Senin, 16 September 2019

Breaking News

  • 5 Bulan Menunggak, Dewan Minta Penghuni Rusunawa Yos Sudarso Taat Aturan   ●   
  • Bawang Merah Sebabkan Inflasi di Riau 0,11 Persen   ●   
  • 100 Hari Pertama sebagai Gubernur, Syamsuar Disibukkan dengan Kampanye Capres   ●   
  • Penculik Anak di Siak Ternyata Sering Cabuli Anak Tirinya   ●   
  • Kasus Rommy, Tiga Pejabat Kemenag Diperiksa KPK   ●   
  • Warga Bengkalis Tewas Disambar Petir Saat Menanam Kacang   ●   
  • Demokrat Riau Kampanye Akbar 11 April di Pekanbaru, SBY dan AHY Tak Hadir   ●   
  • KPK Ingatkan Pemilih Jangan Minta Uang ke Caleg   ●   
  • Amril Mukminin Sampaikan 13 Program Strategis Pemkab Bengkalis   ●   
  • Komisi IV DPRD Riau Minta PUPR Cek Dugaan Retak Flyover Mal SKA
Iklan Yahama
Polling
5 Putra Inhu Masuk Bursa Pilkada 2020. Siapa yang anda dukung?


Waktu Shalat Subuh dan Isya Perlu Dievaluasi, Apa yang Salah?
Senin, 21 Agustus 2017 21:36 WIB
Waktu Shalat Subuh dan Isya Perlu Dievaluasi, Apa yang Salah?
JAKARTA (CAKAPLAH) - Islamic Science Research Network (ISRN) dari Universitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA (UHAMKA) menilai awal waktu Subuh dan Isya perlu dievaluasi.


ISRN yang telah melakukan penelitian selama berbulan-bulan menemukan waktu Subuh yang biasa dipraktikan masyarakat Indonesia lebih awal dari waktu seharusnya. Begitu pula waktu Isya, diketahui lebih telat dari waktu seharusnya.

ISRN menyampaikan fakta saintifik hasil penelitiannya ini di Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta - Jakarta Islamic Centre (PPPIJ-JIC) pada Senin (21/8/2017). Puluhan orang dari kalangan akademisi, ahli falakiah, peneliti, pengurus masjid dan majelis taklim menyimak paparan dari ISRN.

Ketua ISRN dari UHAMKA, Prof Tono Saksono mengatakan, alat yang digunakan dalam penelitiannya adalah Sky Quality Meter (SQM). Alat ini digunakan untuk mengukur magnitudo. Alat untuk mengukur besaran yang menunjukan tingkat keterangan sebuah benda atau objek. ISRN juga menggunakan All Sky Camera, sebuah kamera cembung yang dapat memotret 360 derajat.

Dua alat tersebut digunakan untuk mengumpulkan data guna mengetahui kedatangan waktu fajar dan waktu Subuh. Data yang dikumpulkan alat tersebut diproses dengan bantuan komputer, kemudian disesuaikan dengan ayat-ayat Alquran dan hadis.

"Kami melakukan penelitian ini sudah tujuh bulan, kami menyadari baru-baru ini, waktu Subuh ternyata lebih cepat dari seharusnya," kata Prof Tono, Senin (21/8/2017).

Ia menerangkan, waktu fajar atau waktu Subuh ternyata terjadi pada rata-rata dip 12,9 derajat. Artinya, posisi Matahari berada di bawah ufuk pada posisi dip 12,9 derajat, itulah waktu Subuh yang seharusnya. Menurutnya, pada kondisi ini cahaya Matahari sudah mulai nampak.

Tapi, masyarakat Indonesia pada umumnya memulai Azan Shubuh saat posisi Matahari masih di 20 derajat di bawah ufuk. Dengan demikian, lanjut Prof Tono, waktu Shubuh di Indonesia lebih cepat dan selisihnya sampai dip 7,1 derajat.

Berdasarkan kecepatan rotasi bumi, waktu yang dibutuhkan dari dip ke dip sekitar 4 menit. Kalau waktu Subuh lebih awal sampai dip 7,1 derajat, maka waktu Shubuh lebih awal 28 menit.  "Waktu Shubuh berarti 7,1 derajat lebih awal, jadi lebih awal 28 menit," ujarnya.

Berdasarkan hasil penelitian ISRN, waktu Shalat Isya pun dinilai lebih lambat dari waktu seharusnya. Dikhawatirkan, orang-orang masih ada yang melaksanakan Shalat Magrib padahal sebenarnya sudah memasuki waktu Isya.

Prof Tono yang juga anggota Majelis Tarjih Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyampaikan, berdasar hasil penelitian selama berbulan-bulan menggunakan teknologi modern, waktu Isya di Indonesia yang sering dipraktikan masyarakat pada umumnya saat posisi Matahari berada di dip 18 derajat di bawah ufuk. Padahal, seharusnya waktu Isya dimulai pada saat posisi Matahari berada di dip 11,1 derajat di bawah ufuk.

Dengan demikian, dijelaskan dia, waktu Isya lebih lambat dip 6,9 derajat dari waktu seharusnya. "Artinya Isyanya terlalu lambat kira-kira sekitar 28 menit. Sebetulnya untuk Isya tidak apa-apa terlalu lambat, tapi Maghribnya dikhawatirkan orang mengira itu masih waktu Maghrib, padahal sebetulnya sudah tidak boleh karena itu sudah masuk waktu Isya, itu persoalannya," jelasnya.

Ia juga menyampaikan, hasil penelitian ISRN ingin disosialisasikan kepada masyarakat luas. Sebab, melaksanakan shalat harus pada waktunya sesuai perintah Allah.

Penetapan Sejak 1908 Silam
Sementara itu ulama asal Malang Jawa Timur, KH Agus Hasan Bashori, menuturkan, jika ditelusuri kembali sejarahnya, penetapan waktu Subuh yang terdapat pada kalender-kalender dunia sekarang ini sebenarnya dibuat pertama kali oleh dua ahli astronomi asal Inggris, Lehman dan Melthe, pada 1908-1909 silam. Ketika itu, mereka menetapkan waktu Subuh dengan kriteria matahari dalam posisi minus 19 derajat di bawah ufuk.

Celakanya, penetapan waktu Subuh oleh Lehman dan Melthe tersebut kemudian diakui pula oleh masyarakat Mesir pada masa itu. Padahal, kriteria yang dibuat oleh kedua ahli astronomi itu menyelisihi kriteria yang dipakai Kesultanan Turki Utsmaniyah, yang menetapkan jadwal shalat Subuh dengan berpatokan pada waktu terbitnya fajar shadiq.

Bahkan, penetapan waktu Subuh oleh Lehman dan Melthe juga berseberangan dengan ilmu astronomi yang mematok sudut minus 18 derajat di bawah ufuk sebagai awal munculnya hamburan cahaya di atas langit (fajar kadzib). Dalam menetapkan kriteria waktu Subuh, kata Agus, Lehman dan Melthe tidak menggunakan dalil-dalil syar'i (Alquran dan hadis) sebagai landasannya. Itu karena mereka berdua memang bukan Muslim.

"Akibatnya, waktu Subuh yang mereka tetapkan menyelisihi fajar shadiq yang semestinya terjadi ketika matahari dalam posisi sekitar minus 15 derajat di bawah ufuk," tuturnya, Senin (21/8/2017).

Fajar shadiq adalah sebuah cahaya yang terlihat pada waktu dini hari sebagai batas antara akhir malam dan permulaan pagi. Sementara, fajar kadzib adalah sebuah cahaya yang agak terang yang terlihat memanjang dan mengarah ke atas (secara vertikal) di tengah-tengah langit, berbentuk seperti ekor serigala.

Meskipun, fajar kadzib telah berakhir, umat Islam belum bisa melaksanakan shalat Subuh karena cahaya putih fajar shadiq belum lagi menyebar di ufuk timur. Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW, "Bukanlah fajar cahaya yang meninggi di ufuk, tetapi yang membentang berwarna merah (fajar putih kemerah-merahan)," (HR Ahmad, dari Qais ibn Thalq dari ayahnya).

Imam Abu Mijlaz (Lahiq ibn Humaid as-Sadusi al-Bashri, wafat pada 101 H), seorang tabiin yang meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy'ari RA, Hasan ibn Ali RA, Muawiyah ibn Abi Sufyan RA, dan Imran ibn Hushain RA berkata, "Cahaya yang menjulang (meninggi) di langit bukanlah Subuh, melainkan itu adalah fajar kadzib. Sesungguhnya subuh itu adalah apabila ufuk menjadi terbuka (tersingkap) berwarna putih.

"Dengan demikian, tanda awal waktu shalat Subuh adalah fajar shadiq, bukan fajar kadzib, apalagi fajar yang ditetapkan Lehman dan Melthe," kata Agus.

Sepanjang 2009-2015, Agus telah melakukan penelitian terhadap penerapan waktu Subuh di berbagai daerah di Tanah Air. Mulai dari Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Hasilnya, kata dia, memang terdapat perbedaan waktu yang cukup signifikan antara jadwal shalat Subuh yang terdapat di kalender Indonesia dan datangnya fajar shadiq.

"Menurut hasil observasi dan penelitian kami, jadwal shalat Subuh yang menjadi acuan masyarakat Indonesia selama ini rata-rata lebih awal sekitar 20 menit dari kemunculan fajar shadiq," ujar anggota Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orda Malang periode 2012-2017 itu lagi.

Muhammadiyah Minta tak Dipublikasi

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Tarjih dan Tajdid, Yunahar Ilyas meminta agar penelitian atau kajian tentang penentuan awal shalat subuh tidak dipublikasikan dulu oleh Islamic Science Research Network (ISRN) dari Universitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA (UHAMKA). Pasalnya, hal itu akan membuat kegaduhan di kalangan maayarakat.

Menurut dia, penelitian tersebut baru menggunakan pendekatan astronomi saja, sehingga masih membutuhkan pendekatan fikih dan lain-lain. Karena itu, PP Muhammadiyah belum melakukan kajian terhadap awal waktu subuh tersebut.

"Kita minta pada UHAMKA untuk tidak dipublikasikan dulu karena ini masih kajian-kajian awal yang masih sangat dini. Jangan dipublikasikan dulu saya sudah minta ke rektornya karena ini sangat sensitif," ujarnya.

Yunahar melihat, masyarakat Indonesia sangat mudah percaya, sehingga jika dipublikasikan akan ramai diperbincangkan oleh masyarakat. Karena itu, menurut dia, belum waktunya untuk dipublikasikan.

Namun, jika kajian awal waktu subuh itu hanya menjadi studi bagi ilmuan, maka tidak menjadi masalah karena nantinya pasti akan diuji terlebih dahulu.

"Di Majelis Tarjih juga belum dibahas. Muhammadiyah itu untuk hal seperti itu harus tingkat nasional. Harus musyawarah nasional. Jadi kita tidak melarang kajian-kajian itu, silakan pendekatan sains. Tetapi kita minta supaya tidak dipublikasikan dulu jangan sampai menimbulkan kegaduhan," katanya.

Editor : Jef Syahrul
Sumber : Republika.co.id
Kategori : Nasional, Serba Serbi
Untuk saran dan pemberian informasi kepada CAKAPLAH, silakan kontak ke email: redaksi@cakaplah.com
Polling
5 Putra Inhu Masuk Bursa Pilkada 2020. Siapa yang anda dukung?

Berita Terkait
0 Komentar
Berita Pilihan
Sabtu, 22 Juni 2019
Heboh, Warga Siak Temukan Bayi Baru Lahir dalam Kantong Plastik
Sabtu, 22 Juni 2019
Gubernur Riau Batalkan Kerjasama Pembuatan Aplikasi Pengaduan dengan Telkomsel
Sabtu, 22 Juni 2019
Supporter Tuding Gubernur Tak Serius Bantu PSPS Riau
AMSI
Topik
Jumat, 22 Maret 2019
Plastik Masih Menjadi Permasalahan Utama Pencemaran Lingkungan di Kuansing
Selasa, 08 Januari 2019
Penerimaan Pajak Air Tanah Pekanbaru 2018 Meningkat
Minggu, 06 Januari 2019
Mega Training 'Magnet Rezeki'
Minggu, 06 Januari 2019
Taman Marga Satwa Kasang Kulim, Kawasan Wisata Alam dan Hiburan

CAKAPLAH TV lainnya ...
Minggu, 15 September 2019
Peduli Kabut Asap, PDIP Rohul Bagikan Masker Gratis
Minggu, 15 September 2019
Direktur RAPP: Percaya Diri dan Pantang Menyerah Kunci Suksesnya
Minggu, 15 September 2019
Peduli Asap, MPC PP Siak Bagikan 3.000 Masker
Minggu, 15 September 2019
Bupati Kuansing Mursini Hadiri Rakorlahut Bersama Panglima TNI

Serantau lainnya ...
Selasa, 25 Juni 2019
Tips Memilih Setting Spray yang Sesuai dengan Jenis Kulit
Kamis, 20 Juni 2019
Baju Warna Ini Membuat Perempuan Tampak Lebih Memikat di Mata Pria
Sabtu, 25 Mei 2019
5 Hadiah Menarik Pengganti Uang THR Bagi Anak-Anak
Kamis, 09 Mei 2019
5 Kebiasaan yang Dapat Diubah untuk Mencegah Kerontokan Rambut

Gaya Hidup lainnya ...
Senin, 02 September 2019
APBD Perubahan 2019 dan APBD 2020 Kota Pekanbaru Disahkan
Kamis, 22 Agustus 2019
Tingkat Sinergitas Pelayanan Perizinan, DPMPTSP Bengkalis Gelar Rakor
Sabtu, 17 Agustus 2019
Galeri Foto: Cara Bupati Alfedri Mengatasi Karhutla
Kamis, 08 Agustus 2019
Tingkatkan Perizinan, Dinas PM-PTSP Kampar Tawarkan Berbagai Kemudahan

Advertorial lainnya ...
Selasa, 30 Juli 2019
Telkomsel Bundling Smartphone 4G dengan Cashback hingga Rp2 Juta
Minggu, 21 Juli 2019
5 Keunggulan ASUS ROG Mothership, Laptop Gaming Rp130 Jutaan
Jumat, 19 Juli 2019
Dell Rilis Laptop Gaming G7 Seharga Rp27 Jutaan
Kamis, 18 Juli 2019
Xiaomi Resmi Perkenalkan Mi A3, Berapa Harganya?

Tekno dan Sains lainnya ...
Selasa, 10 September 2019
Hasil Penelitian, Tingkat Stres Mahasiswi Lebih Tinggi dari Mahasiswa
Minggu, 30 Juni 2019
Khasiat Tomat untuk Kecantikan Kulit Wajah
Kamis, 20 Juni 2019
Jangan Menikahinya, Ini 7 Tanda Dia Bukan Husband Material!
Jumat, 14 Juni 2019
4 Tes Untuk Mencari Tahu Seseorang Mandul atau Tidak

Kesehatan dan Keluarga lainnya ...
Jumat, 13 September 2019
KMIPN 2019 Sukses Digelar, PCR Raih 3 Medali
Kamis, 12 September 2019
Mahasiswa Baru Universitas Abdurrab Dibekali Nilai-nilai RAB
Rabu, 11 September 2019
Final KMIPN, 21 Politeknik se Indonesia Ngumpul di PCR
Rabu, 11 September 2019
15 Mahasiswa Unilak Bela Riau di Pomnas 2019

Kampus lainnya ...
Polling
5 Putra Inhu Masuk Bursa Pilkada 2020. Siapa yang anda dukung?


Pekanbaru Autoshow
Terpopuler

01

03

Sabtu, 14 September 2019 05:57 WIB
Rossi Kaget Yamaha Bisa Menggila di Misano
Iklan IRMI SYAKIP
Foto
Iklan Kelmi - Ade
Pangeran Hotel
Minggu, 15 September 2019
PT PSPI Bagikan 2.500 Masker ke Masyarakat Kampar Kiri
Senin, 27 Mei 2019
BRI Pasirpengaraian Berbagi Bahagia dengan Dhuafa dan Anak Yatim
Sabtu, 27 April 2019
PGN Komit Perkuat Bisnis Gas
Jumat, 26 April 2019
Kembangkan Industrialisasi UMKM RAPP Gelar Temu Usaha Pelaku UMKM

CSR lainnya ...
Germas
Kamis, 04 Juli 2019
Via Vallen dan Nella Kharisma Disurati Jaksa Terkait Kasus Kosmetik
Minggu, 30 Juni 2019
Keluar Penjara, Vanessa Angel Tak Disambut Sang Ayah
Selasa, 25 Juni 2019
Kata Gisella Anastasia Soal Kabar Prewedding di Australia
Kamis, 20 Juni 2019
Gus Miftah Beberkan Rencana Deddy Corbuzier Setelah Mualaf

Selebriti lainnya ...
Senin, 22 April 2019
Infrastruktur Jalan, Listrik dan Pendidikan jadi Aduan Masyarakat ke Samsurizal Budi saat Reses
Senin, 22 April 2019
Terkait Persoalan PLN, Ketua DPRD Siak: Wajar Saja Kekesalan Warga Memuncak
Senin, 22 April 2019
Ketua DPRD Berang Pemkab Siak Tak Serius Sikapi Permasalahan Kampung
Senin, 22 April 2019
Ketua DPRD Siak: Gubri Komit Bangun Tanjung Buton

Parlementaria Siak lainnya ...
Rabu, 29 Mei 2019
Dewan: Bayar Zakat Fitrah Jangan Mepet Lebaran
Sabtu, 04 Mei 2019
Ketika Nabi Muhammad Diolok-olok
Selasa, 16 April 2019
Jokowi dan Dua Presiden RI Lainnya yang Mendapat Keistimewaan Bisa Masuk Ka'bah
Selasa, 12 Februari 2019
Bimbang Menentukan Pilihan, Baca Doa Ini

Religi lainnya ...
Indeks Berita
www www