Senin, 16 Juli 2018

Breaking News

  • Hari Ini 12 Hotspot Terdeteksi di Sumatra   ●   
  • UU Antiterorisme Yang Baru Polri Bisa Langsung Tangkap Tamatan ISIS   ●   
  • LAM Riau Minta Presiden Jokowi Ganti Menteri Agama   ●   
  • BRG Safari Ramadan ke Universitas Riau   ●   
  • RRI Pekanbaru dan Baznas Salurkan Bantuan untuk 30 Keluarga Mustahik   ●   
  • Polres Kampar Siap Amankan dan Lancarkan Arus Mudik dan Arus Balik Lebaran   ●   
  • Diskes Pekanbaru Siapkan Personel di Posko Mudik Lebaran   ●   
  • Dishub Pasangan Spanduk Imbauan Keselamatan Mudik di Ruas Jalan Provinsi   ●   
  • Plt Walikota Instruksikan ke Camat dan Lurah Dukung Pihak Kepolisian   ●   
  • Kasus Politik Uang, Nur Azmi dan Ajudan Divonis Bebas
Muhibbah

Waktu Shalat Subuh dan Isya Perlu Dievaluasi, Apa yang Salah?
Senin, 21 Agustus 2017 21:36 WIB
Waktu Shalat Subuh dan Isya Perlu Dievaluasi, Apa yang Salah?
JAKARTA (CAKAPLAH) - Islamic Science Research Network (ISRN) dari Universitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA (UHAMKA) menilai awal waktu Subuh dan Isya perlu dievaluasi.


ISRN yang telah melakukan penelitian selama berbulan-bulan menemukan waktu Subuh yang biasa dipraktikan masyarakat Indonesia lebih awal dari waktu seharusnya. Begitu pula waktu Isya, diketahui lebih telat dari waktu seharusnya.

ISRN menyampaikan fakta saintifik hasil penelitiannya ini di Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta - Jakarta Islamic Centre (PPPIJ-JIC) pada Senin (21/8/2017). Puluhan orang dari kalangan akademisi, ahli falakiah, peneliti, pengurus masjid dan majelis taklim menyimak paparan dari ISRN.

Ketua ISRN dari UHAMKA, Prof Tono Saksono mengatakan, alat yang digunakan dalam penelitiannya adalah Sky Quality Meter (SQM). Alat ini digunakan untuk mengukur magnitudo. Alat untuk mengukur besaran yang menunjukan tingkat keterangan sebuah benda atau objek. ISRN juga menggunakan All Sky Camera, sebuah kamera cembung yang dapat memotret 360 derajat.

Dua alat tersebut digunakan untuk mengumpulkan data guna mengetahui kedatangan waktu fajar dan waktu Subuh. Data yang dikumpulkan alat tersebut diproses dengan bantuan komputer, kemudian disesuaikan dengan ayat-ayat Alquran dan hadis.

"Kami melakukan penelitian ini sudah tujuh bulan, kami menyadari baru-baru ini, waktu Subuh ternyata lebih cepat dari seharusnya," kata Prof Tono, Senin (21/8/2017).

Ia menerangkan, waktu fajar atau waktu Subuh ternyata terjadi pada rata-rata dip 12,9 derajat. Artinya, posisi Matahari berada di bawah ufuk pada posisi dip 12,9 derajat, itulah waktu Subuh yang seharusnya. Menurutnya, pada kondisi ini cahaya Matahari sudah mulai nampak.

Tapi, masyarakat Indonesia pada umumnya memulai Azan Shubuh saat posisi Matahari masih di 20 derajat di bawah ufuk. Dengan demikian, lanjut Prof Tono, waktu Shubuh di Indonesia lebih cepat dan selisihnya sampai dip 7,1 derajat.

Berdasarkan kecepatan rotasi bumi, waktu yang dibutuhkan dari dip ke dip sekitar 4 menit. Kalau waktu Subuh lebih awal sampai dip 7,1 derajat, maka waktu Shubuh lebih awal 28 menit.  "Waktu Shubuh berarti 7,1 derajat lebih awal, jadi lebih awal 28 menit," ujarnya.

Berdasarkan hasil penelitian ISRN, waktu Shalat Isya pun dinilai lebih lambat dari waktu seharusnya. Dikhawatirkan, orang-orang masih ada yang melaksanakan Shalat Magrib padahal sebenarnya sudah memasuki waktu Isya.

Prof Tono yang juga anggota Majelis Tarjih Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyampaikan, berdasar hasil penelitian selama berbulan-bulan menggunakan teknologi modern, waktu Isya di Indonesia yang sering dipraktikan masyarakat pada umumnya saat posisi Matahari berada di dip 18 derajat di bawah ufuk. Padahal, seharusnya waktu Isya dimulai pada saat posisi Matahari berada di dip 11,1 derajat di bawah ufuk.

Dengan demikian, dijelaskan dia, waktu Isya lebih lambat dip 6,9 derajat dari waktu seharusnya. "Artinya Isyanya terlalu lambat kira-kira sekitar 28 menit. Sebetulnya untuk Isya tidak apa-apa terlalu lambat, tapi Maghribnya dikhawatirkan orang mengira itu masih waktu Maghrib, padahal sebetulnya sudah tidak boleh karena itu sudah masuk waktu Isya, itu persoalannya," jelasnya.

Ia juga menyampaikan, hasil penelitian ISRN ingin disosialisasikan kepada masyarakat luas. Sebab, melaksanakan shalat harus pada waktunya sesuai perintah Allah.

Penetapan Sejak 1908 Silam
Sementara itu ulama asal Malang Jawa Timur, KH Agus Hasan Bashori, menuturkan, jika ditelusuri kembali sejarahnya, penetapan waktu Subuh yang terdapat pada kalender-kalender dunia sekarang ini sebenarnya dibuat pertama kali oleh dua ahli astronomi asal Inggris, Lehman dan Melthe, pada 1908-1909 silam. Ketika itu, mereka menetapkan waktu Subuh dengan kriteria matahari dalam posisi minus 19 derajat di bawah ufuk.

Celakanya, penetapan waktu Subuh oleh Lehman dan Melthe tersebut kemudian diakui pula oleh masyarakat Mesir pada masa itu. Padahal, kriteria yang dibuat oleh kedua ahli astronomi itu menyelisihi kriteria yang dipakai Kesultanan Turki Utsmaniyah, yang menetapkan jadwal shalat Subuh dengan berpatokan pada waktu terbitnya fajar shadiq.

Bahkan, penetapan waktu Subuh oleh Lehman dan Melthe juga berseberangan dengan ilmu astronomi yang mematok sudut minus 18 derajat di bawah ufuk sebagai awal munculnya hamburan cahaya di atas langit (fajar kadzib). Dalam menetapkan kriteria waktu Subuh, kata Agus, Lehman dan Melthe tidak menggunakan dalil-dalil syar'i (Alquran dan hadis) sebagai landasannya. Itu karena mereka berdua memang bukan Muslim.

"Akibatnya, waktu Subuh yang mereka tetapkan menyelisihi fajar shadiq yang semestinya terjadi ketika matahari dalam posisi sekitar minus 15 derajat di bawah ufuk," tuturnya, Senin (21/8/2017).

Fajar shadiq adalah sebuah cahaya yang terlihat pada waktu dini hari sebagai batas antara akhir malam dan permulaan pagi. Sementara, fajar kadzib adalah sebuah cahaya yang agak terang yang terlihat memanjang dan mengarah ke atas (secara vertikal) di tengah-tengah langit, berbentuk seperti ekor serigala.

Meskipun, fajar kadzib telah berakhir, umat Islam belum bisa melaksanakan shalat Subuh karena cahaya putih fajar shadiq belum lagi menyebar di ufuk timur. Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW, "Bukanlah fajar cahaya yang meninggi di ufuk, tetapi yang membentang berwarna merah (fajar putih kemerah-merahan)," (HR Ahmad, dari Qais ibn Thalq dari ayahnya).

Imam Abu Mijlaz (Lahiq ibn Humaid as-Sadusi al-Bashri, wafat pada 101 H), seorang tabiin yang meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy'ari RA, Hasan ibn Ali RA, Muawiyah ibn Abi Sufyan RA, dan Imran ibn Hushain RA berkata, "Cahaya yang menjulang (meninggi) di langit bukanlah Subuh, melainkan itu adalah fajar kadzib. Sesungguhnya subuh itu adalah apabila ufuk menjadi terbuka (tersingkap) berwarna putih.

"Dengan demikian, tanda awal waktu shalat Subuh adalah fajar shadiq, bukan fajar kadzib, apalagi fajar yang ditetapkan Lehman dan Melthe," kata Agus.

Sepanjang 2009-2015, Agus telah melakukan penelitian terhadap penerapan waktu Subuh di berbagai daerah di Tanah Air. Mulai dari Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Hasilnya, kata dia, memang terdapat perbedaan waktu yang cukup signifikan antara jadwal shalat Subuh yang terdapat di kalender Indonesia dan datangnya fajar shadiq.

"Menurut hasil observasi dan penelitian kami, jadwal shalat Subuh yang menjadi acuan masyarakat Indonesia selama ini rata-rata lebih awal sekitar 20 menit dari kemunculan fajar shadiq," ujar anggota Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orda Malang periode 2012-2017 itu lagi.

Muhammadiyah Minta tak Dipublikasi

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Tarjih dan Tajdid, Yunahar Ilyas meminta agar penelitian atau kajian tentang penentuan awal shalat subuh tidak dipublikasikan dulu oleh Islamic Science Research Network (ISRN) dari Universitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA (UHAMKA). Pasalnya, hal itu akan membuat kegaduhan di kalangan maayarakat.

Menurut dia, penelitian tersebut baru menggunakan pendekatan astronomi saja, sehingga masih membutuhkan pendekatan fikih dan lain-lain. Karena itu, PP Muhammadiyah belum melakukan kajian terhadap awal waktu subuh tersebut.

"Kita minta pada UHAMKA untuk tidak dipublikasikan dulu karena ini masih kajian-kajian awal yang masih sangat dini. Jangan dipublikasikan dulu saya sudah minta ke rektornya karena ini sangat sensitif," ujarnya.

Yunahar melihat, masyarakat Indonesia sangat mudah percaya, sehingga jika dipublikasikan akan ramai diperbincangkan oleh masyarakat. Karena itu, menurut dia, belum waktunya untuk dipublikasikan.

Namun, jika kajian awal waktu subuh itu hanya menjadi studi bagi ilmuan, maka tidak menjadi masalah karena nantinya pasti akan diuji terlebih dahulu.

"Di Majelis Tarjih juga belum dibahas. Muhammadiyah itu untuk hal seperti itu harus tingkat nasional. Harus musyawarah nasional. Jadi kita tidak melarang kajian-kajian itu, silakan pendekatan sains. Tetapi kita minta supaya tidak dipublikasikan dulu jangan sampai menimbulkan kegaduhan," katanya.

Editor : Jef Syahrul
Sumber : Republika.co.id
Kategori : Nasional, Serba Serbi
Untuk saran dan pemberian informasi kepada CAKAPLAH, silakan kontak ke email: redaksi@cakaplah.com
Berita Terkait
0 Komentar
Berita Pilihan
Senin, 09 Juli 2018
Pemprov Riau Terima Surat Kemenag, Isinya Buat Wagubri Sakit Hati
Senin, 09 Juli 2018
Ditanya Soal Tunggakan PJU, Ini Kata Walikota Firdaus
Senin, 09 Juli 2018
Status Makin tak Jelas, Puluhan Tenaga RTK di Kampar Kembali Unjukrasa
Senin, 09 Juli 2018
Soal Pelantikan Syamsuar-Edy, Pemprov Riau Tunggu Jadwal Kemendagri
Senin, 09 Juli 2018
Dikabarkan 'Nyaleg', Ini Kata Gubernur Andi Rachman
Senin, 09 Juli 2018
24 Atlet Asal Riau Perkuat Indonesia di Asian Games 2018
Senin, 09 Juli 2018
Partisipasi Pemilih Hanya 59,25 Persen, DPRD Riau Akan Evaluasi Anggaran Pilgub
Senin, 09 Juli 2018
PLN Kembali Lakukan Pemadaman Bergilir, Ini Jadwal dan Lokasinya
Senin, 09 Juli 2018
Rombongan Mahasiswa Bule Takjub Melihat Parade Tari Daerah Riau
Senin, 09 Juli 2018
Gubernur Riau Andi Rachman Terharu Ribuan ASN Beri Kejutan Ulang Tahun Usai Apel
Senin, 09 Juli 2018
Awal Pekan, Harga Cabai Merah dan Hijau Naik di Pekanbaru
Sabtu, 07 Juli 2018
Astaghfirullaah... Baliho Umbar Dada Wanita Terpampang Bebas di Kota Madani
Jumat, 06 Juli 2018
Pengembangan Kawasan Industri Tenayan Masih Menunggu Proses Administrasi
Jumat, 06 Juli 2018
Alasan Keamanan dan Pilpres, Porwanas XIII di Papua Diundur Tahun 2020
Jumat, 06 Juli 2018
Kecewa Enam Elemen Akses Dana Yayasan Belantara, Kaliptra Mundur dari Jikalahari
Jumat, 06 Juli 2018
Amril Ingatkan Warga Hati-hati dengan Informasi Hoax Penerimaan CPNS
Jumat, 06 Juli 2018
Menang Sengketa Informasi Publik, Dendi akan Laporkan KPU dan Bawaslu Riau ke DKPP
Jumat, 06 Juli 2018
Firdaus: Bus TMP akan Kembali Dikelola Perusahaan Daerah
AMSI
Topik
Selebriti Selebriti
Jumat, 13 Juli 2018
Gaya Traveling Zaskia Sungkar, Anggun dengan Hijab Syari
Kamis, 12 Juli 2018
Viral, 'Lagi Syantik' Siti Badriah Masuk Billboard Youtube
Rabu, 11 Juli 2018
Kabar Dipacari Ariel Noah, Begini Kata Pevita Pearce
Senin, 09 Juli 2018
Angel Lelga Keguguran, Terpeleset di Kamar Mandi

Selebriti lainnya ...
Gaya Hidup Gaya Hidup
Senin, 09 Juli 2018
Kepribadian Bisa Dilihat Lewat Cara Makeup Lho!
Minggu, 08 Juli 2018
Nike Luncurkan Baju Olahraga Khusus Hijaber
Sabtu, 07 Juli 2018
Manajemen Tik Tok Temui Kementerian PPA
Rabu, 04 Juli 2018
Soha MT: Inspirasi Busana Kimono untuk Hijaber

Gaya Hidup lainnya ...
Kesehatan dan Keluarga Kesehatan dan Keluarga
Kamis, 12 Juli 2018
Ahli: Merasa Lebih Muda dari Usia Sesungguhnya Pertanda Otak yang Sehat
Selasa, 26 Juni 2018
Sayuran Ini Ternyata tak Boleh Dijus
Rabu, 30 Mei 2018
7 Manfaat Belimbing Bila Dikonsumsi Ibu Hamil
Selasa, 29 Mei 2018
5 Manfaat Kacang Hijau untuk Menu Buka Puasa Keluarga

Kesehatan dan Keluarga lainnya ...
Kampus Kampus
Jumat, 05 Januari 2018
UIR Bertekad Jadi Perguruan Tertinggi Terkemuka di Asia Tenggara
Rabu, 29 November 2017
Mubarak Bertekad Jadikan UMRI sebagai Kampus Wisata
Rabu, 25 Oktober 2017
Prodi Ilmu Pemerintahan UIR Tuan Rumah ICODAG dan Kongres Kapsipi
Selasa, 24 Oktober 2017
Bahas Penyeragaman Gelar Akademik, FHS UIN Suska Adakan Seminar

Kampus lainnya ...
Advertorial Advertorial
Sabtu, 02 Juni 2018
Bustami HY: Perkokoh Persatuan Dimomentum Harkitnas
Kamis, 31 Mei 2018
Dinas Perkim Inhil Rencanakan Buka 23 RTH se Inhil
Rabu, 30 Mei 2018
Pj Bupati Inhil: Realisasi Dana Desa Terkendala Peraturan Padat Karya
Senin, 28 Mei 2018
Pemkab Inhil Buka Puasa Bersama Masyarakat di Jakarta

Advertorial lainnya ...
Tekno dan Sains Tekno dan Sains
Jumat, 13 Juli 2018
Apple Rilis MacBook Pro Terbaru, Harga Mulai Rp30 Jutaan
Jumat, 13 Juli 2018
Sony Xperia XA2 Plus Diperkenalkan, Harganya Masih Rahasia
Senin, 09 Juli 2018
Vivo Hadirkan Vivo X21i dengan Balutan Night Purple di Panel Belakang
Senin, 09 Juli 2018
MIUI 10 Global Beta 8.7.5 Sudah Tersedia untuk 8 Smartphone Xiaomi

Tekno dan Sains lainnya ...
www www