Rabu, 24 April 2024

Breaking News

  • Catatan Banjir Terparah, Bupati Zukri: Ini Harus jadi Perhatian Pemerintah Pusat   ●   
  • Jalan Sudirman Ujung Tergenang Banjir, PUPR Riau Turunkan Ekskavator Amfibi Bersihkan Parit   ●   
  • Akibat Galian IPAL, Jalan Ahmad Dahlan dan Balam Ujung Pekanbaru Ambruk   ●   
  • Berhasrat Ikut Pilgub Riau, Syamsurizal Incar Septina jadi Wakil
Kelmi April 2024

Praktik Merdeka Belajar dan Merdeka Berbudaya Wujudkan Generasi Bangsa Bahagia dan Cerdas
Sabtu, 15 April 2023 15:48 WIB
Praktik Merdeka Belajar dan Merdeka Berbudaya Wujudkan Generasi Bangsa Bahagia dan Cerdas
Dheni memberi arahan kepada siswa dalam proses belajar di Kelas VI B SDN No.14 Rantau Utara Kabupaten Labuhan Batu, Provinsi Sumatera Utara. Foto: Dokumentasi pribadi Dheni Armayanthi Lubis.

DHENI dengan santai mengendarai sepeda motornya membelah jalanan Kota Rantau Prapat yang masih sepi. Ujung jilbabnya berkibar-kibar ditampar angin ibukota Kabupaten Labuhan Batu, Provinsi Sumatera Utara itu.

Kreek. Wanita berperawakan tinggi ini menaikkan kaca helmnya. Membiarkan udara pagi itu menerpa wajahnya. Langit di atas sana putih bersih. Hawanya tidak dingin walau hari masih pukul 06.40 WIB. Kota ini memang cenderung hangat. Saat musim kemarau, tak jarang suhunya mencapai 32-34 derajat Celcius.

Dheni sengaja bertolak pagi-pagi menuju tempatnya bertugas, Sekolah Dasar Negeri (SDN) No.14 Rantau Utara. Hanya berjarak 5 menit dari rumahnya.

“Bila berangkat agak siangan, jalanan akan mulai ramai. Karena banyak sekolah lain di sekitar sini. Jadi pukul 07.00 WIB start dari rumah adalah waktu yang tepat. Kalau sedang piket, kayak hari ini, saya berangkat lebih pagi lagi,” jelas Dheni, Jumat (14/4/2023).

Wanita bernama lengkap Dheni Armayanthi Lubis ini telah mengabdi sebagai guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) di sekolah ini 13 tahun lamanya.

Dheni sangat mencintai profesinya sebagai guru. Begitu lulus Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dari Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Padangsidempuan (sekarang IAIN, red) pada tahun 2008 silam, ia langsung mengabdi sebagai guru honorer di salah satu Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) di Rantau Prapat.

Mengabdi setahun lebih di sana, ia dinyatakan lolos seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di tahun 2009 dan ditempatkan di salah satu SD Negeri di kota yang sama, sebelum di SDN No.14 yang sekarang.

“Sejak saat itu, saya ngajar di sekolah ini. Mulai dari kelas rendah hingga kini mengajar di kelas VI. Sudah 5 tahun mengajar kelas VI,” tuturnya sembari tersenyum dengan mata menyipit.

Hari ini, seperti biasanya, wanita 36 tahun ini tiba di lingkungan SDN No.14 dengan senyum dan semangat baru. Ia termasuk yang datang paling pagi, karena harus menjalankan tugas guru piket, yang salah satunya harus stand by di gerbang depan sekolah. Menyambut semua siswa dan guru lainnya dengan sapaan ramah pembuka hari.

Begitu parkir di halaman sekolah yang berhadapan dengan Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Labuhan Batu dan Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Labuhan Batu itu, Dheni menyambar keresek dari gantungan sepeda motornya. Isinya adalah bahan untuk media ajar nantinya di kelas.

Dengan langkah besar, ia menuju ruang guru untuk meletakkan tas dan semua barang bawaannya.

Ia mematut diri sebentar pada cermin besar di ruangan itu. Memastikan jilbabnya masih rapi dan lipstik melekat paripurna. Ia percaya, selain harus mampu mengirimkan kesan ramah sebagai pendidik dan pengayom, penampilan guru haruslah selalu rapi, bersih, dan tampil profesional.

Dheni lalu bergegas menuju gerbang sekolah. Berdiri di sana dengan santai, memancarkan sekaligus menularkan aura ‘selamat pagi, harimu akan baik-baik saja hari ini’. Jilbabnya merah, dipadukan dengan baju batik bercorak hitam.

Ia dan rekan piketnya S. Evrida, menyambut dan menyalami semua siswa dan guru yang melewati gerbang bertiang empat itu. Dengan senyum lebar, mereka menyapa ramah semuanya. Menularkan semangat pagi.

Sesekali, mereka menepuk-nepuk ringan pundak para siswa yang memasuki gerbang. Bertanya kabar anak yang tampak murung dan menghibur anak yang terlihat kurang ceria.

Di sela-sela itu, kedua guru yang memang terkenal kompak dan sama-sama periang itu juga berbincang ringan soal materi pembelajaran. Maklum, keduanya memang diamanahkan menjadi guru di kelas VI. Sebab itu, tak heran keduanya sering berkolaborasi dalam menangani tugas-tugas pembelajaran ataupun mencari solusi terbaik untuk masalah yang dihadapi siswa mereka.

Begitu bel pertama dibunyikan, Dheni dan Evi, panggilan akrabnya, berangsur ke lapangan sekolah. Di sana, bersama para siswa, mereka berbaris rapi untuk persiapan memulai hari.

Dheni saat menjalankan tugas sebagai piket guru SDN No.14 Rantau Utara. Ia menyalami seluruh siswa yang melintas di gerbang sekolah. Foto: Dokumentasi pribadi Dheni Armayanthi Lubis

Bubar dari lapangan, para siswa kembali diwajibkan berbaris di depan ruang kelas masing-masing.

Untuk para siswa yang Dheni ajar, yakni Kelas VI B, sebelum memasuki kelas, mereka akan diminta mengekspresikan perasaannya masing-masing melalui media Papan Emosi yang sudah Dheni lekatkan di dinding dekat pintu kelas.

“Dengan cara ini, saya bisa lebih akurat memahami kondisi masing-masing siswa saat hendak memulai hari, termasuk saat belajar nantinya,” jelas Dheni.

Satu persatu siswa kelas VI B duduk di kursi masing-masing dengan teratur. Senyum dan cengengesan masih tersisa di wajah-wajah siswa itu saat Dheni memasuki kelas.

Mereka berbisik-bisik riuh rendah soal banyak hal. Ada 32 orang siswa yang duduk di depan Dheni saat ini. Ia sudah dipercaya menjadi guru di kelas VI selama 5 tahun belakangan ini.

Dheni meletakkan keresek di atas meja, memanggil salah satu siswa untuk mengeluarkan isinya dan menjejerkannya di meja. Mata para siswa itu berbinar seketika. Senyum mereka merekah diiringi bisik-bisik kepo.

Kegiatan belajar mengajar di kelas itu pun dimulai. Dheni berhasil mematik bibit antusias dan bahagia pagi ini dengan sebuah keresek hitam.

Kelas VI B yang Ramai

Sekolah negeri memang tidak sama dengan sekolah swasta yang ada kalanya rombongan belajarnya sangat kecil. Di sekolah negeri, jumlah siswa per kelas cenderung ramai. Rata-rata di atas 25 siswa per kelas.

Sama halnya dengan Kelas VI B yang diajar Dheni. Ada 32 siswa di kelas ini. Latar belakangnya berbeda. Minat dan bakatnya tak sama. Kemampuannya majemuk pula.

Keberagaman ini seperti yang diutarakan Ki Hajar Dewantara. Bahwa semua anak lahir dengan potensi (kodrat) berbeda-beda. Maka, tugas guru adalah menyadari potensi itu dengan cermat, agar bisa dituntun dan dikembangkan dengan maksimal, agar muncul sifat-sifat baiknya, sehingga mengaburkan sifat-sifat jeleknya.

Suasana Kelas VI B SDN No.14 Rantau Utara yang diisi 32 siswa. Foto: Dokumentasi Pribadi Dheni Armayanthi Lubis

“Tugas guru, pada dasarnya bukan menuntut siswa untuk bisa mencapai tujuan pembelajaran, namun hanya menuntun. Membantu mengembangkan karakter diri anak. Karakter yang memang sudah dimiliki anak sejak dia lahir,” jelas Dheni dengan suara dan intonasi yang jelas. Sudah khas bagi wanita berdarah Batak ini.

Jadi, jumlah siswa yang beragam, sama halnya dengan jumlah karakter yang beragam pula. Pun dengan daya serap siswa terhadap materi yang diajarkan. Jangan berharap akan sama!

“Dengan jumlah anak yang banyak, tentu karakternya banyak juga. Maka akan jadi hambatan, bila guru harus ‘menyuapi’ seluruh siswa satu persatu. Praktis pola mengajar dengan cara menunjukkan dan mendikte pelajaran, tidak akan sesuai untuk menciptakan ekosistem belajar yang baik dan menyenangkan bagi siswa kan,” jelas Dheni berbicara soal pengalaman pribadinya.

Sesekali ia merapikan jilbab dan posisi duduknya. Terlihat tenang, namun siap membeberkan banyak hal perihal belajar dan mengajar di jenjang sekolah dasar.

“Selalu menarik kalau soal mencerdaskan generasi bangsa,” katanya dengan tawa ditahan. Jemarinya kembali merapikan jilbabnya.

Kajian Akademik Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Tahun 2022 menjelaskan bahwa kurikulum yang berlaku di Indonesia sering dipandang kaku dan terfokus pada konten. Tidak banyak kesempatan tersedia untuk betul-betul memahami materi dan berefleksi terhadap pembelajaran. Isi kurikulum juga dianggap terlalu teoritis, sulit bagi guru untuk menerjemahkannya secara praktis dan operasional dalam materi pembelajaran dan aktivitas kelas.

Terkait itu, kata Dheni, ditambah lagi dengan kondisi kelas yang ramai, siswa cenderung sulit berkonsentrasi. Selain itu, materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru akan kurang mendalam karena faktor buru-buru, kurang melibatkan siswa, dan lainnya.

Masalah lainnya bila mengajar di kelas yang ramai adalah siswa kurang bisa membangun interaksi dengan sesamanya, terlebih lagi dengan guru.

Dengan sederet masalah itu, praktik Merdeka Belajar dan Merdeka Berbudaya, kata Dheni, menjadi solusi baginya, dalam menuntun para siswanya untuk bisa bersama-sama mencapai tujuan pembelajaran.

“Jujur saja, bila dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya, praktik Merdeka Belajar dan Merdeka Berbudaya memang benar-benar seperti oase, menjadi cara terbaik mendidik siswa saya,” jelas Dheni mantap.

Menurut ibu dua orang anak ini, dengan Merdeka Belajar dan Merdeka Berbudaya, ia jadi bisa lebih sering melihat kebahagian tercipta di wajah siswanya-siswanya saat proses belajar mengajar berlangsung ataupun seusainya. Terlebih saat siswa diajak belajar sambil eksplor lingkungan sekitar sekolah. Berada di luar rungan kelas terkadang jadi mini refreshing bagi siswa.

“Kita sama-sama tahulah, kondrat para siswa ini kan masih anak-anak yang suka bermain. Jadi, dengan metode menyenangkan, yang menyerupai bermain sesuka hati, tiap-tiap anak sangat jelas terlihat lebih semangat, lebih enjoy, dan lebih ‘pede’,” jelas Dheni menggebu-gebu.

Potong-potong dan Diferensiasi

Kembali ke kantong keresek hitam yang dibawa Dheni.

Keresek ini benar-benar menarik perhatian para siswa. Apalagi setelah isinya dikeluarkan.

Mata jenaka para siswa seakan membulat penuh antusiasme saat melihat jejeran aneka buah dikeluarkan dari dalam keresek.

Siswa-siswa itu mencondongkan badannya ke depan. Ke-mawas-an siswa terhadap buah-buahan itu mendorong mereka untuk mau tak mau memperhatikan lekat-lekat, menunggu arahan dari Dheni.

“Kita belajar pecahan hari ini. Silakan semuanya bentuk kelompok sebelum kita mulai proyek kita,” seru Dheni di hadapan para siswa, yang disambut bunyi gerak kursi digeser dan meja diangkat.

Mereka sudah sangat paham dengan arahan: ‘bentuk kelompok’.

“Siswa sudah terbiasa belajar kelompok. Dengan cara ini, mereka tak hanya bersama-sama mencapai tujuan pembelajaran, tapi juga terlatih membangun hubungan interpersonal yang baik, saling menghargai, bisa mengemukakan ide dengan santun, dan mengasah kemampuan nalar mereka,” jelas Dheni.

Begitu masing-masing kelompok diberikan jenis buah yang berbeda, mulai dari Jeruk, Nanas, hingga Semangka, mereka pun tak sabar dengan instruksi selanjutnya.

Mereka mulai menduga-duga, berimajinasi. “Apa yang harus kami lakukan dengan buah-buahan ini”.

Saat Dheni menjelaskan tugasnya: setiap kelompok harus memotong buah-buahan di meja. Mereka kembali sumringah. Tugasnya seru dan menantang, sekaligus menyenangkan!

Di balik itu, tanpa merasa terbebani, para siswa sebenarnya tengah dalam proses memahami konsep pecahan dalam teori Matematika.

Arahan demi arahan dari Dheni diterima dengan baik oleh siswa. Buah-buahan itu telah menjadi potongan-potongan di depan masing-masing kelompok. Mereka pun tenggelam dengan kesibukan selanjutnya. Dheni hanya mengawasi.

Peserta salah satu kelompok belajar di Kelas VI B SDN No.14 Rantau Utara tampak sumringah dalam proyek memotong Buah Semangka terkait materi ‘Pecahan’. Foto: Dokumentasi pribadi Dheni Armayanthi Lubis.

Usai melakukan proyek potong-potong buah ini, Dheni melakukan refleksi secara lisan. Dengan berdiskusi, ia berbincang dengan seluruh siswa soal tujuan pembelajaran pecahan. Bertanya soal kesulitan yang dirasakan siswanya, dan perasaan mereka saat melakukan proyek potong-potong buah tersebut.

“Syukurnya, siswa tidak begitu kesulitan memahami tujuan pembelajaran dengan cara yang saya terapkan ini. Tidak ada yang tertinggal pada proyek potong buah ini,” jelas Dheni riang.

Sejurus kemudian, seperti mengingat-ngingat, ia menceritakan ada kalanya terjadi perbedaan tingkat kecepatan siswanya memahami suatu materi. Contohnya, saat ia mengajarkan materi ‘Jenis-jenis Iklan’.

“Saat itu, saya memberi arahan, agar siswa membuat salah satu jenis iklan, sesuai dengan minat masing-masing. Mereka dibebaskan memilih materi dan metode. Bebas mau pilih visual, audio, ataupun audio visual. Saya pakai diferensiasi lah,” jelas Dheni berkisah.

Diferensiasi adalah proses belajar mengajar dimana peserta didik mempelajari materi pelajaran berdasarkan kemampuannya, apa yang mereka sukai dan bagaimana cara belajarnya.

“Dengan cara berbeda-beda, tujuannya kan tetap sama. Sama-sama mengetahui macam-macam iklan. Istilahnya, dengan banyak jalan, siswa bisa sama-sama sampai ke tujuan,” ungkap Dheni lagi.

Namun, kala itu, dari 32 siswa, ada 6 orang yang kesulitan. Saat yang lain sudah mengumpulkan tugasnya dalam bentuk file video, rekaman suara, hingga gambar, 6 siswa tersebut belum bisa menentukan jenis iklan yang akan mereka buat.

“Bahkan, ada satu siswa yang sudah mencoba membuat, tapi ia mengaku belum puas dengan tugas yang ia kerjakan. Maka, saya tidak memaksa dia untuk mengumpulkan tugasnya dalam bentuk ala kadarnya. Saya beri ia waktu dan keleluasaan untuk menyempurnakan apa yang hendak ia buat,” jelas Dheni soal metode mengajar yang ia terapkan.

Katanya, sudah jadi tugas guru untuk terus berusaha menggali agar siswa-siswa yang belum memahami materi bisa menangkap tujuan pembelajaran. Siswa yang belum bisa menuntaskan tugasnya, Dheni akan terus menuntun, membujuk, memberi arahan, motivasi, hingga ia berhasil.

“Begitu 6 siswa tersebut berhasil menuntaskan tugas, walau di hari yang berbeda dengan teman-teman mereka, maka saya beri mereka pujian. Saya apresiasi kinerja dan kemauan mereka,” katanya sembari tersenyum. Ada kebanggaan di binar matanya.

Semua anak memang memiliki tingkat kemampuan berbeda dalam memahami sesuatu. Sebut saja, mungkin IQ nya berbeda. Termasuk dalam memahami materi. Saat guru berhasil menuntun siswa hingga memahami materi, maka akan terbentuk rasa percaya dari siswa kepada guru.

“Di saat begitu, siswa akan sangat bahagia. Merasa nyaman tanpa paksaan. Ia akan semakin yakin, bahwa ia juga mampu mengerjakan tugasnya seperti anak-anak lainnya, tanpa merasa tertinggalkan,” sambungnya lagi.

Harus Bahagia

Merdeka Belajar dan Merdeka Berbudaya dimaknai kemerdekaan belajar yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar senyaman mungkin dalam suasana bahagia tanpa adanya rasa tertekan. 

Siswa diberi kebebasan untuk mengakses berbagai macam budaya dalam proses belajar, untuk menghargai budaya sendiri maupun budaya orang lain sesuai norma yang berlaku tanpa ada paksaan maupun batasan-batasan tertentu.

Merdeka Belajar dan Merdeka Berbudaya merupakan program pemerintah yang diluncurkan pada tahun 2019 dengan tujuan untuk menghasilkan generasi yang cerdas dan berbudaya.

Program ini mencakup aspek pengembangan karakter, peningkatan kualitas pendidikan, dan pengenalan budaya bangsa kepada siswa.

Konsep ini bukan hanya tentang bagaimana cara belajar yang lebih baik, tetapi juga tentang bagaimana mengembangkan karakter siswa dalam nuansa belajar sambil bermain, yang menimbulkan kebahagiaan, sekaligus menjaga kelestarian budaya Indonesia yang kaya dan beragam.

“Saat saya mengajar, saya ingin semua anak di kelas saya ikut berbahagia sepanjang proses pembelajaran berlangsung. Tidak ada yang merasa tersisihkan, tertinggal sendiri, atau sedih sendiri,” ungkap Dheni.

Soal ‘siswa harus bahagia ini’, tampaknya Dheni sangat serius.

“Bila ada satu siswa yang merasa tersisih atau merasa dikucilkan, itu akan jadi masalah besar bagi saya. Harus dituntaskan. Semua siswa harus bahagia,” ulangnya dengan penekanan dan intonasi suara sungguh-sungguh.

Dengan praktik baik Merdeka Belajar dan Merdeka Berbudaya, Dheni mengaku sangat merasakan manfaat yang nyata bagi perkembangan siswanya.

Dia yakin, semua guru, baik di sekolah tempat dia mengabdi, atau sekolah lainnya di Indonesia, bila menerapkan konsep ini, akan merasakan manfaat yang sama. Manfaat untuk siswa, untuk guru, yang pada ujungnya adalah manfaat untuk bangsa.

“Anak jadi lebih aktif, jauh lebih ‘pede’, lebih berani, lebih terbuka kepada guru. Tidak ada rasa ragu-ragu dalam menyampaikan apa yang mereka rasakan saat kegiatan belajar berlangsung,” urai Dheni.

Menurutnya lagi, hal itu terjadi karena karena keleluasaan yang diberikan kepada siswa untuk memilih jalur pembelajaran yang sesuai minat dan kemampuannya.

“Dalam Merdeka Belajar dan Merdeka Berbudaya, siswa merasa ‘memang ini bakat saya, memang inilah saya’,” terangnya lagi.

Hal ini sangat dirasakan siswa saat mereka diberi keleluasaan untuk tampil dan mengeksplorasi bakat mereka, contohnya saja dalam bidang budaya.

“Kita ada Pentas Seni dan Program Literasi. Lewat wadah ini, siswa bebas mengekspresikan bakat mereka lebih jauh lagi. Memupuk rasa ‘pede’ dan memperdalam pengetahuan mereka akan budaya Indonesia,” jelas Dheni.

Di kelas VI SDN No.14 Rantau Utara, siswanya terdiri dari Suku Mandailing, Suku Jawa, dan Batak.

Saat Pentas Seni atau Program Literasi, mereka dibebaskan mengusung konsep suku sendiri, atau suku lainnya di Indonesia.

“Manfaat Pentas Seni dan Literasi itu, siswa bisa lebih mencintai budaya sendiri dan melestarikannya. Mereka juga bisa mengenali, sekaligus menghargai budaya lain di Indonesia. Memupuk kebinekaan dan nilai nasionalisme,” sebut Dheni.

Semua proses belajar yang dilalui siswa akan berjalan lancar bila siswa merasa nyaman dan termotivasi. Umumnya, siswa bisa termotivasi dengan baik, bila ia merasa bahagia.

Guru Penggerak, Sang Penuntun

Di SDN No.14 Rantau Utara, walau belum resmi menerapkan Kurikulum Merdeka, namun para gurunya sudah mulai mempraktikkan secara mandiri konsep Merdeka Belajar dan Merdeka Berbudaya.

Kepala Sekolahnya, Hj Samsiah S.Pd SD sangat mendukung hal ini. Terlebih, sudah ada 4 guru di sekolah ini yang menjadi Guru Penggerak. Mereka telah mengimbaskan ilmu mereka kepada guru lainya.

Guru Penggerak adalah guru-guru terpilih di seantero Indonesia yang telah melewati serangkaian seleksi yang ketat. Untuk menjadi Guru Penggerak, guru harus mengikuti pendidikan guru penggerak, yang kini butuh waktu hingga 6 bulan lamanya.

“Di sekolah kita, yang sudah lulus Guru Penggerak ada 2 orang guru. Sementara Saya dan Evi masih dalam pendidikan. Kami tergabung dalam angkatan 7,” terang Dheni.

Guru Penggerak adalah pemimpin pembelajaran yang menerapkan merdeka belajar dan menggerakkan seluruh ekosistem pendidikan untuk mewujudkan pendidikan yang berpusat pada murid.

Banyak ilmu yang ‘dipanen’ oleh Dheni dan guru lainnya yang tergabung sebagai Guru Penggerak.

Sebut saja dalam memberi penilaian atau pengakuan atas pencapaian siswa. Katanya, guru tidak seharusnya memberi hadiah. Karena hadiah itu sama dengan hukuman.

“Saat kita tidak berikan lagi hadiah, maka siswa menurun keinginan dan semangat belajarnya. Saya tidak beri hadiah, tapi saya beri apresiasi. Saya berikan kata-kata pujian kepada siswa yang menuntaskan tugasnya,” jelas Dheni.

Selain itu, masih kata Dheni, kunci lain dalam menuntun tumbuh kembang siswa adalah dengan percaya kepada mereka. Masih ada hubungan dengan kodrat alam sang siswa. Ada yang disiplin, bertanggung jawab, rajin, jujur, malas, pemalu, penakut, pasif dan lainnya. Ada juga yang butuh pengakuan dan dorongan. Sudah kodrat anak juga harus ada yang menuntun mereka agar bisa terus berkembang menjadi manusia terbaik, bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.

“Semua siswa saya di kelas saya selalu saya anggap bisa dan saya tekankan bahwa mereka benar-benar bisa. Semua bisa mengerjakan tugas dengan baik. Praktis, percaya diri mereka meningkat pesat,” kata Dheni.

Dalam menjalankan Merdeka Belajar dan Merdeka Berbudaya, Dheni sering meminta siswanya untuk kolaborasi dan melakukan tutor sebaya. Siswa yang sudah paham suatu materi, diberi tugas untuk berinovasi, mengajarkan, menerangkan kepada siswa yang belum paham.

“Siswa yang jadi tutor semakin paham karena terus menerus mengulang pemahamannya sembari menularkan kepada rekannya. Sementara rekan yang ditutori jadi paham,” katanya lagi. Dengan metode ini, guru cukup memberi tuntunan dari ‘kejauhan’.

Siswa di kelas VI B SDN No.14 Rantau Utara tampak berdiskusi. Siswa di kelas ini kerap menerapkan metode ‘tutor sebaya’ untuk mendalami materi pelajaran. Foto: Dokumentasi pribadi Dheni Armayanthi Lubis.

Pada dasarnya, dengan praktik Merdeka Belajar dan Merdeka Berbudaya, diharapkan para siswa bisa mengoptimalkan bakatnya dan bisa memberikan sumbangsih nyata kelak dalam berkarya bagi bangsa. Untuk mencapai itu, tuntunan dari guru adalah faktor penting.

Gerakan Baik Merdeka Belajar dan Merdeka Berbudaya

Berkaca dari apa yang dialami dan dirasakan Dheni selaku guru salah satu sekolah dasar di negeri ini, serta tak luput dari pengalaman membahagiakan siswa-siwa yang ia didik selama menerapkan praktik Merdeka Belajar dan Merdeka Berbudaya, maka metode ini memang sudah selayaknya jadi preferensi para pendidik di seantero negeri.

Seperti dikatakan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim, kebijakan Merdeka Belajar bukan lagi sekadar kebijakan atau program dari pemerintah pusat, tapi sudah berubah menjadi sebuah gerakan.

“Kalau Merdeka Belajar sudah jadi gerakan dan dirasakan manfaatnya, bagaimana pun kebijakan kementerian, akan sulit membendung semangat Merdeka Belajar,” ungkap Nadiem saat ditanya soal ‘nasib’ program ini bila ia sudah tak menjabat sebagai Mendikbudristek lagi.

Nadiem menjelaskan, dalam semangat Merdeka Belajar, proses pembelajaran harus berpusat kepada siswa. Guru hadir hanya sebagai fasilitator dan penuntun siswa.

“Kurikulum Merdeka memberikan kemerdekaan kepada guru dan kepala Sekolah untuk menjadi kreator dalam proses pembelajaran,” jelasnya.

Siswa juga dapat diberikan ruang untuk bisa mendalami mata pekajaran tertentu. Sementara guru bisa memilih mata pelajaran yang difokuskan guna meningkatkan kualitas pembelajaran.

Nadiem menekankan, saat ini Indonesia perlu inovasi agar dapat maju.

“Sekali-kalilah kita jadi inovator, bukan yang tertinggal terus,” ujarnya.

Ada tiga indikator keberhasilan program Merdeka Belajar yang digagas kementeriannya. Yakni partisipasi siswa-siswi dalam pendidikan Indonesia yang merata, pembelajaran yang efektif, dan tidak adanya ketertinggalan anak didik.

Rasa nyaman dan kebahagiaan peserta didik dengan penerapan Merdeka Belajar ditunjukkan melalui sikap dan emosi positif terhadap sekolah, bersikap positif terhadap proses akademik, merasa senang mengikuti kegiatan di sekolah, terbebas dari perasaan cemas, terbebas dari keluhan kondisi fisik sekolah, dan tidak memiliki masalah sosial di sekolah.

Dukungan terhadap Merdeka Belajar dan Merdeka Berbudaya

Berbagai pihak mendukung inovasi Merdeka Belajar. Salah satunya dari Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.

“Saya yakin kurikulum ini mampu mendorong pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa, serta memberi ruang yang lebih luas pada pengembangan karakter dan kompetensi dasar,” sebut Menteri Yaqut.

Dukungan lainnya datang dari Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI), Danang Hidayatullah.

“Kita harus sama-sama bergerak dan menggerakkan adanya pemerataan dan penyelarasan perubahan ini. Guru harus mengambil peran dan kesempatan ini,” terangnya.

Tak itu saja, Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian juga menyambut baik keberadaan Kurikulum Merdeka.

Di mata Hetifah, Kurikulum Merdeka merupakan transformasi pembelajaran yang penting, bukan saja dalam menghadapi pendidikan pasca pandemi tapi juga untuk menghadapi situasi dunia yang terus berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

“Saya percaya setiap anak itu unik, oleh karena itu pendekatan yang holistik fleksibel dan fokus pada kompetensi anak adalah kunci untuk mengembangkan anak secara maksimal demi cita-cita yang ingin mereka raih,” ujar Hetifah.

Praktik Merdeka Belajar dan Merdeka Berbudaya tak lepas dari harapan Presiden Joko Widodo soal harapan pendidikan itu harus memerdekakan manusia. Hal ini sesuai dengan semangat dan ajaran dari Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara.

"Semangat Ki Hajar Dewantara ini harus kita ingat semuanya. Bagi Ki Hajar Dewantara pendidikan harus memerdekakan kehidupan manusia. Kemerdekaan-lah yang menjadi tujuan," ujar Presiden Jokowi dalam podcast bersama Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim yang ditayangkan di kanal Youtube Kemendikbud Ristek, belum lama ini.

Menurut Jokowi, berbekal pendidikan semua orang di Indonesia merdeka untuk menjadi apa saja. Namun dia mengingatkan, "Tapi selain itu harus juga menghormati kemerdekaan orang lain."

Seperti halnya filosofi Ki Hajar Dewantara yang terkenal di dunia pendidikan, yakni "Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani", yang artinya " Di depan memberi teladan, di tengah memberi bimbingan, dan di belakang memberi dorongan."

Esensi dari filosofi tersebut adalah jiwa kepemimpinan dari pendidik, itu luar biasa pentingnya. Pendidik haruslah mampu menuntun dan membawa siswa merdeka belajar, merdeka dalam arti sesungguhnya. Merdeka dalam berpikir dan berekspresi.

Penulis : Yusni Fatimah Lubis
Editor : Jef Syahrul
Kategori : Pendidikan, Sumatera Utara
Idulfitri 1445 Riau Petroleum
Untuk saran dan pemberian informasi kepada CAKAPLAH.com, silakan kontak ke email: redaksi@cakaplah.com
Berita Terkait
Selasa, 27 September 2022 21:37 WIB
Sampaikan Ilmu kepada Sesama Guru
Komentar
cakaplah-mpr.jpeg
Jumat, 29 September 2023
Komisi II Usul Kementerian ATR/BPN dan KLHK Kolaborasi Selesaikan Redistribusi Tanah
Jumat, 29 September 2023
Setjen DPR Berikan Perhatian Terhadap Pensiunan Melalui P3S
Kamis, 28 September 2023
TikTok Shop Cs Dilarang, Ketua DPR Berharap Aturan Baru Ciptakan Keseimbangan Pasar Digital dan Konvensional
Kamis, 21 September 2023
Ancaman DBD Meningkat, Puan Dorong Sosialisasi Masif Tekan Risiko Kematian

MPR RI lainnya ...
Berita Pilihan
Selasa, 26 April 2022
DPRD Dukung Pemprov Riau Tindak Tegas PKS Nakal, Kalau Melanggar Cabut Izin !
Selasa, 26 April 2022
Polemik Rotasi AKD DPRD Riau, Sugeng Pranoto: Hari Kamis Paripurna
Selasa, 26 April 2022
Sikapi Turunnya Harga Sawit di Riau, Ini Upaya Gubri
Selasa, 26 April 2022
CPNS dan PPPK Baru di Rohul Dipastikan Tak Terima THR, Ini Sebabnya...
Selasa, 26 April 2022
Sambut Mudik Lebaran, HK Operasikan 2 Ruas JTTS, Termasuk Tol Pekanbaru-Bangkinang
Senin, 28 Maret 2022
Ibu Muda Ini Ditangkap Polisi Usai Simpan Narkotika di Kandang Anjing
Minggu, 27 Maret 2022
Polda Riau Tingkatkan Kasus Jembatan Selat Rengit Meranti ke Penyidikan
Selasa, 26 April 2022
PPKM Level 2 Kota Pekanbaru Berlanjut hingga 9 Mei
Selasa, 26 April 2022
Parisman: 10 Tahun Visioner yang Menenggelamkan Pekanbaru
AMSI
Topik
Selasa, 07 November 2023
Riau Terima Penghargaan Bhumandala Award 2023
Senin, 12 Desember 2022
Kapolda Riau Resmikan Kantor Pelayanan Terpadu Polres Rohil di Bagansiapiapi
Selasa, 08 Januari 2019
Penerimaan Pajak Air Tanah Pekanbaru 2018 Meningkat
Minggu, 06 Januari 2019
Mega Training 'Magnet Rezeki'

CAKAPLAH TV lainnya ...
Selasa, 23 April 2024
Workshop Pengembangan Ekosistem Ekonomi Kreatif di Riau Diikuti Puluhan Insan Ekraf
Selasa, 23 April 2024
Bahas Cooling System Pemilu, Korum PPI Riau Terima Kunjungan PKDN Sespimti Polri
Selasa, 23 April 2024
Izin Tinggal Peralihan Jembatani Proses Transisi Izin Tinggal WNA di RI
Selasa, 23 April 2024
Gelar Workshop UKMK Berbasis Kelapa Sawit, Aspek-Pir Riau Angkat Tema Kecantikan

Serantau lainnya ...
Minggu, 07 April 2024
Pererat Silaturahmi, Siwo PWI Riau Gelar Buka Bersama BJB dan PSSI
Kamis, 04 April 2024
5 Ide Resep Masakan Pakai Rice Cooker, Cocok untuk Anak Kos!
Kamis, 04 April 2024
Rekomendasi Fashion Wanita Zaman Sekarang
Jumat, 29 Maret 2024
Pengusaha Wanita di Riau Bagi-bagi Takjil Gratis kepada Pengguna Jalan

Gaya Hidup lainnya ...
Kamis, 02 Maret 2023
Wadah Menyalurkan Bakat, Ketua DPRD Riau Yulisman Hadiri Festival Musik Akustik di SMA Negeri 1 Pasir Penyu Inhu
Rabu, 01 Maret 2023
Rapat Paripurna, DPRD Provinsi Riau Umumkan Reses Masa Persidangan I Tahun 2023
Selasa, 28 Februari 2023
Kunjungi Kemendikbud, Komisi V DPRD Riau Bahas Persoalan PPDB
Kamis, 23 Februari 2023
Disdik Gelar Pelatihan Penguatan Profil Pelajar Pancasila Bagi Guru SD Se-Kota Pekanbaru

Advertorial lainnya ...
Sabtu, 20 April 2024
7 Keunggulan Samsung Galaxy S23 Ultra, Dapatkan di Blibli
Kamis, 29 Februari 2024
Telkomsel dan ZTE Wujudkan Pengalaman Gigabit yang Andal dan Efisien
Selasa, 20 Februari 2024
Samsung Hadirkan Galaxy S24 Series dengan Kecerdasan Software Canggih
Jumat, 09 Februari 2024
Apple Kembangkan 2 Prototipe iPhone Lipat Bergaya Flip

Tekno dan Sains lainnya ...
Kamis, 18 April 2024
Ini Dia Manfaat Merawat Gigi, Yuk, Kunjungi Klinik Gigi Terdekat Sekarang!
Kamis, 22 Februari 2024
Pemula di Dunia Yoga? Inilah Panduan Cara Memilih Matras Yoga yang Tepat
Sabtu, 27 Januari 2024
Cegah Resistensi, Gunakan Obat Antibiotik dengan Bijak
Senin, 15 Januari 2024
14 Persiapan Penting Awal Kehamilan untuk Calon Ibunda dan Buah Hati

Kesehatan dan Keluarga lainnya ...
Sabtu, 06 April 2024
Rangkaian Ramadan Ceria Umri Berakhir, 5.000 Orang Terima Manfaat
Selasa, 26 Maret 2024
BPH UMRI Gelar Lomba Ibadah Praktis Sesuai Tuntunan HPT
Senin, 25 Maret 2024
Berhadiah Umrah dan Beasiswa, Umri Gelar Lomba Tahfidz Alquran
Kamis, 21 Maret 2024
UPT Promosi dan Penerimaan Mahasiswa Baru UMRI Taja Ifthor Jama’i

Kampus lainnya ...
Rabu, 03 Mei 2023
Kompilasi Semarak Silaturahmi Satu HATI, CDN Bangkinang Santuni Anak Yatim
Rabu, 05 April 2023
Safari Ramadan, PT Musim Mas Salurkan Paket Sembako untuk Anak Yatim dan Fakir Miskin
Selasa, 04 April 2023
Telkomsel Siaga Rafi Sumbagteng Salurkan CSR untuk Panti Jompo bersama Dompet Dhuafa Riau
Jumat, 03 Maret 2023
Tingkatkan Kesehatan dan Budaya Lokal, Bank Mandiri Serahkan Bantuan ke Posyandu dan Grup Rebana

CSR lainnya ...
Jumat, 09 Februari 2024
Lika-liku 7 Perjalanan Asmara Ayu Ting Ting hingga Tunangan dengan Anggota TNI
Minggu, 28 Januari 2024
Huh Yunjin Bak Sehati Dengan Han So Hee Kala Cuma Pakai Dalaman Di Trailer LE SSERAFIM
Sabtu, 27 Januari 2024
Gigi Hadid dan Bradley Cooper Tak Sungkan Perlihatkan Kemesraan
Rabu, 24 Januari 2024
Park Ji-hyun Ungkap Persiapan Membinangi Drama Terbarunya

Selebriti lainnya ...

Mutiara Merdeka Hotel - April 2024
Terpopuler
Iklan CAKAPLAH
Foto
Rabu, 09 Oktober 2019
Jadi Pimpinan DPRD Siak Dari Partai PAN, Ini Sosok Fairuz
Rabu, 09 Oktober 2019
Indra Gunawan Akan Berjuang Untuk Masyarakat dan Loyal Terhadap Partai
Rabu, 09 Oktober 2019
Ternando Jadi Anggota DPRD Siak Termuda dan Suryono Terpilih Dengan Suara Terkecil
Rabu, 09 Oktober 2019
Reaksi Pimpinan DPRD Siak Terkait PTPN V Buang Limbah Sembarangan

Parlementaria Siak lainnya ...
Senin, 14 Agustus 2023
Pengurus Masjid Nurul Ikhlas Kubang Minta Tunjuk Ajar ke Wagubri
Sabtu, 12 Agustus 2023
Gebyar Kandis Bersholawat Bakal Dihadiri Ribuan Jemaah NU
Senin, 31 Juli 2023
Mualaf Riau Butuh Pembinaan, Begini Caranya...
Sabtu, 29 Juli 2023
Mantan Wawako Pekanbaru, Ayat Cahyadi Turut Saksikan Pengukuhan Pengurus Masjid Al-Hamidah Rejosari

Religi lainnya ...
Rabu, 13 Maret 2024
Kepala BKPSDM Pekanbaru Harapkan Kinerja ASN Maksimal Selama Bulan Ramadan
Jumat, 08 Maret 2024
Pemko Pekanbaru Sudah Tetapkan Jam Kerja ASN Selama Ramadan 1445 H
Rabu, 28 Februari 2024
Pemko Pekanbaru Masih Tunggu Juknis Pusat Terkait Seleksi CPNS dan PPPK
Selasa, 27 Februari 2024
Kepala BKPSDM Dampingi Pj Walikota Terima Penghargaan Anugerah Kualitas Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi Tahun 2023

Galeri Foto lainnya ...
Indeks Berita
www www