayan murah bila dibandingkan operator lain.

"Yang lain udahlah mahal, signal-nya pun ilang timbul," sebutnya kepada CAKAPLAH.com, Senin (17/10/2022).

Mungkin ada pengaruh dengan bentang alam Kota Padangsidimpuan, yang menyebabkan jangkauan signal kurang menyeluruh.

Kota Padangsidimpuan memang dikelilingi perbukitan dan gunung yang menjadi kawasan perkebunan salak dan persawahan. Kota ini seperti cekungan menyerupai danau. Puncak tertinggi dari bukit dan gunung yang mengelilingi kota ini adalah Gunung Lubuk Raya dan Tor Sanggarudang yang terletak di sebelah utara kota.

Pak Lubis juga berniat akan meminta bantuan kepada putrinya, Nurhalimah, untuk mempost foto-foto bingkai nantinya di Facebook. Walau sibuk dengan surat lamaran dan mengikuti pelatihan online program Prakerja, Nurhalimah pasti bisa menyempatkan diri.

Tak luput, Pak Lubis juga akan meminta bantuan dari menantunya, Zerni Mandasari. Seorang guru madrasah tsanawiyah negeri (MTsN) di kabupaten sebelah. Ia pasti lebih banyak kenalan di sosial  media. Pak Lubis juga tahu, sang menantu itu sering berjualan online di sosial media.

Semakin banyak yang melihat foto-foto produk dari kiosnya, pasti lebih besar kemungkinan ada yang tertarik lalu membeli. Begitu isi benak Pak Lubis. Walau sudah di usia senja, Pak Lubis adalah sosok yang lumayan mawas dengan perkembangan zaman. Walau tak selalu cepat menyikapinya.

Begitu tiba di kiosnya yang terbuat dari kayu, Pak Lubis merapikan beragama dagangannya. Lantas, ia langsung membidik beberapa bingkai dengan lensa handphonenya.

Merasa puas. Ia tersenyum-senyum sendiri. Lalu mengirimkan hasil jepretannya di WhatsApp grup keluarga terlebih dahulu. Testing ombak.

“Promosi gratis ongkir,” tulisnya pada caption foto bingkai berangkai-rangkai unik dengan warna coklat.

“Mantab banget, bisa nih,” balas salah satu anggota grup, Dheni Armayanthi. Salah satu putrinya yang telah menikah ke daerah lain dan memiliki 2 orang buah hati.

Dheni sendiri kerap meminta sang Ayah membuatkan bingkai khusus untuk ia bawa ke rumahnya di Rantau Prapat, Sumatera Utara.

“Bisa banget,” balas Pak Lubis ke balon chat Dheni.

Pak Lubis memotret bingkai dan pajangan buatannya untuk diposting di status WhatsApp miliknya dan sosial media putri serta menantunya, Senin (17/10/2022). Foto: Nurhalimah untuk CAKAPLAH.com.

Anggota keluarga lain dalam grup ini juga membalas bersahutan. Pak Lubis lalu mulai sibuk dengan handphonenya, membalas percakapan-percakapan di grup itu.

Walau belum begitu paham bagaimana memaksimalkan handphone miliknya untuk mendukung penjualan produk miliknya, namun Pak Lubis sadar bahwa ia harus ikut mencoba, memulai tipis-tipis menjajal dagang versi digital. Selama ini, paling hanya orderan via telepon yang ia terima. Itupun dari pelanggan yang memang sudah kenal.

“Saya mulai usaha bingkai ini sejak tahun 1981. Belajar dari 0. Ikut-ikut orang dulu, belajar banyak dari orang yang ngajak dagang dulu. Barulah bisa buka (usaha) sendiri. Dahulu itu, masih ada cuci cetak pasfoto. Bikin stempel juga. Sekarang tinggal ini saja. Tapi masih bertahan," jelas Pak Lubis.

Selain membuat bingkai, sehari-hari Pak Lubis juga bisa membuat aquarium, etalase kaca, beragam pajangan lain dari bahan kayu, mika, mirror akrilik, dan banyak lainnya.

Harga barang yang ia jual bervariasi, mulai dari Rp25 ribu hingga Rp 1,5 juta. Omset Pak Lubis saat ini sekitar Rp3 juta hingga Rp15 juta per bulan.

“Tergantung bahan dan tingkat kesulitan,” sebut pria yang sudah beberapa tahun belakangan ini rajin membawa istrinya berobat karena pernah sakit stroke.

“Alhamdulillah, dengan bekerja sebagai tukang kaca dan bingkai, saya bisa menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anak hingga bangku kuliah. Mereka kini sudah ada yang menikah dan ada yang mencari penghidupan di daerah lain,” jelasnya lagi dengan mata sidikit menerawang. Mungkin rindu kepada 4 orang putra-putrinya di daerah lain. Juga terhadap cucu-cucunya, yang walau libur sekolah, belum tentu semua bisa berkumpul bersama.

Pak Lubis sadar, semua orang harus mulai mengikuti perubahan zaman, termasuk orang-orang yang usianya sudah tak muda lagi.

Deraan pandemi sejak 2 tahun kemarin mau tak mau membuat Pak Lubis semakin aware pentingnya mengikuti perubahan, selama itu baik.

Dengan segala keterbatasan, ia pun memutuskan ikut beralih ke bisnis model digital. 

“Tak bisa dipungkiri memang. Waktu terus mengubah segalanya. Kayak sekarang ini, semua serba online. Urus-urus di kelurahan saja sudah serba online. Sekolah online karena Covid. Dagang pun banyak online sekarang. Lebih banyak yang lihat dagangan kita kalau ditunjukkan di sosial media,” sebutnya. 

Itulah alasan pria dengan rambut putih dan senyum ramah ini, tak menolak bila memang nantinya semua orang akan beralih ke digital. 

“Walau masih kurang-kurang paham. Kayak Facebook saya tak punya. Adanya WhatsApp, ya sudah, mulai di situ dulu, nanti saya coba ke sosial media yang lain. Ini baru aja mau mulai. Saat ini minta bantuan menantu dan anak-anak dulu,” katanya, sembari tertawa.

“Yang penting mau! Jangan menyerah pada zaman,” tutupnya dengan senyum lebar.

Promosi Lewat Sosial Media sangat Menguntungkan

Salah satu menantu Pak Lubis, yang guru MTsN itu, Zerni Mandasari, rajin live di akun Facebook miliknya. Dalam sesi live itu, Zerni kerap memperlihatkan barang dagangan mereka berupa bingkai kaca dan lainnya. Usaha yang sama dengan Pak Lubis.

Kios mereka yang diberi nama Family Kaca terletak di Jalan SM Raja, Kabupaten Padanglawas Utara (Paluta), Sumatera Utara. Tak jauh dari kantor bupati di daerah itu.

Paluta ini hanya berjarak 1 jam perjalanan darat dari kios Pak Lubis, di Padangsidempuan.

Kios di Paluta ini memang diberi nama mirip dengan kios Pak Lubis.

“Anggap saja cabangnya,” kata Zerni kepada CAKAPLAH.com, Senin (17/10/2022).

Di kios beton ini, mereka membuat dan menjual aneka bingkai foto, poster, dan piagam. Ada juga bingkai khusus untuk aneka pajangan unik, cermin berbagai ukuran dan bentuk, aquarium, jam dinding kaligrafi, dan lainnya. Semua produk itu adalah buatan tangan sang suami, Habibuddin Lubis. Putra sulung Pak Lubis.

Habib merapikan salah satu kaligrafi yang telah dipasangi bingkai di kios Family Kaca, Senin (17/10/2022). Foto: Zerni Mandasari untuk CAKAPLAH.com.

Keterampilan Habib soal per-bingkaian dan kaca menurun dari sang ayah. Segala hal tentang seluk beluk pertukangan dan potong memotong kaca beraneka bentuk ia pelajari dari sang ayah saat ia dan istrinya masih bermukim di Padangsidempuan.

Cukup lama ikut membantu sang ayah menjalankan usaha tersebut, akhirnya Habib dan istri harus pindah domisili. Saat itu, istrinya diterima sebagai guru MTsN di Paluta. Mereka pun memutuskan pindah ke sana dan akhirnya membuka kios bingkai dan kaca ini tepat 5 tahun lalu.

Selain orderan langsung dari pelanggan yang datang ke toko, penjualan di kios Family Kaca ini banyak dari peminat online. Saat ini, katanya, mereka bisa menjualkan sekitar 20 jenis barang per bulan. Baik jam, bingkai, dan lainnya. Omset per bulan bisa mencapai sekitar Rp4-5 juta.

Family Kaca telah melayani pembeli hingga ke daerah-daerah tetangga, seperti ke Kota Sibolga, Rantau Prapat, dan Kota Pinang. Walau sebenarnya, dari pengakuan Zerni, mereka kerap terkendala di masalah packing produk. Maklum, barang yang dikirim adalah barang ekstra fragile. Tak jarang, Zerni dan suami memilih mengantar langsung produk pesanan langsung ke pembeli.

“Biasanya kita kumpulkan orderan yang masuk dari daerah sekitar tujuan, agar bisa sekali antar. Hitung-hitung jalan-jalan,” kata ibu 3 orang anak ini.

Range harga barang di kios Family Kaca mulai dari Rp25 ribu untuk bingkai kecil hingga mencapai Rp4 juta untuk pajangan ukuran super besar. Pelanggan bisa memilih jenis bingkai dan ketebalan kaca sesuai selera masing-masing.

“Dari sering-sering live di Facebook dan update status WhatsApp. Penjualan kita memang sangat terbantu. Saat bagus-bagusnya, pernah omset kita mencapai belasan juta Rupiah per bulan. Dengan dipromosikan di sosial media, memang terasa pengaruhnya,” jelas guru mata pelajaran IPS yang kini tengah berjuang menyelesaikan program magister ini.

Terlebih, kios mereka tidak rutin ditunggui, sebab Zerni harus mengajar seharian di sekolah. Sementara sang suami, yang merupakan tenaga honor di kantor Bupati Paluta, baru bisa fokus di kios sepulang dari kantor. Rentang waktu dari pagi hingga sore, orderan yang masuk kerap via online. Sepulang dari pekerjaan utama masing-masing, barulah suami-istri ini mempersiapkan orderan pelanggan.

Saat ditanya terkait Pak Lubis yang juga mulai ikut melirik dagang cara digital, Zerni mengaku salut. Terutama di usia yang sudah senja tapi tetap mau berupaya lebih.

Beragam produk yang masih dalam pengerjaan dan yang sudah siap jual di Kios Family Kaca, Senin (17/10/2022). Foto: Zerni Mandasari untuk CAKAPLAH.com.

“Bagus banget dan salut sama Amangboru (ayah mertua). Selalu mau mencoba hal-hal baru, pekerja keras, dan kreatif. Sekarang memang harus gitu. Agar lebih banyak orang yang tahu. Tak mesti ke toko, kita bisa lihat barang-barang yang dijual lewat sosial media,” jelas Zerni. Suaranya meninggi, menekankan kesungguhan.

Bahkan ia mengaku, walau barang dagangan nyaris sama, namun tak membuatnya enggan membantu mempromosikan barang-barang buatan Pak Lubis di akun sosial media miliknya. Selama ini, bila ada pelanggan yang ternyata lokasinya di daerah yang lebih dekat ke kios Pak Lubis, Zerni akan mengarahkan mereka agar datang ke kios Pak Lubis.

“Rezeki itu kan masing-masing. Lagian Pak Lubis itu kan Amangboru saya. Gak adalah saingan-saingan. Ayah saya juga itu,” katanya sembari tertawa.

Saat ditanya apakah sudah on boarding di e-commerce, Zerni mengaku belum. Karena kesibukan sebagai guru dan pegawai pemerintah, suami istri ini memang belum maksimal memanfaatkan ekosistem digital.

"Doakan saja nanti ada rezeki, jadi kita bisa ajak orang untuk jadi admin sosial media dan jagain kios kita. Bagus banget sebenarnya kalau bisa jual barang di Shopee, Tokopedia, dan yang lainnya. Tapi gimanalah, belum lagi," katanya dengan senyum lebar.

"Nanti kalau sudah, bisalah sekalian punya amangboru itu juga dimasukkan ke toko online," imbuhnya.

Dia lalu menuturkan lagi, selama ini sebenarnya, bila ada pekerjaan yang sifatnya borongan, misalnya memasang kaca jendela sekolah atau masjid, Pak Lubis kerap mengajak suaminya.

“Amangboru itu baik banget. Sudah banyak sekali bantuan yang kami terima. Jadi tak masalah membantu Amangboru dalam proses mengenal jualan ala digital ini,” sebut Zerni lagi.

Dari yang Kecil, Bermodal Yakin, akhirnya Berdaya

Pedagang lain yang percaya dengan berubah ke sistem online akan lebih menjamin pemasukan adalah Imay. Wanita ceria ini adalah warga Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, yang sehari-hari berdagang aneka sarapan dan lauk pauk.

Imay saban malam dan pagi-pagi sekali tak alpa memposting jenis-jenis dagangan yang sedia di bakulnya.

“Saya dagang kecil-kecilan buat bantu-bantu suami. Saya jualan beberapa jenis makanan. Untuk sarapan, seperti Martabak Mi, Batagor, Lupis, Mi Tiaw, Nasi Goreng, dan aneka kue basah. Untuk lauk saya biasanya sedia Sambal Ikan Laut, Perkedel, Sop Telur Puyuh, Gulai Telor Ayam, dan lainnya. Kadang ganti-ganti. Makanya saya update di status WhatsApp saya saban pagi,” jelas wanita bernama lengkap Maimunah ini, Senin (17/10/2022).

Aneka kue dan sarapan yang ia jual tidak semuanya masakan pribadi. Ada juga titipan tetangga. Setiap dagangan yang terjual, akan ada persenan untuk Imay.

Jenis sarapan dan lauk yang ia jual juga tak jarang by request pelanggan. Ia tak segan-segan menampung masukan dari kaum ibu yang tak sempat masak, tapi ingin makan ini-itu.

“Saat malam hari sudah saya posting jenis sarapan dan lauk yang saya sediakan keesokan harinya. Selalu banyak yang pesan. Jadi saat pagi hari, saya tak perlu muter-muter cari pembeli lagi. Langung saya antar ke rumah pelanggan. Biasanya pukul 07.00 wib sudah mulai jalan,” ungkap wanita 32 tahun ini.

Imay berkeliling mengantar dagangannya dengan sepeda motor yang dipasangi keranjang putih di bagian belakang jok. Pelanggan yang request dan sudah list order sejak malam hingga pagi diutamakan.

Sebenarnya, ia juga menyediakan porsi untuk pembeli yang bertemu di jalan. Misalnya di sekitar komplek perumahan atau sekolah putrinya.

Imay memiliki 2 orang putri dan 1 putra. Sebelum menjajakan dagangannya, Imay biasanya mengantarkan 2 orang putrinya ke sekolah. Tak jarang ia sekalian membawakan dagangannya yang belum bertuan. Bila ada yang beli saat di parkiran sekolah, maka hari itu, ia tak perlu menjajakan lagi ke perumahan-perumahan sekitar Sidomulyo Barat, kelurahan tempat Imay bermukim.

“Tetap ada yang saya bawa untuk calon pembeli offline. Misalnya yang bertemu di jalan. Atau saat saya menjemput anak pulang sekolah. Bisa jadi ada orang tua teman anak saya yang ikut beli dagangan saya,” jelasnya.

Walau bermodal kecil dan tampak sederhana, penghasilannya Imay perbulan sangat berpengaruh untuk membantu suami memenuhi kebutuhan keluarga. Pandemi kemarin memang membuat kondisi keuangan mereka terimbas parah.

Suami Imay bekerja sebagai pemasok aneka sayuran dan buah ke pedagang-pedagang dan rumah makan di Malaysia. Saat Covid-19 merajalela, suaminya sama sekali tidak bisa masuk ke negara tetangga itu.

Imay menerima telepon saat membawa dagangannya yang belum dipesan pelanggan untuk ditawarkan ke warga sekitar perumahan tempatnya tinggal, Senin (17/10/2022). Foto: Yusni Fatimah Lubis.

“Pas Covid-19 kemarin, selama 2 tahun suami tidak bisa kerja normal. Terpaksalah memutar otak agar tetap ada penghasilan,” kenangnya.

Imay sempat mencoba berjualan aneka jajanan di depan sebuah ruko tak jauh dari rumahnya, namun tidak berhasil. Agar dapur tetap ngebul, suaminya pun bekerja di toko aneka jajanan kering milik kakaknya. Ia juga ikut menjualkan barang-barang di toko itu via online.

Saat ini, sang suami sudah mulai bekerja normal lagi. Sayangnya, belum bisa seperti sebelum Covid-19 terjadi. Katanya, ternyata banyak pelanggan suaminya yang sudah mendapat pemasok lain.

Tak mau hanya menunggu keadaan membaik dengan sendirinya, Imay memutuskan bergerak. Ia sadar, peluang dagang via online ternyata lebih menjanjikan daripada menjajakan offline. Muncul lah ide dagang sarapan dan lauk online yang ditekuninya saat ini.

“Sekarang hasil sebulan lumayan cukuplah buat memenuhi isi dapur. Omset sekitar Rp2,7 juta per bulan. Itu sudah sangat lumayan. Yang kita jual juga gak banyak-banyak. Sistem online begini memang sangat membantu. Walau dikit dan nilai kecil, tapi dengan jualan online, hasilnya bisa saya dan keluarga rasakan,” kata Imay bangga.

Walau masih melalui WhatsApp dan belum on boarding ke e-commerce, langkah Imay sudah membuatnya lebih berdaya dalam menghadapi masa-masa sulit usai pandemi.

Berdaya Bersama dari Rumah

Pelaku usaha kecil lainnya yang melek pasar digital adalah Vivi Lestari. Seorang ibu rumah tangga yang tekun menjalankan bisnis online sembari mengurus keluarga dengan sebaik-baiknya. Vivi yang tinggal di Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat ini memiliki toko online bernama Untuk Istri.

Selain di Shopee, Vivi juga aktif menjajakan dagangannya di beragam akun sosial media miliknya.

Sejak tahun 2016, Vivi sudah aktif menjadi reseller dan dropshipper produk fashion seperti kaos kaki, mukena, dan beragam produk pakaian lainnya.

“Dagang online awalnya untuk mengisi waktu setelah menjadi ibu rumah tangga. Tapi setelah melewati berbagai proses dan ternyata menghasilkan, akhirnya sadar bahwa dagang seharusnya dibawa serius agar lebih maksimal. Dia juga bertekad membantu banyak orang. Karena zaman sekarang dagang online ga harus punya stok barang, semua orang bisa melakukannya,” ungkap Vivi kepada CAKAPLAH.com, Senin (17/10/2022).

Dengan modal gadget dan kuota, Vivi tak perlu susah payah dalam bisnisnya. Barang-barang yang ia jual berasal dari produsen di daerah Bandung, Bekasi, Garut, dan Jakarta.

Tak mau hanya merasakan sendiri manisnya jualan sambil di rumah saja, Vivi rajin mengajak dan memotivasi ibu rumah tangga lainnya untuk mengikuti jejaknya. Ia bertekad mengajak sebanyak mungkin orang-orang untuk ikut berdaya dengan memanfaatkan ekosistem digital saat ini. Reseller di tokonya pun sudah lumayan banyak, saat ini 35 orang yang aktif. Ia rutin membagikan ilmu bisnisnya kepada para reseller itu.

Vivi dan para ibu rumah tangga itu bersama-sama mencari jalan membantu keuangan keluarga, tapi sejalan dengan mengurus rumah tangga masing-masing.

Langkahnya memang tak selalu mulus. Tapi Vivi tak pernah menyerah. Berbekal kesabaran dan ketekunannya, omset Vivi telah berada di angka Rp25 juta per bulan. Angka itu naik turun, tapi akan menanjak di masa-masa mendekati Ramadan dan Idul Fitri.

“Manajemen waktu adalah tantangan. Juga bagaimana mempertahankan reseller dan konsumen. Itu ternyata tidak mudah, sehingga harus banyak belajar. Saya terus melatih diri agar bisa fokus dagang online tapi tetap maksimal mengurus rumah tangga,” ungkap wanita 34 tahun ini.

Saat ditanya soal ketersediaan jaringan internet yang memadai, Vivi mengaku bergantung pada dua operator berbeda. Saat yang satu eror, wanita berlesung pipit dalam ini, akan beralih ke yang satunya lagi. Namun operator cadangan itu memang lebih mahal daripada yang pertama.

"Signalnya kurang bagus kalau di dalam rumah. Kalau dibawa keluar, lancar dia," terangnya soal operator cadangan yang ia maksud.

Vivi dan suami berserta satu putri dan satu putra mereka sudah 4 tahun bermukim di Kelurahan Dangduer, Kecamatan Subang. Orang-orang biasa menyebut daerah ini 'Subang Kota'.

Suami Vivi yang merupakan pegawai Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ditugaskan ke Subang sejak 2019. Sejak itulah mereka menetap di kota ini.

Vivi berseloroh, di Kota Subang tak ada mal, jadi kadang ia kangen ke Kota Bandung atau Kota Pekanbaru. Dua kota yang pernah jadi tempat ia bermukim.

"Maunya BRIN buka di Pekanbaru, agar bisa ke sana lagi," katanya bercanda setengah berharap.

Di tengah kesibukannya mendukung karir suami dan mendidik putri dan putranya, Vivi menjalankan bisnis onlinenya dengan ketekunan yang patut ditiru para istri dan ibu rumah tangga di mana saja. Memang tak ada hasil yang instan, namun tekad, tekun, dan kejelian melihat kesempatan adalah modal untuk maju.

Vivi percaya, dengan memaksimalkan fungsi handphone, asal ada kemauan, semua orang bisa terlibat menggerakkan ekonomi keluarga. Membantu suami dari rumah, mewujudkan mimpi-mimpi, dan tentunya bisa bermanfaat lebih bagi orang lain.

Dari Sudut Kota Raup Omset Rp200 Juta

Bila usaha kecil-kecilan saja bisa menangguk untung menjanjikan berkat keputusan berubah dan masuk ke ranah digital, maka tak heran, pelaku usaha yang memang getol bertahun-tahun di platform digital bisa meraup untung luar biasa.

Seperti yang dialami Khodijah. Pemilik bisnis fashion muslim berlokasi di Provinsi Jambi ini sudah malang melintang mengukir banyak prestasi dengan brandnya yang tak asing lagi, Qolbi. Usaha berbasis Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) ini dirintis dengan modal minim tahun 2016 silam.

"Tak sampai Rp100 ribu lah modalnya,” ungkap Khodijah, saat berbincang kembali dengan CAKAPLAH.com, Senin (17/10/2022). Kisah sukses Khodijah membesarkan Qolbi sebelumnya pernah juga diulas oleh CAKAPLAH.com.

Dia juga tak pernah bosan menceritakan kisah ia dan suami, bersama dua putrinya saat menyusuri Pasar Suku di Kota Jambi. Sebuah pasar rakyat tempat ia mencari bahan baku hijab saat awal merintis dahulu. 

Baca: G20 Dorong Qolbi Go Global, UMKM Modal Dengkul hingga Omset Ratusan Juta Rupiah

“Ke Pasar Suku ramai-ramai. Jalan kaki mencari toko-toko yang menjual bahan jilbab yang kira-kira diminati konsumen. Lalu difoto-foto saja. Upload ke Facebook,” katanya mengenang awal perjuangannya.

Katanya, bila ada teman di Facebook yang suka lalu order, baru ia kembali lagi ke toko itu. Beli kainnya. Dijahit jadi jilbab, terus dikirim ke pembeli. Ternyata banyak yang suka.

Waktu terus berjalan. Banyak tantangan yang Qolbi hadapi. Di bawah komando Khodijah yang sudah mengenyam banyak ilmu bisnis ini, selalu ada solusi untuk terus maju. Terutama soal promosi produk.

“Letak toko fisik kita kan di sudut Kota Jambi, bahkan sebenarnya bukan di kota lagi. Sudah di Kabupaten Muaro Jambi. Di jalan lintas,” terang Khodijah menggambarkan lokasi Qolbi, Senin (17/10/2022).

Kesadaran Khodijah yang cepat mengerti gerak zaman yang serba digital, membuat hal ini hanya jadi masalah kecil yang harus dihadapi untuk membesarkan Qolbi.

“Pemasaran Qolbi paling gencar di sosial media dan marketplace. 95 persen pelanggan Qolbi adalah online customer. Dalam satu hari, yang datang ke toko fisik Qolbi, bisa dihitung jari,” terang Khodijah sembari tertawa.

Transaksi Qolbi kebanyakan via online. Makanya, Khodijah dan tim Qolbi perlu cek sosial media dan akun-akun marketplace dengan rutin.

“Ada 2 orang tim Qolbi yang membantu meng-handle urusan ini. Kita standby di depan laptop dan handphone,” tambah wanita lulusan Sarjana Pendidikan Kimia Universitas Jambi (Unja) ini.

Qolbi pun terus menggencarkan jajakan di platform digital. Yang terbaru, Qolbi sudah hadir di Tokopedia, setelah sebelumnya eksis di Shopee, Instagram, Facebook, WhatsApp, dan TikTok.

Qolbi juga familiar dengan penjualan live di beragam media sosial itu, kecuali di TikTok.

Qolbi juga hadir di PaDi UMKM, platform besutan Telkom Indonesia untuk mempertemukan UMKM dan BUMN guna mengoptimalkan, mempercepat, dan mendorong efisiensi transaksi belanja BUMN pada UMKM.

Dengan benar-benar memanfaatkan ekosistem digital, Qolbi pernah menangguk omset hingga Rp200 juta dalam sebulan.

“Jauh sebelum Covid-19 menyerang. Produk Qolbi sudah menjangkau nyaris seantero tanah air dan telah merambah Malaysia, Hongkong, hingga Turki,” jelas Khodijah dengan nada datar. Tak ada nada sombong di sana.

Usai dihantam beragam cobaan hingga pandemi, Khodijah dan tim Qolbi bangkit lagi. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat pada ekosistem digital dampak Penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berkali-kali, bisnis fashion ikut terkerek. Ada perubahan kebiasaan masyarakat setelah masa-masa sulit itu. Semakin banyak yang melek teknologi digital.

Sekarang, omset Qolbi mulai bergerak membaik, setelah sempat terjun bebas ke angka Rp20 juta perbulan. Saat ini, penjualan produk Qolbi mulai stabil di angka Rp35 juta-Rp50 juta. Saat Ramadan tahun lalu bahkan sudah bergerak ke angka Rp80 juta.

Selain mencengkram erat pasar digital, Qolbi juga tak melewatkan kesempatan-kesempatan memperkenalkan produk-produk Qolbi secara offline.

“Setiap ada tawaran mengikuti pameran, Qolbi selalu ikut. Sebut saja yang terbaru adalah Pameran UMKM Apresiasi Kreasi Indonesia (AKI) 2022 di Jambi Town Square (Jamtos) Mal yang dimulai 2 September kemarin,” jelas Khodijah.

AKI adalah side event G20 yang digelar Kementerian Parisiwata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Bertujuan memperlihatkan citra positif dan mempromosikan keragaman budaya dan pariwisata di Indonesia.

Sebelumnya, Qolbi juga menjadi salah satu peserta pameran Semarak Ekspo Syariah Jambi (SERAMBI) 2022 bertempat di Jamtos Mal juga. Ekspo itu berlangsung 29-31 Juli 2022.

“Qolbi biasanya membawa 100-200 pieces ke stand pameran,” terang Khodijah.

Selama pameran, katanya, konsumen bisa melakukan transaksi dengan Quick Response Code Indonesian Standar (QRIS) dan BI-Fast.

Khodijah foto bersama istri Gubernur Jambi Hj Hesnidar Haris pada malam puncak penutupan Gernas BBI 2022, Kamis (14/4/2022). Foto: Dokumen pribadi Khodijah untuk CAKAPLAH.com.

“Pembeli tinggal scan barcode. Cepat dan praktis tanpa potongan biaya. Kita juga gak repot cari uang kembalian. Terhindar dari kemungkinan uang lecek atau palsu,” kata Khodijah menerangkan keunggulan pembayaran digital yang mulai umum digunakan pelaku UMKM.

Qolbi juga berpartisipasi di UMKM Market Club Expo 2022 tanggal 28-30 Maret 2022.

“Alhamdulillah, saat itu Qolbi meraih penghargaan sebagai UMKM ‘Highest Transaction Category Fashion’,” jelas Khodijah. Salah satu penghargaan lainnya yang ia raih dalam upaya membesarkan Qolbi.

Memberdayakan Perempuan

Khodijah mati-matian mempertahankan timnya saat pandemi mendera sejak 2 tahun lalu. Dia tak mau merumahkan satu orang pun anggota timnya. Masa-masa sulit itu ia lalui tanpa PHK dan pengurangan gaji.

Ada 9 perempuan yang membantu Khodijah di Tim Qolbi. 8 orang anggota tim tetap. Sedang 1 lagi adalah freelance.

Kepada timnya, Khodijah selalu memberi penegasan bahwa cepat puas bukanlah pilihan hidup.

“Bertransformasi menjadi lebih baik adalah keniscayaan. Saya selalu berpesan bahwa Qolbi bukan milik saya seorang. Tapi milik bersama,” terangnya dengan nada serius.

Inilah alasan ia menyebut mereka ‘tim’, bukan karyawan. Karena mereka bekerja bersama sebagai tim. Sama-sama memiliki Qolbi. Bahu-membahu membesarkannya di era disrupsi digital saat ini.

Selain selalu mendorong tim Qolbi untuk stay positif, Khodijah juga mendorong kaum perempuan, ibu-ibu, dan remaja di sekitar Qolbi beroperasi. Tepatnya di Desa Kebon IX, Kecamatan Sungai Gelam.

Khodijah membantu perempuan-perempuan itu agar memiliki kemampuan yang bernilai ekonomis. Mulai memberi kursus menjahit gratis hingga pelatihan Kelas Bisnis Online (digital marketing) gratis.

Para ibu rumah tangga diberi pelatihan mengasah keterampilan dan peluang bisnis dengan cara mengolah kain sisa produksi atau perca menjadi barang bernilai jual, seperti souvenir, keset, dan lainnya.

"Lalu mereka pasarkan. Ada yang dijajakan langsung ke relasi mereka, ada yang lewat Facebook. Kita ajari itu juga. Jualan online," terang Khodijah.

Anak-anak putus sekolah dan yang tak melanjutkan kuliah di sekitar Qolbi, tak luput dari uluran tangannya. Mereka juga bisa mengikuti kursus menjahit hijab gratis.

Lulus kursus, mereka ada yang buka usaha menjahit sendiri, ada juga yang akhirnya bergabung dengan tim Qolbi.

Presidensi G20 Indonesia, Langkah Besar Wujudkan Ekonomi Digital untuk Semua

Deretan kisah di atas adalah beragam dampak perubahan ekonomi digital terhadap pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di tanah air.

Ada yang sudah ahli memanfaatkan ekosistem digital, seperti owner 'Qolbi' dan 'Untuk Istri'. Ada yang baru mulai dan sudah merasakan manfaatnya, seperti Imay. Namun, ada juga yang baru melangkah masuk dengan pengetahuan minim soal sosial media dan berusaha lebih produktif menggunakannya, seperti Pak Lubis. Lain lagi pasangan suami istri Habib dan Zerni, yang membuka usaha berbasis semi digital di luar pekerjaan utamanya sebagai pegawai pemerintah.

Bukan mereka saja. Ada 65 juta pelaku UMKM di tanah air yang sebagian besar darinya belum benar-benar melek dengan transformasi ekonomi digital. Tepatnya, baru 19,5 juta pelaku UMKM yang sudah on boarding di ekonomi digital.

“Per Juni 2022, sudah 19,5 juta pelaku UMKM atau 30,4 persen dari total UMKM telah hadir pada platform e-commerce,” ungkap Menteri Koperasi dan UKM (MenkopUKM) Teten Masduki dalam B20 Indonesia Digital economy to support SDGs, di Bali, Senin (8/8/2022) lalu.

Baca: Pemerintah Diharap Lebih Mendukung UMKM di HUT ke-65 Riau

B20 atau Business 20 adalah salah satu engagement group terkemuka di dalam G20 yang berada di bawah Sherpa Track atau Jalur Sherpa, yang membahas isu-isu ekonomi non-keuangan, serta mempersiapkan berbagai konsep outcome dokumen yang akan dibahas pada summit G20 yang akan dihadiri para kepala negara. B20 lebih dikenal sebagai forum dialog antara komunitas bisnis dunia.

Sedangkan G20 adalah singkatan dari Group of Twenty. Forum kerja sama ekonomi internasional yang beranggotakan negara-negara dengan perekonomian besar di dunia terdiri dari 19 negara dan 1 lembaga Uni Eropa.

G20 merepresentasikan 60% populasi bumi dan 75 % perdagangan global, serta setidaknya 85% perekonomian dunia.

Tahun ini, Presidensi G20 dipegang Indonesia. Hal ini menjadi momentum bersejarah bagi bangsa.

Tak berlebihan bila disebut bahwa G20 menjadi titik awal sebuah langkah besar untuk mewujudkan transformasi digital yang inklusif, memberdayakan, dan berkelanjutan.

Namun, untuk mewujudkan transformasi digital, semua pihak harus berkolaborasi. Salah satu bentuk transformasi digital, yakni mendorong berkembangnya ekonomi digital.

Namun, bagi yang tertinggal, tak heran muncul pandangan bahwa perkembangan ekonomi digital akan mematikan sektor ekonomi konvensional.

Maka, yang bisa survive adalah yang mau dan cepat bertransformasi ke digital. Peran pemerintah, masyarakat sendiri, komunitas, pihak swasta, bahkan dunia internasional, dipandang perlu untuk mendukung terwujudnya perubahan ini.

Mewujudkan Tujuan Bersama

Pada Presidensi G20 Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memegang peranan penting untuk melakukan pendalaman soal ekonomi berbasis digital oleh working group dan engagement group yang ada.

Oleh karena itu, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate mengemukakan, sesuai tema yang diusung Kemenkominfo di Digital Economy Working Group (DEWG) G20 yakni “Achieving a Resilient Recovery: Working Together For a More Inclusive, Empowering and Sustainable Digital Transformation” ada harapan luhur yang ingin dicapai melalui DEWG.

DEWG diberikan mandat untuk melakukan pembahasan ekonomi secara lintas sektor, mewujudkan ekosistem yang inklusif, memberdayakan masyarakat, dan berkelanjutan.

Menkominfo Johnny G. Plate saat menyampaikan High Policy Statement Indonesia dalam ITU Plenipotentiary Conference 2022 (PP 22) di Palace of Parliament, Bucharest, Rumania, Selasa (27/9/2022). Foto: Biro Humas Kemenkominfo RI.

Forum DEWG pun telah mencapai kesepakatan penting pada hal-hal substantif di tiga isu prioritas DEWG, yakni konektivitas digital pascapandemi Covid-19; kecakapan dan literasi digital; serta data free flow with trust and crossborder data flow.

Kesepakatan forum DEWG ini akan dibawa ke Konferensi Tingkat Tinggi (KTT)/Summit G20 di Bali, 15-16 November 2022 mendatang.

“Dokumen tersebut menunjukkan bahwa untuk seluruh isi substantif, Presidensi Indonesia telah memperoleh konsensus dari seluruh DEWG sesuai isu prioritas DEWG,” ujar Johnny G. Plate dalam Konferensi Pers Digital Economy Minister Meeting di Hotel Mulia, Nusa Dua, Bali, Kamis (1/9/2022).

Grafik isi kesepakatan Forum DEWG G20.

Pada prioritas pertama menyangkut konektivitas digital pascapandemi Covid-19, kata Menteri Johnny, anggota G20 DEWG menyepakati mengenai perlunya penguatan konektivitas digital yang bersifat people centered. Selain itu, disepakati pula bahwa konektivitas tersebut mencakup keamanan data digital.

Baca: Pandemi Persempit Ruang Fiskal Negara Berkembang, G20 Dorong Implementasikan Standar Perpajakan Internasional

Kemudian pada prioritas kedua terkait kecakapan digital dan literasi digital, anggota G20 DEWG sepakat untuk membuat kerangka untuk mengukur keterampilan dan literasi digital.

Kerangka tersebut, menurut Menkominfo, akan berguna untuk melakukan standardisasi pengukuran keterampilan dan literasi digital pembuatan kebijakan publik yang objektif.

“Serta untuk mempromosikan kerja sama internasional dan menutup kesenjangan antara keterampilan dan literasi digital, juga untuk meningkatkan partisipasi orang-orang yang dalam situasi rentan dalam ekonomi digital," tambahnya.

Serta disepakati pula mengenai ringkasan praktik dan kebijakan tentang keterampilan digital tingkat lanjut dan literasi digital.

Selanjutnya pada prioritas ketiga terkait data free flow with trust and crossborder data flow, menjadi salah satu hal yang paling mendapatkan perhatian dari anggota DEWG.

“Dalam hal ini, Indonesia menempatkan prinsip keadilan, transparan, dan keabsahan dalam isu data free flow with trust and crossborder data flow,” tegas Menteri Johnny.

Dengan kesepakatan penting pada hal-hal substantif di tiga isu prioritas DEWG tersebut diharapkan akan menjadi angin segar dalam upaya mewujudkan transformasi ekonomi digital untuk semua.

Sebab, digitalisasi bukanlah perkara masa depan lagi, tapi sudah jadi realita. Terjadi saat ini, termasuk di bidang ekonomi.

Digitalisasi menjadi keharusan yang dapat mendorong semua pelaku bisnis, terutama UMKM, untuk mampu bertahan dan bangkit, serta berkontribusi dalam pemulihan ekonomi nasional.

Penelitian Bank Dunia menyebut, keterlibatan UMKM secara digital menjadi salah satu pendorong pencapaian target pertumbuhan ekonomi 7 persen di tahun 2025.

Sebab itu, G20 menjadi kesempatan Indonesia untuk memantapkan kebijakan agar tercipta pondasi Indonesia maju yang telah bangkit, telah pulih dari pandemi, bahkan tumbuh lebih kuat, dan berkelanjutan. G20 adalah langkah besar pemerintah dan semua pihak dalam mewujudkan cita-cita besar bersama, memajukan negeri, lewat digitalisasi.

Menteri Johnny mengungkapkan, Pemerintah Republik Indonesia telah sukses memberikan perhatian penuh kepada dunia di sektor digital selama penyelenggaraan DEWG dalam Presidensi G20.

“Dalam konteks forum Presidensi G20, Indonesia sebagai tuan rumah tahun ini berupaya memberikan perhatian kepada masyarakat dunia yang tidak terlayani di ruang digital,” tandas Menteri Johnny.

Sebagai salah satu isu prioritas yang diusung dalam gelaran G20 tahun ini, transformasi digital menjadi kunci pemulihan tatanan ekonomi global pascapandemi. Indonesia telah mengambil peran besar dalam upaya memfasilitasi dan mewujudkannya.

Penulis : Yusni Fatimah Lubis
Editor : Jef Syahrul
Kategori : Nasional, Ekonomi
Untuk saran dan pemberian informasi kepada CAKAPLAH.com, silakan kontak ke email: redaksi@cakaplah.com
Berita Terkait
Komentar
cakaplah-mpr.jpeg
Selasa, 02 November 2021
DPR Ingin Seleksi Calon Anggota KPU-Bawaslu Ciptakan Demokrasi Lebih Baik
Selasa, 02 November 2021
Terima Aspirasi PPPK Guru, DPR Desak Peserta Yang Memenuhi Passing Grade Diluluskan
Senin, 01 November 2021
Komisi III DPR Dukung Langkah Kapolri Perbaiki Institusi Polri
Senin, 01 November 2021
Pimpinan DPR Sebut Kita Bersyukur Indonesia Jabat Presidensi G20

MPR RI lainnya ...
Berita Pilihan
Selasa, 26 April 2022
DPRD Dukung Pemprov Riau Tindak Tegas PKS Nakal, Kalau Melanggar Cabut Izin !
Selasa, 26 April 2022
Polemik Rotasi AKD DPRD Riau, Sugeng Pranoto: Hari Kamis Paripurna
Selasa, 26 April 2022
Sikapi Turunnya Harga Sawit di Riau, Ini Upaya Gubri
Selasa, 26 April 2022
CPNS dan PPPK Baru di Rohul Dipastikan Tak Terima THR, Ini Sebabnya...
Selasa, 26 April 2022
Sambut Mudik Lebaran, HK Operasikan 2 Ruas JTTS, Termasuk Tol Pekanbaru-Bangkinang
Senin, 28 Maret 2022
Ibu Muda Ini Ditangkap Polisi Usai Simpan Narkotika di Kandang Anjing
Minggu, 27 Maret 2022
Polda Riau Tingkatkan Kasus Jembatan Selat Rengit Meranti ke Penyidikan
Selasa, 26 April 2022
PPKM Level 2 Kota Pekanbaru Berlanjut hingga 9 Mei
Selasa, 26 April 2022
Parisman: 10 Tahun Visioner yang Menenggelamkan Pekanbaru
AMSI
Topik
Selasa, 08 Januari 2019
Penerimaan Pajak Air Tanah Pekanbaru 2018 Meningkat
Minggu, 06 Januari 2019
Mega Training 'Magnet Rezeki'
Minggu, 06 Januari 2019
Taman Marga Satwa Kasang Kulim, Kawasan Wisata Alam dan Hiburan
Minggu, 06 Januari 2019
Alam Mayang, Liburan Tak Mesti Keluar Kota

CAKAPLAH TV lainnya ...
Sabtu, 03 Desember 2022
Kanwil DJPb Riau Dukung Desa Pulau Gadang sebagai Desa Berintegritas dan Anti Korupsi
Sabtu, 03 Desember 2022
Bawaslu Rohil Sosialisasikan Peraturan Pengawasan Pemilu 2024 Kepada Awak Media
Sabtu, 03 Desember 2022
Hadir di FBLE, Ini Tanggapan Zulkifli Indra
Sabtu, 03 Desember 2022
Yuliarso Nakhodai Purna Paskibraka Indonesia Pekanbaru, Pelantikan Digelar Pekan Depan

Serantau lainnya ...
Rabu, 30 November 2022
Resep Martabak Telur Roti Tawar, Simpel dan Enak ala Chef Devina Hermawan
Rabu, 30 November 2022
Forum Maxi Pekanbaru Peduli Gempa Cianjur
Selasa, 29 November 2022
Rinaldi dan Chandra Resmi Pimpin Nmax Owner Communitas Periode 2022 - 2024
Rabu, 23 November 2022
Kenali PHA: Kandungan Skincare untuk Kulit Sensitif

Gaya Hidup lainnya ...
Selasa, 08 November 2022
Festival Halloween Itaewon Tewaskan 154 Orang, Ini 4 Festival Berdarah Lainnya yang Tercatat dalam Sejarah
Senin, 05 September 2022
Merindu Wajah Indah Pekanbaru, Muflihun Optimis Raih Piala Adipura
Senin, 29 Agustus 2022
Peringatan HUT RI Ke-77 Jadi Momentum Refleksi Perjuangan Para Pendiri Bangsa
Selasa, 16 Agustus 2022
GALERI FOTO: Dalam Rangka Hari Jadi ke-65 Provinsi Riau, Ribuan Masyarakat Hadiri Dzikir Akbar Bersama Ustaz Das'ad Latif

Advertorial lainnya ...
Kamis, 01 Desember 2022
Kuau Raja, Si Burung Bermata Seratus dari Sumbar yang Terancam Punah
Rabu, 30 November 2022
Mengenal Ubur-ubur Kotak, Makhluk Laut Paling Berbisa di Dunia
Rabu, 23 November 2022
Walau Bersayap, 7 Burung Ini Tidak Bisa Terbang
Senin, 21 November 2022
Kemenkominfo Gelar Literasi Digital, "Tips Digital: WhatsApp For Business"

Tekno dan Sains lainnya ...
Rabu, 30 November 2022
Sambiloto: Si Raja Pahit yang Kaya Manfaat bagi Kesehatan
Senin, 28 November 2022
Dinas P3AP2-KB Riau Luncurkan Aplikasi Perlindungan Perempuan dan Anak
Senin, 21 November 2022
Aksesoris Travelling Yang Wajib Anda Bawa Saat Hujan
Jumat, 18 November 2022
Cegah Sakit di Musim Hujan dengan Mengonsumsi 7 Makanan Mengandung Vitamin B6

Kesehatan dan Keluarga lainnya ...
Jumat, 02 Desember 2022
5 Jurusan Kuliah yang Paling Banyak Disesali setelah Lulus, Kamu Bagaimana?
Kamis, 01 Desember 2022
Penggunaan Gedung SMK Revolusi 4.0 SMK Abdurrab Pekanbaru Diresmikan
Kamis, 01 Desember 2022
5 Kampus Paling Diminati di Indonesia
Senin, 28 November 2022
Hendriko Dikukuhkan sebagai Guru Besar Pertama di Politeknik Caltex Riau

Kampus lainnya ...
Rabu, 09 November 2022
Wijatmoko Rah Trisno Pimpin Forum CSR Provinsi Riau
Rabu, 12 Oktober 2022
BDI EMP Bersama Bakrie Amanah Salurkan Santunan Pendidikan Tahap II
Senin, 10 Oktober 2022
Wujudkan Kota Dumai Bersih, BRK Syariah Bantu Pengadaan Sarana Angkutan Sampah Lewat Program CSR
Minggu, 09 Oktober 2022
BSI dan BSI Maslahat Bantu Pembuatan Sumur Bor Yayasan Al Muslimin Dumai

CSR lainnya ...

Pegadaian Oktober 2022
Terpopuler
Khas Hotel November 2022
Foto
DPRD Riau 2022 1
Diskes Rohul Agustus 2022
Sabtu, 26 November 2022
Indra Prasta Simpati Gempa Cianjur, Lelang Gitar Kesayangan
Senin, 21 November 2022
Blak-blakan Nia Ramadhani kepada Merry Riana; Terjerat Kasus Narkoba Jadi Mukjizat Bagi Pernikahanku
Sabtu, 19 November 2022
DDV dan Aksa Bumi Langit Gelar Nonton Bersama untuk Anak-anak Kurang Beruntung
Sabtu, 19 November 2022
Nia Ramadhani Ungkap Terjerat Narkoba Bukan Akhir Dunia

Selebriti lainnya ...
DPRD Riau 2022 2
Rabu, 09 Oktober 2019
Jadi Pimpinan DPRD Siak Dari Partai PAN, Ini Sosok Fairuz
Rabu, 09 Oktober 2019
Indra Gunawan Akan Berjuang Untuk Masyarakat dan Loyal Terhadap Partai
Rabu, 09 Oktober 2019
Ternando Jadi Anggota DPRD Siak Termuda dan Suryono Terpilih Dengan Suara Terkecil
Rabu, 09 Oktober 2019
Reaksi Pimpinan DPRD Siak Terkait PTPN V Buang Limbah Sembarangan

Parlementaria Siak lainnya ...
BSP - HUT Siak 12 Oktober 2022
Jumat, 02 Desember 2022
Lima Waktu Mustajab untuk Berdoa
Jumat, 02 Desember 2022
Amalan Hari Jumat yang Disunnahkan Rasulullah
Jumat, 18 November 2022
Pegadaian Tawarkan Produk Arrum Haji, Cicilan hanya Rp22 Ribu Perhari
Senin, 31 Oktober 2022
Forum Pekanbaru Kota Bertuah Taja Peringatan Maulid Nabi

Religi lainnya ...
DPRD Riau Hari Kesehatan Nasional 2022
Indeks Berita
DPRD Riau HUT BRIMOB 2022DPRD Riau HGN 2022HUT RI 77 - APRIL RAPPPertaminaHUT Riau 2022 - PT SPR
www www