Minggu, 21 Juli 2019

Breaking News

  • 5 Bulan Menunggak, Dewan Minta Penghuni Rusunawa Yos Sudarso Taat Aturan   ●   
  • Bawang Merah Sebabkan Inflasi di Riau 0,11 Persen   ●   
  • 100 Hari Pertama sebagai Gubernur, Syamsuar Disibukkan dengan Kampanye Capres   ●   
  • Penculik Anak di Siak Ternyata Sering Cabuli Anak Tirinya   ●   
  • Kasus Rommy, Tiga Pejabat Kemenag Diperiksa KPK   ●   
  • Warga Bengkalis Tewas Disambar Petir Saat Menanam Kacang   ●   
  • Demokrat Riau Kampanye Akbar 11 April di Pekanbaru, SBY dan AHY Tak Hadir   ●   
  • KPK Ingatkan Pemilih Jangan Minta Uang ke Caleg   ●   
  • Amril Mukminin Sampaikan 13 Program Strategis Pemkab Bengkalis   ●   
  • Komisi IV DPRD Riau Minta PUPR Cek Dugaan Retak Flyover Mal SKA
Muhibbah

CAKAP RAKYAT
Antara Sekularisasi dan Islamisasi, Anda Dimana?
Rabu, 28 November 2018 11:07 WIB
Antara Sekularisasi dan Islamisasi, Anda Dimana?
Erisman Yahya
PRO KONTRA kelompok sekularisasi versus islamisasi akhir-akhir ini kembali menguat. Wacana ini kembali mengemuka setelah pernyataan sikap salah satu partai politik yang menolak adanya peraturan daerah berbasis agama atau perda syari’ah.


Sesungguhnya, perang ide dan gagasan antara kelompok sekularisasi dengan islamisasi sudah sejak lama terjadi. Bahkan sebelum negeri ini merdeka pada 17 Agustus 1945. Dan perang gagasan antara dua kelompok ini tidak saja terjadi di Indonesia, tapi juga di negara-negara lain yang mayoritas penduduknya beragama Islam, seperti di Turki dan lainnya.

Di Turki bahkan gerakan sekularisasi sempat sangat massif di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Attaturk. Mustafa bahkan sampai mengganti kalimat azan dan salat dalam bahasa Arab menjadi bahasa Latin.

Bagaimana di Indonesia? Barangkali dapat kita sepakati bahwa hilangnya tujuh kata dari Piagam Jakarta yang merupakan mukaddimah dari UUD 1945, yakni berdasarkan, “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Kemudian diganti dengan kalimat: Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah kompromi terbaik yang pernah terjadi antara kelompok sekularisasi dengan islamisasi, termasuk kompromi dengan penganut agama selain Islam di Indonesia.

Lalu dalam perjalanannya kemudian, setelah Indonesia merdeka, masing-masing kelompok terus berupaya memperjuangkan ide-ide dan gagasannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kelompok sekularisasi cenderung atau menolak agama ikut-campur dalam urusan negara. Kaum sekuler biasanya menyebut agama sebagai sesuatu yang sakral sementara urusan negara bersifat duniawi atau profan semata. Sebab itu, agama yang sakral tidak semestinya masuk dalam urusan negara.

Agama cukup menjadi urusan pribadi dengan tuhannya. Apalagi Indonesia bukanlah negara berdasarkan agama tertentu. Sementara masyarakat Indonesia memeluk berbagai agama dan kepercayaan.

Memaksakan norma atau aturan suatu agama di Indonesia yang heterogen dari sisi agama, menurut kaum sekuler hanya akan memicu diskriminasi, bahkan perpecahan.

Mendiang Nurcholis Madjid (Cak Nur) melalui adagium yang pernah dipopulerkannya tahun 1970-an, “Islam Yes, Partai Islam No,” barangkali dapat kita sebut sebagai tokoh yang cenderung kepada gerakan sekularisasi di Indonesia.

Meskipun kemudian di awal reformasi, ketika Partai Keadilan (kini PKS) yang berideologi Islam berdiri di Indonesia, Cak Nur dapat memakluminya (detik.com, edisi Minggu, 18 Maret 2018).

Pemikiran-pemikiran Cak Nur sepertinya kemudian juga banyak mempengaruhi para aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) seperti Ulil Abshar Abdalla. Mereka cenderung menolak gerakan-gerakan islamisasi. Apalagi simbolisasi Islam. Bahkan JIL pernah menolak jilbab sebagai salah satu kewajiban bagi wanita muslimah. Menurut JIL, memakai jilbab hanyalah pilihan belaka.

Sementara kelompok pro islamisasi juga tidak pernah tinggal diam. Apalagi negara memberikan peluang dan kesempatan sebesar-besarnya bagi setiap pemeluk agama untuk menjalankan ajaran agamanya sesuai Pasal 29 UUD 1945.

Islamisasi berarti upaya pengislaman atau menghadirkan ajaran-ajaran agama Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tokoh yang paling getol dan populer untuk gerakan islamisasi ini barangkali dapat kita sepakati adalah Mohammad Natsir, pendiri Partai Masyumi.

Lalu di era milenial ini, tokoh yang sangat pro dengan gerakan islamisasi juga mungkin dapat kita sepakati adalah Ustad H Abdul Somad (UAS). Dalam berbagai ceramahnya, ustad asal Riau lulusan Mesir ini selalu menyerukan agar pemimpin-pemimpin di negeri ini dapat menerapkan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Termasuk untuk para pemimpin di daerah, seperti gubernur, bupati atau walikota, serta anggota Dewan, UAS sering menyerukan agar dengan kekuasaan yang digenggam, kiranya dapat melahirkan peraturan-peraturan daerah yang bersumber ajaran agama Islam atau populer dengan istilah Perda Syari’ah.

Lalu mungkin ada yang protes, bukankah ajaran dan aturan dalam agama Islam sudah lengkap dalam Al-Quran dan Hadits, untuk apa lagi dihadirkan dalam bentuk UU atau Perda, misalnya? Jawabannya tentu saja sudah lengkap. Namun, negara (termasuk Pemerintah Daerah) tidak bisa ikut-campur (mengeksekusi) karena belum menjadi hukum positif.

Sebagai contoh, semua orang Islam tahu bahwa daging babi atau anjing adalah haram. Tapi bagaimana umat Islam bisa memastikan kehalalan suatu makanan ketika misalnya banyak produk makanan impor masuk ke Indonesia?

Terkait hal itu, lahir kemudian UU, seperti UU Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal yang memberikan kewenangan kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mengeluarkan sertifikasi halal bagi suatu produk.

Ketika hukum positif memberikan kewenangan kepada MUI untuk menentukan mana yang halal dan mana yang tidak, akhirnya masyarakat Indonesia, khususnya yang bergama Islam dapat memelihara diri dan keluarganya dari produk-produk makanan yang non halal.

Contoh lain, semua umat Islam sangat paham bahwa riba itu adalah haram. Termasuk riba dalam praktik bank-bank konvensional. Lalu dengan perjuangan umat Islam, akhirnya lahir UU Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, yang antara lain mengakomodir berdirinya bank-bank syari’ah di Indonesia.

Kini, jika umat Islam khawatir dengan riba di bank-bank konvensional, umat bisa bertransaksi di bank-bank syari’ah. Berkat UU tersebut yang sudah menjadi hukum positif, umat Islam bisa terhindar dari praktik riba.

Dalam konteks pemerintahan daerah, semangat untuk melahirkan aturan-aturan yang berbasis ajaran agama atau kita sebut Perda Syari’ah juga sedang mengalami ghirah yang luar biasa. Ini tentu saja sebagai bentuk kecintaan dan keyakinan umat Islam akan kebenaran ajaran agamanya.

Untuk konteks Riau, misalnya, Pemerintah Kabupaten Siak pernah mengeluarkan Perda Nomor 6 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Zakat. Melalui Perda tersebut Pemkab Siak telah berhasil mengumpulkan zakat, infaq dan sadaqah secara islami.

Dan yang sangat menggembirakan, Pemkab Siak melalui Baznas Siak telah dapat mengumpulkan zakat sekitar Rp12 miliar per tahun. Bahkan kalau dikumulasi dari tahun 2012-2017, telah terkumpul sebesar Rp51,45 miliar. Suatu angka yang cukup fantastis!

Tersebab Perda itu juga, seperti diberitakan banyak media, telah banyak daerah di Indonesia yang datang belajar ke Siak. Keberhasilan Pemkab Siak mengelola zakat dengan Perda-nya ini, telah pula dipidatokan UAS kemana-mana.

Akhirnya, silahkan tanya diri anda, anda hendak masuk kelompok yang mana. Sekularisasi atau islamisasi. Setiap pilihan, tentu nanti akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Wallahu’alam...
Penulis : Erisman Yahya
Editor : Ali
Kategori : Cakap Rakyat
Untuk saran dan pemberian informasi kepada CAKAPLAH, silakan kontak ke email: redaksi@cakaplah.com
Berita Lainnya
0 Komentar
Berita Pilihan
Sabtu, 22 Juni 2019
Heboh, Warga Siak Temukan Bayi Baru Lahir dalam Kantong Plastik
Sabtu, 22 Juni 2019
Gubernur Riau Batalkan Kerjasama Pembuatan Aplikasi Pengaduan dengan Telkomsel
Sabtu, 22 Juni 2019
Supporter Tuding Gubernur Tak Serius Bantu PSPS Riau
AMSI
Topik
Jumat, 22 Maret 2019
Plastik Masih Menjadi Permasalahan Utama Pencemaran Lingkungan di Kuansing
Selasa, 08 Januari 2019
Penerimaan Pajak Air Tanah Pekanbaru 2018 Meningkat
Minggu, 06 Januari 2019
Mega Training 'Magnet Rezeki'
Minggu, 06 Januari 2019
Taman Marga Satwa Kasang Kulim, Kawasan Wisata Alam dan Hiburan

CAKAPLAH TV lainnya ...
Minggu, 21 Juli 2019
Dandim 0313/KPR Apresiasi Perkemahan Saka Wira Kartika di Danau Rusa
Sabtu, 20 Juli 2019
TMMD Ke-105 Kodim 0313/KPR, Babinsa Aktifkan Patroli Terpadu Cegah Karhutla
Sabtu, 20 Juli 2019
TMMD Ke-105 Kodim 0313/KPR, Puncak Kompe 'Bersolek' dengan Pohon Durian, Mahani dan Ketapang
Sabtu, 20 Juli 2019
Tingkatkan Kualitas Aparatur, Desa Laboi Jaya Gelar Pelatihan Pembinaan Kelembagaan Desa 

Serantau lainnya ...
Selasa, 25 Juni 2019
Tips Memilih Setting Spray yang Sesuai dengan Jenis Kulit
Kamis, 20 Juni 2019
Baju Warna Ini Membuat Perempuan Tampak Lebih Memikat di Mata Pria
Sabtu, 25 Mei 2019
5 Hadiah Menarik Pengganti Uang THR Bagi Anak-Anak
Kamis, 09 Mei 2019
5 Kebiasaan yang Dapat Diubah untuk Mencegah Kerontokan Rambut

Gaya Hidup lainnya ...
Jumat, 28 Juni 2019
Zulkifli As Ajak Warga Tingkatkan Pendalaman, Penghayatan dan Pengamalan Alquran
Rabu, 26 Juni 2019
17 Anggota Komisi V DPR RI Berkunjung ke Kawasan Megaproyek Technopark Pelalawan
Minggu, 23 Juni 2019
DPRD Gelar Rapat Paripurna HUT ke-235 Kota Pekanbaru
Jumat, 21 Juni 2019
Pemkab Bengkalis Terus Pertahankan Tradisi Lampu Colok

Advertorial lainnya ...
Jumat, 19 Juli 2019
Dell Rilis Laptop Gaming G7 Seharga Rp27 Jutaan
Kamis, 18 Juli 2019
Xiaomi Resmi Perkenalkan Mi A3, Berapa Harganya?
Kamis, 18 Juli 2019
Redmi K20 Pro Berbalut Emas Dijual Hampir Rp100 Juta!
Senin, 15 Juli 2019
Ini Bocoran Harga Galaxy Note10 Series yang Paling Murah

Tekno dan Sains lainnya ...
Minggu, 30 Juni 2019
Khasiat Tomat untuk Kecantikan Kulit Wajah
Kamis, 20 Juni 2019
Jangan Menikahinya, Ini 7 Tanda Dia Bukan Husband Material!
Jumat, 14 Juni 2019
4 Tes Untuk Mencari Tahu Seseorang Mandul atau Tidak
Kamis, 16 Mei 2019
Memahami 5 Jenis Kerutan pada Wajah dan Tips Mengatasinya

Kesehatan dan Keluarga lainnya ...
Minggu, 21 Juli 2019
Gandeng Kementerian PUPR, Mahasiswa Kukerta Unri Sosialisasikan Program CTPS di Buluh Nipis
Jumat, 19 Juli 2019
Mahasiswa Unri Gelar Penyuluhan Narkoba dan Etika Berlalu Lintas di SMAN 2 XIII Koto Kampar
Jumat, 19 Juli 2019
Mahasiswa Abdimas UNRI Beri Penyuluhan kepada Siswa SMPN 1 Rumbio Jaya Soal Berumah Tangga
Kamis, 18 Juli 2019
Unilak-Pegadaian Teken MoU di Bidang Pendidikan dan Pengembangan SDM

Kampus lainnya ...

PTPN5
Terpopuler
Foto
Senin, 27 Mei 2019
BRI Pasirpengaraian Berbagi Bahagia dengan Dhuafa dan Anak Yatim
Sabtu, 27 April 2019
PGN Komit Perkuat Bisnis Gas
Jumat, 26 April 2019
Kembangkan Industrialisasi UMKM RAPP Gelar Temu Usaha Pelaku UMKM
Minggu, 07 April 2019
BOB Bantu Ruang Kelas untuk MTs LKMD Kasikan, Kampar

CSR lainnya ...
Kamis, 04 Juli 2019
Via Vallen dan Nella Kharisma Disurati Jaksa Terkait Kasus Kosmetik
Minggu, 30 Juni 2019
Keluar Penjara, Vanessa Angel Tak Disambut Sang Ayah
Selasa, 25 Juni 2019
Kata Gisella Anastasia Soal Kabar Prewedding di Australia
Kamis, 20 Juni 2019
Gus Miftah Beberkan Rencana Deddy Corbuzier Setelah Mualaf

Selebriti lainnya ...
Senin, 22 April 2019
Infrastruktur Jalan, Listrik dan Pendidikan jadi Aduan Masyarakat ke Samsurizal Budi saat Reses
Senin, 22 April 2019
Terkait Persoalan PLN, Ketua DPRD Siak: Wajar Saja Kekesalan Warga Memuncak
Senin, 22 April 2019
Ketua DPRD Berang Pemkab Siak Tak Serius Sikapi Permasalahan Kampung
Senin, 22 April 2019
Ketua DPRD Siak: Gubri Komit Bangun Tanjung Buton

Parlementaria Siak lainnya ...
Rabu, 29 Mei 2019
Dewan: Bayar Zakat Fitrah Jangan Mepet Lebaran
Sabtu, 04 Mei 2019
Ketika Nabi Muhammad Diolok-olok
Selasa, 16 April 2019
Jokowi dan Dua Presiden RI Lainnya yang Mendapat Keistimewaan Bisa Masuk Ka'bah
Selasa, 12 Februari 2019
Bimbang Menentukan Pilihan, Baca Doa Ini

Religi lainnya ...
Indeks Berita
www www