Rabu, 19 Januari 2022

Breaking News

  • Pengamanan Nataru Riau Kerahkan 2.527 Personel Gabungan   ●   
  • Varian Omicron Belum Ditemukan di Riau   ●   
  • Dinsos Riau Tak Punya Data Anak Yatim Piatu Terdampak Covid-19   ●   
  • Pansus Bisa Jadi Dasar Ketegasan Pemerintah Atasi Konflik Perusahaan Vs Masyarakat Riau   ●   
  • Pekanbaru Juara Kejurda U14, Bukti Pembinaan Sepakbola Berjenjang Kelompok Usia Berjalan Baik   ●   
  • Harga Sawit di Riau Naik Lagi, Tembus Rp2.800 Perkilogram   ●   
  • Kabar Gembira! Saudi Arabia segera Beri Izin Umrah, Jamaah Diminta Manfaatkan Fasilitas Vaksin   ●   
  • DPRD Riau Dukung Sekolah Tatap Muka Dimulai Lagi   ●   
  • Pasokan Listrik untuk Blok Rokan Dipastikan Aman   ●   
  • Polda Riau Sudah Periksa Syamsuar Terkait Karikatur Gubernur Drakula
Yamaha 16-18 Januari 2022

Jatuh Bangun Khodijah Membangun Qolbi, PLN Jadi Saksi dan Kunci
Rabu, 22 Desember 2021 13:32 WIB
Jatuh Bangun Khodijah Membangun Qolbi, PLN Jadi Saksi dan Kunci
Khodijah, owner Qolbi (kiri), melayani Istri Gubernur Jambi Hj Hesnidar Haris (kanan) saat berbelanja di stand Qolbi dalam salah satu iven pameran UMKM di Kota Jambi, belum lama ini. Foto: Ist

"MAU ditulis siapa namanya? Khodijah atau Khodijah Harahap?"

"Lengkap dengan marga dong: Khodijah Harahap. Itu pesan ayah saya," ungkap Khodijah sembari tersenyum jenaka sekalian bangga.

Harahap adalah marga Suku Batak. Menyandang marga itu membuat Khodijah tak lupa asal usul dan selalu berusaha kokoh, pantang menyerah, khas wanita Batak.

Wartawan yang mewawancarainya ikut tertawa. Saat itu pandemi Covid-19 belum terjadi. Mereka bertemu di sebuah pameran produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kota Jambi.

Bukan pertama kalinya Khodijah, owner Qolbi, diwawancara awak media terkait kisahnya yang menginspirasi. Kiprahnya membesarkan Qolbi, UMKM di bidang hijab dan busana muslim handmade, bisa disebut tak seumur jagung lagi. Asam garam dan manis bisnis fashion ini telah dia icip-icip hingga nyaris kenyang.

Jatuh bangun. Jatuh lagi. Kemudian bangkit, tegak.

Sebelum menjadi Qolbi, usaha Khodijah ini dia beri brand 'Khodijah Hijab'. Kala memakai nama ini, Khodijah mengukir sukses besar. Produknya tak hanya dikenal di Provinsi Jambi, tapi sudah kemana-mana. Nyaris ke seantero tanah air dan telah merambah Malaysia, Hongkong, hingga Turki.

Bukan sombong, tapi Khodijah mengaku, saat masih memakai brand 'Khodijah Hijab', omsetnya perbulan bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Produksi 'Khodijah Hijab' setiap harinya bisa mencapai ratusan helai. Sangat bergantung kepada aliran listrik PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Sebab, nyaris semua alat yang digunakan di ruang produksi menggunakan tenaga listrik.

Di awal Khodijah memulai usaha ini, Dia terpaksa "goyang lutut", karena mesin jahit yang digunakan masih manual. Namun itu tinggal kenangan.

Dengan permintaan yang meningkat drastis, Khodijah pun mengimbangi dengan mengganti senjata utamanya dengan mesin jahit bertenaga listrik tersebut.

Praktis, kebutuhan pasar terpenuhi dan pundi-pundi semakin bertambah. Omset meningkat drastis, bahkan bisa mencapai Rp200 juta di saat Ramadan.

Listrik PLN telah menjadi kunci lancarnya proses produksi Khodijah Hijab hingga sukses menjadi brand pilihan pelanggan setianya dari berbagai kalangan.

Putih cahaya lampu LED di toko dan ruang produksi Khodijah Hijab juga jadi saksi perjuangan Khodijah. Saat mendesain berbagai model baju anti mainstream atau saat kejar target orderan dari pelanggan.

Di bawah sinaran lampu yang membuat semangat, berhelai-helai produk fashion tuntas dikerjakan. Beragam ide terwujud. Banyak senyum terpancar saat proses produksi tuntas lebih cepat berkat aliran listrik yang menggerakkan peralatan menjahit di sana.

Namun, bukan hidup namanya bila tak ada aral dan onak.

Pada tahun 2018, Khodijah harus dihadapkan pada kenyataan bahwa pengajuan brand 'Khodijah Hijab' ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (DJHK) tak berjalan mulus. 'Khodijah' sudah terdaftar milik orang lain di bidang fashion.

Namun, gampang menyerah bukanlah tabiat Khodijah. Terbukti, tak bisa mencop nama 'Khodijah Hijab', dia langsung menjatuhkan pilihan ke nama lain.

"Sebenarnya sudah feeling. Karena nama Khodijah sangat baik dan pasti sangat diminati. Jadi kita sudah prepare," sebut Khodijah kepada CAKAPLAH.com.

"Qolbi," itu pilihan Khodijah untuk menjadi brand selanjutnya. Artinya 'Hati'. Qolbi juga penggalan nama putrinya yang sulung.

Keputusan itu diambil bersama sang suami. Di salah satu malam yang tenang, di bawah sinaran lampu listrik PLN. Di rumah mereka yang juga jadi toko tempat hijab dan busana muslim cantik itu diekspos.

Begitu brand Qolbi launching di 2019, Khodijah merasakan cobaan yang tak pernah dia perkirakan. Dia tak menyangka, pergantian nama akan sangat berpengaruh pada minat pasar. Nama berubah telah membuat aliran rupiah berubah juga. Pelanggan dan reseller menurun jauh.

"Sedih sekali saat itu. Ngak nyangka omset kita bisa merosot drastis hanya karena ganti nama," jelas Khodijah dengan suara pelan bercampur keheranan. Belakangan Dia paham, itu adalah bukti pentingnya brand dalam bisnis. Dia pernah mendapat materi ini dalam salah satu pelatihan yang digelar PLN Jambi untuk UMKM binaannya. 

Bangkit

Tak mau larut dengan polemik nama yang tertukar itu, Khodijah memilih fokus mengembangkan bisnis Qolbi dan dirinya. Menimba ilmu sebanyak-banyaknya agar mahir menjalankan usaha yang dirintisnya sejak 2016 ini.

Seperti siang ini, Rabu (22/12/2021), Khodijah tampak terbenam dalam layar handphone miliknya. Ada beberapa foto hasil jepretan produk terbaru yang belum dia posting di Instagram.

Foto-fotonya menarik. Jepretan sendiri. Hasil dari belajar bersama pelaku UMKM lainnya di Jambi. Mereka sama-sama binaan PLN Jambi.

Suasana di Toko Qolbi. Foto: Istimewa

Sigap, jemarinya yang lentik mengetik 'Voal' pada keterangan jenis kain jilbab yang lagi banyak diorder di toko Qolbi. Dia mengetik: Tea Rose, Griss, Taupe, Crown Blue. Nama-nama warna yang menarik. Wajar jilbab segi empat itu banyak peminat, karena kainnya lembut. Wujudnya tipis, tetapi tetap sempurna menutup aurat. Trendi dan syar'i bersamaan.

Berselang semenit, dia masuk ke akun media sosial pribadi lainnya dan akun resmi milik Qolbi. Menyambungkan kabel charger gadget miliknya ke colokan listrik. Kembali memperbaharui foto dan keterangan produk dengan teliti. Berganti ke akun marketplace dan mengulang hal yang sama. Menjaga agar stok tetap update dan memoderatori proses pembelian pelanggan. Semua serba praktis ala electrical lifestyle.

Tak lama, Ia menyempatkan diri membalas beberapa pesan di grup WhatsApp. Termasuk grup UMKM Binaan PLN Jambi. Dia sudah berada di grup ini sejak tahun 2020 lalu. Bersama pemilik UMKM lain di Jambi, dia saling bertukar ilmu dan informasi di grup ini.

Sudah beberapa kali juga mereka bersama-sama mengikuti pelatihan yang digelar PLN untuk memajukan UMKM di Jambi. Termasuk pelatihan tentang pentingnya perlindungan merek untuk UMKM. Juga terkait penggunaan marketplace untuk memaksimalkan jangkauan pasar produk UMKM.

Bahkan di tahun 2020 kemarin, Khodijah didapuk jadi pembicara dalam talkshow yang digelar PLN terkait erterpreunership. Banyak ilmu dan pengalaman yang bisa langsung Ia praktekkan, berkat menjadi salah satu UMKM binaan PLN.

Khodijah sedikit beringsut. Udara dingin dari kipas di sudut ruangan Qolbi membuatnya sedikit sejuk. Tangannya memencet tombol mengatur suhu ke titik nyaman baginya.

Sejenak ia memalingkan wajah ke luar toko Qolbi. Satu dua kendaraan melintas dengan derunya yang terdengar pelan. Sepi dan tenang di luar.

Lokasi Qolbi memang berada persis di pinggir jalan lintas Kota Jambi dan Kabupaten Muaro Jambi. Jarak Qolbi dan gapura perbatasan Kota Jambi hanya berkisar 200 meter.

Masih banyak tanah kosong di sekitar Qolbi. Khodijah dan anak-anak sering berolahraga di sekitar rumah yang masih bernuansa hijau itu.

Lokasinya yang bukan berada di tengah kota memang jadi tantangan bagi Qolbi menggaet pelanggan. Tapi Khodijah tak pendek akal. Di era yang serba online dengan electrical lifestyle yang semakin hit saat ini, maka jurus-jurus marketing yang Khodijah pelajari dari pelatihan bersama PLN memang paling tepat. Pemasaran Qolbi saat ini paling gencar di sosial media dan markeplace.

Khodijah memadukan pengetahuan itu dengan 'resep-resep' lain yang dia dapat dari berbagai kesempatan. Khodijah memang pemburu ilmu sejati. Dia sudah pernah menyerap kepintaran coach Wulan dan Fikri, suami istri yang bisnisnya kian hari kian gemilang di tanah air hingga luar negeri. Juga dari coach Fitrah Jaya Saleh yang berbisnis fashion dan skin care dengan omset melangit.

"Kini, 95 persen pecinta produk Qolbi adalah online customer," katanya sembari membantu mengemas orderan yang telah closing.

"Ini orderan salah satu sekolah dekat sini. Sudah langganan," katanya kemudian.

Dalam satu hari, yang datang ke toko fisik Qolbi, tepat di belakang Bandara Internasional Sultan Thaha itu, memang bisa dihitung dengan jari.

"Paling satu, dua orang saja perharinya. Semua transaksi kebanyakan via online. Makanya perlu cek sosial media dan akun marketplace dengan rutin," terang Khodijah.

Itu jadi alasan mutlak komputer, laptop, dan handphone Qolbi harus selalu beroperasi. Ada 2 orang tim Qolbi yang membantu meng-handle urusan ini.

Di bagian lain dari bangunan ini, terdengar suara mesin jahit dan mesin potong kain bersahutan. Ada 9 mesin beroperasi di ruang bagian belakang toko itu. Ruang eksekusi untuk ide-ide dan buah fikiran Khodijah. Dimana helai demi helain kain mentah diracik jadi busana dan hijab aneka bentuk dan warna oleh tim Qolbi.

Ada juga mesin obras, neci, pemotong kain, dan mesin pelubang kancing. Semua pakai listrik PLN. "Praktis, hemat tenaga, dan cepat. Tim Qolbi bisa lebih kerja karena sistem yang serba kelistrikan ini," katanya.

Tim Qolbi bekerja di balik mesin jahit high speed bertenaga listrik di ruang produksi Qolbi. Foto: Istimewa

Khodijah adalah tipe pengusaha yang sangat menghargai tenaga dan jasa timnya. Ya, tim! Dia tidak menyebut mereka karyawan atau anak buah. Mereka adalah tim Qolbi yang saat ini terdiri dari 7 orang.

"Tim, karena saya dan mereka bekerja bersama sebagai tim. Sama-sama memiliki Qolbi. Mewujudkan apa yang sama-sama hendak kita buat, yang hendak kita capai guna membesarkan Qolbi," jelas wanita lulusan Universitas Jambi tahun 2009 ini.

Awal Mulanya

Khodijah mengisahkan, saat memutuskan menjadi produsen hijab di Jambi tahun 2016 silam, dia hanya bekerja sendirian. Belum kenal yang namanya mesin jahit listrik.

"Di 2016 ingin jadi produsen sendiri. Sebelumnya hanya reseller. Saya memulai dari 0. Suami selalu bantu cari bahan kain ke pasar," kisah wanita cantik ini.

Buah hatinya yang saat itu baru berumur 4 tahun harus mengikuti langkah umminya menyusuri Pasar Siku, pasar rakyat di Kota Jambi. Sementara yang bungsu, 1,5 tahun harus dibawa dalam gendongan. Bocah itu belum lepas susu-an saat itu.

"Produknya upload di Facebook. Ternyata peminatnya banyak," katanya memberi kilas balik awal dia merintis usaha yang kini membuat namanya familiar di kalangan ibu-ibu pejabat dan muslimah fashionista di Jambi.

Produk Qolbi memang menyasar konsumen menengah bawah dengan rentang harga paling murah Rp60.000. Sesuai dengan kualitas dan rupa produk yang dijamin tak bikin kecewa.

Berkat keuletan. Hanya dalam waktu 3 bulan, orderan mulai meningkat pesat. Dia pun harus meminta bantuan Wulan. Anggota timnya yang pertama kali bergabung merintis usaha ini.

Saat itu mereka masih memakai 2 unit mesin jahit berkelir hitam yang manual. Belum memakai tenaga listrik. Dalam sehari, produksi mereka baru bisa sekitar 15 produk. Tergantung orderan yang masuk.

Hitungan bulan, produksi Khodijah tak hanya meningkat, tapi juga beragam. Tak hanya jilbab. Khodijah mulai berani mengeluarkan produk berupa gamis, tunik, rok celana, celana kulot, hingga seragam sekolah.

Saat itu Dia mulai memanfaatkan listrik PLN untuk menunjang produksi. Mesin jahit listrik yang lebih praktis mendukung penyelesaian orderan yang mengalir deras.

Di tahun 2017, berkali-kali Khodijah meraih prestasi di sektor UMKM di Kota Jambi. Diantaranya adalah Al Ahmadi Award. Penghargaan untuk para pelaku usaha se-Pulau Sumatera.

Di tahun ini juga, omset Khodijah Hijab pun melejit hingga Rp80 juta per bulan. Reseller yang bergabung mencapai ratusan orang, yang berasal dari seluruh pulau di tanah air. Kecuali Bali dan Papua.

Kesuksesan itu terus mengalir.

Hingga di tahun 2018, Khodijah tersandung pengurusan merek yang berujung perubahan nama Khodijah Hijab menjadi Qolbi.

"Sejak ganti merek menjadi Qolbi, omset kita turun jauh. Seperti merintis ulang. Benar-benar dari 0 lagi. Itu kita alami sampai 2019," kenangnya.

Walau terseok-seok, Khodijah tetap berusaha optimis. Qolbi tetap berjalan, walau sangat pelan. Deru mesin jahit listrik yang saat itu sudah ada 7 unit tetap terdengar, walau tak sepanjang hari.

"Tak ada satu pun anggota tim yang kita rumahkan. Walau sangat sulit, kita berusahan terus tetap berjalan," katanya lagi. 

Jalan Mengadu kepada Tuhan

Salah satu impian Khodijah sejak lama adalah berangkat umrah dengan suami. Terlebih di saat usahanya mulai naik daun. Sayangnya, sebelum impian itu terwujud, cobaan malah menghampiri. Omset yang seret karena pergantian nama menjadi Qolbi membuatnya sedih bukan main.

"Kepikiran banget saat omset menurun drastis dan bingung harus bagaimana. Akhirnya kita nekat. Kita berniat adukan semua kepada Allah dan memilih untuk umrah di tengah kondisi itu," jelas Khodijah sembari mengela nafas kecil. Teringat sulitnya di masa itu.

Dia dan suami lalu mendaftar untuk berangkat umrah pada Bulan Agustus 2019. Padahal saat itu keuangan mereka sekarat.

"Setelah bayar hak bulanan tim Qolbi, tersisa uang Rp5 juta. Harusnya untuk modal beli bahan kain. Tapi kita pakai untuk biaya daftar umrah," kata Khodijah lagi.

Ajaibnya, setelah memutuskan daftar umrah itu, tak butuh waktu lama, orderan mulai datang lagi. Terutama dari sekolah-sekolah yang saat itu sudah bersiap memasuk tahun ajaran baru. Berkodi-kodi seragam dijahit di ruang produksi Qolbi. Suara mesin-mesin bertenaga listrik itu mulai menderu-deru lagi.

Semua proses berlomba-lomba. "Untung sudah pakai mesin jahit yang listrik, jadi tim bisa kejar deadline," tukasnya.

"Alhamdulillah. Ongkos umrah Rp58 juta bisa kita lunasi saat hendak berangkat. Pas 2 bulan, genap uangnya," katanya.

Namun, uang yang terkumpul hanya cukup untuk keperluan umrah. Tidak tersisa modal untuk membeli bahan kain untuk diolah tim Qolbi selama Khodijah dan suami pergi umrah nantinya. Hanya tumpukan perca yang menggunung, sisa pengerjaan beragam orderan sebelumnya.

Saat hendak berangkat di November 2019 itu, dia hanya berpesan kepada tim Qolbi agar memanfaatkan perca itu untuk dijadikan masker.

"Tak ada bahan yang bisa tim jahit. Hanya ada perca. Yaudah, daripada mereka bingung gak ngapa-ngapain selama 2 minggu kami umrah, saya minta bikin masker saja. Saat itu tidak kepikiran apa-apa," sebutnya.

Usai umrah, Khodijah pulang ke tanah air. Melihat tumpukan masker di ruang produksi membuatnya miris. "Buat apa ya masker sebanyak itu. Untuk jadi free gift juga kebanyakan itu," batinnya kala itu.

Dihantam Pandemi

Hari berganti. Qolbi masih mengalami perlambatan omset. Bak jatuh ditimpa tangga. Di tengah masa sulit itu, masalah yang lebih besar mendera.

Pandemi Covid-19 meluluhlantakkan negeri. Tepat di Maret 2020. Wabah mengerikan ini merobek-robek ekonomi bangsa. Qolbi ikut terpuruk.

Saat wabah merebak, tak ada yang sempat memikirkan cantiknya mereka dalam balutan hijab dan busana baru. Industri fashion kelam saat itu.

Hingga akhirnya, pemerintah mengumumkan bahwa Virus Covid-19 bisa dicegah dengan tertib mengenakan masker. Kabar itu praktis membuat masker medis di pasaran lenyap. Akhirnya masyarakat dipaksa berfikir alternatif. Masker kain adalah solusi.

Seketika, Khodijah menatap ruang stok Qolbi. Di bawah pendar lampu LED yang putih silau, ia melihat tumpukan masker dari perca sejak 3 bulan sebelumnya itu bagaikan harta karun.

Benar saja. Masker buatan Qolbi langsung ludes begitu masker kain mulai diburu warga. Tim pun kembali berjibaku di balik mesin jahit listrik mereka. Memproduksi masker untuk orderan banyak orang.

"Alhamdulillah, masker kita termasuk jadi yang pertama muncul di pasaran. Kita adalah pemain awal kala itu. Sumber rezeki," kenang Khodijah riang.

Namun, tetap saja, lamanya penuntasan Covid-19 di tanah air mau tak mau turut meredupkan usaha Qolbi.

Omset memang menurun drastis dan tak ada pergerakan barang di toko. Karena semua orang lebih fokus menjaga dapur masing-masing tetap ngebul daripada belanja produk fashion.

Tapi yang namanya tekad. Kembali mengingat pesan ayahnya yang mengharuskan putri Batak tetap kuat dalam segala cobaan. Khodijah tak mau menghentikan gerak mesinnya di ruang produksi.

Terlebih, salah satu timnya pernah menghampiri dia. Saat itu, mereka baru tuntas menjalankan Salat Duha bersama-sama. Salah satu budaya kerja di Qolbi.

"Kak, kita jangan tutup ya," ungkap Safitri, salah satu tim Qolbi yang masih setia bergabung hingga saat ini. Suaranya pelan, Khodijah lebih pelan. "Insya Allah gak dek". Dia terenyuh.

Padahal riak hati Khodijah kala itu tak menentu. Walau tekadnya kuat tak akan menutup Qolbi, namun nyalinya memang sempat gentar. Apalagi mendengar banyaknya rekan UMKM lain yang terpaksa gulung tikar dampak dari pandemi asal Wuhan ini.

Khodijah bersama tim Qolbi terus melesatkan gerak mesin jahit mereka. Walau sedikit, produksi dan penjualan tetap bergerak. Omset Qolbi seret di angka Rp 20 juta per bulan.

"Saat itu tak mikir untung lagi. Yang penting bisa nafas saja, sudah," kenang Khodijah.

Bangkit Lagi

Waktu bergulir. Bangsa ini mulai bangkit dari keterpurukan pandemi. Publik mulai beradaptasi. Ekonomi bergerak kian pasti.

Khodijah tak mau Qolbi ketinggalan gerak. Walau omset masih naik turun. Di tahun 2021, Dia memutuskan mengganti mesin jahit listrik milik Qolbi dengan spesifikasi lebih mumpuni. Dengan yang dilengkapi fitur high speed. Kalau pakai mesin ini, tim Qolbi nyaris tak berkeringat!

Keputusan Khodijah dengan high speed memang tepat. Gerak ekonomi yang kembali usai pandemi ikut memberi riak kepada kelanjutan Qolbi setelah sempat megap-megap dihantam pandemi.

Orderan kembali masuk. Notif-notif di marketplace dan akun WhatsApp berbunyi bertubi-tubi. Banyak jilbab yang harus dituntaskan. Kain yang harus dipotong untuk jadi baju dan rok. Gamis berserta tunik dan dres cantik.

Agar tim bekerja semakin nyaman. Khodijah memasang pendingin ruangan di ruang produksi.

Untuk mengimbangi semua mesin yang bekerja, Khodijah berniat menambah daya listrik di toko Qolbi.

"Bak dapat petunjuk, tiba-tiba salah satu ibu, rekan pelaku UMKM di grup WhatsApp binaan UMKM PLN Jambi memberi info bahwa tambah daya PLN tidak sulit," jelasnya.

Ibu yang dia tak ingat namanya lagi itu mungkin baru tambah daya juga. Saking takjub dengan prosesnya yang simple, dia pun membagi info itu di grup tersebut.

"Tak ingat lagi Ibu mana yang kasih info," sebutnya sembari men-scroll ponselnya.

Begitu dapat pencerahan itu, Khodijah yang memang terbiasa dengan aplikasi, langsung gerak cepat mendownload aplikasi New PLN Mobile di ponselnya.

"Ternyata benar mudah. Mau pakai aplikasi itu, gak perlu diajari karena gampangnya. Saya bisa sendiri bikin permintaan perubahan daya untuk toko Qolbi," jelasnya.

Dia juga ingat jelas kapan melakukan permintaan tambah daya itu. Karena saat itu masih berlaku promo dari PLN.

"Tanggal 31 Agustus 2021. Saat ada promo hari kemerdekaan. Hari terakhir promo. Saya cuma isi data dan ajukan ingin ubah daya dari 900 VA ke 1300 VA," jelasnya lagi riang mengingat kemudahan yang dia rasakan berkat aplikasi berwarna biru itu.

Saat itu PLN memang memberi promo Layanan Super Merdeka Listrik. Masa berlaku sejak 14 Juli 2021 hingga 31 Agustus 2021. Biayanya pun sangat murah, hanya Rp 202.100. Padahal tarif biasanya adalah Rp374.800 untuk perubahan dari 900 VA ke 1300 VA.

Khodijah juga memuji kelebihan aplikasi New PLN Mobile. Segala fitur yang dihadirkan, katanya, sangat mudah dimengerti.

Khodijah menggunakan Aplikasi New PLN Mobile di tengah kesibukannya di toko. Semua serba praktis dengan aplikasi ini. Foto: Istimewa

"Bisa catat sendiri kita pakai listrik berapa banyak. Tinggal foto. Kirim, beres. Yang asyiknya lagi, saat ada ganggun listrik, misalnya ada pohon tumbang atau pemeliharaan jaringan, PLN kasih tahu kita lewat notif di aplikasi. Jadi tahu kapan listriknya akan padam dan berapa lama. Saat listriknya menyala, kita dikasih tahu lagi," terang Khodijah tak menutupi kekagumannya akan layanan tersebut.

Saat toko Qolbi dan rumah Khodijah masih memakai 900 VA, biasanya dia memang hanya membayar Rp450.000 perbulan untuk konsumsi listrik mereka. Dia masih pelanggan PLN paska bayar.

Setelah tambah daya, Khodijah harus mengeluarkan biaya bulanan sekitar Rp850.000. Namun, manfaat yang dia rasakan jauh lebih berharga dari angka itu.

"Jelas banyak perubahan. Dengan daya yang lebih besar, mesin kita bisa bekerja maksimal. Dengan yang high speed, didukung listrik yang stabil, orderan bisa selesai lebih cepat tanpa lelah. Biasanya PO perlu 4 hari, sekarang 2 hari saja sudah tuntas. Pelanggan senang dong bisa lebih cepat tuntas orderannya," katanya lagi.

Sekarang omset Qolbi mulai bergerak membaik. Dalam sebulan, dia bisa mengantongi hingga Rp35 juta-Rp50 juta. Saat Ramadan lalu, sudah bergerak ke angka Rp80 juta.

Berkat listrik yang sudah tambah daya, aktivitas di ruang produksi Qolbi berjalan semakin lancar.

Khodijah dan tim Qolbi terus berupaya melakukan yang terbaik. Tapi tak akan pernah puas dengan hanya memperoleh hal baik untuk diri mereka sendiri. Itulah alasan Qolbi juga memberdayakan warga sekitar. Membantu memperbaiki ekonomi para tetangga Qolbi.

Beri Manfaat untuk Sekitar

Listrik yang teralir ke Qolbi juga sangat mendukung upaya Khodijah memberi kontribusi sosial kepada warga sekitar. Ibu-ibu dan remaja di sekitar Qolbi, di Desa Kebon IX, Kecamatan Sungai Gelam, telah beberapa kali mendapat kursus gratis dari Khodijah.

Bertempat di Qolbi, di bawah dinginnya udara ber-AC yang bikin nyaman dan internet yang terkoneksi dengan baik, Khodijah memberi pelatihan Kelas Bisnis Online (digital marketing) gratis kepada mereka.

Saat melakukan itu semua, ruangan yang nyaman dan mesin jahit yang lancar jaya, menjadi unsur penting menyukseskan proses transfer ilmu dan keterampilan tersebut kepada mereka.

Para ibu rumah tangga diberi pelatihan mengasah keterampilan dan peluang bisnis dengan cara mengolah kain sisa produksi hijab atau perca menjadi barang bernilai jual.

Mereka diajari cara membuat souvenir, keset, dan lainnya. Mereka juga dipersilahkan belajar mengoperasikan mesin jahit bertenaga listrik.

"Kita ajari ibu-ibu sekitar membuat souvenir atau barang lain dari kain sisa produksi. Misalnya keset. Lalu mereka pasarkan juga. Ada yang dijajakan langsung ke relasi mereka, ada yang lewat Facebook. Kita ajari itu juga," terang Khodijah semangat.

Dia mengaku menikmati membantu warga sekitar Qolbi. Terlebih setelah dia pernah didapuk sebagai fasilitator UMKM terpilih Kominfo tahun 2021. Membantu orang lain tumbuh dan memperbaiki ekonomi mereka semakin terlihat adalah salah satu passion Khodijah.

"Baru sebulanan lalu tugas jadi fasilitator tuntas. Ada kebahagiaan bisa terus membantu orang-orang," sebutnya dengan suara pelan. Matanya terlihat berbinar, suaranya bergetar.

Jelasnya sejurus kemudian, anak-anak putus sekolah dan yang tak melanjutkan kuliah di sekitar Qolbi, tak luput dari 'radar'nya. Mereka juga bisa mengikuti kursus menjahit hijab gratis.

Lulus kursus, mereka ada yang buka usaha menjahit sendiri, ada juga yang akhirnya bergabung dengan tim Qolbi.

Imrok Ati, salah satu anggota tim Qolbi menuturkan, sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari Qolbi. Sejak 2019 silam dia sudah bersama-sama Khodijah menjahit bermeter-meter kain jadi aneka bentuk busana menarik. Bersama-sama membantu ekonomi keluarga.

"Senang di Qolbi karena mempunyai tradisi yang baik. Nuansanya Islami, friendly," terang gadis 23 tahun ini.

Imrok Ati juga kerap memuji mesih listrik model high speed yang digunakan Qolbi.

"Kita sangat terbantu dengan yang tenaga listrik. Apalagi yang high speed. Pekerjaan lebih mudah, tidak ada kendala mesin rewel dan orderan pelanggan selesai lebih cepat," sebutnya yang menyimpan harap agar Qolbi suatu saat bisa membuka cabang hingga ke luar negeri.

PLN Bantu UMKM dan Anti Jelimet

Selama pandemi, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) terus melakukan upaya terbaik untuk meringankan beban bangsa. Sebagai BUMN kelistrikan, PLN memang terus konsisten menghadirkan keandalan listrik di tengah pandemi Covid-19.

Tak heran, PLN dinilai layak mendapat penghargaan The Best State Owned Enterprise In Nation Building. Penghargaan bergengsi ini diberikan pada ajang CNBC Indonesia Awards 2021, Selasa (14/12/2021).

Inovasi PLN telah memberikan andil terbesar di tengah pemulihan pandemi sepanjang tahun 2021. Namun perusahaan yang baik adalah yang tak mudah puas dengan pencapaian.

"Penghargaan ini menjadi cambuk bagi PLN untuk meningkatkat layanan, meningkatkan keandalan pasokan untuk menggerakkan roda perekonomian Indonesia," ungkap Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo usai menerima penghargaan itu.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menerima penghargaan The Best State Owned Enterprise In Nation Building di ajang CNBC Indonesia Awards 2021. Foto: Dok PLN

Sehari setelahnya, di hadapan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres RI) Irjen Pl (Purn) Sidarto Danusubroto, Rabu (15/12/2021) kemarin, Dia kembali menekankan bahwa PLN benar-benar melakukan inovasi demi wujudkan kemudahan bagi para pelanggan.

"Yang membuat jelimet (rumit) masyarakat, kita permudah. Kita lakukan digitalisasi," ungkapnya.

Dia benar-benar ingin mewujudkan PLN yang kokoh demi bangsa. Ingin menyelesaikan semua tantangan. "Semua sumbatan yang ada satu per satu harus diurai," tegasnya penuh tekad.

Intinya, PLN benar-benar berbenah dan bertransformasi. Menjadikan segalanya lebih mudah bagi pelanggan.

Salah satu inovasi yang dimaksud adalah hadirnya aplikasi New PLN Mobile. Dengan aplikasi ini, pelanggan bisa menerapkan gaya hidup lebih mudah memanfaatkan listrik. Pelanggan dan pelaku UMKM sangat terbantu dengan hadirnya aplikasi New PLN Mobile.

Keberadaan New PLN Mobile memudahkan pelanggan dan pelaku UMKM melakukan segala aktivitas dengan menggunakan listrik. Aplikasi ini support untuk pengguna sistem Android maupun IOS. Jadi cukup dengan mengunduhnya di ponsel, maka segara layanan kelistrikan digital hadir di tangan pelanggan.

Di aplikasi ini, pelanggan dapat melakukan pembelian token dan pembayaran tagihan, ubah daya, catat meter, pengaduan gangguan dan keluhan, serta pasang baru. Ada juga fitur monitor pemakaian pascabayar, monitor pembelian token, notifikasi tagihan, informasi progres penyelesaian gangguan, notifikasi padam, hingga pemeliharaan.

Fitur yang paling banyak digunakan oleh pelanggan adalah pembelian token dan pembayaran rekening listrik.

Hingga Oktober 2021 kemarin, ada 11,36 juta pelanggan yang sudah mendownload New PLN Mobile. Sekitar 47% pengguna diharapkan berasal dari kelompok pelanggan milenial. Diikuti pekerja kerah putih atau white collar, pelaku UMKM, hingga petani.

Hingga akhir tahun 2021 ini, PLN menargetkan aplikasi ini sudah hadir di ponsel 15 juta pelanggan.

Selama ini, PLN juga telah memastikan keeratan hubungannya dengan pelanggan baik masyarakat dan juga industri, serta terus memberikan pendampingan dan solusi kelistrikan. Termasuk kepada para pelaku UMKM di seantero negeri. Mengingat UMKM adalah tulang punggung ekonomi bangsa.

VP Corporate Communication PLN, Gregorius Adi Trianto, pada akhir September 2021 kemarin telah mengungkap bahwa, PLN telah mendukung pengembangan 8.391 UMKM melalui Rumah BUMN.

Rumah BUMN telah mengadakan 596 pelatihan, dengan total anggaran Rp 5,9 miliar.

Dari Rumah BUMN yang dikelola oleh PLN, terdapat 3.044 UMKM telah memanfaatkan media sosial, mengikuti pelatihan foto digital, 853 UMKM telah listing di e-commerce dan 62 UMKM yang naik kelas pada tahun 2021.

Beberapa pelatihan UMKM yang diadakan oleh PLN yakni pentingnya perlindungan merek untuk UMKM dan sosialisasi pengurusan SNI.

PLN juga memberikan diskon tarif listrik pada bisnis dan industri kecil daya 450VA, pembebasan biaya beban atau abonemen, serta pembebasan ketentuan rekening minimum sebesar 50 persen bagi pelanggan industri, bisnis dan sosial. Selain itu juga ada promo tambah daya untuk UMKM

Dalam garis besarnya, ada tiga program strategis PLN untuk UMKM bangkit, yakni Program PLN Peduli, Program Stimulus untuk UMKM, dan Program Electrifying Engineering.

Penulis : Yusni Fatimah Lubis
Editor : Jef Syahrul
Kategori : Ekonomi, Jambi
Untuk saran dan pemberian informasi kepada CAKAPLAH, silakan kontak ke email: redaksi@cakaplah.com
Berita Terkait
Komentar
cakaplah-mpr.jpeg
Selasa, 02 November 2021
DPR Ingin Seleksi Calon Anggota KPU-Bawaslu Ciptakan Demokrasi Lebih Baik
Selasa, 02 November 2021
Terima Aspirasi PPPK Guru, DPR Desak Peserta Yang Memenuhi Passing Grade Diluluskan
Senin, 01 November 2021
Komisi III DPR Dukung Langkah Kapolri Perbaiki Institusi Polri
Senin, 01 November 2021
Pimpinan DPR Sebut Kita Bersyukur Indonesia Jabat Presidensi G20

MPR RI lainnya ...
Berita Pilihan
Selasa, 02 November 2021
Gajah Seberat 2 Ton Ditemukan Mati di Bukit Apolo Pelalawan
AMSI
Topik
Selasa, 08 Januari 2019
Penerimaan Pajak Air Tanah Pekanbaru 2018 Meningkat
Minggu, 06 Januari 2019
Mega Training 'Magnet Rezeki'
Minggu, 06 Januari 2019
Taman Marga Satwa Kasang Kulim, Kawasan Wisata Alam dan Hiburan
Minggu, 06 Januari 2019
Alam Mayang, Liburan Tak Mesti Keluar Kota

CAKAPLAH TV lainnya ...
Selasa, 18 Januari 2022
Lapangan MAC HCML Siap Berproduksi
Selasa, 18 Januari 2022
Polsek Bandar Sei Kijang Bagi-bagi Masker Gratis ke Warga
Selasa, 18 Januari 2022
Silaturrahmi, Kapolres Pelalawan Minta Dukungan Para Tokoh untuk Menjaga Kamtibmas
Selasa, 18 Januari 2022
Wabup Minta Seluruh Perusahaan di Rohil Utamakan Tenaga Kerja Lokal

Serantau lainnya ...
Rabu, 12 Januari 2022
UMKM Makin Berkembang, Partai Perindo Ungkap Ide Usaha Potensial di 2022
Rabu, 12 Januari 2022
4 Alternatif Nasi Putih untuk Menurunkan Berat Badan
Kamis, 06 Januari 2022
Fashion Trendi Famys Hijab Collection, Kualitas Terjamin, Harga Bersahabat
Kamis, 30 Desember 2021
Kostum Penjual Jamu Gendong Juarai Parade Kostum Kreasi 2021

Gaya Hidup lainnya ...
Senin, 06 Desember 2021
Raih WTP Lima Kali Berturut-turut, Pekanbaru Terima Penghargaan dari Kemenkeu
Jumat, 03 Desember 2021
Pemko Pekanbaru Terima Aset Fasos dan Fasum dari Pengembang Perumahan
Rabu, 04 Agustus 2021
Sebelum Dilantik, ASN di Meranti Harus Mengikuti Psiotes
Kamis, 15 Juli 2021
BEM Se-Riau: Bank Riau Kepri Merupakan BUMD Paling Produktif Se-Riau

Advertorial lainnya ...
Selasa, 11 Januari 2022
Mengenal Risiko dan Peluang Investasi Bitcoin
Jumat, 17 Desember 2021
Ikan Alien Kepala Transparan Tertangkap Kamera
Rabu, 15 Desember 2021
Ahmad Ghani Al Ghifari Ukir Prestasi di Bidang Robotik, Mulai Rakit Robot Hingga Memprogram Drone
Senin, 29 November 2021
WHO Akui Belum Ada Bukti Varian Omicron Covid-19 Lebih Menular

Tekno dan Sains lainnya ...
Sabtu, 18 Desember 2021
Mantan Wakil Rektor UIN Suska Didapuk sebagai Pembicara oleh Perusahaan Nutrisi Terbesar di Dunia
Jumat, 17 Desember 2021
Amerika Izinkan Pil Aborsi Dikirim Lewat Pos
Selasa, 30 November 2021
Wanita Malaysia Punya Golongan Darah Emas, Cuma 43 Orang di Bumi
Rabu, 27 Oktober 2021
Dikira Kena Covid-19, Gadis Ini Ternyata Sakit Parah Akibat Isap Vape

Kesehatan dan Keluarga lainnya ...
Senin, 17 Januari 2022
Pascasarjana UIR Sosialisasikan Program S2 dan S3 ke Anggota DPRD Pelalawan
Jumat, 14 Januari 2022
Diinisiasi BEM Unilak, Perahu Penyeberangan Warga Dusun Air Mabuk Meranti Hampir Selesai
Kamis, 13 Januari 2022
Tingkatkan Kualitas Pendidikan, Yasmuha Meranti Kirim Guru dan Siswa ke Kuansing
Rabu, 12 Januari 2022
Ikatan Alumni Manajemen Dakwah UIN Resmi Dilantik, Ini Pesan Dekan

Kampus lainnya ...
Minggu, 09 Mei 2021
Ramadan Penuh Berkah, BRI Bagikan Bingkisan ke Panti Asuhan, Panti Werdha, Jurnalis dan Masyarakat
Jumat, 15 Mei 2020
BRI Salurkan Bantuan Rp 22,16 Miliar Hasil Donasi 62 Ribu Karyawan untuk Covid-19
Kamis, 23 April 2020
PT SRL dan Mitra Bagikan 17.500 Paket Sembako di Tiga Provinsi
Senin, 23 Maret 2020
PT Musim Mas Salurkan Bantuan Ternak Sapi untuk Kelompok Tani di Pelalawan

CSR lainnya ...

Khas Senin
Terpopuler
Foto
HUT Meranti 2021 - APRIL
Nataru - April
Kamis, 13 Januari 2022
Tayang Besok, Adakah Kesamaan Virgin The Series dan Film Virgin 2004?
Selasa, 11 Januari 2022
Sinopsis Penyalin Cahaya, Film Original Netflix Tayang 13 Januari 2022
Jumat, 24 Desember 2021
Kontroversi Syuting Sinetron di Lokasi Bencana Semeru, Ini Faktanya...
Senin, 22 November 2021
Bikin Mewek, Gala Ingin Telepon Vanessa Angel & Bibi karena Rindu

Selebriti lainnya ...
PT PER 2021
Rabu, 09 Oktober 2019
Jadi Pimpinan DPRD Siak Dari Partai PAN, Ini Sosok Fairuz
Rabu, 09 Oktober 2019
Indra Gunawan Akan Berjuang Untuk Masyarakat dan Loyal Terhadap Partai
Rabu, 09 Oktober 2019
Ternando Jadi Anggota DPRD Siak Termuda dan Suryono Terpilih Dengan Suara Terkecil
Rabu, 09 Oktober 2019
Reaksi Pimpinan DPRD Siak Terkait PTPN V Buang Limbah Sembarangan

Parlementaria Siak lainnya ...
Rabu, 15 Desember 2021
Ada 7.139 Masjid di Riau, Bagaimana Kondisi Remaja Masjidnya?
Rabu, 24 November 2021
Rangkaian HUT ke-23, BKMT Riau Gelar 'Musabaqah Menterjemah Alquran'
Kamis, 04 November 2021
Persembahkan Karya Tenas Effendy, LAMR dan Tafaqquh Taja Kajian Tunjuk Ajar Melayu Dalam Perspektif Alquran dan Hadis
Senin, 04 Oktober 2021
Kepengurusan Amphuri Riau-Kepri Resmi Dilantik, Berkhidmat untuk Umat

Religi lainnya ...
Selasa, 28 Desember 2021
Legislator Pekanbaru Doakan Timnas Indonesia Juara Piala AFF 2020
Selasa, 28 Desember 2021
Aplikasi PeduliLindungi Sudah Diterapkan di Pekanbaru, Robin: Tim Vaksin juga Harus Disiapkan
Selasa, 28 Desember 2021
Respon Cepat Pemkab Rohul Tangani Banjir Berhasil Hindarkan Jatuhnya Korban Jiwa
Senin, 27 Desember 2021
Legislator Pekanbaru Sebut Razia BPOM Terkesan Tebang Pilih

ADV lainnya ...
Indeks Berita
www www