Rabu, 30 November 2022

Breaking News

  • Pemprov Riau Akui Gubri Batal ke Meranti, Erisman: Katanya Ada Penolakan Bupati Tapi Alasannya Kita Tak Tahu   ●   
  • Setubuhi Wanita Terbelakang Mental, Pria di Bengkalis Ditangkap Polisi   ●   
  • Pimpinan MPR Pastikan Pilkada 2024 Tetap Dipilih Rakyat Langsung   ●   
  • Arab Saudi Percepat Proses Visa Umrah, Hanya Perlu 24 Jam   ●   
  • Jumpai Sekdako Pekanbaru, REI Riau Keluhkan Lambatnya Penerbitan Izin
Yamaha 27-30 November 2022

Laju Pertamina Menyelamatkan Mangrove, Mengurangi Emisi, Menjamin Bumi untuk Generasi Negeri
Selasa, 08 November 2022 14:25 WIB
Laju Pertamina Menyelamatkan Mangrove, Mengurangi Emisi, Menjamin Bumi untuk Generasi Negeri
Pengunjung menikmati indahnya suasana Ekowisata Mangrove Education Center Desa Pangkalan Jambi, Bengkalis, Riau yang merupakan binaan PT KPI Refinery Unit (RU) II Sungai Pakning. Foto: Instagram @mangrove_pangkalanjambi

Menjaga keberlangsungan ekosistem Mangrove di Indonesia sama halnya dengan menjaga keberlangsungan masa depan generasi bangsa. Emisi karbon dan perubahan iklim adalah bahaya yang nyata terhadap bumi dan penghuninya. Semua pihak harus ambil bagian dalam upaya mewujudkan pengurangan emisi karbon secara terarah dan berkelanjutan.


MENGENAKAN jaket merah terang, Presiden Joko Widodo melepas alas kakinya, lalu bergabung dengan sekelompok pejabat dan warga dalam aksi tanam Mangrove di sebuah pantai terdepan dan terluar Indonesia. Tepatnya di Pantai Raja Kecik, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.

Pantai itu persis di pinggir Selat Malaka dan berbatasan langsung dengan negara tetangga, Malaysia. Bila hari terang, bukit-bukit di Malaysia bisa terlihat dari sini.

Acara tanam pohon itu digelar Selasa (28/9/2021). Di bawah hujan rintik-rintik kala itu dan saat matahari belum naik seperempat langit.

Selain Bupati di daerah itu, Kasmarni, Gubernur Riau Syamsuar, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, juga hadir di sana. Tidak sedikit anak-anak yang turut meramaikan seremonial demi kelangsungan nafas bumi itu.

“Nanti dirawat ya,” pesan Presiden kepada dua orang anak yang kebetulan berada di hadapannya saat membenamkan akar bibit pohon ke tanah yang basah.

Anak perempuan berjilbab hijau dan bocah laki-laki berbaju biru, dengan malu-malu menyebutkan nama mereka kepada Presiden saat ditanya.

Dua anak itu, juga yang lainnya di lokasi, serta yang lainnya lagi di seantero Indonesia, diharap akan memahami pentingnya kegiatan penanaman anak-anak pohon Mangrove di pasir hitam pesisir negeri.

Keputusan Presiden melepas sepatunya dan berakhir nyeker saat acara penting itu menjadi headline di media massa.

Orang nomor satu di Negeri Khatulistiwa rela ‘kaki ayam’ demi menanam pohon pencegah abrasi, mengirim pesan betapa pentingnya aksi itu.

Menanam pohon Mangrove di pantai itu akan besar andilnya untuk keselamatan lingkungan. Mengurangi emisi karbon demi bumi yang terjamin kebaikannya untuk tetap bisa ditinggali di masa depan.

Emisi karbon, gas yang dihasilkan dari aktivitas pembakaran senyawa-senyawa yang mengandung karbon semakin memenuhi atmosfer, mengancam semua makhluk yang bernaung di bawahnya.

Emisi karbon dapat diserap lebih baik oleh tanaman Mangrove karena daunnya yang banyak dan habitatnya yang memungkinkan penyimpanan karbon lebih besar dibanding tanaman yang ada di daratan biasa.

Saat sekelompok orang di Pantai Raja Kecik itu menanam anak-anak pohon Mangrove, maka semakin besar kemungkinan emisi karbon berkurang dari muka bumi.

Saat itu, ada 20.000 bibit Mangrove yang ditanam. Terdiri dari bibit Rhizophoraceae (Pohon Bakau) dan Avicenniaceae (Pohon Api-Api).

“Rehabilitasi Mangrove akan terus kita lakukan di seluruh tanah air. Hutan Mangrove menyimpan karbon 4-5 kali lebih banyak dari hutan tropis daratan, sehingga akan berkontribusi besar pada penyerapan emisi karbon,” jelas Presiden saat itu.

Presiden Joko Widodo tanpa alas kaki melakukan penanaman Mangrove bersama masyarakat di Pantai Wisata Raja Kecik, Bengkalis, Riau, Selasa (28/9/2021). Foto: Badan Penjamin Mutu Internal (BPMI) Sekretariat Presiden.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian LHK bersama Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) melakukan percepatan rehabilitasi Mangrove seluas 620.000 hektare dalam kurun waktu 2021–2024.

Untuk mewujudkan target tersebut, pemerintah memfokuskan rehabilitasi Mangrove di 9 provinsi prioritas, yakni di Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Papua, dan Papua Barat.

Di Provinsi Riau, pada 2021 ekosistem Mangrove tercatat seluas 224.895 hektare. Salah satu daerahnya, yakni Kabupaten Bengkalis merupakan daerah dengan eksisting Mangrove seluas 26.757 hektare, dengan potensi rehabilitasi mencapai 1.628 hektare.

Dalam upaya rehabilitasi Mangrove di daerah ini, pemerintah setempat tidak bekerja sendiri. Salah satu perusahaan yang memiliki andil besar dalam prosesnya adalah PT Pertamina (Persero) melalui anak perusahaannya PT Kilang Pertamina Internasional (PT KPI) Refinery Unit (RU) II Sungai Pakning.

Tak Menyerah Menjaga Nafas Anak Pohon Bakau

Alpan (52) sangat terbantu saat upayanya menyelamatkan desanya dari abrasi mendapat perhatian PT KPI RU II Sungai Pakning.

Sejak tahun 2017, Alpan sudah lebih tenang, saat nafas pohon-pohon Bakau dan Api-Api di desanya, Desa Pangkalan Jambi, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, lebih panjang dan akhirnya menjulang.

Hutan Mangrove di sepanjang garis pantai Desa Pangkalan Jambi itu kini rimbun dan hijau. Akar-akarnya mencengkeram erat tanah. Tempat memanjat Kepiting dan Bajing Kelapa berlompatan.

Hutan yang dulunya akan mematik iba itu kini ramai didatangi wisatawan lokal dan luar daerah.

Dulu, selama bertahun-tahun, air laut terus menggerus daratan Desa Pangkalan Jambi. Kurang lebih 150 meter wilayah desa itu hanyut ke laut dalam 20 tahun terakhir.

Banyak warga yang semula tinggal di pesisir pantai harus pindah ke daratan yang lebih tinggi. Menyisakan lahan terabrasi yang jadi tempat nelayan menambatkan perahu sepulang melaut.

Sejak tahun 2005, Alpan telah berupaya berbuat sesuatu atas nasib desanya itu. Dia getol mengajak nelayan lain untuk ikut menanam bibit pohon Mangrove di pinggir pantai yang merupakan wilayah bekas abrasi.

Dengan alat seadanya, selama belasan tahun, Alpan dan beberapa nelayan lainnya bahu membahu menanami wilayah itu. Mereka menyisihkan penghasilan dari menjual ikan guna membeli bibit-bibit pohon Bakau untuk ditanam.

Jika tidak sedang terombang-ambing di lautan mencari ikan, maka di lokasi ini lah mereka. Merawat anak-anak pohon Bakau dan Api-api agar bernafas panjang.

Sayangnya, sapuan ombak, terlebih saat pasang, menjadi musuh bagi cita-cita mereka. Impian menyelamatkan desa juga dibebani dengan tengilnya sebagian warga yang masih saja memotongi pohon-pohon itu. Buat dijadikan kayu bakar atau untuk menambah dinding di rumah mereka.

Kondisi Mangrove di Desa Pangkalan Jambi saat awal program CSR di Tahun 2017. Foto: Buku Permata Hijau Pesisir Gambut; Perjalanan Mangrove Education Center Desa Pangkalan Jambi.

"Kita tanam 1.000 paling hanya tumbuh 100 pohon. Tanam ratusan, paling beberapa pohon saja yang selamat dari pasang. Belum lagi menghadapi penebangan liar masyarakat sekitar maupun dari luar," terang Alpan.

Walau terus berulang seperti itu, harapan Alpan dan sejawatnya tidak hanyut. Mereka bergantian menanami dan menjaga lahan tergerus yang semakin enggan disinggahi ikan dan kepiting saat itu.

"Terus begitu, berulang-ulang. Namun semangat kami tidak pernah pudar. Saat itu yang kami pikirkan selain untuk menyelamatkan lingkungan dan pemukiman warga akibat tergerus abrasi, juga untuk kepentingan anak cucu di masa depan," ujar pria dengan 4 orang anak ini.

Kerja keras lebih dari satu dekade itu mulai membuahkan hasil. Keraguan dan hinaan warga lain atas apa yang mereka lakukan mulai reda. Anak-anak pohon itu mulai rimbun dan mengundang ikan-ikan dan kepiting untuk bersarang.

Di ranting-ranting tanaman baru, beraneka jenis burung mulai ramah berciap-ciap. Sesekali Babi hutan menampakkan diri di sela pohon.

Di Tahun 2017, Alpan dan rekan-rekannya yang diberi nama Kelompok Harapan Bersama menjalin kolaborasi dengan program Corporate social responsibility (CSR) PT KPI RU II Sungai Pakning.

Kelompok yang diketuai Alpan bersama 11 orang anggota itu diberi ilmu melimpah oleh fasilitator yang dihadirkan PT KPI RU II Sungai Pakning.

Mereka belajar bagaimana membuat pelindung pantai guna mencegah abrasi dengan Triangle mangrove barrier (Trimba). Tujuannya, agar anak-anak pohon yang ditanam lebih terlindung dari sapuan ombak. Sekaligus untuk menangkap lumpur atau sedimen saat laut pasang.

Dengan Trimba, bisa terkumpul sedimen hingga setinggi 60-70 centimeter. Di atas endapan berisi mineral baik itu, ditanamilah anak-anak pohon baru yang bisa tumbuh dengan lebih subur.

Anak-anak pohon ini terlindung Trimba yang dibuat dengan batang-batang kayu nibung yang sebagian ditancapkan ke dalam lumpur, membentuk segitiga berjejer sepanjang 150 meter di bibir pantai.

Trimba membentuk segitiga dipasang berjejer di tepi pantai untuk memecah ombak dan memerangkap sedimen. Foto: Instagram @mangrove_pangkalanjambi.

Dengan ilmu dan metode baru, tingkat keberhasilan kelompok Alpan merawat pohon Rhizophoraceae (Pohon Bakau) dan Avicenniaceae (Pohon Api-Api) mulai naik pesat, hingga 95 persen.

Di tahun 2020, Gubernur Riau Syamsuar meresmikan daerah bekas abrasi ini menjadi wilayah Ekowisata Mangrove Education Center Desa Pangkalan Jambi.

“Kami sangat apresiasi kelompok Mangrove di Desa Pangkalan Jambi ini. Kami berharap kreatifitas masyarakat seperti ini dapat dipertahankan terus. Karena selain mempromosikan daerah serta sebagai upaya meminimalisir terjadinya abrasi pantai, juga sebagai tambahan penghasil ekonomi masyarakat,” ucap Gubernur Syamsuar saat peresmian.

Ekonomi warga Desa Pangkalan Jambi memang ikut terangkat akibat transformasi hutan Mangrove wilayah ini yang terus membaik dan kian populer.

PT KPI RU II Sungai Pakning juga memfasilitasi masyarakat desa ini berbudidaya ikan, mengolah hasil laut, dan buah Mangrove lewat pelatihan-pelatihan. Warga bahkan dibantu untuk pengemasan dan pemasaran produk yang dihasilkan.

Ekowisata Mangrove Education Center Desa Pangkalan Jambi telah dijadikan sebagai referensi bagi desa-desa pesisir yang ada di Indonesia terkait penanganan abrasi.

Dalam sehari, ribuan orang bisa datang untuk berwisata ke lokasi seluas 3 hektare ini. Ada juga kelompok-kelompok mahasiswa yang hendak melakukan penelitian. Mulai dari perguruan tinggi sekitar Pulau Sumatera hingga dari Pulau Jawa rela jauh-jauh datang ke desa ini.

Perjalanan mereka selama 4 jam lewat darat dari Kota Pekanbaru ke desa ini tidak akan sia-sia begitu disambut indahnya dedaunan Mangrove yang hijau dan lembut sapaan angin pantai. Tentunya ada juga janji ilmu baru yang akan mereka timba di pusat pendidikan Mangrove ini.

Hasil Studi identifikasi jenis Mangrove yang dilakukan Kelompok Studi Ekosistem Mangrove Teluk Awur (KeSEMaT) Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, bersama Pusat Studi Pengembangan Masyarakat – LPPM Universitas Sebelas Maret di Tahun 2017, menemukan di lokasi ini hidup 8 spesies Mangrove, yang terdiri dari Mangrove sejati dan asosiasi.

Selanjutnya, hasil monev biodiversity Tahun 2019 di lokasi yang sama oleh Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL)-IPB ditemukan 14 jenis Mangrove dan 8 jenis asosiasinya. Sehingga jumlah Mangrove yang teridentifikasi pada Tahun 2019 sudah berkembang menjadi 22 jenis.

Sedangkan Fauna di hutan Mangrove Pangkalan Jambi ditemukan 2 jenis mamalia dan 25 jenis burung dari 14 famili.

Menyaksikan perkembangan Desa Pangkalan Jambi sebagai hasil dari upaya tanpa kenal lelahnya, Alpan tak bisa menyembunyikan rasa bangganya.

Peluh dan kegigihannya bersama Kelompok Harapan Bersama telah berhasil menjaga nafas pohon-pohon Bakau di desanya. Bahkan, memanjangkan nafas perekonomian warga di sana. Anak-anak di desanya kini bisa hidup lebih terjamin dengan alam yang semakin baik kepada mereka.

Jasa-jasa Alpan dan Kelompok Harapan Bersama pun diganjar penghargaan Setia Lestari Bumi Tahun 2021 dari Gubernur Riau.

Alpan menerima penghargaan Setia Lestari Bumi Tahun 2021 dari Gubernur Riau  Syamsuar, Rabu (6/10/202). Foto: mediacenterriau.go.id.

Kementerian LHK juga memberi penghargaan kepada Desa Pangkalan Jambi sebagai desa yang sukses dalam pengelolan program kampung lingkungan iklim (Proklim) tahun 2021.

“Mangrove, pembuatan pemecah ombak, hingga pengembangan ekowisata kami lakukan dengan sepenuh hati demi kelestarian lingkungan kami,” ujar Alpan saat menerima piagam di halaman kantor Gubernur Riau pada Kamis (7/10/2021) silam.

Dia juga mengakui bahwa penghargaan itu merupakan hasil kerja keras serta kebanggaan bagi Kelompok Harapan Bersama serta dukungan Pemerintah Desa Pangkalan Jambi.

"Semoga dengan penghargaan ini, kami semakin giat dalam kegiatan pelestarian, terutama lingkungan Mangrove. Terima kasih banyak kami ucapkan kepada pemerintah, serta CSR Pertamina RU II Sungai Pakning yang senantiasa membimbing dan membina kegiatan kami,” ungkapnya.

Kolaborasi PT KPI RU II Sungai Pakning dan warga Desa Pangkalan Jambi, serta pemerintah desa telah berhasil mengedukasi warga untuk menjaga kelestarian Mangrove serta mengatisipasi abrasi.

Kepala Desa Pangkalan Jambi Novri Jefrika mengatakan dalam upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, selain kegiatan sadar lingkungan lainnya, warga Desa Pangkalan Jambi menyadari betapa pentingnya menjaga ekosistem Mangrove untuk mencegah dan mananggulangi abrasi.

"Dalam upaya menjaga kelestarian Mangrove, kami pemerintah Desa Pangkalan Jambi bekerjasama dengan PT KPI RU II Sungai Pakning dalam program pemberdayaan masyarakat pesisir. Membuka wawasan dan kesadaran warga untuk menjaga lingkungan Mangrove, baik dewasa maupun anak-anak mulai tumbuh rasa mencintai lingkungan, mereka selalu ikut serta melakukan berbagai kegiatan di areal konservasi,” ungkapnya.

Anggota DPRD Riau Eddy A Moh Yatim mengungkapkan dukungan penuh atas upaya warga menjadikan kawasan pinggiran laut menjadi Ekowisata Mangrove.

“Apa yang dilakukan Pak Alpan dan teman-teman sangat kita apresiasi. Karena itu saya mendukung penuh kehadiran kawasan Ekowisata Mangrove ini. Saya minta khusus kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Riau membantu terus mengembangkan kawasan ini,” ujar Ketua Komisi I DPRD Riau ini, Selasa (16/8/2022).

Ekowisata Mangrove Education Center yang indah dan rimbun ini adalah binaan PT Kilang Pertamina Internasional (PT KPI) Refinery Unit (RU) II Sungai Pakning. Foto: Mangrovepangkalanjambi.com.

Sementara itu, Manager Production PT KPI RU II Sungai Pakning Antoni R Doloksaribu mengungkapkan, Pertamina hadir menciptakan peluang pemberdayaan masyarakat dan mengedukasi masyarakat pentingnya menjaga kelestarian Kawasan Mangrove pesisir gambut agar alam tetap lestari dan biota laut terjaga.

Dia menjelaskan, Kelompok Harapan Bersama merupakan mitra binaan CSR PT KPI RU II Sungai Pakning melalui Klaster Program Permata Hijau.

"Pada program ini kami berfokus pada konservasi lingkungan pesisir yang selama ini telah mengalami abrasi. Hal ini sejalan dengan SDGs ke-13 yakni penanganan perubahan iklim serta SDGs ke-14 menjaga ekosistem laut,” katanya lagi.

SDGs (Sustainable Development Goals) adalah 17 rencana aksi global yang disepakati para pemimpin dunia, termasuk Indonesia. Rencana aksi ke-13 dan ke-14 adalah soal lingkungan.

Antoni juga menyampaikan rasa bangga atas aneka kegiatan yang dilaksanakan PT KPI RU II Sungai Pakning dengan Kelompok Harapan Bersama. Termasuk inovasi produk-produk olahan hasil laut dan Mangrove di desa ini yang telah memberikan manfaat berkelanjutan, baik dari segi lingkungan maupun kesejahteraan kepada masyarakat.

“Mangrove salah satu prioritas kita untuk menghadapi abrasi. Pertamina komitmen menanam kembali Mangrove. Dan sekarang bisa dimanfaatkan untuk wisata. Tanaman yang ditanam bisa jadi makanan berupa keripik, dodol, dan banyak lagi,” katanya menegaskan.

Selain di Desa Pangkalan Jambi, Bengkalis, Pertamina juga gencar menunjukkan kepedulian terhadap revitalisasi hutan Mangrove di Riau. Seperti di Kota Dumai, daerah tetangga Bengkalis. Juga di Kabupaten Siak dan Kota Pekanbaru.

Di Kota Dumai, PT Pertamina Gas Operation Dumai Area (Pertagas ODA) menanam 2.000 pohon Mangrove di Kelurahan Purnama, Kecamatan Dumai Barat, 4-5 Juni 2022 lalu.

Mundur agak ke belakang lagi, di tahun 2021 lalu, Bulan September, Pertamina Sei Siak berkolaborasi dengan Human Initiative Riau juga melakukan program penghijauan di Pulau Semut, Kelurahan Limbungan Baru, Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru. Saat itu dilakukan penanaman 120 bibit Mangrove.

Di tahun-tahun sebelumnya, Pertamina juga sudah gencar melakukan penanaman bibit Mangrove di Riau, dengan menggandeng berbagai pihak, mulai dari pemerintah setempat, relawan, warga, hingga mahasiswa. Karena, kewajiban menyelamatkan Mangrove ada di pundak semua orang, demi bumi yang lebih ramah kepada anak cucu dan masa depan yang lebih baik.

Menyelamatkan Mangrove dan Kontribusi Pertamina

Riset dari Center for International Forestry Research (CIFOR) membuktikan penyerapan karbon oleh Hutan Mangrove lebih tinggi 300% - 500% dibandingkan serapan pada ekosistem hutan daratan.

Senada dengan itu, Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Cecep Kusmana juga menyebut hutan Mangrove dapat menyimpan karbon 3-5 kali lebih banyak dibanding hutan tropis dataran rendah.

PT Pertamina Gas Operation Dumai Area (Pertagas ODA) menanam 2.000 pohon Mangrove di Kelurahan Purnama, Kecamatan Dumai Barat, 4-5 Juni 2022 lalu. Foto: Dok. Pertamina.

Katanya, pemeliharaan ekosistem Mangrove sangat perlu dilakukan karena ekosistem Mangrove menyediakan berbagai sumberdaya yang berasal dari flora maupun fauna dan berperan sebagai sistem penyangga kehidupan.

"Ekosistem Mangrove berperan sangat besar dalam pengendalian iklim global," ujarnya lagi.

Dia juga menekankan agar pemanfaatan hutan Mangrove dilakukan secara berkelanjutan demi menjaga ekosistemnya.

Sayangnya, Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) mencatat, hingga Juli 2022, luas hutan Mangrove di Indonesia yang mencapai 4.120.263 hektare, 700.000 hektare di antaranya telah rusak.

Presiden Joko Widodo pun telah menginstruksikan untuk merehabilitasi Mangrove seluas 620.000 hektare dalam kurun waktu 2021-2024 di 9 provinsi di tanah air. 

Sekretaris Utama BRGM, Ayu Dewi Utari, mengatakan dibutuhkan dana sekitar Rp26 triliun untuk merehabilitasi Mangrove di 9 provinsi tersebut. Untuk rehabilitasi Mangrove dibutuhkan rata-rata dana Rp25 juta per 1 hektare.

“Kami berhitung bahwa dibutuhkan Rp26 triliun untuk melakukan rehabilitasi (Mangrove),” katanya dalam konferensi pers, Rabu (3/8/2022).

Katanya, skema pembiayaan untuk rehabilitasi 620.000 hektare Mangrove itu bisa bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), investasi (melalui izin usaha jasa lingkungan), kewajiban rehabilitasi DAS, pinjaman atau hibah luar negeri, serta dana CSR perusahaan BUMN, atau swasta.

Pertamina, salah satu BUMN terbesar di tanah air, telah menunjukkan kepedulian dan andil yang tinggi terhadap pelestarian lingkungan melalui Program Pertamina Hijau. Di bawah program ini, Pertamina memiliki Program Keanekaragaman Hayati dan Program Penanaman Mangrove.

Di bawah Program Pertamina Hijau ini, Pertamina aktif melakukan penanaman Mangrove di sekitar wilayah operasi dan anak perusahaannya. Pada tahun 2019 silam, Pertamina telah menanam 32.000 bibit Mangrove.

Kemudian, di Tahun 2021 Pertamina berhasil mencatatkan kontribusi penanaman lebih dari 140 ribu pohon Mangrove serta berhasil mengurangi emisi karbon hingga mencapai 120 ribu ton CO2 ekuivalen per tahun.

Sejauh ini, Pertamina mengklaim telah menanam lebih dari 300 ribu pohon Mangrove bekerja sama dengan masyarakat, pemerintah daerah, dan lainnya di sekitar wilayah operasionalnya.

Diharapkan, program penanaman Mangrove berkesinambungan akan menambah jumlah pohon Mangrove yang ditanam oleh Pertamina di tahun 2022 dan dapat mereduksi emisi karbon lebih besar lagi.

Sebab, penyelamatan dan revitalisasi Mangrove secara massif adalah langkah konkret dalam upaya pengurangan emisi dan perubahan iklim, yang menjadi isu paling utama dunia internasional saat ini.

Komitmen Indonesia Atasi Perubahan Iklim, Mangrove Jadi Fokus di KTT G20

Upaya rehabilitasi Mangrove di Indonesia menjadi salah satu fokus di Konferensi Tingkat Tinggi G20 (Group of Twenty). Forum kerja sama ekonomi internasional yang beranggotakan negara-negara dengan perekonomian besar di dunia. Terdiri dari 19 negara dan 1 lembaga Uni Eropa.

Mangrove jadi bagian dari tema yang dipilih Presiden Joko Widodo dalam pelaksanaan KTT G20 soal menangani krisis iklim. Pengendalian perubahan iklim adalah salah satu prioritas dalam G20.

“Salah satu tema yang dipilih adalah transisi energi, termasuk soal lingkungan hidup. Sebagai salah satu negara dengan hutan Mangrove terbesar, diharapkan agenda itu bisa menginspirasi dunia,” kata Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Kominfo Usman Kansong, di Jakarta, Kamis (3/11/2022) kemarin.

Guna menekankan peran penting Mangrove bagi perubahan iklim, Pemerintah Indonesia mengagendakan para pemimpin negara peserta KTT G20 akan terjun langsung –secara fisik- dalam penanaman Mangrove.

Para pemimpin G20 akan menanam Mangrove di Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai di Denpasar, Bali pada 15 November 2022 mendatang.

“Agenda itu sebagai bentuk kepedulian kita terhadap lingkungan hidup karena Mangrove mampu menyerap karbon, memproteksi lahan, dan mencegah abrasi laut,” ujar Usman.

Presiden Jokowi ingin para pemimpin negara yang diundang bisa melihat langsung hutan Mangrove di Bali yang bakal menjadi salah satu venue pertemuan pemimpin G20 tersebut.

Indonesia yang tengah memegang presidensi G20 saat ini, harus menjadi pemimpin dan bisa menunjukkan ke negara lain dan dunia, pengerahan upaya maksimal untuk mewujudkan komitmen dan aksi nyata dalam pengurangan emisi karbon.

Seperti diutarakan Menteri LHK Siti Nurbaya Nurbaya dalam keterangan resminya yang dikutip Jumat (2/9/2022), bahwa salah satu upaya itu adalah dengan revitalisasi hutan Mangrove.

“Kita fokus dengan rehabilitasi, pelestarian Mangrove ini, karena Indonesia bukan hanya ikut dalam agenda perubahan iklim, tapi kita memimpin presidensi G20, ini merupakan komitmen Indonesia,” ujar Menteri Siti.

Menurut Siti, pembuktian komitmen tersebut bisa dilihat dari aksi nyata yang telah dilakukan. Seperti upaya restorasi hutan Mangrove, restorasi hutan gambut, serta merestorasi lahan-lahan kritis di Indonesia.

“Karena memang jika Mangrove ini terjaga, maka keuntungannya akan kembali kepada masyarakat,” sebutnya.

Dia juga berharap generasi muda ikut serta menjaga dan mencintai lingkungan. Karena katanya, untuk menciptakan lingkungan yang sehat harus dimulai secara berkesinambungan. Bisa dimulai dengan peduli keberlangsungan pohon Mangrove dan pohon lainnya di hutan Indonesia.

Dalam target penurunan emisi karbon, sektor kehutanan menyumbang porsi terbesar dengan kontribusi sekitar 60% dalam pemenuhan target netral karbon atau net-zero emission (NZE).

Indonesia memiliki luasan Mangrove hingga 22,6% dari total keseluruhan dunia, dimana hal ini tentunya memegang peranan penting.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Desember 2021 mencatat, luas ekosistem Mangrove di Indonesia mencapai 3,63 juta hektare atau 20,37 persen dari total dunia.

Luasan itu menjadikan Indonesia sebagai negara dengan hutan Mangrove terluas di dunia. Menyusul Brasil di posisi kedua dengan 1,3 juta hektare, lalu diikuti Nigeria (1,1 juta hektare), Australia (0,97 juta hektare), dan Bangladesh (0,2 juta hektare).

Laju Pertamina Kurangi Emisi Karbon

Perubahan iklim, yang salah satunya disebabkan emisi karbon, akan menyebabkan bencana kekeringan, banjir, kekeringan ekstrem, hingga kenaikan permukaan air laut, sehingga nantinya dapat berdampak secara langsung terhadap lingkungan, sosial, hingga perekonomian secara global, maupun nasional.

Berdasarkan data Bank Dunia, meningkatnya emisi karbon kaca telah menyebabkan perubahan suhu rata-rata di Indonesia hingga mencapai 25,99° Celcius pada tahun 2021. Naik 0,59° Celcius dibandingkan tahun 1901 yang Cuma 25,4° Celcius.

Selain suhu, permukaan air laut di Indonesia juga naik setiap tahunnya. Lewat amatan Satelit Jason3, Data International Monetary Fund (IMF) mencatat permukaan air laut Indonesia naik 62,3 milimeter (mm) per 11 Mei 2022. Bila dirata-ratakan, permukaan laut Indonesia naik 4 mm setiap tahunnya. Lebih tinggi dari rata-rata global yang hanya 3 mm per tahun.

Potensi kerugian ekonomi Indonesia yang disebabkan oleh perubahan iklim juga dapat mencapai 0,62 hingga 3,45 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2030.

Kerusakan banyak lini kehidupan akan terjadi bila perubahan iklim dibiarkan begitu saja. Tentunya, bukan bumi yang carut marut seperti itu yang hendak diwariskan ke anak cucu negeri.

Pemerintah Indonesia pun mendeklarasikan target terbaru penurunan emisi karbon dalam dokumen Nationally Determined Contribution (NDC).

Indonesia menaikkan target pengurangan emisi dari 29% menjadi 31,89% dengan kemampuan sendiri, dan menjadi 43,2% dengan dukungan internasional dari sebelumnya hanya ditargetkan 40% pada 2030.

Selain itu, net zero emission ditetapkan pada 2060 atau lebih cepat dari target awal.

Pemerintah akan sangat kesulitan mewujudkan target besar itu. Peran banyak pihak diperlukan dalam upaya mencapai tujuan mulia itu.

PT Pertamina (Persero) selaku perusahaan energi nasional, telah menyiapkan strategi dalam menghadapi fenomena perubahan iklim, akibat emisi karbon yang makin mengerikan. Bersama pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya, Pertamina siap ambil bagian.

Ada serangkaian upaya BUMN ini yang bakal digenjot untuk menekan emisi karbon.

Pertama, Pertamina telah menyiapkan transisi energi melalui Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2020 - 2024 untuk menurunkan CO2 sebesar 29% pada 2030.

Sampai tahun 2020 kontribusi Pertamina sudah mencapai 27,08% dari baseline.

Instalasi panel surya pada Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar dua megawatt (MW) di area Kilang Dumai berpotensi menurunkan emisi 2.052 ton CO2 per tahun. Foto: Foto: Dok Pertamina

Pencapaian itu diperoleh dari pemanfaatan gas suar di sektor hulu dan pengolahan baik untuk bahan bakar penggunaan sendiri dan untuk pasokan gas ke pelanggan, termasuk pemanfaatan kembali limbah panas di hulu dan kilang serta inisiatif efisiensi energi dalam kegiatan panas bumi.

Selanjutnya, gasifikasi bahan bakar di hulu juga berkontribusi dalam menurunkan emisi. Seperti komersialisasi pelepasan karbon dioksida ke pelanggan di hulu, maupun optimalisasi proses lainnya di kegiatan panas bumi.

Melalui delapan program inisiatif yang telah berjalan, saat ini Pertamina telah memiliki kapasitas panas bumi terbesar di Indonesia dan sedang dalam proses untuk menjadi perusahaan panas bumi nasional, sekaligus perusahaan panas bumi terbesar kedua di dunia yang akan berkembang dalam lima tahun ke depan.

Selain itu, Pertamina juga mengembangkan proyek hidrogen hijau, berpartisipasi mengembangkan baterai kendaraan listrik, hingga berambisi dalam mengembangkan gasifikasi dengan pabrik metanol.

Pertamina juga menjajaki kerja sama dengan beberapa perusahaan internasional dalam bidang transisi energi.

Singkatnya, untuk mengurangi emisi karbon, Pertamina melakukan tiga hal, yakni energy mixed, energy efficiency, dan nature based solution.

Berbagai langkah penting itu dijalankan sebagai bentuk dukungan, pengabdian, dan pelayanan Pertamina terhadap upaya mengatasi perubahan iklim, sekaligus menjamin keberlanjutan bisnis energi di Indonesia.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan Pertamina selalu ingin menjadi perusahaan yang lebih ramah lingkungan. Namun tetap menjaga ketahanan energi untuk kebutuhan nasional.

"Pencapaian kami selama 10 tahun terakhir (2010-2020), kami berhasil mengurangi emisi CO2 sekitar 6,8 juta metrik ton dan itu disumbangkan sebagian besar dari aset minyak, kilang, dan hulu kami," ujar Nicke dalam acara Sustainable Finance for Climate Transition, Kamis (14/7/2022).

Katanya, Pertamina akan terus berusaha mengupayakan adanya keseimbangan antara agenda perubahan iklim dan ketahanan energi di Indonesia dan juga untuk keberlanjutan perusahaan.

Nicke menyampaikan strategi untuk dapat memberikan hasil yang signifikan dalam menangani dampak perubahan iklim adalah pola bisnis minyak dan gas harus mengurangi setidaknya 3,5 gigaton setara karbon dioksida per tahun pada 2050.

Nicke yang juga sebagai Chair Task Force Energy, Sustainability, and Climate (ESC) B20 sebelumnya juga sudah mengajak perusahaan-perusahaan global yang tergabung dalam B20 untuk mengidentifikasi tiga tantangan utama yang memiliki dampak besar dari sektor energi terhadap perubahan iklim.

“Pertama, lambatnya transisi. Kedua, potensi gangguan dalam masa transisi yang belum dikelola dengan baik. Dan ketiga, ketidakamanan energi menjadi penghalang pencapaian pembangunan manusia dan transisi energi,” ujar Nicke dalam call meeting pertama Task Force ESC B20 yang digelar secara daring, pada Selasa (22/2/2022) lalu.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dalam dialog Sustainable Finance For Climate Transition di Bali, Kamis (14/7/2022). Foto: Dok. Pertamina.

Menurut Nicke, berdasarkan tantangan tersebut ada tiga hal juga yang harus segera dilakukan. Pertama, percepatan transisi penggunaan energi berkelanjutan. Kedua, memastikan risiko agar dapat diprediksi, dan ketiga melakukan kerja sama global untuk meningkatkan keamanan energi.

“Kita harus segera beraksi dengan apa yang sudah dipertimbangkan dalam pertemuan B20 tahun ini yang sangat inovatif, inklusif, dan kolaboratif,” kata Nicke.

Ia mengajak seluruh anggota yang tergabung di dalam forum B20, khususnya yang terlibat dalam Task Force Energy, Sustainability, and Climate turut andil dalam menurunkan emisi gas rumah kaca.

“Sebagian besar masalah perubahan iklim disebabkan oleh emisi gas rumah kaca dan hal itu sudah menjadi masalah global. Untuk itu, kita harus menggunakan kapasitas kita untuk melakukan perubahan, inovasi yang cukup inklusif agar mendapatkan perhatian semua orang dan melaksanakannya secara bersama, serta berkolaborasi untuk menekan perubahan iklim,” ajak Nicke.

Menuai Apresiasi

Sederet upaya Pertamina mengurangi emisi karbon dan mencegah perubahan iklim, menuai pujian. Salah satunya dari pakar kesehatan lingkungan dari Universitas Indonesia Profesor Budi Haryanto.

Prof Budi menyatakan bahwa upaya Pertamina mengembangkan green energy pastinya akan memberi dampak baik bagi lingkungan dan masa depan bumi.

"Harus selalu didukung, karena pengembangan green energy akan berdampak positif terhadap kesehatan dan lingkungan," katanya di Jakarta, Selasa (1/11/2022).

Dia berharap Pertamina konsisten dalam pengembangan energi hijau tersebut karena akan menekan emisi seminimal mungkin.

"Dengan demikian, juga mengurangi pemanasan global dan perubahan iklim," ujarnya.

Dukungan serupa dinyatakan anggota Komisi VII DPR RI Sartono Hutomo, karena saat ini dunia sudah berlomba-lomba bertransformasi melalui penggunaan energi bersih.

Dia mencontohkan green refinery Pertamina, sebagai program strategis nasional maka tingkat produksinya juga harus terus dioptimalkan sehingga target pengembangan biosolar dapat terus berlanjut hingga B100.

Sejalan dengan itu, pemerintah dituntut dapat mengembangkan pasar dalam negeri untuk menggunakan green energy, sehingga demand di dalam negeri menjadi besar, baik dalam bentuk biosolar maupun bahan bakar nabati seperti HVO/ Hydrotreated Vegetable Oil yang saat ini sudah dikembangkan oleh Pertamina.

Menurut dia, penggunaan energi bersih adalah sebuah keharusan. Indonesia sudah mencapai "point of no return" dalam perubahan iklim dan ketahanan energi sehingga energi baru dan terbarukan merupakan solusi konkret.

Pertamina dinilai telah menunjukkan komitmen dalam pengembangan green energy, yaitu dengan menjalankan program transisi dari energi fosil ke energi bersih.

Bahkan, alokasi anggaran untuk pengembangan energi hijau hingga 2060, secara total diperkirakan mencapai 150 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.322 triliun (asumsi kurs Rp15.490 per dolar AS).

Pertamina juga mulai menyisihkan alokasi anggaran, khusus untuk pengembangan energi hijau, di antaranya seperti pengembangan green hydrogen, produk baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV battery).

Selain itu, berbagai produk Pertamina juga mendapat pengakuan dunia. Antara lain Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) atau Green Diesel D100.

Bahan bakar hijau yang dihasilkan Green Refinery Cilacap ini telah mendapatkan sertifikat International Sustainability and Carbon Certification (ISCC).

Produk yang dikenal dengan branding nama Pertamina Renewable Diesel (Pertamina RD) ini, berkontribusi pada penurunan emisi karbon hingga 65% hingga 70 persen dari bahan bakar umumnya sehingga layak disebut sebagai green product.

Terkait hal itu, dikutip dari situs Antara, Sartono berharap posisi Indonesia sebagai Presidensi G20 dapat mendorong tindakan percepatan transisi energi bersih sebagai kunci dalam mencapai nol emisi karbon atau karbon netral pada 2060.

Semua pihak diminta mengambil peran masing-masing dan saling bantu menuju arah Indonesia yang bersih dan sehat untuk kepentingan bangsa dan generasinya di masa yang akan datang.

Penulis : Yusni Fatimah Lubis
Editor : Jef Syahrul
Kategori : Ekonomi, Lingkungan
Untuk saran dan pemberian informasi kepada CAKAPLAH.com, silakan kontak ke email: redaksi@cakaplah.com
Berita Terkait
Rabu, 21 September 2022 10:55 WIB
PHR Buru Cadangan Migas Baru di Rohul
Komentar
cakaplah-mpr.jpeg
Selasa, 02 November 2021
DPR Ingin Seleksi Calon Anggota KPU-Bawaslu Ciptakan Demokrasi Lebih Baik
Selasa, 02 November 2021
Terima Aspirasi PPPK Guru, DPR Desak Peserta Yang Memenuhi Passing Grade Diluluskan
Senin, 01 November 2021
Komisi III DPR Dukung Langkah Kapolri Perbaiki Institusi Polri
Senin, 01 November 2021
Pimpinan DPR Sebut Kita Bersyukur Indonesia Jabat Presidensi G20

MPR RI lainnya ...
Berita Pilihan
Selasa, 26 April 2022
DPRD Dukung Pemprov Riau Tindak Tegas PKS Nakal, Kalau Melanggar Cabut Izin !
Selasa, 26 April 2022
Polemik Rotasi AKD DPRD Riau, Sugeng Pranoto: Hari Kamis Paripurna
Selasa, 26 April 2022
Sikapi Turunnya Harga Sawit di Riau, Ini Upaya Gubri
Selasa, 26 April 2022
CPNS dan PPPK Baru di Rohul Dipastikan Tak Terima THR, Ini Sebabnya...
Selasa, 26 April 2022
Sambut Mudik Lebaran, HK Operasikan 2 Ruas JTTS, Termasuk Tol Pekanbaru-Bangkinang
Senin, 28 Maret 2022
Ibu Muda Ini Ditangkap Polisi Usai Simpan Narkotika di Kandang Anjing
Minggu, 27 Maret 2022
Polda Riau Tingkatkan Kasus Jembatan Selat Rengit Meranti ke Penyidikan
Selasa, 26 April 2022
PPKM Level 2 Kota Pekanbaru Berlanjut hingga 9 Mei
Selasa, 26 April 2022
Parisman: 10 Tahun Visioner yang Menenggelamkan Pekanbaru
AMSI
Topik
Selasa, 08 Januari 2019
Penerimaan Pajak Air Tanah Pekanbaru 2018 Meningkat
Minggu, 06 Januari 2019
Mega Training 'Magnet Rezeki'
Minggu, 06 Januari 2019
Taman Marga Satwa Kasang Kulim, Kawasan Wisata Alam dan Hiburan
Minggu, 06 Januari 2019
Alam Mayang, Liburan Tak Mesti Keluar Kota

CAKAPLAH TV lainnya ...
Selasa, 29 November 2022
Ujian CAT PPK Digelar di Dua Kecamatan
Selasa, 29 November 2022
Masuk Lima Inovasi Unggulan Pemko, Tim Penilai Inovasi Kemendagri Tinjau Layanan Bus Vaksinasi Keliling RSD Madani
Selasa, 29 November 2022
Terpilih sebagai Ketua, Adri Hidayat Putra Siap Majukan Porpi Pekanbaru
Selasa, 29 November 2022
DPRD Pekanbaru Yakin Event Balap Sepeda Tingkatkan Perekonomian Daerah

Serantau lainnya ...
Rabu, 30 November 2022
Forum Maxi Pekanbaru Peduli Gempa Cianjur
Selasa, 29 November 2022
Rinaldi dan Chandra Resmi Pimpin Nmax Owner Communitas Periode 2022 - 2024
Rabu, 23 November 2022
Kenali PHA: Kandungan Skincare untuk Kulit Sensitif
Rabu, 23 November 2022
Lima Tempat Suci di Dunia, Salah Satunya Jadi Kota Suci Tiga Agama

Gaya Hidup lainnya ...
Selasa, 08 November 2022
Festival Halloween Itaewon Tewaskan 154 Orang, Ini 4 Festival Berdarah Lainnya yang Tercatat dalam Sejarah
Senin, 05 September 2022
Merindu Wajah Indah Pekanbaru, Muflihun Optimis Raih Piala Adipura
Senin, 29 Agustus 2022
Peringatan HUT RI Ke-77 Jadi Momentum Refleksi Perjuangan Para Pendiri Bangsa
Selasa, 16 Agustus 2022
GALERI FOTO: Dalam Rangka Hari Jadi ke-65 Provinsi Riau, Ribuan Masyarakat Hadiri Dzikir Akbar Bersama Ustaz Das'ad Latif

Advertorial lainnya ...
Rabu, 23 November 2022
Walau Bersayap, 7 Burung Ini Tidak Bisa Terbang
Senin, 21 November 2022
Kemenkominfo Gelar Literasi Digital, "Tips Digital: WhatsApp For Business"
Jumat, 18 November 2022
PDS Mudahkan Konsumen Lakukan Transaksi, hanya Lewat Genggaman
Senin, 07 November 2022
Fenomena Gerhana Bulan Total Terjadi Besok, Ini Daftar Wilayah yang Bisa Melihatnya

Tekno dan Sains lainnya ...
Rabu, 30 November 2022
Sambiloto: Si Raja Pahit yang Kaya Manfaat bagi Kesehatan
Senin, 28 November 2022
Dinas P3AP2-KB Riau Luncurkan Aplikasi Perlindungan Perempuan dan Anak
Senin, 21 November 2022
Aksesoris Travelling Yang Wajib Anda Bawa Saat Hujan
Jumat, 18 November 2022
Cegah Sakit di Musim Hujan dengan Mengonsumsi 7 Makanan Mengandung Vitamin B6

Kesehatan dan Keluarga lainnya ...
Senin, 28 November 2022
Hendriko Dikukuhkan sebagai Guru Besar Pertama di Politeknik Caltex Riau
Jumat, 25 November 2022
Pemko Pekanbaru Ajak Hima Persis Beri Kontribusi Nyata Bangun Pekanbaru
Rabu, 23 November 2022
Gelaran Puncak Acara Big Event Predatech 2022 Sukses Dilaksanakan Predatech dan LPI
Selasa, 22 November 2022
Diperkuat Unilak, Riau Tambah Medali dari Sepak Takraw di Pomnas 17 Padang

Kampus lainnya ...
Rabu, 09 November 2022
Wijatmoko Rah Trisno Pimpin Forum CSR Provinsi Riau
Rabu, 12 Oktober 2022
BDI EMP Bersama Bakrie Amanah Salurkan Santunan Pendidikan Tahap II
Senin, 10 Oktober 2022
Wujudkan Kota Dumai Bersih, BRK Syariah Bantu Pengadaan Sarana Angkutan Sampah Lewat Program CSR
Minggu, 09 Oktober 2022
BSI dan BSI Maslahat Bantu Pembuatan Sumur Bor Yayasan Al Muslimin Dumai

CSR lainnya ...

Pegadaian Oktober 2022
Terpopuler

02

Khas Hotel November 2022
Foto
DPRD Riau 2022 1
Diskes Rohul Agustus 2022
Sabtu, 26 November 2022
Indra Prasta Simpati Gempa Cianjur, Lelang Gitar Kesayangan
Senin, 21 November 2022
Blak-blakan Nia Ramadhani kepada Merry Riana; Terjerat Kasus Narkoba Jadi Mukjizat Bagi Pernikahanku
Sabtu, 19 November 2022
DDV dan Aksa Bumi Langit Gelar Nonton Bersama untuk Anak-anak Kurang Beruntung
Sabtu, 19 November 2022
Nia Ramadhani Ungkap Terjerat Narkoba Bukan Akhir Dunia

Selebriti lainnya ...
DPRD Riau 2022 2
Rabu, 09 Oktober 2019
Jadi Pimpinan DPRD Siak Dari Partai PAN, Ini Sosok Fairuz
Rabu, 09 Oktober 2019
Indra Gunawan Akan Berjuang Untuk Masyarakat dan Loyal Terhadap Partai
Rabu, 09 Oktober 2019
Ternando Jadi Anggota DPRD Siak Termuda dan Suryono Terpilih Dengan Suara Terkecil
Rabu, 09 Oktober 2019
Reaksi Pimpinan DPRD Siak Terkait PTPN V Buang Limbah Sembarangan

Parlementaria Siak lainnya ...
BSP - HUT Siak 12 Oktober 2022
Jumat, 18 November 2022
Pegadaian Tawarkan Produk Arrum Haji, Cicilan hanya Rp22 Ribu Perhari
Senin, 31 Oktober 2022
Forum Pekanbaru Kota Bertuah Taja Peringatan Maulid Nabi
Jumat, 28 Oktober 2022
Niat Awal untuk Pendidikan, Alina Kini Mencintai Islam
Selasa, 25 Oktober 2022
Ustaz Yurnalis di Hadapan Warga Binaan: Jika Ingin Jadi Insan Hebat, Lapangkan Hati

Religi lainnya ...
DPRD Riau Hari Kesehatan Nasional 2022
Indeks Berita
DPRD Riau HUT BRIMOB 2022DPRD Riau HGN 2022HUT RI 77 - APRIL RAPPPertaminaHUT Riau 2022 - PT SPR
www www